Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 92


__ADS_3

Keluarga Wijaya.


Mama, Papa, dan Fakhri, menikmati sarapan tanpa Putri bungsu nya yang bawel, suasana jadi sepi tanpa nya. Hanya ada suara sendok dan garpu yang terdengar dimeja makan.


Selesai Sarapan Mama Ara membereskan meja makan. "Abang hari ini anterin Mama ke butik ya?" tanyanya sambil merapikan meja makan.


"Sopir Mama kemana?" Fakhri paling malas kalau di suruh ikut Mamanya ke butik, bukannya tidak mau patuh sama perintah Mama nya, tapi di butik cewek semua, itu yang membuat dia enggan ke butik.


"Sopir Mama lagi ijin, anaknya sakit."


"Mama kan bisa bawa mobil sendiri."


"Hari ini Mama banyak pesanan yang harus di antar, ayolah! jangan jadi anak durhaka."


"Bukan begitu, ah... baiklah." Fakhri hanya bisa pasrah, kalau nyonya besar yang meminta pokoknya harus di laksanakan.


"Abang, jalannya cepetan, ini sudah siang, Mama ada janji sama orang," omel Mamanya.


"Iya, Ma, sabar," balas Fakhri, dia berjalan gontai menuju mobil.


Sampai di mobil, Fakhri segera masuk ke dalam mobil, karena Nyonya besar sudah masuk lebih dulu. Kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tiga puluh menit mereka sampai.


"Assalamualaikum," ucap Nyonya besar dengan berjalan masuk kedalam butik.


"Wa'alaikumussalam," jawab Lala yang sedang bersih-bersih.


"La, kalau sudah beres tolong ke ruangan saya!" ucap Mama Ara.


"Iya, Bu," balas Lala.


Selesai membersihkan butik, Lala menuju ruang Mama Ara.


"Assalamualaikum," ucap Lala.


"Wa'alaikumussalam, masuk La, pintunya tidak dikunci," jawab Mama Ara.


"Duduk La!"


"Iya, Bu, terima kasih," balasnya kemudian duduk di kursi depan meja bosnya.


"Ada apa Bu?" tanya Lala.


"Pesanan gaun hari ini sudah di siapkan semua?"


"Sudah Bu."


"Ya sudah kalau begitu, kamu antar semua pesanan itu, karena hari ini mau di pakai."


"Baik Bu."


"Nanti kamu perginya biar di antar Fakhri."


"Ta--." Fakhri baru mau protes belum selesai ngomong sudah di sahut sang Mama.


"Tidak ada penolakan."


Fakhri hanya bisa pasrah dengan permintaan Mamanya.


"Abang sana anterin Lala."


"Iya, Ma." Fakhri beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.


"Lala pamit dulu Bu," ucap Lala sebelum keluar ruangan.


"Iya, La, hati-hati, gunakanlah kesempatan itu dengan baik."


Lala hanya tersenyum menanggapi ucapan Bosnya.


Fakhri dan Lala sudah berada di depan mobil Fakhri.

__ADS_1


"Masuklah," ucap Fakhri.


Lala hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia membuka, pintu bagian belakang, baru membuka pintu Fakhri sudah ngomel.


"Jangan duduk di bangku belakang, saya bukan sopir kamu," protes Fakhri yang melihat Lala membuka pintu belakang.


Mendengar ucapan Fakhri, kemudian Lala masuk kedalam mobil duduk disebelah Fakhri.


"Kemana dulu kita?" tanya Fakhri.


"Ke rumah Ibu Afi, di jalan gang delima no.10."


Fakhri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil hanya ada suara musik yang mengiringi perjalanan mereka.


Empat puluh menit mereka sampai di rumah Bu Afi. Lala keluar mobil dengan membawa paper bag, menuju rumah Bu Afi.


Lima belas menit Lala kembali ke mobil.


"Kita kemana lagi?"


"Ke rumah Bu Tani, di gang dukuh no.12."


"Itu jauh sekali," keluh Fakhri.


Lala hanya membalas dengan senyuman.


Tanpa sengaja Fakhri melihat Lala saat tersenyum.


Manis juga kalau lagi tersenyum gitu, astaghfirullah, batin Fakhri. kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Kita mampir makan siang dulu ya," ajak Fakhri.


"Terserah Mas Fakhri saja." balas Lala.


Fakhri menepikan mobilnya di depan warung bakso dan mie ayam, dia keluar dari mobil dan masuk kedalam warung di ikuti Lala dari belakang.


"Kamu mau makan apa?" tanya Fakhri, setelah mereka duduk di bangku yang tersedia.


"Mau pesan apa Mas dan mba nya?" tanya Ibu pemilik warung menghampiri mereka.


"Bakso satu, dan mie ayam satu, minumnya es jeruk dua," balas Fakhri.


"Baik Mas, tunggu sebentar."


Fakhri sibuk dengan ponselnya, Lala hanya diam di meja menonton televisi yang tersedia di warung.


"Silahkan dinikmati," ucap ibu pemilik warung mengantarkan pesanan Fakhri.


"Terima kasih Bu."


Saat Lala mau mengambil sendok tanpa sengaja Fakhri juga ingin mengambil sendok, tangan Fakhri memegang tangan Lala. "Maaf," ucap Fakhri.


Lala hanya mengangguk dan tersenyum.


"Jangan terus tersenyum kepadaku, nanti aku bisa jatuh cinta padamu," ujar Fakhri.


"Apaan sih Mas Fakhri," balas Lala, jangan ditanya bagaimana Lala sekarang, ia sudah salah tingkah dengan pipi yang sudah memerah.


Baru kali ini ia ngobrol dengan anak bosnya, karena Fakhri jarang banget ke butik, ternyata Fakhri orangnya asyik juga.


"Nama kamu siapa?" tanya Fakhri.


"Lala," jawabnya sambil memasukkan mie ayam kedalam mulutnya.


"Kamu sudah punya pacar?"


Lala langsung tersendak mendengar pernyataan Fakhri.


"Eh...maaf," Fakhri langsung memberikan minum ke Lala.


"Terima kasih." Lala langsung meminum air yang di berikan Fakhri.

__ADS_1


Kemudian mereka melanjutkan makannya sampai habis tak bersisa.


"Alhamdulillah," ucap mereka bersama, sedetik kemudian mereka tertawa bersama.


Setelah itu Fakhri membayar pesanannya, kemudian ia berjalan menuju mobil.


Mereka melanjutkan perjalanannya.


Karena sudah tidak bisa menahan kantuknya, Lala memejamkan matanya.


Fakhri menoleh kearah samping, melihat Lala yang tertidur pulas tanpa sadar ia tersenyum, kemudian diam-diam memotret Lala.


Cantik alami, apa adanya, apa yang kurasakan saat ini, entahlah tapi aku senang dan nyaman bersamanya. batin Fakhri.


Satu jam mereka sampai di rumah Bu Tani.


Fakhri keluar mengantarkan pesanan.


Di paper bag sudah tertulis nama dan alamat pemesan.


*


*


*


Tanpa terasa waktu sudah sore menjelang malam, semua pesanan sudah selesai di antar kan.


Fakhri menepikan mobilnya di sebuah taman kota.


Lala bingung melihat Fakhri menepikan mobilnya di taman. "Kenapa berhenti di sini Mas? mobilnya mogok?" tanyanya.


"Tidak, kita mampir kesini dulu ya bentar."


Lala hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mereka berdua turun dari mobil, kemudian berjalan menuju area taman mencari tempat duduk.


"Ternyata disini ramai sekali ya kalau sore begini."


"Iya, apa kamu tidak pernah kesini? tanya Fakhri.


"Tidak."


"Beneran?"


"Iya."


"Sama teman atau pacar gitu?"


"Siapa yang mau berteman denganku mas, cewek miskin seperti ku, teman saja aku tak punya apalagi pacar mas. Hanya Indah dan Caca yang mau berteman denganku."


"Jangan bicara seperti itu, aku mau berteman denganmu," ucap Fakhri.


"Mas Fakhri, tidak perlu kasihan padaku."


"Aku tidak kasihan padamu, tapi aku serius ingin berteman denganmu, apa aku harus datang kerumah mu terlebih dahulu agar kamu mau berteman denganku."


"Bukan begitu Mas, aku tidak pantas berteman dengan Mas Fakhri."


"Semua manusia di mata Allah itu sama tidak ada yang berbeda, jadi jangan merasa ini atau itu."


Lala hanya tersenyum menanggapi ucapan Fakhri.


... ***************************...


Sepertinya Babang Fakhri jatuh cinta beneran sama Mba Lala.


Mau tau lanjutan kisah Fakhri dan Lala.


Jangan lupa like dan vote ya kakak biar Aku tambah semangat up nya.

__ADS_1


Kita seling dengan cerita tokoh yang lain ya, biar adil.


__ADS_2