Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 113


__ADS_3

Taman adalah tujuan mereka berdua. Tempat favorit para pemuda. Delon dan Susi sudah berada di area taman, menikmati suasana sore hari.


"Kak," panggil Susi.


"Hem, apa kamu mau membeli sesuatu?" tanya Delon.


"Tidak."


"Apa terjadi sesuatu?" Delon sudah paham sekali dengan Susi, kalau dia diam dan bersandar di bahunya pasti sedang dalam masalah.


Susi menggeleng. Dia bingung mau bercerita harus dari mana.


"Dik, aku mengenalmu sejak kecil, kamu tidak bisa berbohong denganku." Delon ingin Susi bercerita agar tak menjadi beban pikirannya.


"Mama, menyuruhku untuk segera menikah," ucapnya lirih.


"Kenapa, mama tiba-tiba menyuruhmu menikah?" tanya Delon.


"Teman-temanku sudah punya pasangan sedangkan aku masih sendiri. Aku masih ingin kuliah Kak, mengejar impianku."


"Bilang baik-baik ke Mama." Delon memberi saran.


"Sudah Kak, bahkan Mama sempat menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya."

__ADS_1


"Sabar ya dik, nanti kita cari solusi terbaik," ujar Delon dengan mengusap lembut kepala Susi.


Dia menganggap Susi seperti adiknya sendiri.


"Susi lelah Kak, mereka seakan nggak mau mengerti isi hatiku, mereka hanya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Tanpa memberi waktu untukku, kasih sayang, perhatian, mencoba mencari keberadaan anaknya. Seperti orang tua di luar sana. Uang memang butuh tapi aku juga membutuhkan kasih sayang mereka. Dia memintaku untuk mengikuti kemauannya, sedangkan Dia, tak mau mengikuti kemauanku." Susi mengungkapkan semua isi hatinya, tanpa terasa air mata mengalir dengan deras.


"Sabar Dik, Kakak akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Apa kamu mau hidup bersama Kakak?"


Susi begitu terkejut dengan ucapan Delon. Dia yang tadinya bersandar di bahu Delon. Kini ia menatap kearah Delon. "Bercandanya nggak lucu Kak," imbuh Susi.


Delon memegang pipi Susi dengan kedua tangannya. "Lihat mataku Dik, apa ada kebohongan disana?"


Susi menatap Delon dengan seksama, dia benar-benar tidak menemukan kebohongan disana. Setelah diam beberapa saat. Susi menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawab Susi.


"Aku akan menjaga kamu, Dik. Percayalah padaku," ucap Delon dengan menggenggam erat tangan Susi.


"Jika memang kamu belum bisa jawab sekarang tak apa, Kakak akan selalu menunggumu." Meskipun dia ingin membantu Susi tapi, dia juga tidak ingin memaksa Susi untuk menerimanya. Cinta itu tidak bisa di paksa, semua harus dengan hati yang tulus.


Susi mengangguk. Dia bingung mau jawab apa, bukan tidak mencintai Delon. Tapi ini begitu tiba-tiba baginya. Dia tak ingin gegabah dalam sebuah hubungan, makanya dia memilih untuk memikirkannya terlebih dahulu.


"Sekarang, kita makan dulu yuk!" Ajak Delon.


"Iya, Kak."

__ADS_1


"Kamu mau beli apa?"


"Sosis bakar sama es jeruk peras saja."


"Baiklah, kamu tunggu sini saja, biar aku yang beli," ucap Delon. Kemudian ia beranjak dari duduknya, berjalan mencari penjual sosis bakar.


Tak lama Delon kembali membawa plastik berisi beberapa makanan, padahal pesanan hanya sosis bakar sama es jeruk. Tapi yang dia beli ada, sosis, cilok, telur gulung, somay.


"Ini kenapa banyak sekali Kak?" tanya Susi setelah melihat isi dalam plastik.


"Sekalian biar kenyang, hehe."


"Kalau nggak habis, kan sayang mubazir," omel Susi.


"Ya sudah, kamu habiskan," ujar Delon.


"Kita makan bareng." Nggak mungkin Susi menghabiskan makanan sebanyak ini, bukannya diet malah tambah bengkak.


Susi mulai memasukkan satu tusuk sosial bakar dengan saos pedas, di ikuti Delon. Mereka berdua makan sampai habis tak tersisa.


"Kita pulang yuk, kak!" Susi yang mulai bosan berada di taman.


"Ayo!" Mereka beranjak dari duduknya dan meninggalkan area taman.

__ADS_1


**Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka dari awal mereka datang sampai pergi dari taman.


Aku bahagia melihatmu tersenyum seperti itu, aku memang bukanlah pilihan hatimu, aku akan melepasmu dengan kebahagiaanmu. Batinnya.


__ADS_2