
Jika Allah sudah berkehendak semua yang tidak mungkin akan jadi mungkin.
"Kak." Zahwa membangunkan Fathul yang masih tertidur pulas dengan cara menggoyangkan lengan Suaminya.
"Hem, kenapa sayang?" tanya Fathul dengan suara serak khas bangun tidur.
"Zah, tidak bisa tidur perut Zah rasanya sakit Kak," ucap Zahwa.
Fathul bangun bersandar di kepala ranjang. "Nanti kita ke dokter tidak sekarang ini masih malam," ucap Fathul sambil mengelus lembut kepala Zahwa yang bersandar di bahunya.
Zahwa mengangguk sebagai jawaban. Zahwa terus saja memegangi perutnya yang mulai merasa enek tidak nyaman karena sakit di bagian bawah.
"Sini biar aku usap kamu tidur ya." Fathul mengelus lembut perut Zahwa. Perlahan Zahwa mulai memejamkan matanya.
Setelah Zahwa tertidur Fathul juga ikut memejamkan matanya tak butuh waktu lama dia pun terlelap dalam mimpi.
**
Pagi hari.
"Kak, bangun." Zahwa menggoncang lengan Fathul.
"Iya, Ay." Fathul mengucek matanya yang masih terasa berat untuk melek.
Setelah membangunkan suaminya Zahwa beranjak dari kasur menuju kamar mandi membersikan diri sekalian mengambil air wudhu, kemudian dia bersiap untuk melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah dengan Fathul.
Sambil menunggu Fathul mengambil air wudhu, Zahwa menyiapkan perlengkapan sholat baju koko Fathul, kemudian menggelar sajadah.
"Ayo! Ay." Fathul yang sudah siap berdiri di depan sebagai imam. Sedangkan Zahwa berdiri dibarisan belakang sebagai makmum.
Selesai Sholat Zahwa mencium tangan suaminya, kemudian zikir bareng. Fathul melanjutkan membaca Al Qur'an sedangkan Zahwa melipat mukenanya setelah itu keluar kamar menuju dapur.
'Baru jam segini perut sudah berada lapar sekali," batin Zahwa.
Sampai di dapur Zahwa mulai membuka kulkas terlebih dahulu mengambil beberapa sayuran yang bisa ia masak. Zahwa mengambil sayur sup dan ayam serta bumbu-bumbu yang dibutuhkan.
Pertama Zahwa membersikan ayam terlebih dahulu kemudian ayam di beri bumbu ungkep setelah itu direbus, sambil menunggu ayam matang. Zahwa memotong sayuran dan membuat bumbu sayur sup.
Selesai diulek, kemudian bumbu ditumis sebentar tunggu sampai wangi kemudian masukan ke dalam panci yang sudah berisi air.
Satu jam kemudian Zahwa sudah selesai memasak, ia sajikan di atas meja makan.
"Hem, wangi sekali sayang. Kamu masak apa?" tanya Fathul yang baru datang.
"Sayur sup, goreng ayam, perkedel tahu, dan sambal kecap," jawab Zahwa.
"Wah." Fathul mengambil piring mulai menyendok nasi beserta kawannya, dia makan dengan begitu lahap.
Fathul memang lebih suka jika Zahwa masak sendiri dari pada beli diluar kadang masakannya tidak sesuai dengan lidah.
Selesai makan Zahwa langsung merapikan meja makan, kemudian mencuci piring dan gelas bekas makan.
Setelah dapur bersih Zahwa menghampiri Fathul yang duduk di sofa ruang tamu melihat acara televisi. Tiba-tiba kepala Zahwa pusing, mual. Zahwa memegangi kepalanya sambil memijat pelan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" tanya Fathul saat melihat istrinya memegangi kepala.
"Kepala Zah tiba-tiba pusing Kak," jawab Zahwa.
"Kita periksa ya!" ajak Fathul.
"Tidak perlu Kak, mungkin hanya butuh istirahat sebentar." Zahwa menolak dengan pelan ajakan suaminya. Dia tahu suaminya sangat khawatir padanya tapi dia malas kalau harus ke dokter karena pasti obatnya banyak.
"Tapi wajah kamu pucat begitu sayang.'' Fathul terus saja membujuk Zahwa supaya mau kedokter dia takut Zahwa kenapa-napa.
"Zah, istirahat saja sebentar nanti juga sembuh Kak." Zahwa berdiri dari duduknya ingin berjalan menuju kamar. Tapi, saat baru satu langkah tiba-tiba badannya terasa lemas diapun terjatuh untung Fathul langsung menangkapnya.
Tanpa menunggu lama Fathul langsung membawa Zahwa masuk ke dalam kamar merebahkan tubuh Zahwa di atas kasur kemudian Fathul mengambil ponselnya menghubungi dokter keluarga.
Tak butuh waktu lama Dokter keluarga datang Fathul langsung mengajaknya masuk kedalam kamar.
"Siapa yang sakit Thul?" tanya dokter tersebut.
"Zahwa, tante," jawab Fathul.
Sampai di kamar dokter Siska langsung memeriksa Zahwa.
Dokter Siska adalah adik dari Ayah Fathul.
"Zah, sakit apa, Tan?" tanya Fathul.
"Tak apa hanya ---."Siska menggantungkan ucapannya.
Siska tersenyum melihat kekhawatiran Fathul, ternyata ponakannya sudah dewasa meskipun umur Fathul masih muda tapi rasa tanggung jawab dia begitu besar.
Kadang orang yang sudah umur saja masih bersikap ke kanak-kanakan.
"Zah hanya pingsan sebentar lagi juga siuman," ucap Siska.
Benar saja baru saja Siska diam, Zahwa mulai membuka matanya. "Kak," lirih Zahwa.
"Iya, Zah." Fathul mendekat kearah Zahwa duduk disampingnya.
Siska yang melihat pemandangan itu tersenyum, dia ikut bahagia melihat keponakannya memiliki keluarga yang harmonis.
"Hai, Zah, gimana kepalanya masih pusing?" tanya Siska.
"Sedikit enakan Tan," jawab Zahwa.
"Alhamdulilah, kamu jangan terlalu capek, jangan banyak pikiran, banyak-banyak istirahat ya," ujar Siska.
"Memangnya Zah sakit apa Tan?" tanya Zahwa.
"Apa kamu telat kedatangan tamu?" bukan menjawab Siska malah balik bertanya.
Zahwa terdiam mengingat apa dia telat.
"Iya, Tan sudah dua bulan ini," tutur Zahwa.
__ADS_1
"Alhamdulillah, selamat buat kalian." Siska menyalami tangan Zahwa.
Zahwa dan Fathul saling memandang mereka bingung selamat untuk apa.
"Kalian kenapa reaksinya biasa saja apa kalian tidak bahagia?" Siska yang bingung melihat kedua wajah ponakannya biasa-biasa saja.
"Bahagia untuk?" Fathul dan Zahwa saling memandang dengan tatapan kebingungan.
Siska yang melihat kelakuan kedua ponakannya hanya bisa menepuk jidat. Sebenarnya ponakannya itu polos atau oneng sih.
"Karena kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua," ucap Siska.
"Alhamdulillah," balas Zahwa dan Fathul bersamaan. Fathul langsung memeluk Zahwa dan menciumi wajah istrinya.
"He'em, inget disini masih ada orang bukan patung," sindir Siska.
"Biarin," sambung Fathul.
"Pulang nih," ucap Siska.
"Jangan." Fathul langsung menghentikan aktivitasnya menoleh kearah Siska dengan cengengesan.
"Jaga dengan baik kandungannya, ini Tante beri resep besok kalau ada keluhan datang saja kerumah sakit." Siska memberikan selembar kertas resep obat.
"Baik Tan, terima kasih," ucap Fathul dan Zahwa.
"Sama-sama. Tante pamit dulu masih ada tugas," pamit Siska.
"Iya, Tan," balas Zahwa.
"Sayang, aku antar Tante dulu ya," ucap Fathul.
Fathul dan Siska keluar dari kamar. Fathul mengantarkan Siska sampai di depan pintu.
"Assalamualaikum," ucap Siska sebelum masuk kedalam mobil.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati Tan," balas Fathul.
Siska hanya membalas dengan melambaikan tangannya.
Setelah kepergian Siska Fathul segera masuk kedalam menaikin anak tangga menuju kamarnya.
"Sayang, aku ke apotik dulu ya nebus obat kamu diam-diam disini jangan kemana-mana." Fathul memperingatkan Zahwa.
"Iya, Kak," balas Zahwa.
Fathul mengambil kunci mobil berjalan keluar sampai di luar rumah Fathul langsung masuk kedalam mobil menyalakan mobil melakukannya menuju apotik.
*********
Jangan lupa like ya kakak.
Terima kasih.
__ADS_1