
"Kita mau bawa apa kerumah Mama?" tanya Fathul, kini mereka sudah berada didalam mobil menuju rumah orang tua Zahwa.
"Kita beli martabak manis saja Ay, tapi kita belinya yang dekat gang depan situ." langganan keluarga Zahwa.
"Baiklah." Fathul menepikan mobilnya di depan gerobak yang bertuliskan martabak manis Mang Deden.
Zahwa turun dari mobil, menghampiri Mang Deden. "Assalamualaikum," ucap Zahwa.
"Wa'alaikumussalam, eh...ada neng Zahwa, sudah lama tidak pernah kesini, tambah cantik saja neng."
"Mamang bisa saja, Zah pesan biasa Mang." Martabak manis Mang Deden memang sudah langganan keluarga Zahwa, ia sering kesini bersama Fakhri. Karena rasanya yang enak, dan lezat, harganya juga terjangkau.
"Siap Neng, duduk dulu atuh."
"Iya Mang, terima kasih." Zahwa duduk di bangku yang di sediakan.
Bosan di dalam mobil, Fathul menghampiri istrinya, duduk di bangku sebelah Zahwa.
Tak lama martabak pesanan Zahwa sudah jadi.
"Ini neng pesanannya," ucap mang Deden.
"Iya Mang, jadi berapa?"
"Masih seperti biasa Neng, itu siapa Neng? ganteng pisan, pacar Neng Zah?"
"Suami Zah, Mang."
"Kapan nikahnya Neng, Mamang tidak di undang?"
"Sudah beberapa bulan yang lalu Mang."
"Alhamdulillah, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, langgeng sampai Nenek, Kakek, sampai maut memisahkan."
__ADS_1
"Amin, terima kasih do'anya Mang."
"Sama-sama Neng."
"Ini uangnya Mang." Zahwa memberikan selembar uang lima puluh ribuan.
"Tidak usah Neng, ini bonus buat Neng Zah, itung-itung kado pernikahan dari Mamang," ucapnya dengan tersenyum.
"Terima kasih banyak ya Mang, mudah-mudahan usaha Mamang tambah maju, sukses."
"Terima kasih Neng Zah."
"Kita pamit dulu ya Mang."
"Iya, Neng Zah hati-hati."
Zahwa dan Fathul berjalan menuju mobil, setelah mereka masuk, Fathul melajukan mobilnya, melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah mertuanya.
Dua puluh menit mereka sampai, Fathul sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah Zahwa.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mbok Rumi membukakan pintu.
"Nona, Aden, silahkan masuk." ucapnya.
"Iya Mbok, terima kasih, Mama dimana Mbok?" tanya Zahwa, karena rumah terlihat sepi.
"Ada di ruang keluarga Non."
"Ya sudah, Zah ke ruang keluarga dulu ya Mbok."
"Iya Non."
Zahwa dan Fathul berjalan masuk menuju ruang keluarga. "Assalamualaikum," ucap mereka berdua saat sampai di ruang keluarga.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka bersama.
Mama, Papa, dan Fakhri.
Zahwa dan Fathul berjalan menghampiri kedua orangtuanya, lalu menyalami punggung tangan Mama, dan Papanya, tak lupa dengan Abangnya juga.
"Sayang," Mama Ara langsung memeluk putri bungsunya. "Mama kangen sekali sama kamu sayang," sambil menciumi wajah putrinya.
"Zah, juga kangen sama Mama." balasnya kemudian merebahkan kepalanya di paha Mamanya, ia begitu kangen dengan sentuhan lembut tangan sang Mama.
Mama Ara, mengusap lembut kepala putri kesayangannya.
"Dik, kamu tidak kangen sama Abang?"
"Tidak." jawabnya singkat padat jelas.
"Ist...menyebalkan sekali, punya adik begitu, Abang tukar saja kamu dengan kerupuk," kesal Fakhri, dia sangat merindukan adik kesayangannya, tanpa adiknya rumah begitu sepi, tidak mungkin kan dia manja dengan Mama, dan Papanya.
Hanya adiknya yang selalu menjadi tempat disaat ia membutuhkan teman curhat, teman pergi.
"Abang tega sekali, orang secantik ini mau di tukar dengan kerupuk."
Disambut tawa yang lain.
"Oiya...ini Ma, Pa, Abang silahkan di makan," Fathul membuka Martabak manis yang ia beli tadi.
"Wah, kalian memang yang terbaik," ucap Fakhri melihat martabak kesukaannya, rasa pisang coklat keju.
Mama dan Papanya rasa ketan hitam.
Cemilan yang sangat cocok untuk teman menonton televisi.
... **************************** ...
__ADS_1
Terima kasih masih setia membaca cerita ku.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.๐๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐโค๏ธ๐ค๐๐๐๐๐ค๐งก