
Pagi harinya di pekarangan rumah Priya.
[Avni Zoya Mahelia telah ditambahkan ke dalam daftar Harem.]
Otto duduk santai di pekarangan, sambil memandangi taman. Sementara Avni duduk di sebelahnya.
"Pantes aja tadi malam cuman satu ronde doang!" celetuk Rere yang keluar dari dalam rumah.
Priya tersenyum dari kejauhan. Dia sudah menduga kalau cepat atau lambat, Otto akan dapat menaklukkan putrinya yang bertemperatur tinggi.
"Oh iya! Sini Re! Sini Pri!"
Mereka berempat lalu duduk berjajar di pekarangan rumah.
"Mulai hari ini, aku bakal kasih kalian uang bekal harian. 20 ribu buat Priya, dan 10 ribu buat kalian berdua," Otto menjelaskan rencananya untuk memaksimalkan Uang Saku Harem.
"Dan untuk ke depannya, Rere yang akan mentransfer semuanya."
"Baik. Jumlahnya kayak yang Tuan bilang barusan kan?" Rere konfirmasi.
"Cukup nggak?" Otto bertanya pada Priya dan Avni.
Mereka berdua mengangguk senang.
Ya iyalah mereka senang! Wong pendapatan bulanan mereka langsung melesat setingkat dengan CEO suatu perusahaan.
"Avni... Sekarang kamu percaya kan kalau aku punya banyak uang?" Otto berkata pada Avni.
Otto masih terngiang akan perkataan Avni semalam. Otto ingin menegaskan kalau yang jadi bohir di sini bukanlah Priya. Melainkan Otto.
"Iya... Aku percaya."
.
.
.
Satu bulan berlalu sejak Otto tinggal di rumah Priya. Otto dan ketiga haremnya sedang berkumpul di depan meja makan.
{Trek.}
Otto tiba-tiba meletakkan sendok dan garpu yang tengah digunakannya.
Sudah beberapa hari ini Otto mencari cara untuk memecahkan sebuah masalah yang harus dia atasi kalau dia ingin membentuk kembali Keluarga Bernardi.
Sebagai salah satu bentuk proteksi yang dilakukan oleh Keluarga Bernardi kepada calon penerusnya, nama Otto hingga saat ini belum tercatat di dinas kependudukan Agronesia. Bahkan rekening Bank yang dulu Otto pegang pun, tercatat atas nama Ayahnya.
"Priya..." Otto memulai pembicaraan.
"Ya Say...?"
"Aku kan udah cerita kalau aku itu sebatang kara."
"Ya. Kamu udah cerita," jawab Priya.
"Ya. Semenjak kebakaran yang merenggut nyawa Ayahku, aku dibuang oleh keluarga besarku. Dan mereka juga menghilangkan nama kami dari daftar kependudukan," Otto menambahkan kisah baru dalam biografi palsunya.
"Sehingga bisa dikatakan kalau saat ini, aku dan Rere adalah warga ilegal."
Otto pernah cerita pada Priya di hotel, kalau dia itu sebatang, dan Rere adalah seorang butler yang bekerja di keluarga besarnya. Otto waktu itu juga membual dengan mengatakan kalau Rere berusia 26 tahun.
Otto diam sejanak sambil melihat ke arah Priya.
"Kamu mau nggak jadi ibu angkat aku?" tanya Otto pada Priya.
"Seriusan kamu mau jadi anak angkat aku?" tanya Priya memastikan. Priya gak nyangka kalau Otto akan meminta hal se-random ini pada dirinya.
Otto jawab dengan mengangguk mantap.
__ADS_1
"Gimana Ni?" tanya Priya pada Avni.
"Kok nanya aku?" jawab Avni heran.
"Kalau Mamah angkat Otto jadi anak. Kamu otomatis akan jadi kakaknya."
"Aku sih gimana mamah aja," jawab Avni.
Priya diam sejenak untuk berpikir.
"Ya udah. Nanti aku coba uruskan semua administrasinya. Toh uang darimu sudah sangat cukup buat jadi pelicin. Mulai sekarang, kamu harus panggil aku Mamah."
"Dan panggil Aku Teteh," Avni menambahkan.
"Mamah... Teteh..." Otto berkata sambil tersenyum lebar.
"Tapi aku gak punya marga patrilineal. Kalau pake Mahelia. Jadinya kan matrilineal. Kamu nggak papa kalau punya marga matrilineal?"
"Gimana kalau pake marga aku aja?" usul Otto.
"Ah... Ide bagus! Aku sebenarnya dulu pernah ngebet banget pengen punya marga Bernardi," Priya langsung sepakat.
"By the way, mulai sekarang Mamah sama Teteh nggak akan dapet jatah itu lagi dong?" tanya Priya selidik.
"Enak aja!" Avni langsung protes.
Priya juga sebenernya nggak rela kalau harus kehilangan kenikmatan tertinggi yang ada di dunia ini.
"Kan kalian bisa jadi keluarga plus-plus," usul Rere.
"Ih! Rere pintar!" Avni bersorak memeluk Rere. Rere cemberut. Dia tidak suka dipeluk begitu.
Priya tersenyum lega. Inilah jawaban yang ingin Priya dengar.
"Suka-suka kalian aja lah!"
Otto nggak peduli soal mau jadi keluarga normal, ataukah keluarga plus-plus. Yang pasti Otto senang karena sekarang dia sudah memiliki jalan untuk mencatatkan namanya dan juga nama Rere, di Dinas Kependudukan.
"Itu bisa diatur... Rere bisa kupalsukan sebagai adikku yang hilang," jawab Priya sambil tersenyum ramah.
Dan dua bulan kemudian, nama Otto dan Rere sudah tercatat di dinas kependudukan sebagai anggota keluarga Priya.
.
.
.
Hari sudah malam. Di depan rumah Priya terparkir tiga buah mobil. Audi A3 berwarna kuning, Honda Civic RS 2023 berwarna putih, dan Porche 911 Turbo S Cabriolet PDK yang juga berwarna putih.
Audi A3 adalah mobil milik Priya. Dan mobil Porche itu, Otto sengaja beli untuk Mamah barunya. Tapi karena Priya merasa mobil itu terlalu mewah, maka Porche itu jadinya digunakan oleh Otto. Sedangkan kepemilikan Honda Civic, berpindah kepada Avni.
"Say... Kakakmu kok belum pulang ya?"
"Tadi Teteh bilang mau kerjain tugas ekskul dulu Mah."
"Kamu yang jemput kan?"
"Ya."
Karena di sekolah Avni ada peraturan siswa tidak boleh bawa mobil, sehingga untuk antar jemput sekolah semuanya dilakukan oleh Otto.
Smartphone Otto berdering.
"To... Teteh udah beres."
"Okeh. Teteh nunggu di mana?"
"Di Cafe Merah Jambu ya..."
__ADS_1
"Oke Teh. 30 Menit ya..."
"Iya..."
Tuuut... Tuuut...
[Main Quest didapatkan.]
[Selamatkan Avni sekarang juga!]
'Eh! Seriusan?!'
Otto yang terkejut oleh notifikasi Sistem, langsung berlari keluar dari rumah.
"Jangan lari-lari. Tetehmu nggak akan mati gara-gara kamu telat jemput!" teriak Priya.
'Kalau sekarang sih bakalan mati!'
Otto percaya sepenuhnya dengan peringatan dari Sistem.
'Masukkan mobil Porche ke gudang.'
{Zap.}
Mobil Porche putih yang terparkir langsung menghilang.
Otto membuka fitur Harem. Lalu memeriksa lokasi dan kondisi Avni. Otto lihat Avni sedang berjalan melewati gerbang sekolah. Namun dia lihat ada tiga orang pria berjalan mendekati Avni.
'Putra...' geram Otto.
'Teleportasi ke lokasi Harem!'
{Zap!}
Tubuh Otto langsung menghilang dari pandangan.
.
.
.
"Hai sayang..." Putra muncul untuk menghalangi jalan Avni.
Bersama Putra ada dua orang pria. Satu orang berbadan besar seperti Hulk, dan satu orang yang berbadan kurus seperti lidi.
"Kamu kemana aja sih Sayang.... Udah tiga bulan kamu nggak hubungin aku sama sekali. Malahan tega-teganya kamu block aku."
"Apaan sih Put!"
Avni melengos menghindari Putra.
"Eits! Mau kemana? Kamu harus ikut aku!"
Putra genggam tangan Avni hingga berubah jadi kemerahan.
"Lepaskan tangan Teteh!" hardik Otto pasca berteleportasi.
"Oh... Jadi gosip yang bilang kalau kamu sekarang udah punya adik angkat itu bener toh..."
Putra mengangguk-angguk sambil tertawa cengengesan. Otto dapat melihat raut kecemburuan di wajah Putra.
"Hupal! Budi! Habisi dia!" teriak Putra.
'Hulk Palsu dan Bujur Lidi,' Otto bermain singkatan nama di dalam hatinya
"Jangan!"
{Greb!}
__ADS_1
Avni hendak berlari menolong. Tapi Putra menahan Avni dengan cara memeluknya erat.
...— Bersambung —...