
Sore harinya di ruang keluarga, Otto dan ketiga haremnya sedang duduk di sofa. Mengelilingi sebuah meja tamu.
"Apakah benar yang kamu katakan itu Say?" tanya Priya pada Otto
Barusan Otto menceritakan kepada Priya dan juga Avni bahwa dia akan pergi untuk berlatih intensif dalam jangka waktu yang sangat lama.
"Kenapa harus di gunung?! Kenapa harus lama?! Terus kenapa cuman bocil ini yang kamu bawa sih?!" Avni protes dengan suara tinggi.
"Hei... Walaupun aku terlihat imut begini. Tapi aku ini lebih tua darimu loh..." protes Rere pada Avni.
Pada dasarnya Rere memang lebih tua dari siapapun yang ada di dunia ini. Akan tetapi kalau di catatan sipil, Rere tercatat sudah berusia 27 tahun. Sedangkan usia Avni saat ini baru 18 tahun.
"Aku tahu kalian pasti kecewa dengan kepergian Tuan Otto. Tapi aku ingin bertanya pada kalian berdua. Sebenarnya apa sih yang membuat kalian kecewa? Apakah karena kalian membutuhkan Tuan seutuhnya? Ataukah karena berbagai keuntungan yang Tuan berikan?" Rere bertanya pada Avni dan Priya dengan menatap mereka tajam.
"Tentu saja sosok dia seutuhnya," jawab Priya dengan lembut.
"Iya. Jawabannya sudah jelas kan Re?!" tambah Avni bersungut-sungut.
Agak bingung memang!
Segala yang ada di dalam diri Otto, sesungguhnya dapat memberikan mereka keuntungan. Karena Otto itu paket komplit spesial pakai telor.
Yang pertama, Otto bisa jadi pasangan yang mereka bangga-banggakan pada circle mereka karena Otto itu gagah dan juga tampan.
Lalu Otto juga bisa ngasih mereka kenyamanan secara finansial lebih dari lelaki manapun yang pernah mereka temui.
Dan tentu saja yang paling membuat Otto itu spesial. Dia bisa memberikan mereka candu di atas ranjang setiap malam.
"Hahhh..." Rere menghembuskan nafas panjang.
"Kalau urusan uang. Jatah kalian akan ditransfer setiap hari seperti biasa," Rere menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Avni dan Priya diam. Mereka masih belum rela melepaskan Otto. Masih banyak benefit yang bisa diberikan oleh Otto selain daripada uang.
"Kalau perkara candu di atas ranjang. Bukankah selama ini kita kerap main bertiga?"
"Ya. Hampir setiap malam," Avni mengiyakan sambil membuang wajahnya dari Rere.
Dia cemburu karena Otto memperbolehkan Rere untuk memonopoli dirinya.
"Kenapa Tuan bisa memuaskan kita sekaligus?"
"Ya... Karena skill dia top markotop dong!" ujar Avni merujuk pada Skill Kemampuan Berjimak Otto yang sudah mencapai Grade Master.
"Ya betul... Terus kalau lagi main bertiga. Kan tetep nggak mungkin kalau tiga-tiganya digarap sekaligus. Tetap harus ada yang diem nunggu giliran. Karena Tuan cuman manusia. Bukan monster bertentakel ala kartun Jepang."
Avni dan Priya akhirnya teringat dan merasa heran sendiri. Karena walaupun mereka sedang menunggu giliran, mereka tetap dapat merasakan sensasi seperti sedang digarap secara maksimal.
"Ke... Kenapa bisa ya?" tanya Priya sedikit merinding.
"Kamu inget nggak kejadian pas malem Nona Avni diculik si Putra?" tanya Rere pada Priya.
"Waktu aku diperkosa sama genderuwo?"
"Enak gak?"
"Persis kayak sedang digarap sama... Eh?! Jangan-jangan...?"
"Ya Nyonya. Genderuwonya adalah Tuan."
Otto nyengir kuda sambil garuk dagunya yang gak gatel.
"Jadi semenjak saat itu, Tuan berhasil menemukan kemampuan yang bisa bikin kita merasakan apa yang salah satu dari kita rasakan. Semacam koneksi lahir dan batin gitu."
__ADS_1
"Bagaimana caranya?!" Avni jutek. Dia nggak percaya sama tahayul.
"Pakai teknik prana," Otto turut membual guna menyamarkan soal skill Harem Link Up yang dimilikinya.
Priya dan Avni terdiam tak mengerti.
"Kayaknya nggak bisa cuman dijelasin deh!" Rere berkata sambil memandang Otto.
"Kalian duduklah di sana yang tenang," ujar Rere memperingatkan Avni dan Priya.
Rere saat ini sedang mengenakan rok mini. Sehingga untuk melakukan pembuktian, Rere cukup menurunkan segitiganya saja.
[Tuan. Gunakan Pleasure Provider dan Harem Link Up sekaligus.]
'Sekarang juga?'
[Ya Tuan. Nggak usah pakai pemanasan. Langsung saja lakukan padaku.]
'Baiklah...'
[Pleasure Provider diaktifkan.]
[Seribu Kilias terpakai.]
[Harem Link Up diaktifkan.]
[Dua juta Kilias terpakai.]
Otto menurunkan sangkar burungnya. Membebaskan hewan buas yang sedari tadi terkurung di dalamnya.
Rere memposisikan dirinya di hadapan Otto yang sedang duduk. Mereka mengatur posisi seperti hendak melakukan hal semacam itu.
{Sleb!}
.
.
.
"Di ruang tamu?" tanya Bibik pembantu yang sedang mencuci baju.
"Di ruang tengah kayaknya," jawab Bibik lainnya.
Mereka berdua pun menghela nafas panjang sambil memasang wajah pasrah.
.
.
.
"Ada geludug!"
Reus yang sedang jongkok langsung berdiri menatap langit. Mencari asal suara keras yang terdengar barusan.
Tapi langit terlihat begitu cerah. Sehingga Reus melanjutkan kembali ritual merokoknya.
.
.
.
__ADS_1
'Yak! Cukup. Mereka sepertinya sudah percaya...' simpul Otto saat melihat reaksi Rere, Avni, dan juga Priya.
"Jangan berhenti!" protes ketiga harem bersamaan.
Sehingga pembuktian satu suapan itu baru berakhir setelah ribuan suapan kemudian.
"Hosh... Jadi... Hosh... Nanti tiap malemh... Kalian berdua tetep bisa ngerasain sensasi candu yang kalian idamkan..." ujar Rere yang menjelaskan sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Saat Tuan menggarap sawahku. Kalian tinggal siap-siap aja tiap malem," lanjut Rere.
"Jadi jarak jauh juga bisa ya?" tanya Priya setelah meminum segelas air putih.
"Percaya saja sama kemampuan Tuan!" Rere menegaskan.
Rere dan Priya terdiam. Mereka tetap merasa kalau masih ada yang kurang.
"Bukan Rere aja kok... Kalian juga tetep dapet giliran..." Otto yang mengerti, membuka suaranya.
"Masak kamu nanti bolak balik Yang?!" tanya Priya dengan nada khawatir.
"Sekarang kalian coba ke kamar kalian masing-masing. Aku ingin memperlihatkan sesuatu," titah Otto.
Priya dan Avni menuruti perintah Otto walaupun mereka tidak mengerti.
{Zap!}
Dengan menggunakan fitur Harem, Otto langsung nenghilang dari sisi Rere.
{Zap!}
Priya terkejut saat Otto muncul di hadapannya.
"Inilah kenapa pas aku terluka kemaren, aku bisa langsung muncul di depan Mamah," penjelasan Otto membuat ketidak-masuk-akalan ini menjadi masuk akal.
{Zap!}
Otto menghilang lalu muncul di depan Avni. Membuatnya terperangah.
"Inilah kenapa pas Putra ingin mencelakai Teteh, aku bisa dengan cepat datang ke tempat Teteh."
{Zap!}
Otto menghilang lagi dan muncul kembali di sebelah Rere.
Avni dan Priya kembali lagi ke ruang keluarga dengan wajah tercengang.
"Dengan cara barusan, Aku berjanji akan menggilir kalian bertiga dengan adil. Setiap tiga hari satu kali."
Perlahan senyum mulai merekah di wajah Avni dan juga Priya.
"Lagipula... Walaupun kalian sedang tidak dapat giliran, berkat kemampuan yang kalian buktikan sebelumnya, kalian semua tetap dapat merasakan kenikmatan yang seperti candu itu setiap malam."
Otto pandangi Avni dan Priya bergiliran.
"Sepakat ya?" tanya Otto memastikan.
"Baiklah bila itu maumu!" Avni menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kamu harus tetap jaga kesehatan ya... Jangan terlalu memaksakan diri," Priya mencoba perhatian.
'Ini mah emang dasarnya mereka takut kehilangan jatah aja!' dengus Rere dalam hati, saat melihat wajah Priya dan Avni yang kembali berseri-seri.
...— Bersambung —...
__ADS_1