
[Tapi ini terlalu berbahaya Tuan.]
Sistem kembali mengingatkan.
'Berapa persen kemungkinanku selamat jika aku datang sendirian?'
[Hanya 15%.]
'Itu sudah cukup bagiku.'
[Tapi Tuan...]
[Tuan...]
Jika saja Rere saat ini tidak sedang tertidur, pastilah dia sudah menjerit-jerit untuk mencegah Otto pergi.
.
.
.
Otto menyusuri jalan dengan menggunakan motor trail KTM 500 EXC-F berwarna orange. Sebenarnya, Otto lebih suka mengendarai motor daripada mobil.
Tak lama kemudian, Otto sampai di sebuah sekolah tua yang terbengkalai.
'Eh... Masih tersisa beberapa menit sebelum Dungeon terbuka. Sebat dulu deh.'
Saking bersemangatnya, Otto menjadi terlalu tergesa-gesa. Seharusnya dia lebih bersantai karena Dungeon Break baru akan terjadi enam jam lagi.
{Ckesh. Sssp... Ah...}
Tanpa turun dari motornya, Otto tampak begitu menikmati sebatang rokok yang terselip di jemarinya.
{Vrooom...}
Beberapa menit kemudian puluhan mobil jeep hitam datang mendekat. Mobil-mobil itu berjajar dengan begitu rapi.
"Buka gerbangnya cepat!"
Seorang lelaki berjas turun dari mobil terdepan.
{Greeek...}
Lelaki itu membuka gerbang. Membiarkan seluruh mobil jeep memasuki sekolah.
'Ah... Ternyata Dungeon belum dibuka itu maksudnya belum ada orang di tempat ini toh...'
{Fiuh...}
Otto hembuskan asap rokoknya. Dia turun dari motornya lalu berjalan santai mendekati gerbang sekolah.
{Ssst... Fiuh....}
Di gerbang sekolah Otto diam memperhatikan calon lawan-lawannya.
'Kurang lebih tiga ratusan orang.'
Otto menilai bahwa ketiga ratus orang itu jauh lebih kuat daripada Hupal dan Budi yang baru saja dia hadapi dua hari yang lalu.
'Harus lebih serius nih...'
"Hei! Siapa kamu?! Ngapain di situ?!"
"Hei! Denger nggak?! Budeg ya?!"
"Pergi! Pergi!"
Tiga orang mafia berjalan mendekati Otto. Sementara teman-temannya yang lain tetap diam tidak mempedulikan.
Tak menanggapi peringatan, Otto tetap berdiri di gerbang sambil menikmati rokok yang masih tersisa beberapa hisapan lagi.
"Eeeeh... Songong juga ya!"
Saat ini, jarak antara ketiga Mafia dan Otto hanya tersisa tiga langkah saja
{Puk. Srek Srek.}
Otto menjatuhkan rokok lalu menginjaknya dengan kuat.
{Fiuh...}
Otto hembuskan sisa asap terakhir di mulutnya ke wajah ketiga orang tersebut.
[Aliran Silat Bernardi diaktifkan.]
{Duag Duag Duag!}
Tiga buah pukulan, Otto lancarkan. Dalam sekejap langsung menumbangkan ketiga orang tersebut.
{Cuih!}
Otto ludahi wajah pria yang tampangnya paling menyebalkan.
'Kesel banget liat muka dia!' gerutu Otto.
Ketiga ratus orang yang berada di sana mulai waspada. Mereka sadar kalau Otto bukan sekedar lewat. Mereka tahu kalau Otto datang untuk mencari masalah.
__ADS_1
"Eh! Itu orang yang kita cari!" teriak salah seorang Mafia yang bolak balik melihat smartphone dan wajah Otto.
Otto menyeringai. Dia melangkah meninggalkan gerbang. Selangkah demi selangkah memasuki area sekolah.
"Habisi dia!"
Satu orang berlari diikuti oleh empat orang yang lain.
'Cuman lima orang!'
[Aliran Silat Bernardi diaktifkan.]
{Duag Duesh Jleb Krak Bam}
Rangkaian serangan yang cepat dan kuat langsung menghabisi kelima orang tersebut.
"Uwooo...!"
Sepersekian detik kemudian sepuluh orang Mafia menyerang dengan serentak.
'Gitu dong...!'
{Bleb Blug Drek Srek.}
Puluhan serangan meluncur dengan deras ke arah Otto. Namun Otto mampu menahan serta menghindari seluruh serangan dengan sempurna.
'Sekarang giliranku!'
{Blesh Duash Dresh Sresh.}
Satu per satu para Mafia itu tumbang tak sadarkan diri.
"Sialan...! Seraaang...!"
Melihat kehebatan Otto, membuat para Mafia yang semula diam menunggu, menyerang dengan serempak. Mungkin hampir seratus orang yang tergerak akibat kelihaian yang dimiliki oleh Otto.
Otto tersenyum dari pipi ke pipi akibat lonjakan adrenaline yang dia rasakan.
'Ah... Nikmat sekali...'
{Duesh!}
Lihai berstrategi, Otto melompat tinggi.
{Pak Pak Pak.}
Dia melewati kerumunan itu dengan menjadikan kepala para Mafia yang menyerangnya sebagai pijakan.
'Hup.'
{Greb.}
{Duag!}
Dengan menggunakan lututnya, Otto hantam wajah Mafia tersebut.
{Trap.}
Otto kini berada di posisi yang cukup strategis untuk melancarkan rangkaian serangan berikutnya.
'Buka Toko Sistem.'
Dua buah pistol semi-otomatis langsung muncul dari ketiadaan.
[Gun Fu diaktifkan.]
{Drap Drap Drap Drap.]
Otto berlari mengelilingi kerumunan Mafia.
{Dor! Dor! Dor! Dor}
{Ratatata! Ratatata!}
Tidak bisa dihindari lagi. Mereka semua berhenti berbaku hantam. Mereka memilih untuk saling bertukar peluru.
.
.
.
Di dalam salah satu ruangan kelas, Taitu tampak sedang mengatur strategi di sebuah papan tulis tua.
"Kau tunggu di sini."
"Kau di sini."
"Dan kau siap-siap di sini."
{Dor! Dor! Dor! Dor}
{Ratatata! Ratatata!}
"Hueks..."
"Dia di sana!"
__ADS_1
"Uwooo..."
{Ratatata! Ratatata!}
Kegaduhan terdengar dari luar gedung sekolah, membuat Taiga melihat ke luar melalui jendela
"Wah wah wah... Lihat itu siapa yang datang?" Taiga berkomentar.
"Dia hebat juga," sahut Taipat.
"Bukankah itu Aliran Silat Bernardi?"
"Ya. Tapi masih mentah," Taipat setuju.
"Target kita sudah ada di sini. Kita habisi saja dia sekarang," Taitu yang sedari tadi diam memberi perintah.
{Zreeeek...}
Pintu kelas digeser. Mereka berempat lalu keluar dari dalam kelas.
.
.
.
Kurang dari seratus orang Mafia berdiri mengelilingi Otto.
Wajah Otto bonyok dan berdarah-darah. Salah satu tulang rusuknya telah patah.
[Luka terlalu parah. Darah Terkutuk tidak bisa mengimbangi.]
[Stamina sudah terkuras. Darah Terkutuk tidak bisa mengimbangi.]
{Prok Prok Prok.}
Terdengar suara tepuk tangan dari dalam gedung sekolah. Keempat Kakak yang sedari tadi hanya menonton, akhirnya keluar dari persembunyiannya.
"Keren... Keren sekali..." puji Taiga sambil nyengir kuda.
"Hei Bocah! Kemana Tuan Tuasu?" tanya Taipat.
'Ah... Jadi ini semua gara-gara si tua tapi asu...' simpul Otto yang mulai mengerti.
"Aku telah menghabisinya."
"Sesuai dugaanku," bisik Taipat geram.
"Kita harus cari donatur baru dong..." komentar Taiga.
"Kalian semua minggir! Biar kami yang urus dia," titah Taidu pada seluruh anak buahnya.
"Karena kamu udah ada di sini. Kamu akan jadi pemanasan buat kami," Taidu muqodimah.
"Kamu akan mati di tangan kami. Siapa namamu anak muda?" tanya Taitu.
"Otto Bernardi."
Otto memberikan salam khas pendekar.
"Kami adalah empat pemimpin tertinggi Keluarga Mafia Makotai. Namaku Taitu."
"Aku Taidu."
"Taiga."
"Namaku Taipat."
Mereka semua memberikan salam khas pendekar.
"Baiklah... Taitu si Tai Satu, Taidu si Tai Dua, Taiga si Tai Tiga, dan Taipat si Tai Empat dari Keluarga Mafia Makotai. Mafia Kok Tai," hina Otto sambil menunjuk wajah mereka satu per satu. Ekspresi Otto terlihat begitu menyebalkan.
"Dasar bocah kurang ajar!"
{Blar!}
Taitu melesat. Dalam sekejap dia sudah berada tepat di depan wajah Otto. Tangannya terkepal. Meluncur deras ke arah wajah Otto.
'Sial!'
[Speed Up diaktifkan.]
[100 Kilias digunakan.]
Otto merasakan dunia di sekitarnya tiba-tiba melambat. Termasuk dengan Taitu yang sedang menyeringai mengerikan.
Kalau Otto saat ini lagi megang sikat gigi. Otto akan membantu Taitu untuk menyikat giginya yang kuning itu.
{Srek.}
Otto coba menghindari pukulan dari Taitu yang hanya beberapa mili lagi menyentuh wajahnya.
{Duagh!}
Tapi sayangnya tinju itu tetap berhasil menyerempet pipi Otto.
[Speed Up dibatalkan karena terkena serangan yang sangat kuat.]
__ADS_1
...— Bersambung —...