
Di dalam Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit.
"Dokter! Mana Dokter?!" teriak Araldo yang bersimbah darah. Dia sedang menggendong Priya yang sedang terluka parah.
"Tolong Dok! Selamatkan istri saya!"
Araldo berteriak pada sekelompok Dokter yang mendekati.
{Gredek Gredek Gredek.}
Para dokter langsung membawa Priya ke dalam ruang operasi.
"Bodoh!" Araldo mengutuk dirinya sendiri.
Tadi pagi, Araldo dan Priya memutuskan untuk mengikat janji suci di salah satu kuil yang ada di Gandasuli. Tapi tiba-tiba salah satu keluarga rival datang, dan memberondong kuil dengan ribuan peluru.
"Tuan... Tuan terluka parah. Tuan juga harus segera ke ruang operasi!" ujar salah seorang suster sambil membawa kursi roda.
"Tidak perlu. Aku masih bisa jalan," jawab Araldo sambil berjalan sendiri menuju ke ruang operasi yang lain.
.
.
.
"Ar.... Bagaimana anak kita?" tanya Priya yang baru saja siuman.
Priya memegang-megang perutnya yang tiba-tiba mengempis.
"Ar... Mana anak kita?!"
Araldo hanya diam menunduk di sisi ranjang.
"Ar! Jawab aku Ar!"
Araldo masih juga diam.
"Araldo Bernardi!" teriak Priya berderai air mata.
.
.
.
"Nyonya sudah bisa pulang," kata seorang pria berjubah putih.
"Makasih Dok," ucap Araldo.
"Sama-sama Tuan. Saya permisi dulu."
"Ya Dok..."
{Cklek. Drap Drap Drap.}
Begitu dokter keluar ruangan, Alfredo dan anak buahnya memasuki ruangan.
"Kamu sudah sembuh Pri?" tanya Alfredo pada Priya.
Priya dan Araldo diam tidak menjawab.
"Ar... Sekarang kamu paham kan kenapa Keluarga Bernardi tidak pernah memasukkan perempuan ke dalam keluarga kita?" Alfredo berkata dengan pemuh amarah. Dia kesal karena Araldo tidak mendengarkan nasihat darinya.
{Brug!}
"Ayah!"
Seluruh anggota Keluarga Bernardi yang ada di sana begitu terkejut saat Alfredo tiba-tiba bersujud di hadapan Priya dan Araldo.
"Kumohon Ar...! Kumohon bercerailah! Demi keselamatan Priya! Demi keselamatan Avni! Demi keselamatan calon cucu-cucuku kelak!"
Alfredo berderai air mata. Dia merasa sangat kehilangan saat mendengar kalau calon cucu lelakinya, tidak bisa diselamatkan.
"Ya Ayah! Kami akan menuruti Ayah! Jadi kumohon berdirilah!" ujar Priya tidak enak hati.
{Srek.}
Alfredo berdiri dibantu oleh anggota Keluarga yang lain.
"Pri... Ar... Aku tak akan melarang kalian untuk saling mencintai. Tapi demi keselamatan Priya, aku pun tak akan mengizinkan kalian menjalin sebuah hubungan yang legal."
Araldo dan Priya kembali diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Soal mencari penerus. Aku akan melakukan seperti apa yang biasa seorang Bernardi lakukan. Dan Priya..."
Priya perlahan menatap Alfredo.
"Kamu masih memiliki kontrak sebagai Escort milik Keluarga Bernardi. Kamu tetap bagian dari kami. Kami akan melindungimu. Jadi jalani kembali pekerjaanmu seperti biasanya. Dan posisikanlah Araldo selayaknya pelangganmu."
Priya dan Araldo tahu kalau cinta tak akan menyelamatkan nyawa mereka. Mereka tahu kalau Alfredo berbicara berdasarkan logika.
{Cklek!}
Melihat Araldo dan Priya hanya diam saja, Alfredo pun pergi sambil diikuti oleh Anggota Keluarga lainnya.
{Drap Drap Drap Drap.}
{Brug. Cklek.}
Seperginya Alfredo, Araldo membisu. Dia genggam erat tangan Priya. Sementara Priya tak hentinya meneteskan air mata. Saat ini mereka memang sedang bepegangan tangan, namun tetap terasa berjauhan.
.
.
.
"Bagaimana?!" tanya Alfredo yang sedang menyusuri lorong Rumah Sakit.
Puluhan lelaki berjas hitam berjalan dengan cepat. Membuat takut orang-orang yang melihatnya.
"Kami sudah dapat semua datanya Tuan."
"Berapa turunan?"
"Empat belas Tuan."
"Ya. Bantai mereka semua. Lakukan ini semua untuk cucuku!"
"Baik Tuan."
Alfredo adalah lelaki yang bijak. Tapi jangan buat Alfredo marah. Karena pembalasannya akan dirasakan oleh seluruh garis keturunan. Menghabiskan seluruh anggota marga.
.
.
.
Priya yang sedang disewa oleh Araldo kini sedang berada di mansion Keluarga Bernardi.
"Itu...?"
Priya menunjuk pada bayi yang sedang digendong oleh Alfredo.
"Ya. Itu adalah calon penerus Keluarga Bernardi."
"Oh ya?" tanya Priya yang ingin melihat lebih dekat
"Jangan ke sana!"
Araldo melarang Priya untuk mendekati bayi tersebut.
"Kenapa?"
"Hanya Ayah dan Aku yang boleh hidup setelah mengetahui nama dan wajah anak itu."
"Lalu bagaimana dengan para Babysitter itu?"
"Kami akan merawat keluarga mereka sebagai kompensasi."
"Bukankah itu terlalu kejam?"
"Tidak ada yang kejam bila itu berkaitan dengan keberlangsungan Keluarga Bernardi."
"Aku jadi ingat anak kita Ar..."
"Ya. Saat anak itu sudah dipublikasi. Akan kuperkenalkan dia padamu."
"Aku menantikannya."
Priya berniat akan menganggap bayi itu sebagai anaknya, ketika mereka bertemu kelak.
Tapi, Keluarga Bernardi seketika hancur. Priya nyaris gila saat mengetahui Araldo telah tiada.
Dan tanpa Priya sadari, Bayi itu kini telah menidurinya. Membuat Priya menjadi satu-satunya wanita yang pernah tidur dengan tiga tingkat silsilah penerus Bernardi.
__ADS_1
.
.
.
Otto sedang berbaring santai di atas ranjang Duke Size. Priya sedang menggunakan lengan kanan Otto sebagai bantalan.
"Say... Sepertinya besok aku mau pulang."
"Pulang?"
"Ya. Aku udah terlalu lama ninggalin anak aku."
"Kamu udah punya anak Pri?"
"Aku udah 40 tahun."
"Kirain masih 20 an."
"Kamu terlalu memuji," Priya tersipu.
Tapi Otto jujur. Walaupun sudah kepala empat. Priya lebih cantik dari kebanyakan gadis yang pernah Otto tiduri.
"Tuan... Kenapa kita gak ikut ajah...?" usul Rere yang sedang membawakan tiga kaleng bir dingin.
"Oh iya... Benar juga..."
"Benarkah kalian mau ikut?" tanya Priya pada mereka berdua.
"Boleh nggak?"
"Boleh... Tentu saja boleh!"
Sebagai seorang Harem, Priya sudah sangat terikat dengan Otto. Tentu saja Dia setuju!
.
.
.
Sore hari di Kota Kapitalia...
"Bik... Mamah udah pulang belum?" teriak seorang gadis cantik berseragam putih abu.
"Apa nanya-nanya Bibik?!" tegur Priya sambil tersenyum lembut pada Avni.
"Mamah!" gadis itu berlari untuk memeluk Ibunya.
"Mamah dapat berapa dari Kakek itu?" bisik anaknya sedikit kurang ajar.
"Eh! Ada Putra!"
Priya tidak menjawab pertanyaan Avni. Perhatiannya teralihkan pada sosok lelaki yang baru saja memasuki rumah.
"Tante sudah pulang?"
"Ya. Tadi siang!"
{Hmph.}
Bukannya sun tangan saat bertemu dengan orang yang lebih tua. Mahasiswa yang bernama Putra itu, malah memagut mesra bibir Priya.
Priya tidak pernah merahasiakan pekerjaannya. Sehingga Putra bukan satu-satunya lelaki yang memperlakukannya seperti ini. Dipandang murahan adalah bagian dari resiko pekerjaan Priya.
"Ehem!"
Otto yang juga sedang berada di sana, merasa dianggap sebagai patung gajah ruang tamu.
"Otto Bernardi," Otto memperkenalkan diri.
"Rowe Putra Opakor. Panggil aja Putra. Papahku adalah petinggi Pajak di Agronesia."
'Rowe Putra Opakor? Ronaldo Kawe Putra Oknum Pajak Korup,' Otto refleks bermain singkatan.
"Lalu siapakah bidadari yang satu ini?" tanya Otto pada Avni.
Avni hanya diam bersilang dada. Dia tunjukkan sikap jutek kepada Otto.
"Namanya Avni. Dia udah kelas 12. Usianya 18 tahun," Priya membuka suara untuk memperkenalkan putrinya yang hanya diam saja ketika ditanya.
"Oh... Avni Zoya... Nama yang manis," balas Otto sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
...— Bersambung —...