Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.8] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

"Kyaaa...! Tidaaak... Tidaaak..." seorang gadis menangis dan berontak.


Sang gadis tampak begitu tidak berdaya. Dia hanya bisa menjerit-jerit kala tubuhnya yang tengah telungkup, terhentak-hentak dalam tempo yang beraturan.


Lima orang pria berpenampilan kotor kini tengah mengerubunginya. Memegangi tangan dan juga kakiknya. Menghisap habis kesegaran yang dimiliki oleh gadis tanpa dosa.


Dia adalah gadis yang beberapa jam lalu memberikan Reus bunga. Seorang gadis yang sedari awal memang tak bisa lepas dari takdir buruknya.


"Bagaimana?" tanya seorang pria berbaju kulit harimau pada seseorang yang berpenampilan kotor.


"Selain hutan yang berantakan. Tak ada satupun jenazah saudara kita yang dapat ditemukan. Residual Energy di tempat itu juga menghilang untuk jangka waktu tertentu."


"Apakah karena kemampuanmu dalam mengendus residual energy udah jadi payah?"


"Tidak mungkin Boss... Aku selalu melatihnya setiap hari. Aku berpikir kalau ada seseorang yang sudah menemukan cara untuk menghapuskan residual energy," jawab sang indigo membela diri.


"Berarti orang itu sangat hebat?"


"Hebat ataupun tidak. Yang pasti dia adalah orang pertama yang dapat melakukannya."


"Menarik."


Boss bandit lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap seseorang yang tengah berlutut. Wajah orang itu babak belur.


"Tapi kamu tidak berbohong kan?" tanya Boss Bandit pada dia yang babak belur.


"Sa... Saya jujur Boss."


"Bukan kamu yang membantai saudara-saudara kita kan?"


"Sa... Saya tidak sekuat itu Boss..."


"Benarkah? Bagaimana kalau kita pastikan dulu."


{Grep!}


Sang Boss menggenggam batang leher pria yang berlutut di hadapannya.


{Hueks... Kh. Kh. Kh.}


Boss bersenjatakan golok bengkok itu mencekik leher pria berwajah bonyok. Kemudian mengangkatnya dengan menggunakan satu tangan.


{Kh. Kh. Kh.}


Pria berwajah bonyok berontak sambil menendang-nendangkan kakinya.


{Kh. Kh. Kh.}


Tak lama kemudian, badannya mengejang-ngejang. Lalu...


{Wek!}


Pria tersebut kehilangan nyawanya dengan lidah terjulur.


"Dasar sampah!" ujar sang Boss tanpa rasa penyesalan.


{Brug!}


Tubuh tak bernyawa itu dilemparkan seperti seonggok sampah tak berharga. Mendarat di atas tumpukan mayat lainnya. Mayat para penduduk Vardon Hill yang barusan diselamatkan oleh Otto dan juga Reus.


{Zuuu...}


Suasana mencekam menyelimuti hutan. Disebabkan oleh karma negatif yang terpancar dari lima ribu orang bandit gunung yang tengah berkumpul di tempat tersebut.

__ADS_1


Mereka semua kini tampak begitu kesal. Bukan karena saudara mereka yang telah mati dan menghilang. Melainkan karena saat ini mereka baru pulang dari sebuah perjalanan misi. Dimana misi yang tidak terlampau sulit itu gagal mereka selesaikan karena kecerobohan diri mereka sendiri.


"Sudah kalian periksa siapakah pelakunya?" tanya Boss Bandit pada beberapa orang yang sedang memegang laptop.


Di tangan mereka ada sebuah ilustrasi wajah Otto dan juga Reus. Ilustrasi yang digambar berdasarkan keterangan satu-satunya orang yang berhasil kabur dari amukan Reus.


Boss Bandit selalu melakukan beberapa cara untuk menyelesaikan masalahnya. Jika satu cara gagal, masih ada cara yang lain. Jika keduanya berhasil, maka kedua cara tersebut akan memiliki hasil yang saling menguatkan.


"Sudah Boss. Sepertinya mereka adalah penghuni baru di gunung ini. Tinggal di mansion yang itu," salah satu dari lelaki berlaptop menunjuk mansion Otto yang terlihat dengan sangat jelas dari atas bukit.


"Oh... Masih tetangga kita toh..." sang pemimpin menyeringai dengan sangat lebar. Diikuti oleh seringai dari seluruh anak buahnya. Mereka merasa senang karena sekarang mereka punya target yang bisa dijadikan alat untuk melampiaskan kekesalan mereka.


Sore hari keesokan harinya...


.


.


.


Otto sedang duduk bersantai di pekarangan Mansion. Sementara itu, Rere tengah bersandar di lengan kiri Otto sambil bermain game online.


Arika pun sedang berada di sana. Bersandar di lengan kanan Otto sambil menyuapi sang Tuan dengan buah apel yang sudah dipotong-potong oleh Edith.


Kedua gadis itu saat ini tengah mengenakan pakaian kasual yang cukup seksi. Mempertontonkan paha jenjang dan juga perut ramping mereka.


"Mau Re?" Arika menawari Rere sepotong apel.


"Buat kamu aja..." tolak Rere.


Beberapa saat kemudian, mata Rere tiba-tiba membulat.


"Eh! Tuan..." tegur Rere pada Otto.


"Kami berdua harus masuk ke dalam dulu."


"Loh? Kenapa?"


"Tunggulah di sini Tuan. Ini sudah saatnya..." jawab Rere penuh misteri.


"Yuk..." Rere menarik paksa tangan Arika.


"Tapi Re..."


"Udah! Masuk aja!" Rere tetap memaksa.


Melihat nonanya pergi sambil ditarik oleh Rere. Edith pun langsung pamit pada Otto tanpa mengatakan apa-apa.


"Ya Dith... Masuklah..." Otto mengizinkan.


{Drap. Drap. Drap.}


Edith langsung berlari kecil mengejar Arika dan Rere. Duh... Imutnya...


{Tring!}


Denting notifikasi tiba-tiba terdengar.


[Selamat! Misi Utama telah didapatkan!]


[Pertahankan Mansion.]


[Tuan harus bertahan dari gelombang serangan para bandit gunung yang ingin membalaskan dendam!]

__ADS_1


'Ternyata ini maksudmu barusan Re?' Otto langsung mengerti.


[Ya Tuan! Berjuanglah!]


"Ha ha ha....Ternyata kita sudah disambut nih..." teriak seorang pria bergolok bengkok sambil memasuki pekarangan melalui gerbang mansion.


{Drap. Drap. Drap.}


Pria itu tidak berjalan sendirian. Dia diikuti oleh banyak sekali bandit gunung bertampang gak karuan.


{Srek.}


Otto berdiri lalu membungkukkan badannya.


"Selamat datang di Mansion Keluarga Bernardi!" sambut Otto para pria tersebut.


{Drap. Drap. Drap.}


Suara derap langkah kaki terdengar semakin ramai.


{Gonjreng!}


Beberapa detik kemudian pekarangan Mansion milik Otto telah dipenuhi oleh ribuan orang bandit gunung bertampang sangar. Saking banyaknya yang datang, beleber-beleber sampai ke jalanan.


"Ada apa ini Tuan?" tanya Bakiman yang keluar dari Mansion bersama dengan Reus. Dari deru nafas dan juga keringatnya, Otto tahu kalau Bakiman barusan habis berlari. Atau habis... Ya sudahlah!


"Apa Kalian?! Mansion?!" tanya Reus pada bandit gunung bergolok bengkok.


"Tidak kok... Kami ke mansion ini cuman mau silaturahmi aja. Sekalian mau kasih oleh-oleh!" ujar sang Boss bandit yang mengerti bahasa dari Reus.


{Brug!}


Sebuah karung dilemparkan ke hadapan Reus.


{Glutuk. Glutuk.}


Beberapa kepala menggelinding keluar dari dalam karung. Reus langsung menggeram begitu dia sadar kepala siapa saja yang ada di dalam karung tersebut.


{Grrr...}


Reus menggeram semakin emosi saat dia lihat kepala dari gadis pemberi bunga.


{Srek.}


"Jangan!" Otto menahan Reus yang hendak menerjang. Mencegahnya untuk bertindak serampangan.


"Berkat apa yang kalian lakukan pada saudara kami kemarin. Kami jadi sangat membutuhkan hiburan," lanjut Boss Bandit mengarang alasan.


Mana ada dia peduli pada saudaranya. Mereka hanya ingin melampiaskan kekesalan yang terpendam.


"Hiburan kayak apa yang kau mau?" Igor keluar dari mansion sambil memperbaiki posisi sarung tangan latex yang dikenakannya.


Igor diikuti oleh ketujuh asisten yang merangkap muridnya. Tujuh Jenderal Calabria.


'Me... Mereka?!' Otto terhenyak melihat begitu besarnya aura prana yang terpancar dari ke delapannya.


{Glek!}


Boss Bandit tanpa sengaja melangkah mundur. Dia teguk ludahnya begitu melihat aura prana yang dimiliki oleh Igor dan kawan-kawan.


"Woh... Beraninya keroyokan..." seru Boss Bandit setelah dia menguatkan posisi berdirinya.


Otto menyipitkan pandangannya heran. 'Anak TK juga bakalan langsung tahu, di situasi ini, sebenarnya siapa sih yang beraninya cuman main keroyokan?!'

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2