Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 8.3] Sang Penguasa Tunggal


__ADS_3

Sehari sebelum penyerangan para bandit gunung. Tepatnya saat Otto dan Reus sedang berkumpul di depan api unggun bersama mereka yang kini telah tiada.


.


.


.


"Apakah separah itu?" Otto mengkonfirmasi kisah yang baru saja disampaikan oleh seorang Bapak yang sedang dipasangi perban.


"Ya. Para Kades dan jajaran pemerintahan desa semuanya adalah orang-orang korup. Vardon Hill memang tidak memasang pajak sepeserpun. Dan kami juga diperbolehkan untuk tinggal di rumah kami, tanpa membayar sewa kepada para tuan tanah."


Otto mendengarkan dengan seksama.


"Tapi kami semua dipaksa harus bekerja pada mereka tanpa bayaran. Nantinya hasil kebun dan ternak akan diambil semuanya. Mereka tidak mau untuk 'Maparo'."


(Author's Note : Maparo dalam bahasa Sunda bisa diartikan sebagai setengah-setengah. Maparo adalah sistem yang biasa digunakan dalam pertanian, peternakan, dan perikanan. Dimana para petani dan peternak, akan berbagi setengah hasil tani dan ternak dengan pemilik modal atau pemilik tanah.)


"Lalu kalian dapat apa?"


"Kami akan diberikan upah berupa jatah makanan harian yang jumlahnya tidak seberapa. Dan bila kami tidak bekerja hari itu, apapun alasannya, maka keluarga kami tidak akan bisa makan di hari tersebut."


"Itu sih sama aja dengan perbudakan," simpul Otto.


"Ya. Kurang lebih begitu," si Bapak menjawab sambil menatap api unggun dengan nanar.


Seluruh budak yang ada di seluruh dunia, namanya dicatat dengan ketat oleh Imperia de Pofta. Bahkan Bakiman, Arika, dan keenam gadis dari Kilias Road, tetap tercatat sebagai seorang budak di administrasi sipil. Hanya Otto dan kawan-kawan saja yang menganggap mereka bukan seorang budak.


Dan untuk penduduk Vardon Hill, justru berlaku sebaliknya. Mereka semua tidak tercatat secara resmi sebagai budak di kantor kependudukan. Tapi diperlakukan oleh para Tuan Tanah dan kroconya seperti seorang hamba sahaya.


"Lalu soal keberadaan bandit gunung ini? Apakah benar dugaanku barusan?" tanya Otto pada Bapak itu.


"Benar. Bandit gunung itu memang dipelihara oleh para Tuan Tanah dan Para Kades untuk mencegah para penduduk Vardon Hill untuk meninggalkan bukit ini," jawab si Bapak yang sudah selesai diperban.


Otto mengepalkan tangannya kuat. Dalam hati dia menggeram. Di saat dia bertekad untuk menghapuskan perbudakan. Orang-orang ini malah memperlakukan manusia merdeka sebagai seorang budak.


.


.


.


{Srek. Bruk.}


Salah seorang dari mereka yang berlutut, sujud di hadapan Otto yang tengah berdiri tegak di hadapan mereka.


"Ku... Kumohon Tuan Otto... Biarkan kami pergi meninggalkan Vardon Hill seperti para Tuan Tanah..." orang itu memohon sambil menangis.


{Bruk. Bruk. Bruk.}


Diikuti oleh semua orang yang ada di tengah lapangan.


"Kami mohon Tuan Otto!" teriak mereka semua bersamaan.


{Srek.}

__ADS_1


Otto tidak meminta mereka mengangkat kepala. Otto lah yang berjongkok di hadapan mereka.


"Lalu apa? Menyusun rencana untuk merebut kembali Vardon Hill?" bisik Otto.


Membuat orang itu semakin gemetar ketakutan.


{Srek.}


Otto kembali berdiri. Dia lalu berteriak agar dapat didengar oleh semua warga yang hadir di sana. "Kalian semua tentu tahu kalau Aku telah membeli seluruh tanah yang di ada di Vardon Hill dari para tuan tanah sebelumnya. Dan itu termasuk dengan Kantor kalian juga rumah tinggal kalian!"


Apa yang diteriakkan oleh Otto membuat para warga yang semula hening menjadi riuh kembali.


"Sebagai pemilik tanah di Vardon Hill, Saya tidak menyukai dengan apa yang telah kalian lakukan kepada para penduduk di Vardon Hill selama ini. Sehingga hari ini. Saya akan menghantarkan karma yang memang sangat pantas untuk kalian dapatkan," tutup Otto.


Suasana kembali menjadi hening.


"Bunuh mereka semua!" titah Otto langsung diikuti oleh seluruh Jenderal Calabria, CMYK, Duo Kilau, dan juga Reus.


{Kerash!}


"Argh..."


"Ampuuun..."


{Krash!}


{Zleb!}


"Aaaa..."


Sementara itu para penduduk Vardon Hill saling berbisik bersama dengan rasa takut yang menyelimuti diri mereka. Beberapa orang tua terlihat berusaha menutupi telinga dan mata anak-anak di bawah umur dari sebuah pengalaman yang mengerikan.


{Trep Trep Trep Trep.}


Otto lalu berjalan. Dia bergeser sedikit ke sebelah kanan. Membuat para penduduk dapat melihat pemandangan mengerikan yang terhampar di sebelah kiri Otto.


"Hei Nak! Sini!" Otto lalu memanggil seorang anak yang berada di dekatnya dengan senyuman yang sangat ramah.


Ibu sang anak langsung memeluk anaknya agar tidak mendekat. Tubuh mereka gemetaran.


"Nggak papa... Ayo sini... Sama Ibu juga sekalian..." ajak Otto kembali.


Mereka masih diam. Belum beranjak dari posisinya.


"Ayo sini... Ini perintah loh..." Otto tersenyum semakin lebar. Hingga pipinya seperti akan terkoyak oleh senyumannya.


"A... Ayo Nak..." bisik sang Ibu pasrah.


{Zrek. Zrek. Zrek.}


Mereka berjalan mendekati Otto sambil menyeret langkah mereka. Ibu dan Anak itu terpaksa menuruti perintah Otto walaupun mereka saat ini merasa sangat ketakutan.


"Arika," kata Otto setelah keduanya berada di hadapan Otto.


{Srek}

__ADS_1


Arika berjongkok untuk mensejajarkan matanya dengan mata anak itu. Lalu Arika menyerahkan segepok uang pada si anak.


"Anak baik. Ini untukmu dan Ibumu karena sudah menurut saat diperintahkan oleh Tuan Otto."


{Grep.}


Arika lalu menggendong anak itu. Dia juga memposisikan Ibu si anak untuk bergeser ke sebelah kanannya.


{Trep.}


Rere yang sedari tadi diam maju satu langkah.


"Mulai hari ini, Tuan Otto adalah pemimpin seluruh Vardon Hill. Pemimpin kalian semua! Kalian lihat! Di sebelah kiri ku adalah nasib kalian bila kalian berani menentang Tuan Otto!" Rere menunjuk puluhan jenazah tak bernyawa.


"Sedangkan di sebelah kanan ku adalah contoh jika kalian bersedia untuk mengikuti segala kehendak Tuan Otto!" Rere menunjuk Ibu dan anak yang baru diberikan uang.


"Menentang kami. Kalian mati! Mengikuti kami. Kalian akan kaya!" tutup Rere pada penduduk Vardon Hill.


Ancaman dan penawaran diberikan dalam satu waktu bersamaan. Membuat suasana di sana menjadi sangat hening.


"Hidup Tuan Otto!" satu orang berteriak ragu.


"Hidup Tuan Otto!" beberapa orang yang lain mengikuti.


Hidup Tuan Otto!" semakin banyak warga yang ikut berteriak menyatakan dukungannya pada Otto.


"Hidup Tuan Otto!"


"Hidup Tuan Otto!"


"Hidup Tuan Otto!"


Suasana lapangan langsung menjadi ramai oleh teriakan dukungan.


Otto memandang berkeliling. Dia tahu kalau saat ini alasan yang menyebabkan mereka semua meneriakkan dukungan kepada Otto masih terbagi.


Ada yang tulus mendukung karena bersyukur telah terbebas oleh kebiadaban para Tuan Tanah dan jajaran pemerintah. Dan ada pula yang mendukung karena mereka merasa takut kalau mereka akan mati.


Tapi Otto yakin...


Kalau tidak lama lagi mereka semua akan mendukung Otto sepenuhnya. Karena Otto memang dituntut oleh Sistem untuk membuat mereka semua merasa nyaman saat tinggal di tanah milik Otto.


{Sret.}


Otto mengangkat tangannya. Membuat sorak sorai perlahan menghilang.


"Aku berjanji. Mulai besok. Vardon Hill yang kalian rasa seperti neraka, sedikit demi sedikit akan berubah menjadi Surga Dunia."


"Hidup Tuan Otto!"


"Hidup Tuan Otto!"


"Hidup Tuan Otto!"


Para penduduk kembali bersorak sorai.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2