
Lima belasan menit kemudian di salah satu sudut terpencil dari hutan yang ada di Vardon Hill...
"Ampun Tuan! Kami cuman rakyat kecil," ujar seorang pria tua pada ratusan bandit gunung yang sedang melingkarinya.
{Krash...!}
Tanpa belas kasihan, pedang diayunkan. Memenggal kepala si pria tua.
"Kyaaa...!"
"Ayaaah...!"
"Kakeeek...!"
Kepala pria tua melayang di udara. Terlepas dari tubuhnya.
{Glutuk.}
Kepala itu lalu menggelinding di atas tanah. Berhenti tepat di depan salah seorang bandit gunung.
"Salah sendiri kalian nyasar ke tempat ini!" Bandit Gunung beralasan sambil memainkan kepala si pria tua.
Dua puluhan warga yang sedang berlutut ketakutan ini adalah sebuah keluarga besar yang berasal dari salah satu desa yang ada di Vardon Hill. Tadi siang mereka terpaksa pergi ke hutan untuk mencari salah satu anak dalam anggota keluarga mereka yang menghilang.
Anak itu berhasil ditemukan. Tapi saat ini seluruh anggota keluarga mereka terancam akan menghilang untuk selamanya.
Di sisi lain dari Hutan yang tak seberapa luas ini...
.
.
.
{Duesh. Srak. Duesh. Srak.}
Otto dan Reus masih berlari dengan sangat kencang. Melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Tanpa pedati yang kerap mereka gunakan, berlari dengan bebas seperti ini sungguh menyenangkan.
Dalam langkah yang cepat juga ringan. Otto teringat sebuah kejadian sekitar satu bulan yang lalu.
.
.
.
Saat itu hari masih pagi. Rere duduk di pangkuan Otto yang tengah bersantai di dalam sauna. Rere menyalakan handphone nya untuk push rank di salah satu game favoritnya.
"Ini juicenya Tuan..." ujar Igor yang datang menghampiri Otto dan Rere.
"Terima kasih Igor."
Igor sama sekali tidak merasa terganggu dengan romantisme yang tersaji antara Otto dan Rere. Dia tetap menyajikan Juice dengan profesional.
Igor sudah terbiasa dengan segala bentuk kebebasan duniawi yang terjadi di dalam Mansion Otto Bernardi.
Bagaimana tidak!
Otto dan haremnya seringkali tidak tahu tempat untuk bermesra-mesraan. Tidak siang, tidak malam, dimanapun dan kapanpun, asalkan ada kesempatan, hal-hal semacam itu kerap dilakukan.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Otto dan Haremnya, tentu saja turut berdampak pada Reus yang menjadikan Otto sebagai suri tauladan. Sehingga Reus dan CMYK juga kerap terlihat mempertontonkan kemesraannya di berbagai ruang terbuka yang ada di balik pagar mansion.
Dan lagi-lagi...
Entah apa spesialnya Reus di mata seorang Bakiman. Kelakuan Reus langsung menginspirasi Bakiman hingga sang jenderal tak lagi merasa malu saat kepergok sedang beradu aksi bersama Duo Kilau.
Tapi...
Jangankan Bakiman sang Jenderal pemberani. Arika sang puteri pemalu saat ini juga sudah berubah jadi puteri yang tidak malu-malu lagi. Arika sudah menjadi seorang pecandu kenimatan yang kerap Otto berikan.
Pleasure Palace. Ya...! Nama dari salah satu sumber uang milik Otto itu, kini juga layak untuk disematkan pada mansion kepunyaan Otto ini.
Pernah dalam satu kesempatan, salah satu murid Igor mengemukakan sebuah protes kepada gurunya.
Tapi Igor membela Otto dengan mengatakan, "Setidaknya ini adalah mansion mereka. Mereka berhak melakukan apapun di atas tanah mereka sendiri. Lagipula... Mereka tidak melakukannya di luar pagar mansion kan...?"
Dan ingatlah...
Bumi ini bukanlah bumi yang kita semua tahu. Bumi ini sudah busuk hingga ke akar-akarnya. Dimana sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang hanya mau berhubungan biologis dibalik tembok yang tertutup.
Dan berhubung Otto dan kawan-kawan hanya melakukan semuanya di balik tembok mansion, dan tidak pernah melakukannya di tempat umum, maka Otto dan kawan-kawannya tergolong ke dalam orang yang paling baik di mata dunia tempat mereka tinggal.
{Srupuuut...}
"Re..." tegur Otto setelah menyeruput Juicenya.
"Kata kamu waktu itu, Vardon Hill adalah tempat yang berbahaya, tapi kok selama dua bulan ini aku tidak melihat bahaya apapun?" Otto mengungkapkan pertanyaan menggelitik yang ada di kepalanya
"Belum saja Tuan," jawab Rere.
"Apakah kamu nanti akan memberikanku misi yang berkaitan dengan hal tersebut?" tanya Otto kembali.
{Srupuuut... Glek.}
"Baiklah kalau begitu," tutup Otto sambil menyeruput kembali juicenya.
Dan tepat hari ini, Rere memenuhi janji untuk memberikannya misi yang dimaksud. Tapi Otto sama sekali tak menyangka kalau hal ini akan berkaitan dengan bandit gunung.
Ini bukanlah Hutan Lindung Aranya, ini adalah Vardon Hill!
Sekelompok Bandit Gunung bersarang di sebuah bukit yang telah ditinggali oleh cukup banyak penduduk. Yang benar saja!
Kembali ke masa kini...
.
.
.
Terror yang dialami oleh sekolompok penduduk Vardon Hill itu masih berlangsung. Otto beserta Reus tak kunjung juga sampai ke lokasi kejadian.
"Hei manis... Kamu cantik juga..." salah seorang bandit gunung terlihat menggenggam dagu salah seorang gadis muda yang ada di sana.
{Srek...!}
Gadis itu diseret oleh si bandit gunung.
"Jangan... Tolooong...!"
__ADS_1
"Kayak belum pernah ginian aja!"
Bandit gunung melonggarkan sabuk celananya.
"Jangan! Tolong! Jangan anak gadis saya!" teriak Ayah sang gadis.
"Halah! Kamu sudah punya pacar kan gadis manis? Anggap aja Abang ini snack buat kamu!"
"Tolooong..." si gadis semakin berontak saat beberapa bandit gunung yang lain turut memegangi tubuhnya.
"Pegangin yang kuat dong... Nanti batangku bisa patah kalau ke tendang..." ujar bandit gunung yang sudah tak bercelana.
"Apa yang patah?" tanya Otto yang tiba-tiba sudah ada di sana.
{Surrrr...}
Darah menyembur dari area inti bandit gunung tak bercelana. Membasahi wajah si gadis dan beberapa bandit gunung yang tengah memeganginya.
"Akh... Burungku hilang...!" jerit si bandit gunung berusaha menahan darah yang mengalir.
{Duk!}
"Ada nih!" ujar Otto sambil menendang sebatang benda coklat ke arah sekelompok anjing peliharaan para bandit gunung.
{Grrrr... Krauk. Krauk.}
Anjing-anjing itu mengkhianati tuannya. Memakan barang paling berharga yang dimiliki oleh salah satu tuannya.
"Nah... Sekarang baru udah nggak ada," lanjut Otto sambil membawa si gadis menjauhi kerumunan.
"Mau kemana kamu?!' seorang bandit gunung emosi. Berlari menerjang Otto.
{Duagh! Krak!}
"Tuan. Baik?" tanya Reus yang begitu muncul, langsung menghantam wajah si penerjang hingga hancur berantakan.
"Ya Reus. Bisa kau urus mereka semuanya?"
"Tentu Tuan."
"Hei! Kalian! Ikuti aku kalau tak ingin mati!" perintah Reus pada semua sandra yang ada di sana.
Walaupun ragu, para sandra memberanikan diri untuk beranjak dari posisinya.
"Mau kemana kalian?!" jerit salah satu bandit gunung.
{Blar!}
Otto menaikkan hawa prananya hingga menimbulkan ledakan angin yang dahsyat. Membuat bandit gunung yang berteriak langsung terduduk ketakutan.
"Pilihan kalian cuman dua. Mati di tanganku sekarang, atau mati di tangan dia nanti."
Para bandit gunung terdiam ketakutan. Hal ini dimanfaatkan oleh para sandra yang langsung berlari ke arah Otto.
"Yuk semuanya... Kita pergi dari sini. Reus! Habisi mereka semua!"
"Baik Tuan!"
Otto pun pergi meninggalkan Reus sendirian. Dikelilingi ratusan bandit gunung yang baru saja merasakan teror yang sangat luar biasa. Padahal sang penebar teror sama sekali tidak memukul ataupun menendang mereka.
__ADS_1
...— Bersambung —...