Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.3] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

Selesai makan, Sebastian yang telah berganti pakaian langsung menghampiri.


"Jadi apakah Tuan dan Puan masih ingin mengunjungi tempat yang lain lagi?"


"Urusan kami sudah selesai di sini. Kami mau pulang," jawab Otto pada Sebastian.


"Baik Tuan dan Puan sekalian. Mari saya antarkan," Sebastian menunduk ramah. Menjalankan tugasnya sebagai seorang pemandu.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan lift transparan yang akan membawa mereka kembali ke dunia atas.


"Terima kasih Sebastian," Otto ramah berbasa-basi. Otto belum benar-benar melupakan kejadian di restoran saat Sebastian keceplosan.


"Sama-sama Tuan."


{Tit!}


Otto lalu mentransfer Sebastian 100 Milyar atas jasa yang telah diberikannya selama dua hari ini.


"Ini besar sekali Tuan," Sebastian tersenyum lebar.


"Besar untukmu tapi tidak untukku," Otto menjawab dengan sedikit menyindir Sebastian. Menegaskan seberapa kayakah dirinya. Dimana mengeluarkan uang beberapa triliun untuk Arika, bukanlah perkara yang berat bagi seorang Otto.


"Sebastian. Dadah. Smash," ucap Reus sambil melambaikan tangan.


"Tuan bilang... Terima kasih atas dua hari ini. Kami pergi dulu. Tapi kalau nanti kita ketemu lagi, tolong jaga ucapanmu Sebastian. Kalau tidak, Tuan Reus akan membunuhmu," ujar Cantika menterjemahkan.


"Baik. Aku akan mengingatnya Tuan Reus," jawab Sebastian sambil membungkuk. Dia bersyukur kalau saat ini dia masih hidup.


.


.


.


Delapan jam kemudian, sebuah mobil truk Ford-NH F-Max dan sebuah Mercedes Benz V Class, keduanya berwarna biru, memasuki Mansion Otto yang baru.


Mobil truk yang disupiri Reus mengangkut Otto, Priya, Avni, Rere, Arika, dan Edith. Sementara Mercedes Benz yang dibawa oleh Bakiman, mengangkut CMYK dan Duo Kilau-nya Bakiman.


Begitu kedua mobil itu berhenti, Igor sang butler dengan sigap mendekati mobil untuk menyambut keempat belas orang yang akan turun. Dia menjaga profesionalitasnya dengan sikap yang tenang dan juga elegan.


"Bapak Igor...?" sapa Otto pada pria tua dihadapannya.


"Cukup Igor saja Tuan..." jawab Igor.

__ADS_1


"Baiklah... Igor..."


"Saya Tuan."


Keinginan Otto untuk bersikap sopan pada orang yang jauh lebih tua ditolak mentah-mentah oleh Igor.


'Euh!' Igor tercekat saat matanya jatuh pada Arika yang turun dengan anggun.


Ekspresinya berubah. Matanya membulat. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat sosok Arika yang mempesona.


Dalam gaun putih yang elegan, Arika terlihat sangat menyilaukan mata. Memancarkan aura kebangsawanan yang dimiliki olehnya.


'I... Itu kan...' perasaan campur aduk melanda pikirannya saat ia menyadari bahwa Arika adalah mantan putri dari Kerajaan Aganaya yang menghilang dua tahun lalu.


Igor kemudian melirik ke arah para asistennya untuk mengkonfirmasi apa yang dia pikirkan. Salah satu dari para asisten terlihat mengangguk tanpa perlu ditanya terlebih dahulu.


"Perkenalkan semuanya. Saya Igor Calabria. Dan ketujuh orang ini adalah tim saya. Kami akan melayani Tuan dan Puan semuanya selama 24 jam penuh," sambut Igor mengenalkan diri dan juga para asistennya.


Igor kemudian memimpin seluruh rombongan untuk berkeliling mansion yang sangat mewah ini. Mereka melangkah melalui lorong-lorong yang elegan dan melewati pintu-pintu berhias megah. Menjelajahi setiap sudut mansion yang memiliki keindahan seni arsitektur yang tinggi.


Mansion ini semakin mempesona dengan taman yang luas dan indah. Angin sepoi-sepoi berhembus bersama aroma kembang yang bikin nyaman.


Tak jauh dari taman, terdapat kolam renang yang begitu jernih. Mengundang semua orang untuk nyemplung dan berenang.


Sedikit lebih ke utara dari lokasi kolam renang, terdapat jacuzzi bertemakan alam. Lengkap dengan air terjun kecil dan hutan buatan.


Selain itu semua, mansion ini juga memiliki dua buah lapangan tenis yang berkualitas. Terhampar bersebelahan.


Priya yang kebetulan menyukai olahraga tenis, langsung membayangkan betapa seru dan menyenangkannya bermain tenis di sana. Di tengah keindahan dan kemewahan yang disuguhkan oleh mansion milik Otto ini.


Puas berkeliling, Otto lalu meminta semuanya untuk berkumpul terlebih dahulu di ruang tengah.


"Apakah kalian semua sudah menghafalkan seluruh denah mansion ini?" tanya Otto pada semuanya.


"Agak susah kalau buat ngafalinnya. Tapi secara garis besar aku masih ingat," jawab Priya mewakili yang lain.


"Oke... Denger ya semuanya... Sekarang aku bakal ngebagi kamar yang ada di mansion ini untuk kita semua."


Ke-21 orang yang ada di sana langsung diam mendengarkan. Igor kemudian menyerahkan denah mansion kepada Otto.


"Pertama, aku serahkan seluruh kamar yang ada di lantai satu buat Igor dan ketujuh asistennya."


"Baik Tuan," jawab Igor.

__ADS_1


"Pembagian detail posisi kamarnya gimana kamu aja ya Gor..."


"Siap Tuan."


"Lalu..."


Otto membacakan satu per satu keputusannya. Membuat ruang tengah menjadi sedikit gaduh saat Otto selesai membagikan kamar sesuai dengan preferensinya.


"Terima Kasih. Tuan. Reus suka," ucap Reus tersenyum lebar.


Reus merasa senang karena kamar tidurnya berdekatan dengan kamar CMYK. Sehingga kalau butuh penyegaran, Reus tidak perlu berjalan terlalu jauh.


"Terima kasih Tuan!" sambung Bakiman sambil membungkuk.


Berada di sayap yang berbeda dengan Reus. Kamar Bakiman berada tepat di antara kamar Duo Kilau. Tujuan mulia Otto masih sama. Biar nggak jauh kalau butuh penyaluran.


Walaupun berada di sayap yang berbeda, Kamar Bakiman plus Duo Kilau dan Kamar Reus plus CMYK, sama-sama berada di lantai dua.


"Akh... Kamar kita semua berada di lantai yang sama!" sebut Avni pada Rere dan juga Priya.


Karena Otto tidak ingin harem-haremnya mendapatkan kamar di lantai yang berbeda-beda. Sehingga seluruh kamar di lantai tiga diserahkan kepada kelima Harem Otto.


Namun dari semuanya, Arika mendapatkan kamar yang sedikit spesial. Dimana kamar Arika merupakan kamar terbesar yang ada di mansion ini. Fakta ini tentu langsung membuat Arika merasa sangat terhormat.


"Nona sungguh beruntung sekali diberikan Tuan kamar yang paling besar dan indah," kata Edith dengan penuh rasa kagum.


"Aku pun tidak menyangka," jawab Arika sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Tuan. Hamba sangat menghargainya," Arika membungkukkan tubuhnya di hadapan Otto.


"Sudahlah Arika. Aku melakukannya karena aku mau. Lagian nantinya juga akan ada banyak orang yang bakalan tidur di kamar itu," jawab Otto datar.


Arika bengong belum mengerti. Sementara Avni dan Priya tersenyum sambil saling memberikan kode dengan mata mereka.


"Tapi bagaimana dengan Tuan sendiri...?" Arika tampak khawatir.


Berbeda dengan mereka yang ada di hadapannya, karena jumlah kamar tidur yang tersedia sudah habis, Otto sendiri tidak mendapatkan kamar tidur.


Sebagai gantinya, Otto hanya meminta sebuah ruangan kerja khusus untuk dirinya di lantai empat. Ruangan itu akan dia gunakan untuk mengatur segala urusan terkait Keluarga Bernardi pimpinannya ini.


"Tenang saja... Aku nggak butuh kamar," jawab Otto.


"Kenapa Tuan tidak butuh kamar?" tanya Arika yang disambut kikik kecil dari Avni dan Rere.

__ADS_1


"Kenapa?! Yah... Begitulah!" jawab Otto yang kesulitan buat ngejelasinnya. Yang pasti, nanti malam juga Arika bakalan mengerti.


...— Bersambung —...


__ADS_2