Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 6.4] Sang Putri Salju


__ADS_3

"Cowok kaya sama cewek cantik mah bebas!" Otto menantang balik gelandang itu dengan nada bicara yang sombong.


Gelandangan itu lalu memperhatikan rombongan Otto sejenak.


"Akh... Cuman lima orang pecundang!" ujar gelandangan tersebut sambil berdiri lalu meludah. Gelandangan itu terus menatap Otto dengan hawa membunuh yang pekat.


Reus yang merasakan hawa bahaya langsung bersikap lebih waspada. Dia maju selangkah untuk melindungi tuannya.


"Kami bukan pecundang. Kami adalah dua cowok kaya dan tiga cewek cantik," balas Otto kembali dengan nada sombong.


"Bacot!"


{Buk!}


Gelandangan itu lalu melemparkan sebuah kertas koran yang sudah dikuwel-kuwel menjadi bola ke dada Otto.


"Reus. Smash!" teriak Reus yang hendak melancarkan tinjunya.


"Tenang Reus!" Otto menahan Reus.


{Sret.}


Otto mengambil bola kertas di lantai.


{Kesrek. Kesrek.}


Otto lalu membuka bola kertas tersebut. Dia menemukan ada sebuah barcode yang tercetak di dalam koran bekas tersebut.


Otto mengarahkan handphone-nya pada kode barcode yang ada di dalam koran tersebut.


{Tit!}


"Sudah!" Otto tunjukkan pada gelandangan itu kalau dia sudah transfer uang sejumlah lima milyar Kilias.


"Selamat datang Tuan dan Puan sekalian," Gelandangan tersebut mendadak bersikap ramah pada Otto dan kawan-kawan.


'Eeeeh...! Obrolan barusan itu kalimat sandi?! Kok gitu amat sandinya?!' Avni memekik dalam hati. Dia kecewa karena kalimat sandi rahasia yang diucapkan tidak sesuai dengan bayangannya.


Gelandangan itu tersenyum melihat ekspresi wajah Avni yang terlihat protes. Avni lupa kalau kode sandi itu dibuat biar nggak ketahuan. Bukan dibuat keren kayak di film-film.


{Cklek.}


Gelandang itu menekan tembok basement yang ternyata adalah sebuah tombol.


"Maaf atas ketidaknyamanannya..."


Bau pesing seketika menghilang. Berganti jadi bau harum semerbak.


"Bau tadi ternyata buatan loh Yang..." Priya menyikut Avni.


"Iya Mam..."


Rere yang sedang asyik dengan handphone nya, melirik sinis ke arah Avni dan Priya yang tampak begitu kampungan.


"Kesini Tuan dan Puan..."


Gelandang itu kemudian mengajak Otto dan rombongannya untuk masuk ke dalam WC yang terbengkalai tersebut. Sang gelandangan lalu menempelkan sebuah kartu pada tembok WC.


{Zreeek...}

__ADS_1


Tembok tiba-tiba bergeser. Ada sebuah lift kaca yang sangat besar di dalam tembok tersebut.


"Saya sampai di sini dulu."


"Ya. Terima kasih," balas Otto pada sang gelandangan yang berjalan mundur.


Otto masuk ke dalam lift diikuti oleh yang lainnya.


{Tit!}


Otto menekan satu-satunya tombol yang ada di dalam lift.


{Zreeeet...}


Pintu lift tertutup. Dan lift kaca itu pun bergerak turun.


Avni dan Priya lagi-lagi saling sikut. Sudah lima menit lift ini bergerak turun dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau lift ini akan berhenti.


{Zragh!}


"Eh! Kenapa?!" Priya terkejut saat lift tiba-tiba sedikit bergetar.


"Akh!" Avni memeluk Mamahnya karena ketakutan.


{Zrash...!}


"Wow....!" mata Avni dan Priya membulat saat lift berbahan kaca itu masuk ke dalam sebuah pipa vertikal yang juga transparan.


Dari dalam lift mereka dapat melihat sebuah kota seluas Gandasuli. Lengkap dengan berbagai gedung-gedung tinggi nan menjulang.


Bedanya, kota ini memiliki langit berupa tanah. Sedikit remang-remang dengan berbagai lampu warna-warni. Terlihat seperti suasana Red Distict di malam hari. Hanya saja Kilias Road jauh lebih megah daripada Red District manapun.


"Semuanya... Inilah Kilias Road!" Otto membentangkan tangannya membelakangi pemandangan yang menakjubkan.


"A... Aku gak nyangka kalau selama ini Kilias Road ada di bawah Gandasuli."


"Ini hanya salah satunya Teh... Tapi sayangnya yang aku tahu hanya yang ini," jawab Otto jujur.


Lift akhirnya sampai di dasar goa raksasa. Mereka dapat melihat seorang pria ber tuxedo tengah menunggu mereka di luar lift dengan senyuman yang ramah.


"Selamat datang Tuan dan Puan! Namaku Sebastian. Aku akan memandu kalian selama berada di Kilias Road," sambut lelaki bertuxedo tersebut.


"Namaku Otto. Dan ini Reus. Rere, Priya, dan juga Avni."


"Baiklah Tuan Otto. Senang berkenalan dengan anda. Ngomong-ngomong kemanakah Tuan dan Puan akan pergi?" tanya Sebastian yang langsung tahu kalau Otto lah pemimpin dari rombongan ini.


"Pasar budak," ujar Otto.


"Eeeeh?!"


Priya dan Avni langsung melotot bersorak kompak setelah mendengar tujuan Otto datang kemari.


"Baik. Mari ke sini," Sebastian menunjuk sebuah mobil limosine yang terparkir tak jauh dari tempat mereka semua berdiri.


"Tapi sebelumnya. Mereka bertiga tidak akan ikut denganku. Aku ingin menitipkan mereka bertiga pada pemandu lain," Otto menunjuk ke arah tiga orang Haremnya.


"Antarkan mereka ke Hotel, cukup pesankan satu kamar, lalu bawa mereka ke kasino. Tapi aku tidak izinkan mereka ke tempat pelacuran ataupun nge-drugs," tambah Otto pada Sebastian.


"Baik Tuan."

__ADS_1


{Prok Prok.}


Sebastian menepuk tangannya dua kali. Satu orang pria muda bertuxedo langsung mendekat.


"Ini adalah rekan kerja saya. Namanya Setiawan."


"Saya Tuan," Setiawan membungkuk dengan ramah.


"Kamu sudah dengar permintaan Tuan Muda ini?" tanya Sebastian pada rekan kerjanya.


"Sudah Bas," jawab Setiawan.


"Oh iya... Tunjukkan kotak itu padaku!" titah Otto pada Setiawan.


Sambil membungkuk, Setiawan menunjukkan pada Otto sebuah alat elektronik kotak pipih dengan kode barcode besar di salah satu sisinya.


{Tit!}


Otto scan barcode tersebut menggunakan handphonenya.


"Aku nitip 15 milyar ya."


"Baik Tuan."


"Tolong kalian bersenang-senanglah," Otto tersenyum ke arah Priya dan juga Avni.


Mata Priya dan Avni langsung melotot senang saat melihat jumlah uang yang begitu besar.


Satu hal yang mereka tidak tahu. Harga di Kilias Road semuanya sangat mahal. Sehingga 15 Milyar Kilias bukan jumlah yang terlalu mengejutkan bagi kedua pria bertuxedo itu.


"Ya... Ini jumlah yang cukup untuk mereka bersenang-senang Tuan," jawab Setiawan dengan sedikit nada ragu.


Otto tersenyum ramah dari pipi ke pipi.


"Hubungi Sebastian bila kalian kehabisan uang. Aku akan mentransfer padamu melalui Sebastian."


"Baiklah kalau begitu Tuan."


Seharusnya saat ini dalam hati Otto sedang menjerit. Dalam satu jam dia telah menghabiskan hampir setengah dari uang yang berhasil dia kumpulkan sejak satu tahun terkoneksi dengan Sistem.


Tapi berkat uang saku harem dari Requital System, uang Otto saat ini malah jadi semakin bertambah banyak.


"Dadah..." Avni melambaikan tangannya dengan norak.


"Kami akan bersenang-senang!" tidak kalah norak dari Avni, Priya yang kepalanya muncul dari jendela limosine pun turut melambaikan tangannya.


{Vroom...}


Ketiga harem langsung pergi dengan mobil limosine ke arah barat.


{Vroom...}


Sedangkan mobil limosine yang ditunggangi Otto dan Reus bergerak ke arah utara.


30 Menit kemudian mobil limosine yang ditunggangi oleh Otto dan Reus, berhenti dan memarkirkan diri.


Saat ini Otto dan Reus berada di sebuah distrik yang dibuat seperti layaknya pasar hewan. Suasananya sengaja dibuat becek dan tak layak. Banyak sekali teralis dan kandang yang berjajar di sepanjang jalan.


Hanya saja yang berada di dalam teralis itu bukanlah burung ataupun ayam, melainkan adalah para manusia yang mengenakan pakaian seadanya.

__ADS_1


'Masih sama seperti yang kuingat,' bisik Otto bergidik ngeri.


__ADS_2