
Selesai mandi, Otto keluar dari dalam kamarnya hanya dengan mengenakan celana panjang saja.
Dia lihat Arika yang juga baru mandi sedang duduk memandangi Kilias Road yang megah dari dinding kaca. Sementara Edith yang barusan mandi bersama Arika, tampak telaten menyisiri rambut halus Arika.
"Sedang apa?" tanya Otto dengan segelas wine di tangan.
"Mensyukuri kebebasanku."
Jawab Arika sebelum hening sesaat. Hanya terdengar suara detak jam dan rambut yang tengah disisir.
"Kalau bukan karena Tuan. Entah sampai berapa lama lagi hamba akan menjadi tontonan di tempat itu."
Otto meremas lembut sebelah bahu Arika yang kini hanya mengenakan handuk yang dikemben sampai dada.
{Srek. Drop.}
Arika turun dari kursinya lalu berlutut di hadapan Otto.
"Sekali lagi hamba ingin berterima kasih karena Tuan telah bersedia membeli hamba."
{Srek. Grep.}
Arika hendak bersujud tapi ditahan oleh Otto.
"Berdirilah."
Berbeda dengan ke empat Haremnya yang lain, Otto bisa melihat sinar mata yang sama dengan dirinya pada diri Arika. Yaitu sebuah keinginan kuat untuk bangkit di atas puing-puing kehancuran.
Arika berdiri mengikuti perintah Otto.
{Srek.}
Arika lalu menjatuhkan handuknya dengan sengaja. Tidak mempedulikan keberadaan Otto di sana.
{Glek.}
Otto dapat melihat kesempurnaan bentuk di depan matanya. Bersinar semakin indah dengan kulit mulus seputih salju.
{Srek. Srek. Kancing. Kancing.}
Edith langsung memakaikan Arika sebuah piyama berkancing yang barusan sudah dibelikan oleh Otto.
"Arika."
"Ya Tuan Otto."
"Kamu tahu Keluarga Bernardi pimpinan Alfredo kan?"
"Ya Tuan. Hamba dengar mereka hancur setahun yang lalu."
"Ya. Dan aku yang kau lihat ini adalah calon penerus dari keluarga Bernardi."
Untuk pertama kalinya Otto memberitahukan orang lain tentang statusnya sebelum terkoneksi dengan Sistem.
"Maaf Tuan. Pada awalnya kupikir Bernardi pada nama Tuan adalah Bernardi yang berbeda. Karena Agronesia sepertinya mengatakan kalau..."
"Bagaimana mereka bisa membunuh calon penerus Keluarga Bernardi saat nama dan wajahnya pun mereka tidak tahu?"
Bersebelahan. Arika yang sudah selesai berpakaian memeluk pinggang Otto erat. Dia mempercayai apa yang Otto katakan.
"Jadi Tuan adalah Bernardi yang sama dengan Bernardi yang hancur itu?"
"Dan kau adalah Aganaya yang sama dengan Aganaya yang hancur itu."
Arika membisu.
Otto menghadap Arika. Membuat Arika menoleh padanya. Otto belai wajah Arika Aganaya dengan penuh kehangatan.
"Bergabunglah denganku. Mari kita bangun kembali Dinasti Aganaya dan juga Dinasti Bernardi bersama."
"Dinasti Kerajaan dan Dinasti Mafia bersama-sama?"
{Srek. Balik badan.}
Otto melepaskan pipi Arika lalu menatap Kilias Road kembali.
__ADS_1
"Apa salahnya!"
"Tuan Otto. Hamba yang Tuan miliki ini tak ada hak untuk membangun apapun. Hamba hanyalah seorang budak belian."
"Tapi bagaimana kalau aku sebagai Tuanmu memerintahkanmu untuk membangun kembali Aganaya. Apakah kamu akan membantahku?"
Arika terkejut. Matanya membulat sedikit berkaca-kaca. Arika terdiam sangat lama.
[Main Quest selesai!]
[Selamat! Skill Kemampuan Mematung didapatkan.]
[Tuan memiliki jiwa seni yang tinggi. Tuan memiliki kemampuan mematung yang luar biasa. Tuan dapat menciptakan patung indah yang menyentuh jiwa.]
Untuk pertama kalinya Otto merasa kalau dia baru saja mendapatkan skill yang tidak berguna.
'Ah... Reus sudah berhasil melakukannya.'
Walaupun tidak puas dengan hadiahnya, tapi Otto senang karena misinya sudah selesai.
[Kondisi terpenuhi]
[Pleasure Palace Didapatkan.]
[Kenikmatan birahi yang dirasakan oleh orang yang memiliki koneksi dengan Tuan. Akan dikonversi menjadi uang.]
'Sebuah mesin uang yang baru!'
[Betul Tuan.]
'Siapa saja orang yang dikategorikan sebagai orang yang terkoneksi denganku?' tidak mau mengganggu Rere yang sedang bersenang-senang, Otto memanggil bagian Rere yang lainnya.
[Selain Harem dan Knight. Juga mereka yang terkoneksi dengan Harem dan Knight seperti Bakiman. Mereka yang melakukan hubungan di property milik Tuan juga termasuk ke dalam kategori tersebut.]
'Akh... Sayangnya aku belum punya hotel atau tempat pelacuran. Sepertinya itu akan jadi bisnis yang cocok untukku,' bisik Otto sambil berpikir.
'Berarti sekarang siapakah yang sedang bekerja untukku?'
[Reus, Bakiman, dan keenam gadis yang sedang bersama mereka Tuan.]
Otto merasa keputusannya untuk memberikan Bakiman budak, adalah keputusan yang tepat.
{Brug!}
'Eh?!' Otto tersadar dari obrolannya dengan Sistem.
Setelah diam terbengong sangat lama, Arika pun langsung bersujud.
"Tidak Tuan! Tentu saja hamba tidak bisa membantah! Hamba akan membangun kembali Aganaya sesuai dengan perintah Tuan."
Arika menangis. Merasa kalau harapannya yang sudah dua tahun mati, menjadi hidup kembali.
{Srek.}
Otto bantu Arika berdiri kembali. Otto hapus air mata Arika dengan sapu tangan yang disodorkan oleh Edith.
"Hmph..."
Otto memagut lembut bibir Arika sesaat saja. Membuat mata Arika langsung membulat terkesima.
'Kaku sekali...' bisik Otto saat merasakan reaksi yang diberikan oleh Arika.
Berbeda dengan rakyat biasa. Para Bangsawan menjaga keperawanan mereka hingga menikah. Sehingga jika Arika begitu kaku.
'Terima kasih Sistem."
[Kenapa Tuan?]
'Terima kasih aja.'
Berkat Sistem Otto kini sedang bersama gadis yang menjadi idolanya. Akan menjadi pria yang melepaskan mahkota Arika.
[Tuan. Kami bertiga sudah di kamar.]
Suara Rere tiba-tiba terdengar di dalam kepala Otto.
__ADS_1
'Loh... Bukankah kalian berniat untuk berjudi semalaman?'
[Tidak jadi Tuan.]
'Kenapa?'
[Tuan akan mengerti besok.]
'Lalu kenapa kamu menghubungiku Re?'
[Tolong Tuan. Kami lagi butuh hiburan.]
'Baiklah...' Otto tersenyum ramah.
'Harem Link Up!'
{Sret...}
Otto tatap kedua bola mata Arika dengan dalam. Menghanyutkan Arika dalam lantunan degup jantung yang begitu kuat.
Otto lingkarkan lengannya di pinggang Arika. Sedikit menekannya agar terpeluk lebih erat.
"Hmph..."
Lalu untuk kedua kalianya, Otto kembali memagut bibir kekasih terbarunya itu.
[Pleasure Provider diaktifkan.]
.
.
.
Pagi harinya di atas ranjang King Size, Arika terbengong tak mengerti dengan apa yang baru dia rasakan.
"Edith, apakah memang senikmat ini rasanya?" tanya Arika pada pelayannya.
"Tidak Nona! Berdasarkan keterangan dari budak yang lain. Tidak akan terasa seperti ini."
"Benarkah itu Edith?"
"Tuan Otto itu spesial Nona."
"Syukurlah kalau begitu."
Arika lalu melirik Otto yang sedang menikmati segelas bir. Lagi-lagi sambil menatap pemandangan Kilias Road yang indah.
Otto bertelanjang dada. Menampakkan zirah otot yang begitu menawan.
{Sret...}
Arika bangkit dari ranjang. Membelitkan selimut dengan asal ke tubuhnya.
Kaki jenjang Arika melangkah dengan anggun mendekati Otto.
{Srek...}
Arika peluk Otto dari belakang. Menciumi punggung berotot milik Otto. Lalu sedikit berjinjit untuk mengecup leher Otto yang tegap.
"Bersiaplah Arika. Perjuangan kita masih panjang," ujar Otto tanpa menatap Arika yang sedang membelai-belai otot perutnya yang bertekstur.
"Ya Tuan! Aku siap."
Otto lirik Arika yang sudah bergerak ke sebelahnya. Turut memandangi Kilias Road yang megah.
{Cup...}
Otto cium ubun-ubun Harem terbarunya. Yang tercantik di antara semuanya. Secantik Rere yang merupakan perwujudan dari Sistem.
Otto menumpangkan pipinya di ujung kepala Arika. Membuat Arika yang terbuai, balas memeluk lengan Otto dengan lebih erat.
Sambil memandagi kemegahan Kilias Road, Otto dan Arika diam membisu. Saling bertukar asa dan harapan akan masa depan mereka berdua.
...— Selesai —...
__ADS_1