
Beberapa tahun semenjak berhasil menciptakan bela dirinya sendiri, Igor kini telah menjadi seorang pria dewasa.
Dia berjalan melintasi desa dengan senyum ramah di wajahnya. Igor memperhatikan para penduduk desa yang disibukkan dengan keseharian mereka.
Igor lalu melihat salah satu penduduk desa, seorang pria paruh baya yang sedang duduk bersantai di depan rumahnya. Dia adalah sepupu Igor yang dulu sempat mengikutinya ke dalam hutan.
"Selamat siang, Kades! Gimana kabar Kades hari ini?" Igor menyapa dengan ramah.
"Baik Gor! Kamu mau pergi kemana?"
Yaps! Pada akhirnya Igor tidak berhasil menjadi hokage di desanya. Karena untuk menjadi Kades, Igor harus dipilih secara mufakat oleh seluruh penduduk desa. Dan warga desa tidak memilih Igor untuk menjadi kepala desa mereka.
"Biasa... Mau jalan-jalan ke hutan dulu," jawab Igor sambil tersenyum lebar.
Tapi Igor sudah nerimo. Dia nggak pernah lagi memikirkan soal dirinya yang tidak bisa merubah kebijaksaan yang dimiliki oleh desa.
Karena dengan bela diri yang dimilikinya. Igor memiliki caranya sendiri untuk dapat melindungi desanya dari marabahaya.
.
.
.
{Drap Drap Drap Drap.}
Sepasang pendaki berlari dengan nafas tersengal-sengal. Melewati pepohonan lebat yang ada di dalam hutan. Mereka diselimuti rasa takut yang menyesakkan dada.
"Sayang, apa yang terjadi tadi?" tanya pendaki perempuan dengan napas terengah-engah.
"Aku tidak tahu! Mungkin dia adalah hantu gunung yang digosipkan itu," jawab pendaki lelaki sambil berusaha menenangkan diri.
"Berarti kita sekarang sudah berada di luar jalur pendakian ya?" tanya pendaki perempuan memastikan.
"Sepertinya benar. Kata para senior kita, saat kita bertemu dengan hantu gunung, itu berarti kita sudah tersesat terlalu jauh. Kita harus mencari jalan keluar dari hutan ini sebelum malam datang."
Kedua pendaki itupun pergi menjauhi Igor yang kini tengah bertengger di atas pohon. Dengan niat untuk melindungi keluarga besarnya, Igor selalu mengusir orang-orang asing sebelum mereka mendekati desa. Sehingga sudah bertahun-tahun ke belakang, desa Igor tidak pernah lagi kedatangan orang asing.
'Bagus! Pergilah!' Igor tersenyum puas.
Igor memang bisa mencegah orang asing untuk masuk ke dalam desanya dengan menggunakan ilmu bela dirinya. Tapi Igor hanyalah seorang manusia biasa yang tidak akan mampu menghentikan perkembangan zaman.
.
.
__ADS_1
.
Sebuah pertambangan raksasa ditemukan di sisi lain gunung tempat desa Igor bernaung. Membuat hutan yang luas akhirnya dibelah oleh jalan raya. Orang-orang asing mulai berdatangan dalam jumlah yang sangat banyak. Membangun peradaban di sepanjang jalan raya.
Peradaban di sisi jalan itu terus meluas hingga akhirnya menyatu dengan Desa tempat Igor dilahirkan.
Desa Igor yang terpencil kini telah berubah menjadi sebuah pedesaan maju berkat berbagai teknologi yang dibawa oleh para pendatang. Desa terpencil itu kini telah berubah menjadi Desa Pertambangan Abizard.
.
.
.
Igor yang di waktu kecil terbiasa hidup dengan bersahabat dengan alam. Setelah dewasa, dipaksa untuk hidup dalam hiruk pikuk kehidupan yang menjadikan uang sebagai denyut kehidupan.
Igor pun harus beradaptasi. Sehingga, demi dapat menyambung hidupnya, Igor harus menemukan cara agar dapat menghasilkan uang.
Akhirnya, dengan memanfaatkan sebuah bangunan tua yang terletak di pinggiran desa. Igor membuka sebuah padepokan silat yang sangat sederhana. Untuk mengajarkan Aliran Silat Calabria. Sebuah ilmu bela diri yang Igor ciptakan sendiri.
"Igor, aku sangat mendukung idemu untuk membuka padepokan silat ini," ujar salah satu penduduk desa kepada Igor.
"Aku hanya merasa kalau aku terlalu tua untuk bekerja di pertambangan. Lagian aku ini generasi kolot yang ingin melindungi alam," jawab Igor sambil tersenyum ramah.
"Ya... Apa boleh buat... Seluruh idealisme kita pada akhirnya harus dikalahkan oleh perkembangan zaman."
"Kau benar Gor..." jawab penduduk desa tersebut sambil bersedih.
Niatan Igor dalam mendirikan padepokan silat memang disambut baik oleh beberapa penduduk desa. Terutama mereka yang usianya 40 plus plus seperti Igor.
Namun, akibat ketidakmampuan Igor dalam melakukan promosi dan marketing. Selama belasan tahun, Aliran Silat Calabria hanya memiliki sedikit murid.
.
.
.
Rendahnya popularitas Aliran Silat Calabria, membuat Igor turut dililit oleh masalah ekonomi.
"Kami nggak bisa Guru... Kami harus menjalankan tugas kami," walaupun mereka datang dengan tidak kasar, tapi para rentenir ini datang untuk memberi kabar kalau mereka akan merampas padepokan silat jika Igor tak kunjung bisa membayar hutang-hutangnya.
"Bisakah kalian memberikanku waktu? Padepokan ini sangat penting bagi desa ini," Igor mengharapkan sedikit keringanan.
"Besok guru. Kami hanya bisa memberikan guru waktu sampai besok. Kalau kami tidak menjalankan tugas kami besok. Maka kami akan mati. Kumohon guru mengizinkan kami untuk menggusur padepokan ini," para rentenir berkata dengan sangat sopan.
__ADS_1
Jika saja yang mereka hadapi saat ini bukanlah Igor, tentu mereka telah berlaku kasar semenjak tadi. Mereka tahu kalau Igor jauh lebih kuat daripada mereka semua.
"Baik. Aku mengerti," jawab Igor.
Seperginya para rentenir itu, Igor bertanya pada salah satu muridnya. "Jadi mereka semua tidak ada yang mau membantu kita?"
"Tidak ada Guru," jawab murid Igor sambil menunduk kecewa.
"Jadi bagaimana kondisi mereka sekarang? Apakah mereka mengalami kesulitan ekonomi juga?" tanya Igor dengan nada khawatir.
"Justru sebaliknya guru. Mereka semua sudah sukses."
"Oooh... Mereka sudah sukses sekarang?"
"Ya Guru."
"Dan mereka benar-benar tidak ingin membantu?"
"Benar Guru."
Entah sudah berapa kali Igor mengutus muridnya untuk mengadu nasib di kota lain demi dapat mempromosikan Aliran Silat Calabria.
Tapi, setelah para murid meraih kesuksesan, tak ada satupun dari muridnya yang kembali untuk pulang. Jangankan untuk mengirimkan murid baru ataupun memberi sedikit uang. Bahkan hanya untuk datang bersilaturahmi pun tidak.
Mereka semua lupa dengan keberadaan padepokan dan juga guru yang telah memberdayakannya. Padahal tanpa ilmu beladiri yang Igor ajarkan, mereka semua sudah dipastikan tidak akan dapat meraih sukses di kota besar.
Igor tampak mengurut keningnya. Mencari cara agar dapat mengatasi masalah ekonomi yang tengah membelitnya.
"Guru, mungkin kita bisa mencari bantuan dari lembaga amal saja... Mereka mungkin bisa membantu kita dalam melunasi hutang kita," usul salah satu murid Igor.
"Ya guru. Mungkin mereka bisa membantu kita," sahut murid yang lain.
"Ya sudah, ayo kita coba," jawab Igor.
"Kalau begitu kami akan ke Gandasuli sekarang,' ujar murid Igor.
Dengan menggunakan motor butut, dua orang murid Igor pergi ke Gandasuli. Mencari lembaga amal yang bisa membantu mereka dalam melunasi hutang.
Akan tetapi...
Bantuan tidak mungkin bisa didapatkan dalam satu hari, ada banyak syarat yang harus Igor penuhi. Sehingga keesokan harinya, Igor harus merelakan padepokannya disegel oleh para rentenir.
Igor dan ketujuh muridnya hanya bisa nenunduk lemas. Memang secara tampilan fisik, padepokan ini bobrok. Tapi kenangan dan juga peluh yang sempat menetes di dalamnya, tidak mungkin mereka lupakan begitu saja.
...— Bersambung —...
__ADS_1