
Satu bulan yang lalu. Atau tepatnya sepekan pasca perang melawan bandit gunung...
Otto terlihat tengah duduk di meja kerjanya. Kedua tangan Otto menyatu di depan bibirnya. Menatap tajam ke arah Igor yang tengah berdiri di hadapannya.
"Apakah dugaanku benar?" tanya Otto pada Igor.
"Ya Tuan! Duo Kilau dan Ketujuh Jenderal Calabria sudah mengkonfirmasinya."
"Jadi, kapan mereka akan datang?" tanya Otto dengan suara yang tenang.
"Kemungkinan besar besok Tuan," jawab Igor sambil menundukkan kepala.
"Baik. Terima kasih Gor..."
"Kalau begitu, Saya undur diri dulu Tuan," Igor membungkuk 90 derajat.
"Ya," jawab Otto singkat sambil membalik kursi kerjanya hingga mengarah pada jendela.
{Grek. Ceklek.}
'Rere!' seperginya Igor, Otto memanggil Rere dengan suara hatinya.
[Ya Tuan!]
'Siapkan segalanya!'
[Baik Tuan.]
Sedari awal, Otto sudah merasa kalau keberadaan bandit gunung di Vardon Hill benar-benar tidak logis. Satu-satunya alasan kenapa para bandit bisa berada di bukit ini, adalah karena mereka sengaja dipelihara oleh seseorang. Dan para Tuan Tanah adalah pihak yang paling Otto curigai.
Otto yakin. Dengan menghilangnya Bandit Gunung, akan membuat kekuatan para tuan tanah jadi berkurang.
Ditambah lagi, keberadaan Otto sebagai pihak yang telah menyingkirkan para Bandit Gunung, merupakan kekuatan yang akan sangat mereka waspadai.
Hal itu akan membuat para Tuan Tanah menjadi panik. Dan mereka akan mendatangi Otto segera, untuk menyingkirkan Otto dengan menggunakan kekuatan finansial yang mereka miliki.
.
.
.
Kembali ke masa kini...
{Gredek Gredek Gredek.}
"Reus pulang!" Reus kembali sambil menarik pedati yang berisikan seluruh harta rampasan yang dia dapatkan.
{Geludug Geludug.}
Reus mengeluarkan seluruh isi pedatinya di pekarangan rumah.
"Akh! Reus mah..." pekik salah satu Jenderal Calabria yang berada di sana.
Para Jenderal Calabria berdatangan untuk memunguti tumpukan emas yang langsung bikin pekarangan berantakan.
"Kenapa harus ditumpahin semua di sini sih Reus...?!" gerutu salah satu Jenderal Calabria.
"Kan bisa minta kami beresin langsung dari dalam pedati," sahut Jenderal yang lain.
"Maaf..."
"Nggak papa... Kalian saja yang beresin lagi," ujar Igor yang kebetulan lewat sambil memasuki Mansion.
"Cih!" Jenderal Calabria kesal karena Igor kerap memperlakukan Reus selayaknya anak SD. Padahal badan Igor jauh lebih besar daripada gaban.
__ADS_1
.
.
.
{Trek. Trek. Trek.}
"Kenapa kamu mengkhianati partnermu Say?" tanya Priya yang sedang meminum secangkir teh di tangannya.
Otto tengah memandangi para Jenderal yang sedang beres-beres di pekarangan rumahnya. Sedangkan Priya yang saat ini sudah kembali muda, duduk di pangkuannya.
"Yang pasti bukan karena harta mereka," jawab Otto tanpa memandang ke arah Priya.
"Lalu?"
"Dengan perginya mereka dari Vardon Hill. Mereka akan 'bernyanyi' pada banyak orang. Dan itu akan menghambat langkah-langkahku ke depannya," jawab Otto yang sudah merencanakan banyak hal ke depan.
{Ketok Ketok.}
Pintu ruang kerja diketuk.
"Masuk," titah Otto.
Arika masuk bersama Bakiman dan Igor. Kedua pria itu tengah membawa empat tumpuk surat yang sangat tinggi.
"Ish! Lagi ngapain?!" jerit Arika yang menghampiri Otto dan Priya dengan keanggunan yang telah dihancurkan oleh kecemburuan.
Arika protes karena di saat Dia harus mengerjakan berbagai tugas yang Otto berikan, Priya malah sedang bersantai bersama Otto di ruangan ini.
"Nggak kok Say... Nggak ngapa-ngapain..." Priya belai lembut kepala Arika seperti kepada anaknya sendiri.
"Udah diperiksa semuanya?" tanya Otto pada Arika.
{Brug.}
Igor dan Bakiman lalu meletakkan empat tumpuk surat yang sangat tinggi tersebut di atas salah satu meja pada ruangan tersebut.
"Bagaimana?"
"Lengkap semua Tuan," jawab Igor sambil tersenyum.
"Bagus," jawab Otto yang sedang memandangi Arika yang ngambek, sementara Priya dengan lembut tengah menenangkan Arika.
Arika berhak untuk kesal. Karena Priya barusan berbohong saat mengatakan kalau sebelumnya tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Mamah plus plusnya itu.
Tring!
[Tuan sudah memiliki tanah dan property yang cukup luas dan terpusat.]
[Vardon Hill telah terkoneksi dengan Sistem.]
[Kondisi terpenuhi.]
[Selamat! Tuan Tanah telah didapat.]
[Tuan akan mendapatkan sepuluh juta Kilias per hari, untuk setiap penduduk yang merasa nyaman saat tinggal di atas tanah milik Tuan.]
'Eh! Rere benarkah yang kudapatkan ini?'
[Benar Tuan.]
'Jadi kamu ingin membuat aku menjadi seorang pemimpin di Vardon Hill?' tanya Otto dalam hati.
[Bukankah Tuan memang berencana untuk melakukannya?]
__ADS_1
'Ya emang sih! Itu adalah langkah yang harus kulakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh Kakek dan juga Daddy.'
Otto ingin menggalang pengaruh di bidang politik kekuasaan, karena dia menduga bila alerginya keluarga Bernardi pimpinan Alfredo kepada dunia politik, adalah salah satu alasan, kenapa keluarga itu bisa hancur.
[Aku ingin mengingatkan kalau Sistem justru akan memberikan Tuan segala sesuatu yang sesuai dengan apa yang Tuan inginkan dan juga Tuan butuhkan.]
'Ah ya... Kau benar!'
Begitu manusianya wujud Sistem yang melekat pada diri Rere, membuat Otto seringkali lupa kalau Rere adalah entitas terkuat yang dimiliki oleh alam semesta.
'Maaf Re...'
[Justru aku berterima kasih karena Tuan telah menganggap Rere sebagai manusia seutuhnya.]
'Tapi by the way... Kalau begini sih... Uangku tidak akan ada habisnya dong... Malah akan makin bertambah banyak dengan sangat cepat!' Otto merasa puas di dalam hatinya.
"Igor! Bakiman!"
"Ya Tuan?" jawab keduanya kompak.
"Jalankan rencana selanjutnya!" ujar Otto sambil berjalan mendekati Arika dan Priya.
"Baik!" jawab keduanya yang langsung undur diri dari Ruangan Otto. Membiarkan Otto melakukan tugasnya dalam memperbaiki mood buruk Arika.
{Cklek!}
Ruang kerja lalu tertutup. Namun berbagai suara yang menandakan keran nikmat telah dibuka, terdengar beberapa menit kemudian.
.
.
.
Di salah satu lapangan luas yang ada di bukit ini. Para warga Vardon Hill terlihat tengah berkumpul di pinggir lapangan.
Di hadapan mereka. Tepatnya di tengah lapangan, terlihat puluhan orang tengah duduk bersimpuh dengan tangan yang diikat. Wajah mereka tampak babak belur. Ekspresi wajah mereka menunjukkan rasa takut yang luar biasa besar.
Di belakang puluhan orang yang bersimpuh. Reus, Duo Kilau, CMYK, dan tujuh Jenderal Calabria berdiri bagaikan algojo yang siap menghabisi nyawa mereka semua.
"Itu kan Pak Kades?"
"Ya. Dan itu Sekretarisnya..."
"Itu Kades dari desa kamu kan?"
"Iya. Dan itu bukankah Kades dari desa kamu?"
"Oh iya... Dan Ibu itu adalah wakil Kades."
Warga Vardon Hill begitu riuh. Mereka penasaran dengan sosok-sosok yang kini tengah berada di tengah lapangan.
Orang-orang yang kini sedang dipertontonkan itu adalah para Kades dari seluruh desa yang ada di Vardon Hill beserta para jajaran pemerintahannya.
Di Vardon Hill sendiri terdapat empat buah desa kecil. Hanya berisikan ratusan penduduk untuk setiap Desa.
{Trap Trap Trap Trap.}
Otto memasuki lapangan perlahan bersama dengan Rere dan Arika.
Para Penduduk Vardon Hill diam membisu. Mereka terdiam memperhatikan Otto yang memancarkan aura dominasi yang begitu besar.
"Hai... Ku*nyuk-ku*nyuk sekalian!" sapa Otto pada para Kades dengan senyuman lebar yang sangat mengerikan.
...— Bersambung —...
__ADS_1