
"Oh iya Tan... Putra tadinya mau nginep, tapi nggak enak ah! Ada tamu," ujar Putra yang sebenarnya cuman basa-basi.
Putra mikirnya Priya bakalan ngasih ijin dia buat menginap, karena Putra tahu kalau masih ada banyak kamar kosong di rumah Priya.
"Baguslah kalau kamu ngerti," jawab Priya.
"Mamah... Kok nyuruh Putra pulang sih?!" Avni protes dengan nada tinggi.
"Nggak papa... Aku pulang aja Ni..." Putra mengalah dengan suara rendah.
{Cup.}
Putra mengecup bibir Avni lalu beranjak pergi. Raut wajah Putra tampak begitu kecewa.
{Vrooom...}
'Rasanya pengen nendang kepala orang!' bisik Putra dalam hati, saat mobilnya meluncur meninggalkan rumah Priya.
"Avni sayang... Jadi mereka ini untuk sementara mau tinggal di rumah kita," Priya menunjuk Otto dan Rere.
"Tinggal untuk berapa lama?!" bentak Avni yang lagi kecewa karena Ibunya telah mengusir Putra.
"Sampai kami dapet tempat tinggal," Otto membual. Dia sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan rumah ini.
"Halah! Kalian berdua cuman pengen numpang idup aja kan?!"
"Avni... Nggak boleh gitu..." Priya menasihati dengan lembut.
"Ngasih mereka tumpangan tuh nggak ada untungnya buat kita Mah..."
"Kalau kita bisa bantu mereka, kenapa nggak sih Nak...?"
"Palingan Si Bocah Gemblung ini pengen nidurin Mamah doang kan?!" Avni menunjuk wajah Otto.
"Avni!"
Priya naik pitam. Kalimat Avni tepat sasaran, hanya saja Priya-lah yang lebih menginginkan itu daripada Otto.
"Pokoknya Avni nggak setuju!"
"Pokoknya Mamah udah memutuskan!"
Otto santai aja. Keluarga berdebat adalah hal yang sudah biasa.
.
.
.
Malam hari tiba. Otto dan dua haremnya langsung melakukan kegiatan wajib di dalam kamar Otto. Membuat kamar itu dipenuhi oleh suara tepuk tangan yang terdengar agak aneh.
Tapi berbeda dengan malam sebelumnya, karena masih ada hal penting yang ingin dilakukan, Otto berhenti saat kedua harem sudah berhasil muncak. Walaupun Otto saat ini masih berada di Pos 1.
"Priya... Kenapa tadi sore, si Ronaldo Kawe itu maen sosor aja? Jangan-jangan dia salah satu pelangganmu?" tanya Otto sambil berpakaian. Dia terlihat sedikit cemburu.
"Aku tidak pernah merahasiakan profesiku ini pada siapapun."
"Apakah kamu menikmati diperlakukan seperti tadi?"
"Semuanya hanya pekerjaan. Ini bukan soal kenikmatan."
__ADS_1
"Aku penasaran, apakah ada pelangganmu yang dapat memberikanmu kepuasan?"
Priya terdiam. Dia ingat kalau ada tiga orang yang dapat memuaskannya di atas ranjang. Dan semua lelaki itu memiliki nama belakang Bernardi.
Tapi tetap saja, dari semua pemacul sawahnya, hanya Otto lah yang dapat memberikan Priya sensasi surgawi yang sesungguhnya.
"Kamu adalah berkah terbesar di dalam hidupku," jawab Priya penuh arti.
Otto mengangguk paham.
'Ini semua berkat Sistem,' Otto lalu merendah di dalam hati.
.
.
.
{Cklek.}
Avni yang tengah berbaring di kamarnya, terkejut saat pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka.
"Hai..." ujar Otto yang dengan santainya masuk ke dalam kamar Avni.
"Eh! Bajingan!" teriak Avni sambil menyembunyikan tubuh berbalut piyama minim bahan, ke dalam selimut.
"Pergi!"
{Brug}
{Cklek!}
Avni berteriak dan melemparkan bantal ke arah Otto. Tapi Otto sama sekali tidak peduli. Dia malah menutup pintu lalu menguncinya.
Otto membeli sebuah revolver dari Toko Sistem. Dia tersenyum, lalu dia letakkan revolver tersebut di atas meja belajar Avni.
"Berhenti teriak atau ini pistol yang bakalan teriak," Otto berbicara dengan suara yang sangat lembut. Dan itu sudah cukup untuk membuat Avni langsung terdiam.
{Gek.}
Otto duduk santai di kursi belajar Avni.
{Werrr... Werrr... Werrr...}
Otto memutar-mutar revolver-nya seperti gangsing di atas permukaan meja.
"Kamu mau aku panggil Avni atau Zoya?"
Avni diam. Dia saat ini sedang merasa sangat terintimidasi oleh keberadaan revolver di dekat Otto.
"Gimana kalau aku panggil sayang aja...?"
Njir! Ngegombal! Nggak bisa baca situasi banget nih Si Otto!
"Karena aku bakalan tinggal di rumah ini entah sampai berapa lama, aku pengen ngajak kamu untuk negosiasi," ujar Otto pada Avni.
"Negosiasi?" Avni bertanya balik.
"Ya. Kira-kira apa yang harus aku lakukan biar aku bisa kamu terima di rumah ini?" tanya Otto pada Avni.
"Sederhana aja!" jawab Avni dengan nada sedikit pongah.
__ADS_1
"Hanya kalau kamu bisa memberikan aku dan Mamah, berbagai keuntungan seperti yang bisa Putra berikan pada kami."
"Aku nggak ngerti kenapa kamu berpikir si Putra itu bisa kasih kamu keuntungan. Sejak aku ketemu dengannya, aku tahu kalau dia hanyalah pemuda manja."
Avni terdiam. Wajahnya merah padam.
"Papah aku seorang petinggi pajak..." dengan nada mengejek Otto mengulangi cara Putra memperkenalkan dirinya.
"Eh denger ya 'garukan punggung'! Putra itu punya banyak duit! Dia selalu bisa ngasih aku barang-barang branded! Lah kamu bisa kasih aku apa?!" Avni menantang balik. Lupa dengan keberadaan revolver di atas meja belajarnya.
"Ni... Ni! Kalau kamu mau punya pacar yang banyak duit, jangan kamu pacarin si Putra! Pacarin bapaknya!" Otto mengeluarkan argumen yang sangat-sangat logis.
"Ya... Okey... Tapi dia tuh suka ngasih aku uang gede! Emangnya kamu bisa?!"
"Emangnya dia suka ngasih kamu berapa?" tanya Otto penasaran.
"Dia suka ngasih aku 5 ribu Kilias. Bahkan dia juga pernah ngasih aku 10 ribu Kilias."
"Ngasih tiap hari?"
"Ya nggak lah...! Suka-suka dia! Tapi setiap uangku habis, dia suka ngasih aku uang."
"Cih!" Otto makin meremehkan.
{Brug!}
Otto membanting segepok uang di hadapan Avni. Avni langsung tercekat dibuatnya.
"Nih! Aku kasih kamu satu juta! Dan aku bisa kasih kamu segitu tiap hari!"
Nggak kehabisan akal, Avni mengeluarkan jurus bacot berikutnya.
"Halah! Itu pasti uangnya Mamah kan?! Kamu kan peliharaannya Mamah! Kamu datang ke sini cuman buat morotin Mamah kan?!"
"Asem amat sih mulut kamu! Kayak ketek onta tau gak?!" Otto kepalang emosi.
[Pleasure Provider diaktifkan.]
[1.000 Kilias digunakan.]
Otto langsung beranjak dari duduknya. Membuka selimut yang menutupi tubuh Avni.
Otto tahu piyama yang sedang dikenakan Avni harganya mahal. Tapi Otto tak habis pikir kenapa piyama itu berbahan tipis dan kekurangan bahan.
Otto bukan seorang pemerkosa. Tapi Otto perlu cara cepat untuk menuntaskan misinya untuk dapat akur dengan seorang Avni Zoya Mahelia.
"Akh... Tolomph!" teriakan Avni berhenti karena tersumpal oleh mulut sang pejantan. Menggunakan pleasure provider adalah cara terakhir yang sudah Otto siapkan.
.
.
.
Malam itu Otto biarkan Pleasure Provider melakukan tugasnya. Membuat Avni dapat merasakan sensasi candu di atas ranjang yang tak pernah dia rasakan.
Avni bukanlah wanita suci yang belum pernah melakukan hal-hal semacam ini. Tapi Otto yang pada awalnya memaksa, berhasil membuktikan kepada Avni kalau dia adalah lelaki yang spesial.
Cukup tiga detik saja bagi Otto untuk membuat Avni merasakan sensasi kenikmatan yang menerbangkannya hingga ke khayangan. Dikombinasikan dengan Kemampuan Berjimak Grade Master, Otto berhasil membuat Avni sepenuhnya pasrah akan semua perlakuan yang dia berikan.
Selama berjam-jam mereka melakukan hal-hal semacam itu, membuat Otto berhasil mencapai puncak yang dia inginkan.
__ADS_1
...— Bersambung —...