Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.10] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

Di atas sebuah batu kali besar, Igor merenung karena masih teringat akan kematian kakaknya.


"Ini udah seminggu berlalu... Sudahlah Nak..." salah seorang warga desa yang sedang memancing menasihati Igor.


Igor hanya diam tidak menjawab. Matanya nanar menatap bayangan dirinya di atas air jernih yang mengalir.


"Nak... Kakakmu telah mengorbankan dirinya agar hutan tidak marah," tambah Bapak itu kepada Igor.


Igor menatap si Bapak tajam. Dia tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar barusan.


Igor mengepalkan tangannya lebih kuat. 'Pengorbanan untuk hutan?! Yang bener aja!' Igor protes di dalam hatinya.


{Jrash! Drap Drap Drap Drap.}


Igor melompat turun dari batu kali besar itu lalu berlari menjauhi Bapak Pemancing. Igor merasa tak sudi untuk mendengar lebih banyak lagi nasihat tak masuk akal dari orang tua tersebut.


"Kasian..." begitu kata Bapak Pemancing saat melihat Igor menghilang di dalam hutan.


...— x —...


{Wush! Wush! Wush!}


Igor mengayunkan sebuah balok kayu. Gerakannya sangat kasar dan terlihat asal-asalan.


{Wush! Wush! Wush!}


Kedamaian di desa yang Igor tinggali, membuat seluruh penduduknya sama sekali tidak terpikirkan untuk berlatih bela diri.


Semua kebutuhan mereka sudah dipenuhi oleh alam. Sehingga yang perlu mereka pelajari hanyalah ilmu berburu, memancing, dan juga pengetahuan tentang tanaman liar.


{Wush! Wush! Wush!}


Akan tetapi, sejak kematian kakaknya, Igor jadi tersadar tentang betapa pentingnya kemampuan seseorang dalam ilmu bela diri.


{Wush! Wush! Wush!}


Igor lalu bertekad untuk mulai berlatih bela diri agar dirinya dapat melindungi seluruh anggota keluarganya dari akhir yang tragis seperti yang dialami oleh Kakaknya.


Namun sayangnya, Desa ini adalah desa terpencil. Jauh dari mana-mana. Igor tidak dapat menemukan satupun orang yang bisa mengajarinya ilmu bela diri.


{Wush! Wush! Wush!}


Sehingga Igor dengan sangat terpaksa harus berlatih ilmu bela diri sendirian. Belajar tanpa arah dan tujuan. Berharap semesta berbaik sangka memberikannya inspirasi.


'Kak... Aku pasti bisa menciptakan ilmu bela diriku sendiri!" tekad Igor di dalam hati.


Sepulang Igor dari latihannya di dalam hutan...


.


.


.


'Lagi-lagi orang asing!' bisik Igor saat melihat seseorang dengan tas gunung sedang diberikan makan dan minum oleh beberapa penduduk desa.


'Tampaknya dia hanyalah seorang pendaki yang tersesat,' simpul Igor saat dia lihat ekspresi, pakaian, serta tas yang dipinggulnya.


{Drap Drap Drap Drap.}


{Plak! Brak!}


Igor berlari mendekati si pria asing lalu menepak gelas yang sedang dipegang oleh pendaki tersesat tersebut. Membuat minuman di dalam gelas tumpah membasahi tanah.


"Igor!" hardik seorang Paman kepada Igor kecil.

__ADS_1


"Kenapa kalian membawa orang asing ke desa ini lagi?!" Igor membentak paman nya yang juga sedang duduk di sana.


"Igor... Sebagai manusia, kita harus menolong sesama..." Paman Igor menurunkan tensi suaranya.


"Masak kalian udah lupa dengan kematian Kakak?! Ini kejadiannya belum setahun loh...!" Igor mengingatkan.


"Igor..." Pamannya Igor masih mencoba untuk bersabar dalam menghadapi argumen kekanakan dari keponakannya tersebut.


"Paman! Aku tahu kalau kalian ingin bersikap baik kayak lumba-lumba?! Tapi apakah kalian lupa kalau segala kebaikan yang diberikan oleh lumba-lumba itu hanya dibalas dengan kontaminasi limbah dan juga perburuan liar?!" Igor mengajak Pamannya bermain logika.


"Igor! Pergilah ke hutan dan merenunglah! Mintalah nasihat sama pelindung kita di Hutan!" sentak pamannya yang mulai kehabisan kesabaran.


"Paman! Orang ini harus..."


"Pergi! Dan jangan kembali sebelum kamu mendapatkan ilham!" Paman Igor menunjuk ke arah hutan.


{Srak!}


{Drap Drap Drap Drap.}


Igor kecil berbalik lalu berlari sekuat tenaga kembali menuju hutan. Air matanya menetes dengan sangat deras.


"Jang! Ikutin Igor. Jangan sampai dia hilang ditelan hutan," ujar sang Paman pada anaknya yang udah remaja.


"Baik Abah," jawab sang anak sebelum berlari mengejar Igor.


"Eh... Sini saya tuangkan lagi airnya..." Paman Igor kembali bersikap sopan pada pendaki yang tampak begitu pucat pasi.


.


.


.


Di atas pohon tinggi Igor menangis. Menumpahkan kekesalannya. Sementara itu sepupu Igor yang sudah remaja, memperhatikan Igor dari kejauhan.


{U u! A a! U u! A a!}


'Eh! Apa itu?!' Igor bertanya-tanya saat dia mendengar suara teriakan kera yang lebih ramai dari biasanya.


{Duesh...! Drap. Drap. Drap. Drap.}


Igor berlari cepat mendekati sumber suara.


'I... Itu kan?' Igor bersembunyi di balik pohon saat dia melihat sekelompok kera dengan gagah berani sedang menghadapi sekelompok serigala.


{Grrr... Growl...}


Serigala-serigala itu sedang berusaha untuk memakan anak-anak kera. Para serigala itu menggeram sambil mengepung para kera.


Namun para kera dewasa itu turut membentuk lingkaran. Para kera sedang membawa ranting dedaunan sebagai senjatan. Memberikan pertahanan akhir bagi anak-anak mereka.


{U u! A a! U u! A a!}


{Grrrr...}


'Ini dia! Ini adalah jawaban yang hutan berikan!' ujar Igor bersorak riang di dalam hatinya.


Igor saat ini menjadi semakin yakin kalau memang benar apa yang dia pikirkan selama ini. Seharusnya desa nya bersikap seperti layaknya kera-kera itu.


Menjaga teritori mereka dari kehadiran orang-orang asing yang bisa saja mencelakakan mereka.


'Aku...' Igor lalu bertekad kuat di dalam hatinya.


'Akan jadi hokage!'

__ADS_1


Igor memutuskan untuk menjadi ketua di desa terpencilnya itu. Karena dengan menjadi kepala desa, Igor mungkin bisa merubah peraturan yang dimiliki oleh desa tempat dia dilahirkan tersebut.


.


.


.


{Wush! Wush! Wush!}


Satu tahun telah berlalu sejak kematian Kakak Igor. Saat ini Igor sudah berusia 7 tahun.


{Klotrak!}


{Brug!}


Igor terjatuh berbaring. Dia merasa sangat kelelahan setelah mengayunkan tongkatnya seharian.


Dia bingung. Igor sama sekali tidak tahu bagaimana bentuk dari ilmu bela diri itu seharusnya.


"Kak... Gimana nih?"


Sembari berbaring dan terengah, Igor teringat suatu kejadian yang pernah dia lalui bersama Kakaknya.


.


.


.


Pada waktu itu, Igor dan Kakaknya sedang mengumpulkan tanaman herbal untuk disimpan sebagai cadangan obat-obatan.


"Igor! Jangan pegang daun itu!"


"Loh kenapa Kak?"


Igor hampir saja salah mencabut tanaman. Daun yang hendak Igor pegang, adalah daun beracun.


"Itu beracun, kalau kau cabut, nanti tanganmu bakal gatal-gatal."


"Tapi bentuknya kan memang begini Kak..."


"Ya. Bentuknya memang sama. Tapi lihat!"


Igor memperhatikan daun yang ditunjuk oleh Kakaknya.


"Daun ini ada semutnya. Sedangkan tanaman yang tadi mau kamu cabut, nggak ada satupun serangga di sekitarnya."


"Kenapa bisa gitu Kak?"


"Karena dia beracun, sehingga serangga nggak ada yang berani mendekatinya."


"Oh..." Igor baru paham.


"Pelajarilah sekitarmu... Cobalah untuk terus belajar dengan cara memperhatikan alam," nasihat Kakak Igor tiba-tiba terngiang-ngiang di kepalanya.


.


.


.


"Itu dia!" Igor yang sedang berbaring untuk beristirahat sambil mengenang masa lalu, langsung terduduk dengan cepat.


"Belajar dari alam! Aku harus belajar dari apa yang ada di sekitarku!" Igor membentangkan kedua tangannya lebar seakan ingin memeluk seluruh permukaan alam.

__ADS_1


Igor yakin kalau nasihat yang diberikan oleh Kakaknya ini akan dapat membuat Igor menemukan bela dirinya sendiri.


...— Bersambung —...


__ADS_2