Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 8.4] Sang Penguasa Tunggal


__ADS_3

{Tok Tok Tok...}


"Saya igor Tuan..."


"Silahkan masuk Gor..."


{Cklek.}


Igor perlahan memasuki ruangan. Lalu berdiri sebentar di hadapan Otto.


"Duduklah!"


"Baik Tuan.'


{Zreeeg. Srek.}


Igor duduk di sebuah kursi yang terlihat sangat nyaman. Berjajar dengan belasan kursi lain yang mengelilingi sebuah meja besar.


Yups! Ini adalah ruangan yang sama yang digunakan oleh Otto saat 'bernegosiasi' untuk membeli seluruh Vardon Hill.


Di ruangan ini, sudah turut hadir Rere, Arika, Priya, Avni, Reus, dan Bakiman.


"Jadi totalnya berapa orang?" tanya Otto tiba-tiba.


Igor sedikit terkejut karena Otto ngomong gak pake muqodimah dulu. Tapi Igor segera mengontrol diri dan menjawab sambil tersenyum tenang.


"Semuanya ada 2.938 orang. Terbagi ke dalam 500 an KK. Rata-rata tiap KK beranggotakan lima orang lebih."


"Profesi?" tanya Otto kembali.


"Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani dan peternak."


"Bagus," Otto terlihat senang.


"Katakan pada seluruh penduduk Vardon Hill, kalau untuk ke depannya, aku akan tetap menerapkan aturan yang sama seperti yang diterapkan oleh para Tuan Tanah sebelumnya."


Otto diam sejenak. Dia melihat wajah-wajah tak ramah dari para anak buah yang merasa nggak rela bila Otto memberlakukan aturan yang sama kejamnya.


"Mereka semua bisa tinggal di Vardon Hill, gratis tanpa sewa. TAPI..." Otto menegaskan kata tapi.


"Tapi apa Tuan?" Igor menatap dengan wajah penuh harapan. Begitupun yang lain. Mereka semua menunggu kalimat yang akan diucapkan Otto selanjutnya.


"Tidak hanya gratis. Setiap hari Aku akan mensubsidi kehidupan mereka. Seribu kilias per orang per hari. Inget! Per orang. Jadi kalau satu KK isinya tiga orang, kasih keluarga itu 3.000 Kilias!"


"Be... Benarkah tuan?" Igor tak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


"Benar! Kamu cukup serahkan datanya ke Rere. Nanti Rere yang akan mentransfer semuanya," Otto menjelaskan.


Igor kemudian memandang ke arah Rere untuk memastikan. Rere jawab tatapan Igor dengan anggukan yang manis.


"Baiklah kalau begitu," Igor tersenyum sambil terpejam lega. Igor benar-benar bangga kepada Tuan barunya ini.


Walaupun sebenarnya...


Semua ini dilakukan Otto untuk memaksimalkan sumber penghasilan terbarunya yang bernama Tuan Tanah. Tujuannya agar para penduduk Vardon Hill merasa nyaman saat tinggal di tanah miliknya.


Dan Otto juga sebenarnya nggak bisa dikatakan dermawan sih...


Karena sementara Otto akan mendapatkan sepuluh juta dari setiap orang per harinya. Dia hanya membayarkan seribu Kilias saja per hari. Profit yang tentunya sangat luar biasa besar bagi Otto.


"Tapi syaratnya ada dua," lanjut Otto setelah sempat memberikan jeda hening sesaat.


"Apakah itu Tuan?" tanya Igor sopan.


"Yang pertama. Subsidi hanya berlaku untuk mereka yang tinggal di atas tanahku. Kalau nantinya ada anggota keluarga yang memutuskan untuk pindah. Maka subsidi untuk keluarga tersebut akan dikurangi."


Otto hanya ingin memaksimalkan kinerja dari Tuan Tanah dalam menghasilkan uang untuknya. Dia akan menahan sebanyak-banyaknya orang untuk tetap tinggal di atas tanahnya.


"Baik. Lalu apakah syarat yang kedua?" tanya Igor setelah mengingat syarat yang pertama.


"Aku ingin tanahku tertata. Sehingga mereka tidak boleh membangun apapun di atas tanahku. Kalau mau ngebangun sesuatu, bisa melakukan pengajuan melalui Rere," jelas Otto sambil melihat ke arah Rere.


"Dan demi lingkungan yang bersih dan tertata, aku berhak untuk mengalihfungsikan lahan dan memindahkan tempat tinggal mereka. Mereka tidak boleh protes dengan bagaimana caraku dalam menata Vardon Hill," tutup Otto.


"Baik Tuan. Akan aku sampaikan ke para penduduk segera," Igor merasa lega.


Apa yang dituntut oleh Otto merupakan hal yang sangat wajar dilakukan apabila kita ingin tanah kita lebih tertata rapih.


"Dan... Selanjutnya Rere..." Otto menyerahkan podium kepada Rere.


Rere selama ini telah ditugaskan oleh Otto untuk merancang seluruh Vardon Hill dengan bekerjasama dengan para ahli tata kota yang mereka sewa. Dengan uang yang begitu besar yang dimiliki oleh Otto, mereka benar-benar memiliki kebebasan untuk membuat sebuah kota yang paling ideal yang pernah ada.


"Baik Tuan," jawab Rere sambil berdiri.


Rere kemudian menurunkan layar, dan memulai presentasinya.


"Seperti yang kalian lihat di sini," Rere menunjuk peta topografi Vardon Hill yang ada di layar.


"Walaupun statusnya adalah bukit, tapi Vardon Hill itu cukup luas. Totalnya lebih dari 5 km²."


"Berarti lebih dari 5 juta meter²," sahut Avni.

__ADS_1


{Author's Note : Untuk bayangan, luas Taman Impian Jaya Ancol Jakarta adalah 552 hektare atau 5,52 km².}


"Ya benar. Oleh karena itu, untuk membangun seluruh Vardon Hill, kita harus melakukan beberapa tahapan pembangunan," ujar Rere sambil menunjukkan slide berikutnya.


"Mungkin pembangunannya akan mencapai lima tahun atau bahkan lebih," tutup Rere setelah jeda sejenak.


"Kenapa tidak disekaliguskan? Apakah dikarenakan kekurangan biaya?" tanya Avni polos.


Dasar si Avni ini! Udah tahu kalau Otto sakunya gak punya dasar. Masih aja menjadikan alasan biaya sebagai pertanyaa .


"Bukan. Aku berpikir untuk membangun setahap demi setahap agar Vardon Hill 2.0 ini bisa lebih cepat untuk beroperasi," Otto menjawab mewakili Rere.


"Dan nantinya kita akan memperluas pembangunannya sedikit demi sedikit melalui tahapan pembangunan berikutnya," tambah Rere.


"Aku juga lebih suka pembangunan yang bertumbuh daripada pembangunan yang sekaligus besar," Otto mengungkapkan alasan lainnya.


Seluruh peserta rapat mengangguk-angguk paham.


Setelah jeda sesaat, Rere kemudian melanjutkan kembali, "Aku akan membagi Vardon Hill ke dalam empat distrik."


"Yang pertama adalah ini," ujar Rere sambil menunjuk layar yang menampilkan peta topografi yang sebagian wilayahnya diberikan tanda warna.


"Distrik ini akan dinamakan Distrik Glavni. Dimana distrik ini dibuat tepat pada lokasi mansion yang kita duduki sekarang ini."


"Di sini?" tanya Reus yang mengangkat pantatnya dan melihat ke arah kursi.


Rere dan seluruh orang yang ada di sana tidak memperdulikan dengan cara Reus mengartikan kata 'duduki'.


"Karena distrik ini adalah tempat tinggal Tuan. Maka di daerah ini akan didirikan pusat pemerintahan. Aku juga akan membuat tempat berlatih bela diri di sini. Tuan Otto yang akan bertanggung jawab langsung pada distrik ini."


"Ya. Aku setuju," ujar Otto mengamini keputusan Rere yang menyerahkan tanggung jawab distrik pada dirinya.


"Yang kedua," gambar menunjukkan sebuah terowongan raksasa yang dipenuhi oleh infrastruktur megah.


"Terinspirasi oleh Kilias road. Kita akan membuat satu distrik di bawah tanah. Namanya Distrik Vermello."


Avni dan Priya saling tatap. Mereka masih ingat pengalaman mengesankan mereka saat berada di Kilias Road.


"Distrik Vermello akan menjadi pusat dari berbagai hiburan malam. Dan dengan meletakkannya di bawah tanah, maka selama 24 jam, Distrik Vermello akan selalu merasakan malam," Rere menjelaskan sambil menunjukkan ilustrasi Distrik Vermello yang begitu mirip dengan Kilias Road.


"Dan..." Otto memotong Rere.


"Karena Mamah dan Teteh sudah berpengalaman di dunia malam. Maka aku memilih Mamah dan Teteh untuk memanage distrik ini."


"Eeeeh?!" Avni dan Priya kompak terkejut saat nama merekq disebut.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2