Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 8.1] Sang Penguasa Tunggal


__ADS_3

Satu bulan setelah berakhirnya peperangan melawan bandit gunung.


{Vrooom...}


Serombongan mobil terlihat sedang melintasi gunung.


{Tiiiin...}


{Bruak!}


{Ckiiiit! Ckiiiit! Ckiiiit!}


Seorang manusia bertopeng yang besar dan berotot tiba-tiba menghalangi jalan. Membuat mobil terdepan langsung penyok karena menabrak raksasa tersebut.


Mobil-mobil lain yang bergerak di belakang mobil terdepan langsung mengerem mendadak. Membuat rombongan mobil yang berjajar seketika jadi berantakan.


{Grak! Brak!}


Dengan entengnya perampok tersebut menarik salah satu pintu mobil hingga terlepas, lalu melemparkannya jauh.


"Reus?!" teriak salah seorang penumpang mobil-mobil tersebut kepada perampok.


"Eh!" Reus memeriksa wajahnya yang masih mengenakan topeng.


"Reus! Topeng! Kalian. Gak tahu!" protes Reus pada penumpang tersebut.


"I... Iya... Maafkan kami tuan perampok! Kau benar! Kami tidak mengenalimu!" bapak penumpang berpura-pura tidak mengenali Reus.


"Tuan perampok yang tidak kami kenali, apa yang sedang kamu lakukan?! Kami adalah partner bisnis dari Tuan Otto!" salah seorang Bapak lain yang berasal dari mobil barisan belakang berkata.


"Tuan Otto?! Reus khianati Tuan!"


"Reus?! Be... Benarkah kamu khianati Tuanmu?!" tanya Bapak yang lainnya lagi.


Reus kembali memegang wajahnya.


"Reus bukan Reus!" kata Reus saat sadar dia masih mengenakan topeng.


"Re... Reus?!" tanya Bapak yang mobilnya penyok keceplosan.


"Reus bukan Reus!"


{Blar!}


Reus memukul salah satu mobil hingga penyok.


Orang-orang di sana terbengong. Mereka takut akan amukan Reus.


"Ja... Jadi... Tuan bukan Reus... Apa maksudmu menghalangi kami?!"


Mata Reus membulat karena baru ingat tujuannya berada di tempat ini.


"Reus. Rampok. Kalian!"


Orang-orang itu ketakutan. Pikiran mereka berputar dalam kebingungan. Mereka saat ini memang sedang membawa emas dalam jumlah banyak yang baru diberikan oleh Otto beberapa jam sebelumnya.


Dan Reus kini datang untuk merampok mereka. Lebih parahnya lagi, Reus mengaku kalau dia sudah mengkhianati Otto.


"Ot... Otto... Ini...!" seseorang dari mereka langsung menelpon Otto untuk melaporkan perbuatan Reus pada mantan Tuannya.


{Duagh!}


Reus langsung menjadikan orang yang sedang melapor itu seperti rempeyek.


"Lapor Tuan?! Mati!" teriak Reus yang langsung menghabisi semua orang di sana tanpa tersisa.


{Duagh Duagh Jresh!}


"Kyaaa..."


"Ampooon..."


"Reus! Khianati! Tuan...!" teriak Reus lagi sambil tertawa senang.


Beberapa jam sebelumnya...

__ADS_1


.


.


.


Arika yang jelita kini tengah mengenakan sebuah kemeja. Dia sedang duduk di atas pangkuan Otto. Menghadap ke arah Otto yang tengah mengenakan jasnya. Kepala Arika menunduk. Mata Arika terpejam. Kedua lengan Arika terlihat tengah memeluk erat leher Otto yang kokoh.


Sebuah gerakan kecil yang konstan membuat siapapun yang melihat langsung tahu dengan apa yang tengah Arika dan Otto lakukan.


{Tok Tok Tok}


"Siapa?" tanya Otto.


"Igor Tuan!"


"Masuk..."


{Cklek.}


Igor masuk ke dalam ruang kerja Otto. Tak mempedulikan keberadaan Arika di sana.


"Ehem! Maaf Tuan... Tuan ada tamu," ujar Igor setelah berdehem satu kali.


"Oh iya... Suruh mereka tunggu. 15 Menit lagi..."


"Baik Tuan," ucap Igor yang langsung undur diri.


{Cklek}


Igor menutup kembali pintu ruang kerja Otto.


.


.


.


{Jreng!}


Di kiri kanan meja tersebut, turut duduk empat orang lelaki, dan satu orang perempuan.


Reus, Igor, Arika, Bakiman, dan juga Rere, tengah berdiri berjajar di belakang Otto.


"Jadi apakah niatan kalian datang kemari?" tanya Otto pada para tamunya.


{Zreg.}


Satu orang yang paling tua dari semua tamu Otto, lalu berdiri.


"Saya yakin anda sudah tahu siapa kami," buka pria tua tersebut.


"Ya tentu saja. Kalian adalah para pemilik tanah di Vardon Hill."


"Betul sekali. Kami adalah lima orang pemilik seluruh tanah yang terhampar di Vardon Hill," pria tua itu menegaskan.


Vardon Hill memang hanya bukit dan bukan gunung yang sangat luas. Akan tetapi kalau melihat bagaimana Vardon Hill hanya dimiliki oleh lima orang saja, maka ini sudah menandakan kalau sudah terjadi ketimpangan sosial di Vardon Hill.


"Lalu, ada tujuan apa kalian datang ke Mansionku?" tanya Otto sambil tersenyum dari pipi ke pipi.


"Kami ingin meminta agar anda dan seluruh anak buah anda untuk meninggalkan Vardon Hill!" titah orang tua tersebut.


"Alasannya?" tanya Otto dengan tenang.


"Sejak turunnya bandit gunung kemarin. Kami sadar kalau Anda telah membuat Vardon Hill tidak aman. Keberadaan anda akan membuat lebih banyak bencana datang keVardon Hill."


"Benarkah kalian berpikir demikian?"


"Ya. Kami. Sebagai pemilik tanah mayoritas di Vardon Hill, mengusir kalian semua dari sini!"


"Baiklah... Bagaimana kalau begini... Rere!" Otto menjentikkan jarinya.


"Baik Tuan," jawab Rere yang langsung paham.


{Prok Prok.}

__ADS_1


Rere menepuk tangannya dua kali.


{Cklek!}


Tujuh orang Jenderal Calabria masuk membawa puluhan koper yang berwarna hitam. Diletakkan di hadapan seluruh tamunya dengan jumlah koper yang berbeda-beda.


"Silahkan dilihat," titah Otto.


{Ctrek Ctrek.}


Beberapa koper terdengar dibuka.


"Ini?!" pekik satu-satunya perempuan yang ada di sana.


"Itu emas murni. Aku telah menghitung jumlah luas tanah kalian semua. Dan aku ingin membeli semua tanah kalian yang ada di Vardon Hill! Jadi, mulai sekarang, akulah yang berhak untuk mengusir kalian untuk pergi dari Vardon Hill hari ini juga!"


Merasa dilecehkan. Wajah mereka semua memerah. Tubuh pria tua bergetar menahan amarah.


"Hei... Kami disin..."


{Gelutuk.}


Kepala pria tua menggelinding di atas meja.


{Zrash...}


Darah menyembur dari leher bagaikan air mancur. Duo Kilau tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang tubuh tanpa kepala.


"Hiiiiy...!" teriak keempat tamu Otto yang masih hidup.


"Pilihan dariku cuman ada dua. Ambil uang itu dan pergi dari sini. Atau mati?!" ancam Otto kepada tamu-tamunya.


{Sring!}


CMYK muncul di belakang keempat tamu. Menempelkan senjata mereka di leher para tuan tanah.


"Maaf... Para ajudan anda sudah kurang ajar pada kami," ujar Yulia.


"Jadi kami terpaksa melakukan yang harus kami lakukan," lanjut Magenta.


{Brug!}


Cantika dan Kira lalu melemparkan dua buah karung berisikan puluhan kepala ke atas meja.


Wajah keempat tamu semakin pucat pasi.


"A... Aku akan menjual tanahku padamu!" sergah tamu perempuan ketakutan.


"Ka... Kami juga..."


"Ya... Kami bersedia pergi dari sini!"


"Bagus. Karena koper-koper itu berat. Para Jenderal Calabria akan membawakannya untuk kalian. Kalian boleh pergi dari Vardon Hill setelah menyerahkan seluruh surat tanah kalian pada mereka," Otto beri instruksi.


"Ba... Baiklah...!"


"Senang memiliki partner bisnis seperti kalian." Otto tersenyum lembut pada para tamunya.


Keempat Tuan tanah lalu pergi dengan tergesa diikuti oleh ketujuh Jenderal Calabria.


"Arika..."


Arika mengangguk lembut.


"Reus. Kalau kamu sudah dapat kabar dari Igor, Kamu langsung habisi mereka semua," Arika berkata sambil menyerahkan sebuah topeng pada Reus.


"Reus. Kill!"


"Ya Reus... Ingatlah... Tugasmu kali ini adalah untuk mengkhianati Tuan," lanjut Arika


"Baik. Reus Khianat. Tuan!" Reus tampak sangat senang dengan tugasnya dan langsung mengenakan topengnya.


Otto mengurut keningnya dan berkata dalam hati, 'Kenapa dia begitu bersemangat untuk mengkhianatiku?'


...— Bersambung —...

__ADS_1


__ADS_2