Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 2.4] Pelacur Keibuan


__ADS_3

"Pri... Harusnya kemaren Kamu baca kontrak kerjamu dulu biar gak salah paham," Madun berkata dengan nada yang tenang.


"Ma... Maksud Kamu apa Dun?!"


Madun lalu mengeluarkan sebuah tablet dari dalam tasnya. Dia tunjukkan pada Priya kontrak kerja yang sudah Priya tanda tangani. Madun zoom pada bagian kontrak yang bertuliskan 'Lady Escort'.


{Prak!}


Priya menampar tablet Madun hingga terlempar jauh.


"Bajingan!"


{Grep!}


Priya hendak menampar Madun. Tapi Madun berhasil menahan tangan Priya.


"Pri... Aku bisa menuntutmu dengan pasal pelanggaran kontrak kalau Kamu nggak mau kerjasama."


Priya terdiam. Tubuhnya gemetaran.


"Cukup Kau temani saja mereka selama sepuluh hari ke depan. Maka kau akan terbebas dari ancaman menjadi budak belian."


Priya langsung melemas setelah kalah adu argumen. Di satu sisi Priya takut bila dia harus jadi budak belian. Tapi di sisi lain, Priya juga merasa sudah tertipu oleh 'Tendangan si Madun'.


Priya terdiam. Membuat suasana menjadi hening cukup lama.


"Baiklah... Aku akan ikutin mau kamu."


Jawaban Priya membuat keempat lelaki di sana langsung tersenyum bahagia. Sesaat lagi mereka bisa merasakan dekapan bidadari dunia.


"Tapi aku ingin membaca kontrak kerjaku terlebih dahulu."


"Tentu saja."


Beberapa menit kemudian, Priya menemukan kalau kontrak kerja ini telah diatur dengan cukup adil dan masuk akal. Sama sekali tidak terlihat bahwa kontrak ini merupakan hasil dari penipuan.


Di kontrak ini tertulis kalau Priya diperbolehkan buat menjalani hidupnya seperti biasa. Hanya saja Priya diwajibkan untuk menjadi Lady Escort sebanyak sepuluh hari dalam sebulan.


Dan sebagai pihak kedua. Madun berkewajiban untuk memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari Priya, serta membayar 25 ribu Kilias setiap bulan.


{Hahhh...}


{Trek.}


"Sudah siap?" tanya Madun saat Priya menghembuskan nafas, lalu meletakkan tabletnya.


"Yah... Mau bagaimana lagi?!" ujar Priya pasrah.


Nasi sudah menjadi bubur. Lagipula, Priya bukanlah seorang perawan suci. Begituan dengan pacar dan begituan dengan pelanggan sungguh tak ada bedanya. Hanya saja yang satu itu gratisan dan yang lainnya berbayar.


.


.


.


{Plak!}


Madun menampar Priya.


"Kamu tidak bisa berhenti begitu saja Pri!"


"Tapi Dun! Aku hamil. Sudah enam bulan!"


"Gugurkan Pri!"


"Kamu gila ya?! Aku tuh hamil enam bulan. Bukan enam minggu! Kamu mau aku mati?!"


Madun dan Priya terlihat sedang berdebat dengan sengit di dalam kamar apartemen Priya.


"Walaupun aku tak tahu siapa Bapaknya, tapi Aku tetap akan melahirkan anak ini!"


"Tapi kalau kamu ingin hutangmu benar-benar lunas. Kamu harus lanjutkan pekerjaan ini."


"Aku tahu! Aku tidak berniat untuk berhenti dari pekerjaan ini. Tapi setidaknya biarkan aku istirahat untuk melahirkan dulu."

__ADS_1


"Jangan bodoh Priya!"


"Alah! Peduli bagong!"


Priya berbalik untuk pergi meninggalkan Madun.


{Brug!}


Madun kalap. Dia tarik tubuh Priya hingga jatuh tersungkur. Untung saja Priya masih bisa melindungi perutnya dari benturan keras.


"Kalau kamu tidak mau menggugurkan anak itu, biar aku saja yang melakukannya! Aku akan bawa dokter kenalanku ke sini sekarang juga!"


{Brak! Ceklek.}


Madun pergi, lalu mengunci Priya di dalam kamar apartemen.


Selama beberapa menit Priya memang menangis. Tapi Priya tidak pasrah. Dia terus mencari cara agar bisa melarikan diri.


{Cklek!}


"Berhasil!" Priya berhasil membuka pintu apartemennya dengan petunjuk dari sebuah video tutorial yang berjudul: "Inilah yang harus dilakukan jika kamu terkunci di dalam kamarmu!"


.


.


.


Priya menatap wajah teduh seorang Bapak tua yang tengah duduk di hadapannya.


Dia adalah Alfredo Bernardi. Pemilik dari koperasi tempat Priya meminjam uang.


"Jadi begitu toh ceritanya..." Alfredo mengurut dagunya.


Priya telah menceritakan semua kejadian yang dia alami selama bebeapa bulan terakhir ini.


"Jadi pada intinya, kamu ingin membuat kontrak kerja dengan kami dan membatalkan kontrak dengan amatiran itu?"


Priya terhenyak saat mendengar Madun yang memiliki ratusan escort disebut sebagai seorang amatiran.


"Haha... Kamu adalah aset yang berharga Pri... Amatiran itu sudah bertindak sangat bodoh saat dia tidak memenuhi permintaanmu."


"Ini Ayah..." Araldo Bernardi menyerahkan sebuah tablet kepada Ayahnya.


"Baca dulu kontrak ini!"


Tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Priya pun membaca isi kontrak dengan berhati-hati.


"Aku sangat suka dengan setiap termin dari kontrak ini."


"Baguslah."


"Tapi aku kan masih terikat kontrak dengan Madun."


"Tenang saja. Orang mati tidak akan bisa menuntut," Alfredo berkata dengan lemah lembut. Membuat Priya bergidik ngeri saat mendengarnya.


"Ar... Malam ini harus sudah selesai ya..."


"Siap Ayah."


"Te... Terima kasih..." Priya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Nggak usah dipikirkan," jawab Alfredo lembut.


Benar kata orang. Hitam memang hanya bisa dikalahkan oleh hitam yang lebih pekat. Dan ini adalah satu-satunya cara yang terpikirkan oleh Priya, agar bisa terlepas dari "Jeratan si Madun".


.


.


.


Seluruh memori berhenti berputar. Priya sudah sepenuhnya kembali ke masa kini.


Sejak Priya mendengar soal kabar hancurnya Keluarga Bernardi. Priya kini telah resmi mengakhiri kontraknya sebagai Lady Escort milik Keluarga Bernardi.

__ADS_1


"Say... Namamu Bernardi kan?" tanya Priya pada Otto yang masih menikmati hangatnya sinar matahari.


"Ya."


"Apakah kamu Bernardi yang sama dengan Bernardi yang sedang ramai di berita?" tanya Priya memastikan.


"Tentu saja bukan..." Otto berbohong, tapi Priya mempercayainya.


"Oh iya Pri... Ini soal pekerjaanmu. Bukankah kamu itu datang ke sini karena disewa oleh Tuasu?"


"Nggak usah dipikirkan... Bertemu denganmu adalah berkah bagiku," jawab Priya jujur.


"Terimalah ini!" Otto serahkan segepok uang 10 Juta kepada Priya.


"Ini besar sekali!" Priya setengah memekik.


"Nggak besar, kalau buat kamu..."


Berkat kehadiran Priya, Otto telah mendapatkan uang yang jauh lebih banyak daripada ini.


[Selamat! Kondisi terpenuhi.]


[Uang Saku Harem didapatkan.]


[Tuan akan mendapatkan uang ganti rugi sebesar uang yang diberikan kepada Harem dikalikan jumlah Harem yang dimiliki.]


[20 Juta Kilias didapatkan.]


'Wah... Kalau gini sih Aku malah jadi untung dong!' Otto protes sekaligus senang.


"Tuan..."


Rere tiba-tiba nongol di belakang Otto.


"Kenapa Re...?"


"Aku minta uang juga dong..."


'Re... Kamu tuh kekuatan terbesar alam semesta. Masak minta uang?'


Otto bertanya dalam hati karena sedang ada Priya di sebelahnya.


[Rere pengen ngerasain sensasi berbelanja juga Tuan.]


Rere menjawab di dalam kepala Otto.


'Kamu kan bisa menciptakan uang sendiri Re...'


[Rere juga pengen ngerasain sensasi dikasih uang oleh Tuan.]


Hadeuh... Ini Sistem kok ada-ada aja keinginannya?!


"Rere minta uang ya Tuan... Boleh ya...?"


"Ya udah! Nih!"


Otto berikan Rere uang dengan jumlah yang sama dengan yang dia berikan pada Priya barusan.


Rere pun tersenyum sangat lebar.


"Priya! Belanja yuk!" ajak Rere.


"Se... Sekarang Re?"


"Iya! Yuk!"


Rere menarik lengan Priya.


"A... Aku pergi dulu ya Say..." Priya meminta izin pada Otto


"Ayok!" tanpa menunggu persetujuan dari Otto, Rere menarik Priya keluar kamar dengan riang.


Otto tersenyum bahagia melihat kelakuan kedua Harem nya. Dua sosok yang sangat bertolak belakang. Rere yang begitu kekanak-kanakan, dan juga Priya yang begitu dewasa serta keibuan.


...— Selesai —...

__ADS_1


__ADS_2