Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 6.7] Sang Putri Salju


__ADS_3

"Hei kalian! Tolong dandani Arika!" titah pedagang budak kepada beberapa orang karyawannya.


"Baik Tuan. Ke sini Arika!" salah seorang karyawan mengarahkan Arika untuk menuju ke sebuah bangunan yang memang diperuntukkan bagi para budak untuk mengganti kostum cozplay mereka setelah memiliki Tuan.


"Edith. Kau juga," Otto menegur Edith yang berdiri din sebelahnya.


Otto lalu membekali Edith dengan baju casual khas anak remaja.


"Bersihkan dirimu dan kenakan baju ini!" titah Otto pada Edith.


"Baik Tuan," Edith menjawab dengan penuh kebahagiaan.


{Drap. Drap. Drap.}


Edith berlari mengikuti Arika. Otto dapat melihat mereka langsung mengobrol setelah berkenalan sebentar. Arika begitu ramah dan cepat bergaul.


"Tuan muda?" Pedagang budak sedikit protes dengan melirik ke arah Otto saat dia lihat Edith berlari mengikuti Arika.


"Nanti akan kubayar," ujar Otto cepat.


"Baiklah kalau begitu," Pedagang budak pun menundukkan kepalanya tanda setuju.


.


.


.


Otto duduk di salah satu kursi taman. Dia tengah menghembuskan asap dari cerutu mahal yang dikonsumsinya. Otto sedikit bosan. Sudah cukup lama Otto menunggu kedua budaknya itu selesai didandani.


"Maaf lama Tuan..." ujar karyawan pedagang budak begitu keluar dari ruang ganti.


"Edith kotor sekali. Kami harus memandikannya dengan cukup lama."


"Ya tak apa," jawab Otto sambil berdiri dari duduknya.


Dua sosok yang ditunggu akhirnya keluar dari ruang ganti.


'Ah... Aku tak salah pilih...' Otto bangga terhadap kemampuannya dalam memberikan penilaian.


Dia lihat seorang wanita bergaun putih yang elegan serta seorang remaja casual keluar dari dalam ruang ganti. Arika tampak begitu anggun dan bersahaja. Sedangkan Edith yang sudah dimandikan dan didandani, tampak begitu cantik imut sekali.


"Bagaimana? Kalian suka dengan pakaian kalian?" tanya Otto basa-basi.


"Tentu Tuan. Hamba menyukainya."


"Terima kasih Tuan. Edith suka sekali."


"Tuaaaan! Reus dataaang!" terdengar suara yang bulat membahana dari kejauhan.


"Oh... Itu Reus. Tampaknya dia sudah selesai."


Reus berdiri di depan Otto dengan senyuman lebar menampakkan semua giginya.


"Tuan. Reus. Pilih ini," ujar Reus menunjuk budak-budak yang dibelinya.


Reus datang tidak dengan satu orang budak. Tapi dia membawa empat orang budak sekaligus.


'Dasar serakah!' sementara Otto baru membeli dua budak. Reus telah membeli empat budak.


Tapi sejujurnya Otto merasa kalau selera Reus ternyata lumayan juga. Keempat budak yang dibeli oleh Reus memiliki penampilan yang sangat menarik.


"Totalnya 450 juta Kilias Tuan. Untuk ongkos masuk kemari sudah kubayarkan pakai uangku terlebih dahulu," ujar Kardiman yang barusan memandu Reus berkeliling.

__ADS_1


"Terima kasih Kardiman. Pasti kamu mendapatkan banyak kesulitan saat memandu Reus."


Kardiman merinding mengingat segala hal yang barusan dialaminya.


"Itu adalah tugas saya Tuan," Kardiman tersenyum kaku.


"Ya sudah. Ambil 50 juta buat rasa terima kasihku padamu dan ini 9,5 Milyar untuk mengganti ongkos masuk Reus ke sini."


"Baik. Terima kasih Tuan."


"Terima kasih Kardiman."


Kardiman pun undur diri.


"Dan siapakah nama mereka Reus?" tanya Otto pada Ogre kesayangannya.


"Cantika. Magenta. Yulia. Kira."


'Kalau disingkat jadi CMYK,' bisik Otto dalam hati.


"Oh iya. Bisakah aku meminta tolong padamu untuk sekalian mendadani mereka?" tanya Otto pada pedagang budak penjual Arika.


"Hmm..."


Pedagang budak tampak ragu karena itu bukanlah tugasnya.


"Aku malas kalau harus ke salon lagi," Otto beralasan.


Di pasar budak ini sebenarnya juga terdapat beberapa salon khusus untuk membersihkan dan mendandani budak. Tapi letaknya cukup jauh dari sini.


"Apakah segini cukup untuk 6 orang?" Otto menunjukkan jumlah uang yang akan dia transferkan pada pedagang budak.


"Cukup Tuan," pedagang budak lalu menyerahkan kotak elektronik pipih yang merupakan alat pembayaran miliknya.


"Kalian tolong dandani mereka berempat ya..." titah pedagang budak kepada para karyawannya.


Karena dibayar sangat besar. Pedagang budak itu menuruti permintaan Otto dengan senang hati.


"Ini bajunya." Otto kembali membeli baju dari toko Sistem, lalu menyerahkannya pada salah satu karyawan dari pedagang budak.


"Baik Tuan," karyawan dari pedagang budak mengambil baju itu lalu kembali ke ruang ganti diikuti oleh budak-budak baru milik Reus.


"Budak Reus. Cantik," Reus nyengir kuda.


Otto melirik celana Reus yang terlihat penuh oleh ular yang bergerak-gerak hendak memberontak.


'Ah... Kalau Reus sesemangat ini. Berarti misiku akan selesai dengan sendirinya,' simpul Otto sambil memandangi Arika yang tengah mengobrol dengan Edith.


.


.


.


Mengambil pelajaran dari kejadian sebelumnya. Agar proses menunggu tidak terlalu membosankan, Otto memutuskan untuk menunggu di salah satu cafe yang ada di area budak spesial ini.


Dan sampai sekarang, sudah puluhan menit Dia menunggu bersama Reus dan kedua Harem barunya. Sementara itu Sebastian saat ini sedang menunggu bersama dengan pedagang budak yang menjual Arika.


{Gubrak! Kyaaa...!}


"Wow... Reus suka! Cantika. Magenta. Yulia. Kira," Reus tiba-tiba berteriak sambil berdiri. Membuat meja cafe langsung terbalik. Menumpahkan seluruh hidangan ke wajah Bapak berkumis yang duduk di dekat Reus


"Ah... Reus... Tenang dong...!" Otto bersyukur dia barusan tidak duduk di dekat Reus.

__ADS_1


"Aku akan mengganti rugi semuanya," Otto menatap manager cafe dan juga para tamu yang merasa terganggu.


Saat Otto melihat keempat sosok yang ditunjuk-tunjuk oleh Reus. Otto jadi merasa wajar dengan seluruh reaksi yang ditunjukkan oleh Reus.


'Hehe,' Otto tersenyum geli saat dia lihat bagaimana wajah Reus terlihat semakin berseri-seri saat dia melihat ke empat budaknya kini tampak makin cantik menawan.


"Ingat ya Reus... perlakukan CMYK dengan baik."


"Siapa Tuan?"


"Mereka semua akan kupanggil CMYK," entah mengapa Otto merasa kalau lidahnya terasa enak saat menyebutkan CMYK.


"Singkatan. Baik," Reus mengangguk mengerti.


"Perlakukanlah mereka berempat selayaknya manusia. Jangan anggap mereka hewan."


Sebastian membuang wajahnya karena menganggap Otto sebagai orang yang polos di dunia yang kejam ini.


Sekaya apapun Otto sekarang. Tokoh figuran seperti Otto cepat atau lambat akan tergerus lalu akhirnya menghilang.


"Baik Tuan," jawab Reus.


"Tuan Otto sangat baik sekali. Hamba jadi kagum," Arika berkata dengan formal.


"Kamu terlalu muji Ka..." Otto menolak pujian.


"Tuan..." Arika berkata namun terlihat ragu.


"Hmm?"


"Mungkin hamba kurang ajar. Tapi hamba ingin mengatakan sesuatu."


"Ya Ka... Katakan saja," Otto menjawab lembut.


"Bolehkah hamba meminta Tuan untuk turut membebaskan seseorang?"


"Maksudmu budak lainnya lagi?"


"Ya. Kami dari kerajaan yang sama."


"Tentu saja... Siapakah namanya?" Otto dengan senang hati akan memenuhi keinginan Arika.


"Bakiman Aganaya."


'Oooh...' Otto merasa tertarik.


Otto ingat kalau nama yang Arika sebutkan adalah nama dari komandan perang legendaris yang dimiliki oleh Kerajaan Aganaya.


"Apakah kamu bisa mencarikannya Bas?" tanya Otto pada Sebastian.


"Selama dia ada di Kilias Road cabang ini. Aku bisa menemukannya."


"Bagus. Tolong ya Bas..."


"Baik Tuan."


Sebastian langsung menelepon seseorang. Dia menghubungi ke sana ke sini untuk mencari nama Bakiman Aganaya.


"Aku sudah mendapatkannya Tuan. Dia ada di area budak perang."


"Ah... Ayo kita ke sana sekarang," Otto benar-benar penasaran seperti apakah sosok Bakiman Aganaya yang legendaris itu.


...— Bersambung —...

__ADS_1


__ADS_2