
Otto terkejut oleh suara konfeti yang memuntahkan kertas warna-warni. Bersamaan dengan lampu yang tiba-tiba dinyalakan.
{Prieeeet...}
Suara terompet terdengar sesaat kemudian. Otto yang tengah memegang dadanya tersenyum lebar.
"Happy Birthday....!"
Otto terkejut saat melihat para bibik pembantu rumah Priya sedang berkumpul di sana. Avni lalu keluar dari ruangan lain sambil membawa sebuah cake ulang tahun dengan lilin berbentuk 17 di atasnya.
Lagu ulang tahun pun terdengar. Dinyanyikan oleh seluruh orang yang ada di sana.
"Selamat Ulang Tahuuun!" seru Avni sambil menyodorkan kue ulang tahun tepat ke depan hidung Otto.
{Fiuh...}
Otto meniup lilin ulang tahun. Disambut oleh sorak sorai dari semua yang hadir di sana. Otto yang biasanya terlihat santai dan juga dingin. Tanpa sengaja menitikkan air matanya.
[Selamat ya Tuan.]
Suara Rere menggema di kepala Otto.
Otto tak pernah merayakan ulang tahun. Keluarga Bernardi selalu dalam keadaan waspada. Dan pergaulan Otto selama ini juga benar-benar dibatasi.
Saat ini Otto merasa...
Bahagia.
.
.
.
Pasca bercanda dan bersenda gurau bersama. Otto melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua. Otto begitu terharu karena selama dua jam lebih, tidak ada satupun dari ketiga Harem Otto yang membahas mengenai hubungan ranjang.
Untuk pertama kalinya sejak terkoneksi dengan Sistem, Otto merasa kalau dirinya bukanlah sekedar alat pemuas nafsu belaka.
Dan Otto juga begitu menikmat momen singkat ini dengan tidak memandang ketiga haremnya sebagai mesin pencetak uang pribadinya.
"Maaf Mah... Teh... Aku mau latihan lagi. Kasian Reus kalau aku tidak datang tepat waktu," ujar Otto pada Avni dan Priya.
Otto tidak membual. Dia benar-benar khawatir. Dengan kadar intelijensia Reus yang terbatas, rusaknya rutinitas yang telah dibangun, akan membuat Reus menjadi stress berat.
"Mamah pengennya sih ngelarang kamu untuk hari ini saja. Tapi kalau itu berkaitan sama temen ogre mu itu. Mamah nggak bisa ngelarang," ucap.Priya bijak.
"Oh iya... Sebelum kamu pergi," Avni mencengkram lengan Otto.
"Kenapa Teh?" Otto terheran.
"Dua bulan lagi aku mau ada wisuda SMA."
"Oh ya?!" wajah Otto antusias.
"Iya. Kamu harus hadir ya Say..."
Avni celinguk kiri dan kanan. Memeriksa apakah para bibik sudah benar-benar kembali ke kamar.
"Kamu cukup berteleportasi aja..."
"Tidak," jawab Otto cepat.
Mendengar jawaban Otto, ada raut kekecewaan di wajah Avni dan Priya.
__ADS_1
"Aku akan mengakhiri latihan intensifku. Kita berempat akan berpesta pora bersama di malam itu."
"Benarkah?!" mata Avni berbinar.
Otto mengangguk mantap.
"Emangnya kamu nggak ikut Prom Night Say?" tanya Priya pada Avni.
"Enggak lah! Prom King ku udah ada di sini!" Avni memeluk lengan Otto erat.
Otto tersenyum lalu membelai ubun-ubun kakak angkat plus-plusnya itu.
Kembali ke masa sekarang...
.
.
.
Otto telah mengenakan pakaiannya setelah showeran sebentar di dalam trailer mewah yang telah dimodifikasi.
"Aku pergi dulu ya Re..."
"Baik Tuan," jawab Rere yang sedang tenggelam pada permainanan android kesukaanya.
{Zap!}
Otto menghilang dari dalam trailer lalu muncul di kursi kosong tepat di sebelah Priya.
"Akh! Ini kan tempat umum Say..." Priya terkejut.
"Tenang Mah... Nggak akan ada yang sadar kok..." jawab Otto santai.
Priya celingukan menengok ke kiri dan ke kanan.
Seperti yang pernah diceritakan oleh Rere. Sistem akan memanipulasi persepsi dari setiap saksi mata akan kekuatan absurd yang Otto miliki seakan itu adalah hal yang wajar dan masuk akal. Terkecuali bagi mereka yang sudah Otto ceritakan soal kekuatannya tersebut.
Untuk saat ini, baru Avni, Priya dan juga Reus yang mengetahui soal kekuatan teleportasi yang Otto miliki.
'Eh! Sudah datang,' Avni yang telah berada di atas panggung tersenyum sambil melambaikan tangannya kuat-kuat kepada Otto.
Otto balas lambaian tangan norak itu dengan sedikit mengangkat tangannya pada Avni. Wajah Otto menjadi merah karena malu akan kelakuan dari Kakak angkatnya.
Malah harinya di rumah Priya...
.
.
.
Pasca Otto, Reus, dan ketiga harem Otto melakukan pesta barbeque sederhana. Otto dan ketiga bidadari dunia masuk ke dalam kamar untuk melakukan ritual yang sangat sayang untuk mereka lewatkan.
Setelah beberapa jam bertempur serta bertukar keringat. Otto keluar dari dalam kamar pada masa jeda istirahat pertandingan yang telah mereka sepakati bersama.
Dikarenakan mendengar keluhan haus dari ketiga wanitanya, Otto memutuskan untuk mengambil beberapa kaleng bir dingin dari kulkas yang ada di dapur.
'Eh! Reus?'
Otto tanpa sengaja melihat Reus sedang duduk di sofa ruang tamu sambil merokok.
"Sedang ngapain?"
__ADS_1
"Duduk."
"Iya. Kenapa kamu duduk di situ? Gak tidur?"
"Reus. Tidur. No. Suara. Kamar," Reus menjelaskan.
'Wuih... Gede juga ularnya...' mata Otto seketika tertuju pada tonjolan besar di bawah pinggul Reus.
Otto yang sudah diajarkan teknik pijat khas Keluarga Bernardi memang memiliki ular yang besar. Dan saat ini, Otto baru sadar kalau ular milik Reus lebih besar dari ular kebanggaannya.
'Sesuai lah sama ukuran badan dia,' puji Otto dalam hati.
"Maaf... Kami mengganggu tidurmu ya?"
"Fine. Fine. Tuan hebat. Reus tidak."
Reus malah balik memuji Otto.
Tring!
[Selamat! Main Quest telah didapat.]
[Hadiah Ksatria.]
[Reus telah melewati masa pelatihan yang berat. Tapi Reus belum diberikan hadiah secara benar. Kebetulan Reus masih perjaka. Kesempatan untuk merasakan malam pertama adalah hadiah yang paling tepat untuk Reus.]
'Akh... Misinya kok begini?'
"Hmm... Reus... Apa kamu punya kecengan?"
Reus menggelengkan kepalanya. Reus tidak punya banyak kenalan perempuan. Sejak kecil dia dikekang oleh orang tuanya. Lalu sejak masuk penjara, dia hanya mengenal laki-laki saja.
'Ini akan sulit...' bisik Otto sambil menenggak minumannya.
Mengingat Reus memiliki IQ yang terbatas, mengajari Reus teknik bacot dewa untuk menaklukkan para gadis akan jauh lebih sulit daripada membangkitkan prana tersembunyinya.
Satu-satunya cara yang memungkinkan adalah menjadi seorang pemerkosa. Tapi sejak kecil Otto sudah diajarkan bila wanita itu tidak berniat untuk membunuh kita, maka kita tidak boleh kasar padanya. Jadi memperkosa bukanlah sebuah opsi yang dapat diberikan oleh Otto kepada Reus.
"Oh iya!" Otto mendapatkan ide.
Otto kemudian melihat jam dinding.
'Sudah jam satu pagi.'
"Reus. Tidurlah dulu. Aku ada hadiah untukmu besok."
"Truk?"
"Bukan. Tapi hadiah yang lain."
Reus terdiam. Dia merasa senang sekaligus penasaran.
"Besok kita akan pergi ke Gandasuli. Ada tempat bagus yang akan kita kunjungi. Sekalian aku akan memberikanmu hadiah di tempat itu."
"Baik Tuan," Reus setuju.
{Cklek.}
Otto kembali ke dalam kamar bersama beberapa kaleng bir yang dibawanya.
Beberapa menit kemudian tepuk pramuka pun terdengar. Beriringan dengan suara lolongan tiga ekor serigala yang ketindihan nikmat.
Reus berguling-guling di atas ranjang sambil menutup kedua telinganya. Dia nggak bisa tidur.
__ADS_1
"Tuan hebat. Reus tidak," bisik Reus yang tidak memiliki cara untuk menenangkan ular miliknya
...— Bersambung —...