Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.5] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sejak Otto membeli Mansion di Vardon Hill...


Di dalam hutan yang teduh, Igor tampak sedang berbicara dengan seseorang.


"Aku sangat yakin, kalau Nona Arika yang kita amati selama ini adalah Arika Aganaya, putri dari Kerajaan Aganaya yang hilang, dan Tuan Bakiman, adalah Bakiman Aganaya, sang jenderal legendaris Kerajaan Aganaya," ujar seseorang yang sedang berada di balik pepohonan rimbun.


Igor menatap orang yang belum jelas wajahnya itu dalam diam.


Sosok Misterius itu menarik nafas panjang lalu berkata, "Saya telah mengamati setiap tindakan dan gerakan Nona Arika. Dalam matanya yang anggun, saya bisa melihat kilau kebangsawanan dari dalamnya."


Igor mengeratkan kepalan tangannya seperti menahan sebuah rasa yang bergejolak di dalam dada.


"Tatapan tajam dan kekuatan yang terpancar dari Tuan Bakiman juga menguatkan dugaanku kalau dia adalah seseorang yang memiliki pengalaman bertarung yang luar biasa banyak."


{Bletak!}


Tangan Igor yang terkepal meluncur deras ke kepala orang misterius tersebut.


"Dasar bodoh! Kamu kebanyakan baca novel fantasi timur tahu!" jerit Igor pada sosok misterius yang ternyata adalah salah satu asistennya.


"Kenapa kamu marah padaku guru...?" tanya sang Asisten yang ternyata juga merupakan murid dari Igor


"Aku udah nanya langsung sama mereka. Mereka udah cerita semuanya sama aku."


"Kenapa guru nggak cerita kalau guru udah tahu?"


"Kenapa kamu nggak nanya langsung sama mereka hah?! Lagian nggak ada yang mereka tutup-tutupin kok!" Igor terlihat sangat kesal.


{Srek!}


"Tapi ini nggak adil guru," ujar seseorang yang baru saja mendarat dari angkasa. Asisten Igor yang nomor dua.


"Nggak adil gimana?" tanya Igor pada sosok asisten nomor dua.


"Mereka emang nggak nutupin apa-apa. Tapi kita masih banyak menyimpan rahasia," seseorang yang sedang berada di atas ranting pohon langsung nyambung.


"Nggak lama lagi juga mereka bakalan tahu identitas kita yang sebenarnya," balas Igor pada asisten di atas pohon.


"Tapi guru. Tidakkah Engkau berpikir kalau Tuan Otto adalah Tuan yang baik?" ujar asisten yang baru datang bergabung. Sang asisten keempat.


"Ya. Dia adalah Tuan yang baik."


{Srek. Srek. Srek.}


Tiga asisten Igor yang lain datang menyusul. Mendarat setelah melayang di udara dengan ilmu peringan tubuh mereka.


{Jreng!}


Igor berdiri dikelilingi ke tujuh asistennya. Para asisten yang ternyata juga merangkap sebagai murid Igor itu terlihat kayak yang lagi beradu keren-kerenan pose.


"Kalian harus ingat. Kalian sempat dijuluki Tujuh Jenderal Calabria bukan tanpa sebab. Oleh karena itulah kita tidak boleh kalah rajin dari Tuan Otto. Kita juga harus terus berlatih," tutup Igor.


"Siap guru!"


Tanpa sepengetahuan para penghuni mansion, setiap sepekan sekali, Igor dan ketujuh muridnya berkumpul di tempat ini untuk berlatih bersama. Mengulang jurus-jurus dari Aliran Silat Calabria yang tidak terkenal.

__ADS_1


Sebuah aliran silat yang diciptakan sendiri oleh seorang Igor Calabria.


.


.


.


Keesokan harinya di dalam jacuzzi.


Otto sedang menengadahkan kepala sambil merasakan pijatan air di punggungnya. Sementara itu di sebelah Otto, Priya tampak asyik memainkan layar ponselnya.


"Oh iya... Lihat ini Yang!" ujar Priya sambil lebih mendekatkan tubuhnya pada Otto.


Priya menunjukkan postingan Instagram pribadinya satu hari yang lalu. Di sana Priya membuat kolase tiga buah foto. Yaitu foto saat Priya masih berkuliah. Foto yang diambil sebelum Priya ketemu sama Otto. Dan foto yang baru saja diambil kemarin.


"Wow..." Otto terkagum.


Otto tahu kalau berkat Skill Darah Terkutuk, keringat dan lendir khas nya bisa membuat Priya menjadi muda kembali. Tapi Otto tidak menyangka bila Priya kini sudah memiliki wajah yang sama persis dengan saat dia masih berusia dua puluhan.


"Aku harus merekomendasikan skincare yang kupakai selama setahun ini kepada teman-temanku," celetuk Priya yang dijawab Otto dengan diam.


"Ya... Sepertinya skincaremu memang bagus sekali," jawab Otto menyembunyikan fakta yang diketahuinya.


{Zrash...}


Seperti seekor Kingkong yang perkasa, Otto bangkit berdiri di atas jacuzzi. Membuat air dengan deras jatuh megikuti tekstur otot indah yang membungkus tubuh Otto.


"Mau ke kamar Arika lagi say?"


"Nggak Mam... Masih sore... Mau latihan lagi sebentar."


"Tentu Mam..."


Kingkong berjalan lambat meninggalkan lautan. Sedangkan Otto berjalan lambat meninggalkan jacuzzi. Keduanya sama-sama berjalan perlahan sambil mempertontonkan badan gagah yang mereka miliki.


.


.


.


Di tengah hutan, Otto dan kawan-kawannya ngumpul buat sesi latihan silat. Mereka bergerak mempraktekkan beberapa jurus dengan pemberat di sekujur tubuh mereka.


{Zresh! Zrash! Zrush!}


Suara deru angin terdengar di setiap gerakan yang mereka lakukan. Membuat merinding siapapun yang melihatnya.


Cahaya matahari menembus pepohonan rindang, Otto, Reus, Bakiman, dan Duo Kilau tampak sesekali berdiskusi saling mengkoreksi gerakan.


Otto tidak ingin egois dengan memposisikan aliran silat bernardi sebagai aliran silat yang tak tertandingi. Toh buktinya, aliran silat ini sempat dikalahkan hingga ke akar-akarnya dalam satu kali hantaman.


[Selamat! Skill Aliran Silat Aganaya telah didapatkan.]


'Akh... Ternyata dengan mengulang beberapa kali gerakan dasar dari jurus Bakiman, aku bisa mendapatkan skill bela dirinya yang berfokus pada pertahanan.'

__ADS_1


[Selamat! Skill Aliran Silat Kilau Kematian telah didapatkan.]


'Karena berfokus pada gerakan yang lincah dan gesit, aliran silat milik Duo Kilau ini tentu akan semakin berbahaya bila dikombinasikan dengan skill speed up yang kumiliki,' simpul Otto.


[Selamat! Skill Aliran Silat Tinju Raksasa telah didapatkan.]


Untunglah Otto memilih untuk merendahkan kesombongannya. Kalau tidak, dia tidak akan mengetahui betapa spesialnya gerakan sederhana yang kerap dilakukan oleh Reus.


Tak mau pelit sendiri, tentu saja Otto juga turut membagikan Aliran Silat Bernardi kepada keempat orang yang sedang berdiskusi dengannya itu.


Tring!


[Selamat! Misi Utama telah didapatkan.]


[Pergilah ke gunung. Lalu selamatkan penduduk Vardon Hill dari para bandit gunung.]


'Akh... Misi baru...' bisik Otto setengah kecewa karena dia sedang tenggelam dalam obrolan mengenai evaluasi jurus masing-masing.


"Apakah kalian dapat merasakannya?" tanya Otto pada Reus dan Bakiman dengan wajah yang dibuat sekhawatir mungkin.


'Tidak Tuan,' jawab Bakiman yang celingukan.


"Instingku merasakan ada bahaya di sekitar kita," Otto sedikit membual.


"Dimana?" tanya Bakiman kembali.


"Dari arah sana!" Otto menunjuk arah yang sesuai dengan instruksi dari panah hologram yang berpendar di hadapannya.


{Geleng-geleng.}


"Aku benar-benar tidak bisa merasakannya Tuan."


Bakiman memang tidak dapat merasakan prana jahat, hawa pembunuh, atau apapun yang sekiranya berbahaya dari arah yang ditunjuk Otto.


"Mungkin hanya perasaan Tuan saja."


"Aku percaya pada instingku Bakiman..."


"Maafkan atas kelancanganku Tuan," Bakiman membungkukkan badan.


"Reus! Kau ikut aku!"


"Baik Tuan."


"Bakiman. Hari sudah hampir gelap. Kau temani mereka berenam latihan. Setelah dirasa cukup. Kalian bisa langsung pulang ke Mansion!"


"Siap Tuan."


"Reus! Ayo!"


{Zresh!}


Otto melompat ke udara. Bergerak cepat bagaikan gelombang air dengan ilmu peringan tubuh miliknya.


{Zresh!}

__ADS_1


Reus pun turut melompat. Berusaha mengimbangi kecepatan gerak yang dimiliki oleh Tuan yang begitu diidolakannya.


...— Bersambung —...


__ADS_2