Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 2.1] Pelacur Keibuan


__ADS_3

Dua hari pun berlalu. Otto dan Rere masih tinggal di hotel yang sama. Selama dua hari ini Otto terus mencoba Skill Pleasure Provider yang baru saja dia dapatkan.


Dan ternyata...


Skill ini bagusnya emang kebangetan!


Ya bayangin aja!


Setiap kali Skill ini Otto aktifkan, Rere tidak pernah bisa mengontrol dirinya sendiri. Semacam bisa memberikan sensasi puncak nirwana hanya dengan disentuh saja.


Apalagi, berdasarkan jumlah uang yang Otto dapatkan dari Pleasure Conversion, Skill ini bisa meningkatkan penghasilan Otto hingga sepuluh kali lipat. Sehingga seribu Kilias yang diperlukan untuk mengaktifkan Skill ini, jadi kerasa begitu murah.


.


.


.


Otto dan Rere saat ini sedang makan di dalam Restoran Hotel. Mereka duduk di meja favorit mereka selama tinggal di hotel ini. Tepat di sisi jendela, bersebelahan dengan kolam renang.


"Anak Muda... Sepertinya Kamu harus pergi dari meja ini," seorang kakek tua yang sedang menggandeng wanita bergaun seksi tiba-tiba datang ke meja Otto dan Rere.


"Loh... Kenapa Kami harus pergi?" Rere bertanya dengan nada jutek.


"Ya itu karena Aku dan Permaisuriku ingin duduk di meja ini," jawab Kakek Tua sambil mencium gemas Kekasihnya.


"Emangnya Anda siapa berhak mengusir Kami dari sini?" Rere terdengar semakin emosi.


"Aku siapa? Aku adalah salah satu pemilik pertambangan yang ada di Abizard. Paham kan?!" jawab Kakek Tua itu dengan sangat angkuh.


Abizard adalah sebuah Desa yang berlokasi tidak jauh dari sini. Dimana di dalamnya terdapat salah satu pertambangan terbesar yang ada di Agronesia.


"Jadi kalau kamu punya pertambangan di Abizard, kamu akan berhak untuk melakukan apapun?" tanya Rere kritis.


"Nona manis... Kalau Aku adalah orang yang lebih kaya daripada Kamu dan Kekasihmu, maka Aku berhak memperlakukan Kalian seperti apa yang Aku mau."


Rere terdiam. Sebagai bagian dari Sistem, tentu saja dia tahu cara kerja di dunia ini. Dimana yang lebih berkuasalah yang memegang aturan.


"Baik Pak... Kami akan pindah," Otto memilih untuk mengalah.


Otto berdiri sejenak di hadapan si Kakek Tua dan juga kekasihnya.


"Namaku Otto Bernardi. Lalu siapakah nama Nyonya cantik yang satu ini?"


Otto meraih tangan dari kekasih si Kakek Tua lalu mengecup ujung-ujung jarinya dengan sopan.


[Pleasure Provider diaktifkan.]


[1.000 Kilias digunakan.]


"Ah!" suara sang wanita seksi langsung melengking seperti baru meraih puncak nirwana.


"Pri... Priya Mahelia," jawab wanita itu terbata-bata.


"Baik Nyonya Priya. Kamu beruntung. Kekasihmu adalah seorang Lelaki yang luar biasa," Otto membual sambil membelai tangan Priya lebih lama. Membuat Priya semakin gemetaran karena disergap oleh nikmat.


'Skill Pleasure Provider memang luar biasa,' Otto tersenyum puas.


{Plak!}


"Jangan lama-lama megangnya! Dia adalah wanitaku!" bentak Kakek Tua setelah ngegeplak tangan Otto.

__ADS_1


"Dan Anda adalah?"


Otto sengaja menyapa kakek itu belakangan untuk membuatnya tersinggung.


"Namaku Tamsu Tuasu."


'Udah tua, masih aja asu!' dalam hatinya Otto membuat kepanjangan dari nama belakang sang kakek.


"Otto Bernardi."


"Dek Otto... Ngomong-ngomong kekasihmu cantik juga. Bisa dong..."


"Nggak bisa!" dengus Rere sambil menarik tangan Otto kasar.


{Trap Trap Trap Trap.}


Rere membawa Otto pergi untuk mencari meja kosong yang lain. Sementara Tuasu memanggil pelayan untuk membersihkan makanan Otto dan Rere yang masih belum habis.


{Greeek...}


"Terima kasih," ucap Otto pada pelayan yang membantunya untuk pindah meja.


{Tring!}


[Selamat! Main Quest telah didapatkan.]


"Apa lagi ini Re...?" protes Otto.


Ingin sekali Otto tepok jidat Mbak Cantik di pojok sana saat membaca keterangan yang tertulis di layar hologram.


"Tahukah Tuan kalau..." Rere tidak meneruskan kalimatnya


"Tahu apa Re...?"


Rere mengembungkan kedua pipi sambil bersilang tangan di atas dada. Duh imutnya...


"Ya tapi tetep aja... Kenapa gara-gara kamu kesel, Main Questnya nyuruh Aku buat ngebunuh orang?"


Sebelumnya Rere ancam bunuh inangnya sendiri gegara penasaran sama sensasi begituan. Dan sekarang Rere nyuruh Otto buat ngebunuh orang, cuman gara-gara dia sedang ngerasa kesel doang.


'Ternyata Sistem yang luar biasa bakalan jadi kekanak-kanakan kalau punya wujud manusia,' simpul Otto di dalam hati.


"Rere nggak kekanakan Tuan! Rere pikir itu adalah aksi terbaik yang harus Tuan lakukan. Dengan membunuh Si Tua Asu, Tuan bakalan dapat masa depan yang lebih cerah."


"Baik kalau itu memang menurut kamu."


Sebagai entitas terhebat yang dimiliki oleh Alam Semesta, Rere mempunyai perhitungan di luar kemampuan manusia. Oleh karena itu Otto harus percaya dengan apapun yang dikatakan oleh Rere.


"Tapi kenapa harus Aku? Kenapa bukan Kamu saja yang bunuh Dia?"


"Rere nggak boleh ikut campur langsung dalam urusan Manusia. Apalagi kalau itu bakalan merubah nasib banyak orang."


"Bukankah sampai saat ini kamu udah ikut campur dengan berbagai urusanku?" tanya Otto polos.


'Ah! Salah ngomong!'


Rere diam sambil melotot tajam. Tampaknya dia cukup tersinggung dengan perkataan Otto.


.


.

__ADS_1


.


Di dalam Bar Hotel pada malam harinya, Rere menunjukkan sikap yang sangat tidak menyenangkan pada Otto.


"Kenapa Re? Masih ngambek?"


Rere tidak menjawab. Dia melengos membuang muka.


{Hah...}


Otto menghembuskan nafas panjang.


{Plak!}


"Kenapa kamu tampar Aku Re?"


"Tuan kenapa 'Haaaaah...' begitu?"


"Emangnya kenap..."


"Tuan anggap Rere kekanakan?! Tuan nggak suka sama Rere?!" Rere memotong kalimat Otto.


"Kenapa? Rere lagi pengen sendiri?" ujar Otto sambil membelai kepala Rere dengan lembut.


"Tebak aja sendiri!"


"Ya sudah..."


Sadar karena sikap Rere yang sudah sangat mengundang perhatian orang-orang. Otto pun melangkah pergi meninggalkan Barstool.


"Pak. Seluruh tagihanku dan bocah itu. Masukan saja ke tagihan Hotel ya... Kamar xxxx," kata Otto pada salah satu waiters.


"Kamar xxxx. Baik Tuan."


Sementara itu di sudut lain Bar. Tuasu memperhatikan Otto dan Rere dengan seksama. Senyum mengembang di wajahnya.


"Undang gadis cantik yang ada di sana untuk bergabung kemari. Bilang padanya kalau Aku punya sesuatu yang spesial untuknya," ujar Tuasu pada salah seorang waitress.


"Baik Tuan."


"Emangnya Aku masih kurang?" tanya Priya yang lagi gelendotan manja.


"Cukup sih... Tapi apa salahnya kalau tambah satu lagi," Tuasu menyeringai licik.


Beberapa menit kemudian Rere telah duduk di meja yang dipesan oleh Tuasu. Membuat Tuasu merasa seperti Raja Dunia. Diapit oleh dua perempuan yang berpenampilan cantik luar biasa.


"Memangnya kamu punya masalah apa dengan Kekasihmu?" tanya Tuasu pada Rere.


"Dia anggap Aku kekanakan."


"Kekanakan bagaimana? Nggak kok!" ujar Tuasu penuh kepalsuan.


"Emangnya Aku nggak kekanakan ya?" tanya Rere sambil menunjukkan ekspresi imut menggemaskan.


"Nggak kok... Tapi kalau emang kamu nggak percaya. Aku bisa bikin kamu ngerasa udah dewasa," Tuasu mengerling genit.


Rere diam tak menjawab. Dia hanya tertunduk membisu.


"Hmph..." Rere terkesiap ketika keledai itu mulai meringkik sambil mencengkram kuat tubuh mungilnnya.


Sementara di sebelah mereka, Priya dengan tenang menyeruput minumannya. Melirik dingin ke arah Tuasu yang mulai asyik dengan mainan barunya.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2