
Sepekan telah berlalu semenjak peperangan melawan Keluarga Makotai. Otto telah sembuh total berkat Skill Darah Terkutuk yang dimiliki olehnya.
Di dalam kamar Otto...
"Aku sudah mendengar semuanya dari Teteh," ujar Otto sambil memunguti kembali pakaian nya yang berserakan.
"Dengar apa Tuan?" jawab Rere yang tengah bermain game android kesukaannya.
"Katanya kamu waktu itu bersikeras untuk tidak membawaku ke rumah sakit."
"Tentu Tuan. Seandainya Tuan dibawa ke rumah sakit. Maka itu akan membuat kehebohan. Tuan memiliki darah terkutuk. Darah Tuan beda sama yang dimiliki oleh manusia normal," Rere menjelaskan alasannya.
"Ya. Aku tahu itu. Mangkanya aku pengen bilang makasih sama kamu Re."
"Sama-sama Tuan."
{Brak!}
Priya masuk ke dalam kamar Otto dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Mah?"
"Kalian tuh ya...! Nggak siang, nggak malam, begitu ada kesempatan... Langsung aja!" Priya protes saat dia melihat dua insan yang belum berpakaian dengan layak di dalam kamar.
"Aduh... Ngaca dong... Kayak sendirinya lurus aja...!" Rere menjawab Priya dengan jutek.
Priya terdiam. Wajahnya memerah karena malu. Dia memilih untuk tidak menjawab sindirian yang diberikan oleh Rere.
"Di luar ada orang yang nyari kamu Say..."
"Siapa Mah?"
"Nggak tahu! Pokoknya orangnya gede banget."
"Ah... Siapa sih?!"
Otto merasa kalau dia tidak mengenal siapapun semenjak Keluarga Bernardi pimpinan Kakeknya hancur. Sehingga saat ini dia sedang mengingat-ngingat apakah dia punya hutang seblak.
Otto keluar rumah dengan penuh kewaspadaan. Ada kemungkinan kalau yang datang ke rumah Priya saat ini adalah seorang musuh yang nggak sengaja dia ciptakan.
"Hormat Tuan Muda!" ujar orang itu begitu pintu rumah terbuka.
'Eh?!' Otto terkejut.
Seorang lelaki berjas hitam membungkuk 90 derajat. Badannya tinggi sekali. Mungkin lebih dari dua meter. Badan dia sangat gendut. Persis kayak seorang atlet sumo.
"Siapa kamu?" tanya Otto yang tak mengenali sosok tersebut.
"Reus Osman Makotai," jawab sumo itu.
"Oh... Jadi kamu dari Keluarga Makotai. Apakah kamu datang untuk membalaskan dendam saudara-saudaramu?" Otto bertanya dengan nada yang santai.
"Ti... Tidak Tuan..." Reus menjawab bersama dengan sebuah ekspresi ketakutan.
"Terus?" Otto sedikit mencondongkan tubuhnya untuk memberikan penekanan.
"Reus. Sebulan. Makotai."
Otto mengangkat sebelah alisnya saat mendengar suara Reus yang bulat tapi terbata-bata. Mirip kayak pas Hulk bicara. Hanya saja suaranya nggak serak, lebih ke ngegemesin.
"Ya... Terus apa urusanku?" tanya Otto yang barusan mengartikan kalau Reus bercerita bila dia baru sebulan bergabung dengan Makotai.
"Seminggu. Tugas pertama. Kesiangan."
__ADS_1
'Fix! Dia memang punya keterbelakangan mental!' simpul Otto.
"Jadi seminggu yang lalu kamu dapat tugas pertama. Sayangnya kamu bangun kesiangan. Dan akhirnya...?"
"Reus menyusul."
"Iya... Terus pas udah nyusul?"
"Reus. Oh sial!" Reus tepok jidatnya. "Eh. Untung..." Reus mengurut dadanya.
"Tuan. Bum bum. Kya kya."
"Awalnya kamu ngerasa sial gara-gara kesiangan. Tapi seketika ngerasa beruntung pas liat aku bantai seluruh anggota keluarga mu?" Otto kembali mengartikan perkataan Reus dengan baik.
"Ya Tuan," Reus senang karena Otto bisa mengerti seluruh perkataannya.
Priya yang tanpa sengaja sedang lewat langsung melongo karena Otto bisa mengerti bahasa yang digunakan oleh Reus.
"Lalu apa alasanmu menemuiku?" tanya Otto kembali.
"Makotai no no. Reus bingung," Reus menjawab sambil berisyarat.
"Tuan Muda," Reus menunjuk ke arah Kai. "Tuannya Reus," Reus menunjuk dadanya sendiri.
"Hmm..." Otto langsung berpikir. Dia memandangi tanah.
Priya yang mengintip pada awalnya terbengong. Namun kini dia merasa lega karena anaknya ternyata masih normal. Lagian mana ada orang normal yang bakalan mengerti sama bahasanya Reus.
"Tapi aku curiga... Kamu tuh sebenernya nggak pengen aku jadi Tuanmu. Kamu cuman nyari perlindungan dari aku?" tanya Otto dengan tatapan sinis.
{Brug!}
Priya jatuh terduduk. Otto langsung menoleh ke dalam rumah.
"Eh! Kenapa Mah?"
"Oh... Tadi dia bilang kalau keluarga Makotai udah hancur. Terus karena dia nggak mau jadi Ronin. Dia akhirnya datang ke sini dan memohon agar aku mengizinkannya untuk mengabdi padaku."
'Wis! Fix! Anak angkatku nggak normal!' simpul Priya dalam hati.
"Reus. Abdi," Reus tunjuk dirinya sendiri. "Tuan Muda. Tuannya Reus," Reus menunjuk Otto.
Reus menegaskan keinginannya kembali.
"Tapi dari yang aku lihat, sepertinya kamu non prana ya?"
"Reus. Smash-smash. Bum-bum."
"Sekuat apapun tenaga yang kamu punya... Di dunia mafia, non prana itu nggak punya masa depan."
Untuk bisa sukses di dunia mafia, seseorang harus dibekali oleh ilmu silat yang tinggi. Dan kepemilikan prana adalah tolak ukur yang paling utama.
"Reus kuat!" jawab Reus membela diri.
"Aku tahu kalau kamu itu sangat kuat bila dibandingkan dengan non prana yang lain. Tapi aku tetap menolakmu. Sebaiknya kamu jadi ronin saja. Atau kamu bisa saja cari Tuan yang lain selain aku."
Otto menolak bukan karena Otto tidak membutuhkan anak buah. Tapi karena Otto pernah dinasihati oleh Ayahnya. Kalau kualitas lebih baik daripada kuantitas.
Reus memang berkali-kali lipat lebih kuat daripada Hupal si Hulk Palsu. Tapi non prana tetap saja non prana. Tak ada artinya di dalam dunia persilatan.
"Reus ronin. Reus mati."
{Brug!}
__ADS_1
Reus duduk berlutut. Dia keluarkan sebilah belati dari belakang punggungnya.
'Ah... Dia sudah menyiapkan semuanya,' Otto mengusap wajahnya sambil kesal.
{Klang!}
Otto tendang belati hingga menjauh. Tepat satu detik sebelum Reus merobek perutnya.
"Jangan kau kotori mataku dengan darahmu," Otto menatap Reus tajam.
"Reus. Maaf. Tuan."
{Brug!}
Reus bersujud dengan membenturkan kepalanya ke lantai.
"Reus. Maaf. Tuan."
{Brug!}
Reus kembali bersujud membanting kepalanya. Keningnya mengucurkan darah.
"Reus! Cukup!"
"Baik Tuan."
Sambil berlutut Reus tampak berkaca-kaca. Matanya membulat seperti seekor kucing. Reus menunggu kalimat berikutnya yang akan diucapkan oleh Otto.
'Lihat Skill.'
[Berikut adalah daftar Skill yang Tuan miliki.]
'Lihat keterangan Skill Pemandu Bakat Legendaris.'
[Pemandu Bakat Legendaris] [Basic]
[Skill ini akan membuat Tuan menjadi pelatih yang sangat hebat. Tuan bisa meningkatkan kemampuan siapapun di bidang apapun dengan lebih cepat.]
[Butuh pengorbanan 1 juta Kilias per 1 Orang per 1 Jam.]
'Wah... Mahal sekali...'
Otto menghembuskan nafas panjang sambil memejamkan matanya.
'Tapi mungkin skill ini bisa sangat membantuku.'
Otto memandangi Reus sekali lagi. Dia bisa melihat keseriusan di balik wajah chubby-chubby imut itu.
"Ya sudah. Kalau kamu memang mau bergabung. Tapi sebelum benar-benar menjadi abdiku, kamu harus menjalani pelatihan terlebih dahulu."
"Reus senang. Reus latihan. Reus mau."
"Tapi ingat Reus. Metode pelatihanku akan membuatmu kencing darah. Aku nggak akan melarangmu buat berhenti di tengah jalan. Anggap saja ini adalah test kelayakan dariku."
"Baik. Terima kasih Tuan."
{Brug!}
{Cerash!}
Reus kembali bersujud dengan sangat keras membuat kepalanya memuncratkan darah segar yang amat sangat banyak.
'Bodo amat dah!'
__ADS_1
Otto melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Reus yang sedang kejang-kejang di permukaan lantai.
...— Bersambung —...