Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 5.5] Ogre Baik Hati


__ADS_3

16 Tahun yang lalu...


{Bayi raksasa sebesar Balita berhasil lahir ke dunia. Ibu sang Balita dikabarkan berhasil selamat.}


Sebuah berita yang cukup menghebohkan Kerajaan Agronesia terdengar dari layar televisi.


"Itukah bayinya?!


"Ya itu!"


"Ibu! Bapak! Wawancara dong!"


Sepulangnya dari rumah sakit, rumah Reus langsung ramai oleh wartawan.


"Baik... Satu-satu ya wawancaranya," kata Ayahnya Reus sambil tersenyum.


"Iya Ibu Bapak wartawan sekalian... Ini adalah bayinya... Buat kami berdua, dia itu beban hidup banget loh... Untung aja sekarang saya masih hidup..." balas Mamahnya Reus yang sedang menggendong si bayi raksasa.


"Siapa namanya Bu?"


"Namanya Reus Osman. Pemberian dari rumah sakit tempat beban hidup ini dilahirkan," Mamah Reus kembali menekankan pada kata beban hidup demi mendapatkan simpati orang-orang.


Berkat kelahiran Reus, hidup orang tua Reus yang miskin seketika itu langsung berubah. Mereka mendadak menjadi pembicaraan di seantero Agronesia.


Tidak hanya terkenal. Berkat kepolosan dan juga kontroversi yang kerap mereka tunjukkan. Mereka berdua seketika menjadi kaya raya.


Lima Tahun kemudian di salah satu taman bermain...


.


.


.


"Syuting film kecil-kecil kok raksasa akan kita mulai sebentar lagi ya..." teriak seseorang kepada masyarakat yang berkerumun.


"Tolong ya Bu... Mundur! Nanti kameranya ke arah sini. Hei itu adek! Jangan lewatin tali! Tolong ya Bu! Kalau mau nonton, jaganya di anak! Eh! Anaknya dijaga!"


"Huuuu..." para netizen pun bersorak ramai.


Sementara para kru sedang menyiapkan lokasi syuting. Reus dan orang tuanya sedang menunggu giliran take di salah satu tenda.


Reus sudah berusia lima tahun. Badannya sekarang sama besar dengan anak SMP pada umumnya.


{Hueks...}


Reus memuntahkan kembali makanan yang ada di perutnya.


"Aduh... Reus... Kenapa dimuntahin lagi sih...?!" protes mamah Reus.


"Ayo Mah! Kasih Reus makan terus! Biar dia makin cepet gede!" titah Ayah yang berpenampilan perlente lengkap dengan kacamata hitamnya.


"Ish! Dasar anak beban! Nyusahin banget sih! Denger tuh apa kata Ayah kamu!" ujar si Ibu yang kembali menyuap paksa makanan ke mulut Reus.


"Uwaaa!" Reus yang belum bisa bicara akhirnya menangis keras sekali. Seandainya bisa bicara, Reus pasti sudah bilang kalau dia sudah kenyang.


"Aduh! Ibu! Bapak! Diapain lagi anaknya?! Suruh cepet diem! Kita bentar lagi mau syuting nih..." astrada mengingatkan kedua orang tua Reus.


"I... Iya Pak..." Mamah Reus menunduk-nudukkan kepalanya.


"Reus! Denger nggak kata Pak Astrada! Cepet diem! Kalau nggak nanti sama Ayah dipalu pake palu gajah!" Ayah Reus menunjukkan sebuah palu yang suka dipake buat memalu kepala gajah di kebon binatang.


"Hiks Hiks."


Reus yang ketakutan pun langsung diem sambil memegang kepalanya.


"Bagus... Sini makan lagi!" kata Mamah Reus yang kembali menyuapi Reus.

__ADS_1


"Kayaknya sendok itu kekecilan. Lain kali kita coba pake sekop yuk Mah..."


"Ayah logis sekali!"


Logis mbah Lu! Dasar ortu edan!


.


.


.


"Reus! Sini! Cepet! Masak jalannya lambat banget sih!" teriak Ayah Reus pada Reus yang mengikuti di belakangnya.


Reus saat ini sudah berusia sepuluh tahun. Dia memiliki tinggi 190 cm. Sayangnya, akibat selalu dipaksa makan banyak, Reus kini menderita obesitas berat. Akibatnya dia kini kesulitan untuk berjalan. Apalagi kalau disuruh untuk berlari.


{Krak!}


{Brug!}


Reus terjatuh. Dia merasakan ada bagian tulangnya patah akibat tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya sendiri.


"Mamaaah... Ayaaaah..." Reus menangis keras memanggil kedua orang tuanya yang berada jauh di depannya.


"Apaan sih?! Ayo cepet sinih! Kamu tuh berat. Ayah sama Mamah nggak akan kuat buat gendong kamu!"


"Ugh..."


Reus berusaha untuk berdiri sendiri.


{Krak!}


{Brug!}


Tapi dia terjatuh lagi. Sepertinya luka dalam yang Reus alami barusan jadi semakin parah.


"I... Iya maaf Pak..." Mamah Reus tampak gelagapan.


"Ayah! Gimana nih?!" Mamahnya Reus panik.


"Baik Pak... Saya ambil forklift dulu," ujar Ayah Reus yang berlari untuk mem-forklift anaknya.


.


.


.


Reus seharusnya sudah SMP. Usianya saat ini sudah 15 tahun. Tapi akibat kesibukan syuting yang dilakukan. Kedua orang tua Reus memutuskan untuk homeschooling. Tanpa guru. Tanpa belajar sesuatu apapun.


Yah... Intinya mah kagak diajarin apa-apa!


Reus juga sudah sangat besar. Tingginya saat ini sudah mencapai dua setengah meter. Sudah lancar berjalan dan berlari. Juga sudah bisa berkomunikasi dua arah.


Reus yang nggak punya bakat ngartis sebenarnya udah nggak laku lagi. Sudah tidak ada stasiun televisi yang mau mempekerjakannya. Gimana lagi? Selain badannya yang gede dan badannya yang bau keringet karena jarang mandi. Nggak ada keunggulan apa-apa lagi dari Reus.


"Hueks..."


Reus muntah lagi untuk ke sekian kalinya.


{Hiii... Jorok...}


{Muntah mulu!}


{Ayo makan yang bener! Kamu kebanggaan Agronesia!}


Ribuan komentar meramaikan Live yang sedang Reus lakukan.

__ADS_1


Reus memang sudah tidak laku lagi di TV. Tapi orang tua Reus yang bodohnya kebangetan itu mendadak jadi pintar. Mereka mencari aplikasi onlen yang bisa mengorbitkan Reus menjadi artis kembali.


Dari sekian banyak aplikasi onlen yang ada. Mereka pada akhirnya memilih yang paling banyak duitnya dan yang paling jahat netizen nya. Dan mereka pun berhasil. Reus sekarang berubah jadi femomena di jagat media sosial.


"Makan yang bener Babi!" sang Ayah yang sedang menenggak miras berkata dari balik kamera.


"Iya! Giftnya masih kurang ini!" ujar Ibu yang sedang memainkan gelang emas di tangannya.


{Hei Reus! Jadilah besar! Kalau kamu nyampe 300 cm. Bisa jadi rekor dunia tahu!}


{Makan terus! Ini aku kasih kuda nil!}


{Kuda nil didapat! Hieeee... Peletok peletok.}


"Wah... Makasih kuda nilnya..."


Akibat mendengar notifikasi gift terbesar dari speaker handphone, Mamahnya Reus langsung muncul di depan layar.


"Hei... Bilang makasih dong sayang..."


Reus yang sudah mual hanya diam saja. Sudah berjam-jam dia memaksakan diri untuk makan.


"Babi!"


{Bzzzt...}


Mamah Reus diam-diam menyengatkan teaser bertegangan tinggi ke badan Reus.


"Reus. Makasih. Netizen."


"Ayo makan lagi sayang!" Ayah Reus turut muncul setelah menyimpan minumannya.


Dia sodorkan kembali sekop kembang ke mulut Reus. Sementara kakinya terus menendangi punggung Reus menggunakan lutut.


"Ayo...." paksa Mamah Reus.


"Ayo..." sodor Papah Reus.


"Gak! Reus! kenyang!"


Reus merentangkan tangannya sekuat tenaga.


{Blagh! Krash!}


Reus tanpa sengaja menghempaskan kedua orang tuanya ke tembok. Kepala mendarat duluan. Membuat tembok berubah warna menjadi merah.


{Kyaaaa...}


{Pembunuh!}


{Telepon polisi!}


{911 sekarang juga!}


{Prank yang bagus!}


Mata Reus membulat melihat kedua orang tuanya meregang nyawa.


"Ayaaaah! Ibuuuu!"


Reus menangis sejadi-jadinya.


Reus sejak kecil tidak dididik dengan pendidikan yang benar. Selain dipaksa bekerja dan makan. Tak ada jasa yang ortu Reus telah lakukan. Tapi berbagai metode penyiksaan yang diberikan sejak kecil, membuat tubuh Reus tanpa disadari berubah menjadi tubuh yang terlatih.


Selain tidak mempan terhadap rasa sakit. Reus juga sangat kuat akibat setiap hari harus terus bergerak membawa tumpukan lemak yang sangat berat.


...— Bersambung —...

__ADS_1


__ADS_2