Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.9] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

Sementara itu di dalam mansion lantai ke tiga...


{Drap Drap Drap Drap.}


"Nyonya! Nona! Menjauh dari jendela!" hardik Rere pada Priya dan Avni yang sedang mengintip ke pekarangan mansion sambil ketakutan.


{Drap Drap Drap Drap.}


"Maaf... Tapi kalian berlima sebaiknya masuk ke dalam kamar Nona Arika!" kata Pantene pada kelima harem Otto.


"Kami akan sulit melindungi kalian kalau kalian berpencar!" tambah Emeron.


{Drap Drap Drap Drap.}


Emeron kemudian membantu Pantene untuk mengamankan para Harem Otto agar berkumpul di dalam kamar terluas yang ada di mansion ini.


{Drap Drap Drap Drap.}


Sementara CMYK turut bergerak waspada sembari memagari para Harem yang tengah berlari.


Kembali ke pekarangan mansion...


.


.


.


Otto beberapa kali melirik heran ke arah Igor dan ketujuh Jenderal nya. Dia masih belum percaya dengan prana yang ditunjukkan oleh sang butler dan juga asistennya.


"Kami akan menceritakan semua yang ingi Tuan tahu setelah kita menghabisi semua hama pengerat ini," jawab Igor pada Otto yang tidak bertanya.


"Tidak perlu lagi kalian memperkenalkan diri. Kalian berdelapan cukup tunjukkan padaku kemampuan kalian!"


"Kalau begitu kami setuju Tuan..." jawab Igor sambil tersenyum lebar.


"Bakiman! Reus! Siapkan diri kalian! Kita akan membagi-bagikan tiket piknik ke alam baka pada mereka semua," teriak Otto pada kedua partner latihannya.


"Tentu saja Tuan..." jawab Bakiman.


{Sring!}


Bakiman mengeluarkan sebilah pedang kesayangan dari dalam sarungnya. Bersiap mengayunkan pedang yang sudah dua tahun ini berpuasa tak merasakan aliran darah segar.


{Srek...}


Sepuluh orang di sana langsung memasang kuda-kuda. Bersiap untuk menghadapi ribuan bandit yang sedang mengelilingi mereka.


Sementara itu...


"Hhhmmmm..." Reus tampak panik merabai pakaian yang dikenakannya. Reus celingukan kebingungan. Dia tidak dapat menemukan lembaran tiket yang Otto katakan barusan.


.


.


.


Seorang anak kecil berusia kurang lebih enam tahun, sedang bertelanjang dada sambil berjalan riang.


Rambut dan celananya tampak basah kuyup. Di salah satu pundaknya bersandar sebuah joran tradisional. Sementara di punggungnya terikat sebuah tas bambu yang berisikan banyak sekali ikan.


"Igor! Habis mancing?" tanya seorang Kakek tua kepada Igor.

__ADS_1


"Iya Kek... Dapet banyak!"


"Kamu menangkap ikan sesuai aturan kan...?"


"Tenang Kek... Aku cuman ambil yang jantannya aja kok," jawab Igor senang.


"Bagus! Anak baik... Ingat! Kita harus terus bersahabat dengan alam."


"Tentu saja Kek..."


Igor kecil tumbuh dan berkembang di sebuah desa terpencil dan terisolasi, dimana desa ini hanya berpenduduk ratusan jiwa saja.


Dia diajarkan oleh para sesepuh tentang tata cara agar bisa bertahan hidup di alam liar. Tapi bagaimanapun juga, alam liar bukanlah hal yang mudah untuk ditaklukkan.


Sehingga tanpa Igor dan seluruh penduduk desa sadari, mereka semua sebenarnya telah memiliki tubuh yang sangat terlatih. Bahkan beberapa pemburu tanpa sengaja telah membangkitkan hawa prana di dalam tubuh mereka.


Hingga pada suatu hari di tengah hutan...


.


.


.


{Drap Drap Drap.}


Igor kecil dikejutkan oleh suara sekelompok orang asing.


"Eh. Mereka?!"


Igor dengan cepat berlari dan memanjat ke atas pohon untuk bersembunyi dari pantauan orang-orang tersebut.


Ini bukanlah pengalaman pertama baginya. Igor yang senang bermain di hutan, tidak sekali dua kali bertemu dengan orang asing.


Kalau bukan bandit gunung, mereka biasanya adalah buronan yang melarikan diri, atau seseorang yang sedang tersesat.


"Hei! Apakah di sini sudah aman?!" tanya lelaki berbaju oren.


"Sudah Boss. Tolong Boss beristirahatlah!" jawab lelaki lain yang mengenakan jas.


"Dasar! Polisi-polisi kurang ajar itu cukup gigih juga!"


"Tenang saja Boss. Mereka tidak akan berani mengejar kita sampai ke sini."


Hutan ini cukup luas. Selain karena masih banyak makhluk buas di dalamnya. Hutan yang masih alami ini sangat mudah untuk membuat seseorang tersesat. Sehingga hutan ini akan sangat berbahaya bagi mereka yang masih belum tebiasa.


"Ngomong-ngomong, apakah di sini ada suku pedalaman?"


"Ada Boss. Kita bisa mengaku pada mereka kalau kita sedang tersesat. Nantinya mereka akan memberikan kita tempat bermalam, makan, dan juga minum. Bahkan mereka akan mengantarkan kita untuk turun gunung dengan aman."


"Darimana kau tahu itu semua?"


"Tentu saja aku sudah survey Boss..."


"Baguslah... Aku berjanji akan memberikanmu hadiah kalau kita sudah berhasil kembali ke markas."


"Terima kasih Boss."


Igor memicingkan padangannya.


'Iya. Itu lelaki yang tersesat dua hari kemaren,' simpul Igor dalam hati.


Desa Igor hanya dihuni oleh ratusan orang, sehingga bila ada orang asing yang datang ke desa, Igor langsung dapat mengingatnya. Apalagi desa mereka termasuk ke dalam desa yang baik kayak sekelompok lumba-lumba. Dimana mereka kerap menolong orang yang tersesat dan membantu mereka hingga dapat pulang dengan selamat.

__ADS_1


{Hmh! Hmh! Hmh!}


Igor kembali memicingkan matanya dari atas pohon saat dia dengar suara pekikan seorang gadis tak jauh dari sana.


"Boss, lihat siapa yang kutemukan?!" seorang anak buah yang lain datang sambil menyeret seorang gadis belia. Dia membungkam mulut gadis tersebut dengan lakban.


"Ka... Kakak?" bisik Igor saat menyadari bila dia mengenali sosok gadis tersebut.


"Bagus... Cantik juga nih... Kebetulan aku lagi butuh saluran. Bawa sini!" titah si Boss yang sudah sangat merindukan aroma tubuh perempuan.


"Eh! Tapi Aman kan?" tanya salah seorang anak buah ke anak buah yang sedang membawa gadis belia.


"Aman..."


"Beneran? Kita cuman bertiga nih..."


"Tenang aja! Ini gunung. Sangat biasa orang hilang di gunung."


Benar yang dia katakan. Tidak sekali dua kali penduduk desa dinyatakan menghilang. Biasanya saat ada penduduk yang hilang, seluruh warga desa akan melakukan pencarian. Namun bila sudah 24 jam tidak ketemu juga, para penduduk desa akan menganggapnya sudah meninggal dunia.


"Ya udah. Pegangi dia!" titah si Boss yang mulai membuka celananya.


"Hmh!" Kakak Igor berontak saat kedua pria berjas membaringkannya dengan paksa.


"Yuk adik manis... Bantu Om buat enak-enak ya..." ujar sang Boss sambil melebarkan kedua lutut yang menutup.


{Krak!}


'Eh?'


Igor melompat dari pohon dan memukul kepala sang boss dengan sebuah kayu besar.


{Duagh!}


Igor ayunkan kayu tersebut asal hingga menghancurkan wajah salah satu dari anak buah.


"Kakak! Ayo lari?!"


Melihat kakaknya sudah terlepas. Igor menarik Kakak perempuannya itu untuk berlari. Akan tetapi...


{Dor!}


Pistol meletup.


Kakak Igor yang menyadari adanya bahaya, memeluk untuk melindungi adiknya dari tembakan peluru.


"Kakaaak!"


Igor melihat darah mengalir dari mulut Kakaknya.


"Bang*saaat!"


{Duagh! Dor!}


Igor pukul pistol pembunuh Kakaknya hingga memuntahkan peluru ke angkasa. Kayu di genggaman Igor pun patah terbagi dua.


"Oh my... Gowdh!"


{Kraush!}


Igor tancapkan kayu di tangannya ke dalam mulut pembunuh Kakaknya yang sedang menganga.


Igor terengah-engah. Di usianya yang keenam tahun. Igor telah menjadi seorang pembunuh. Membunuh tiga orang dewasa dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Kakaaaak!" Igor kembali tersadar. Memeluk tubuh kakaknya yang sudah tak bernyawa.


...— Bersambung —...


__ADS_2