Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 6.6] Sang Putri Salju


__ADS_3

"Aku mau artis laga itu."


"Baik Tuan."


"Artis 3GP itu juga lumayan."


"Eh. Raja itu... Nggak deh."


"Wah... Coret artis laga sebelumnya. Saya ingin aktor laga yang ini saja."


"Dia bagus. Dia tidak."


Otto kembali melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan saat berada di bagian budak perang. Otto meminta Sebastian untuk memilih dan mencoret budak berdasarkan hasil penilaian yang dia lakukan.


{Drap!}


Otto terdiam sangat lama. Mulutnya menganga. Tubuhnya gemeteran. Mata Otto saat ini lurus menatap diorama suasana gunung bersalju.


"Apakah dia Putri Arika Aganaya?"


Tanya Otto menunjuk seorang putri cantik seputih salju. Dia mengenakan pakaian khas kerajaan berwarna putih yang begitu flamboyan. Hawanya yang tenang dan elegan membuat jantung Otto berdetak begitu kencang.


"Tuan bisa melihatnya sendiri di sana."


{Drap Drap Drap Drap.}


Otto setengah berlari mendekati diorama. Dia begitu yakin kalau sosok ini adalah Putri Arika Aganaya. Calon Ratu Aganaya yang dijuluki sebagai putri salju di dunia nyata.


Sayangnya kerajaan Aganaya sudah hancur karena kalah perang sekitar dua tahun yang lalu. Sejak saat itu, Otto tak pernah mendengar kabar mengenai Putri Arika Aganaya lagi.


'Ya benar!' Otto setengah melompat saat melihat nama yang tertera di sana.


Otto tak menyangka kalau dia akan menemukan seorang Arika Aganaya di tempat ini.


"Berapa harganya?" Otto mencari keterangan harga Arika dengan tergesa.


"2 Triliyun Tuan," Sebastian menunjuk harga yang tertera di sana.


'Wow! Harga yang tidak mengecewakan untuk ukuran Arika!' Otto bersorak di dalam hati


Otto mengintip saldo tabungannya di Bank Sistem. Jumlahnya saat ini sudah mencapai lebih dari 90 Milyar.


'Argh... Seluruh uang yang kumiliki bahkan tidak mencapai 10% dari harga yang diminta.' Otto yang jarang melihat saldo Banknya langsung merasa kecewa.


"Hehe..." pedagang budak penjual Arika yang sedang ada di sana tertawa geli saat melihat ekspresi kaget Otto saat melihat harga Arika.


Otto bukanlah orang pertama yang merasa tertarik untuk membeli Arika. Juga bukan orang pertama yang langsung tersedak begitu melihat harga banderol Arika.


'Eh! Masih ada cara itu!' sebuah bohlam muncul dam bersinar terang di dalam benak Otto.


Otto teringat satu buah cara yang belum pernah dia coba untuk menambah kekayaannya secara instan. Dan sekarang adalah cara yang paling tepat bagi Otto untuk melakukan cara tersebut.


'Rere,' Otto memanggil Rere yang sedang bersama Avni dan Priya.

__ADS_1


[Ya Tuan?]


'Transfer ke Avni 90 Milyar,' titah Otto pada Rere.


[Baik Tuan.]


[Uang Saku Harem aktif.]


[90 Milyar dikalikan 4 orang Harem.]


[Selamat! Tuan mendaptkan 360 Milyar.]


'Eh... Berhasil!' Otto senang karena strateginya berhasil.


'Rere. Sekarang transfer ke Priya 300 Milyar,' titah Otto kembali.


[Baik Tuan.]


[Uang Saku Harem aktif.]


[300 Milyar dikalikan 4 orang Harem.]


[Selamat! Tuan mendaptkan 1,2 Triliyun.]


[Aku Tuan?]


Rere langsung meminta jatah transferan juga.


'Tentu saja Re... Aku akan memberikan kamu 1 Triliyun Kilias.'


[Uang Saku Harem aktif.]


[1 Triliyun dikalikan 4 orang Harem.]


[Selamat! Tuan mendapatkan 4 Triliyun.]


'Berhasil!' Otto kegirangan. Kini dia memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membeli Arika.


"Aku akan membelinya," ujar Otto pada pedagang budak yang ada di sana.


Sebastian mengangkat sebelah alisnya. Sementara penjual budak langsung ternganga karena Otto yang pada awalnya tampak tersedak. Kini terlihat seakan 2 triliyun Kilias tidak ada artinya.


"Apakah Tuan serius? Harga satu budak ini setara dengan anggaran belanja tahunan sebuah kerajaan kecil. Dengan menggunakan uang sebanyak itu, Tuan bisa membeli lebih dari 15 ribu budak yang tak kalah cantik dari budak ini," Sebastian coba untuk menasihati Otto


"Beli saja. Jangan banyak bicara," Otto tak peduli. Dia sangat menginginkan Arika untuk menjadi miliknya.


"Baik Tuan."


Sebastian lalu mengambil sebuah alat elektronik kotak dari pedagang budak.


"Apakah tidak ada potongan?" tanya Otto pada pedagang budak sebelum membayar.


"Tidak Tuan. Arika adalah barang terbaik yang kami punya," ujar pedagang budak sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Baiklah..." jawab Otto sambil scan barcode untuk transfer uang sebesar 2 triliyun Kilias.


[Arika Aganaya telah masuk ke dalam daftar Harem.]


[Selamat! Tuan sudah memiliki lima orang Harem.]


"Terima kasih Tuan Otto," ujar pedagang budak setelah membaca nama pengirim transfer ke rekeningnya.


"Ya. Sama-sama."


Pedagang budak sedikit tidak percaya bila Arika akan dibeli oleh orang semuda Otto. Dia berekspektasi kalau Arika hanya akan dapat dibeli oleh sebuah kerajaan adidaya.


{Klang. Klang.}


Pedagang budak membuka kunci diorama dan mengeluarkan Arika dari dalamnya.


Begitu keluar. Arika dengan baju ala kerajaan nya berdiri anggun di hadapan Otto.


"Perkenalkan. Nama hamba adalah Arika Aganaya..." Arika sedikit membungkuk sambil mengangkat sisi kiri dan kanan rok flamboyan dengan kedua tangannya.


Baju yang menjulur berlebihan ke tanah adalah bukti dari kekayaan seseorang. Sehingga mengangkat rok flamboyan agar tidak menyapu tanah adalah salah satu bentuk bagi seorang bangsawan untuk merendahkan diri mereka di hadapan tamu kehormatan.


Otto membungkukkan badannya selayaknya bangsawan pria saat memberi salam. Persis seperti yang pernah diajarkan oleh Ayahnya.


"Nama saya Otto... Senang berkenalan dengan anda," Otto meraih tangan Arika lalu mengecup sopan ujung-ujung jari lentiknya.


Otto masih dapat merasakan aura bangsawan yang terpancar dari Arika. Tidak peduli jika dia bukanlah seorang puteri lagi. Tidak peduli jika sudah dua tahun Arika ditangkap dan dijadikan seorang budak.


"Tuan Otto sungguh sangat dermawan bersedia membeli hamba dengan harga yang begitu tinggi."


"Itu harga yang pantas untukmu Arika," Otto berpendapat dengan jujur.


Walaupun Otto tampak berusaha menampakkan diri selayaknya seorang bangsawan yang elegan. Tapi dalam hati Otto bersorak sorai seperti seorang anak kecil yang kegirangan.


Bagaimana tidak!


Sedari kecil Otto memang ngefans banget sama sosok Arika. Sosok yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari balik layar kaca. Dan kebetulan usia mereka pun tak jauh berbeda. Sehingga Otto yang tidak memiliki kawan sebaya. Memandang Arika yang ada di layar televisi sebagai teman sebayanya.


"Edith. Mulai hari ini aku perintahkan kamu untuk melayani Arika," ujar Otto pada Edith yang sedari tadi mengikutinya kemana-mana.


"Baik Tuan," jawab Edith dengan suara lembut.


Walaupun Arika saat ini adalah seorang budak. Tapi pada dasarnya dia tetap saja merupakan mantan seorang bangsawan terhormat. Sehingga Otto berpikir bila Arika akan membutuhkan sosok pelayan pribadi di sisinya.


"Arika. Sepertinya bajumu terlalu mencolok," Otto menunjuk kostum ala kerajaan yang digunakan oleh Arika.


Otto tidak mungkin membiarkan Arika mengenakan kostum lebay itu sepanjang waktu.


"Pakailah ini!" Otto menyerahkan sebuah tas berisi setelah gaun putih seksi yang baru Otto beli dari toko sistem.


"Baik Tuan," Arika menuruti apa yang diperintahkan oleh Tuan barunya.


'Ah... Beginikah rasanya dipanggil Tuan oleh seorang Arika Aganaya?' Otto merasakan sebuah sensasi superioritas yang berbeda bila dibandingkan dengan saat dipanggil oleh Rere, Reus, dan Edith.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2