Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 6.8] Sang Putri Salju


__ADS_3

Belasan menit kemudian di area perdagangan budak perang...


"Hmm... Pantas saja..."


Ternyata Bakiman Aganaya adalah Budak perang tua yang barusan ingin Otto beli, tapi belum sempat Otto lihat namanya.


{Greb!}


"Bakiman!" Arika yang cantik, bersih, dan wangi, tanpa ragu memeluk Bakiman yang dekil, kotor, dan bau.


"Tu... Tuan Puteri... Anda masih hidup?" bisik Bakiman terharu.


"Apakah ini orangnya Ka...?"


"Ya Tuan..."


Bakiman melotot ke arah Otto karena Arika memanggil Otto dengan sebutan Tuan.


"Jangan melotot ke arah Tuan!" Arika berkata pada Bakiman.


Arika lalu menceritakan kisah dari mulai dia ditangkap saat mencoba untuk melarikan diri. Menjadi budak. Hingga akhirnya dibeli oleh Otto yang menurut Arika merupakan seorang Tuan yang baik hati hati.


"Terima kasih Tuan Otto... Karena telah bersedia membayarkan uang yang tak sedikit untuk mengeluarkan Tuan Puteri dari tempat ini."


Bakiman langsung berubah pandangannya begitu mendengar seluruh kisah dari Arika.


"Ya..."


Otto merasa sedikit kecewa. Pada awalnya dia ingin membuat Bakiman jadi ksatrianya. Tapi sekarang dia harus serahkan untuk Arika.


"Baiklah Arika. Aku akan mengikuti keinginanmu untuk membebaskan Bakiman dan menjadikannya sebagai pengawal mu."


"Terima kasih Tuan. Hamba sangat bersyukur."


"Berapa harganya?" tanya Otto pada Arika.


"50 Milyar Tuan," jawab Arika yang melihat label harga dari Bakiman.


"Baiklah... Ini adalah salah satu rekeningku. Isinya 100 Milyar. Aku serahkan semuanya padamu," Otto serahkan sebuah kartu debit pada Arika.


"Hamba terima dengan senang hati Tuan."


[Uang Saku Harem aktif.]


[100 Milyar dikalikan 5 orang Harem.]


[Selamat! Tuan mendapatkan 500 Milyar Kilias.]


"Terima kasih Tuan Otto," untuk kedua kalinya Bakiman berterima kasih kepada Otto.


Melalui proses yang tidak lama, akhirnya Bakiman dikeluarkan juga dari kerangkengnya.


"Bakiman. Apakah kamu membutuhkan budak perempuan?"


Berdasarkan pengalamannya saat bersama Reus. Otto menawarkan Bakiman sebuah solusi cepat untuk bisa mendapatkan sarana penyaluran biologis. Mumpung mereka sedang berada di pasar budak.


"Ti... Tidak perlu Tuan," Bakiman menolak. Wajahnya tersipu malu.


"Aku ingin dua budak perang kembar itu," Arika tiba-tiba berinisiatif menunjuk dua orang budak perang wanita yang sepertinya adalah saudara kembar.


Kebetulan keduanya dijajakan tepat di seberang Bakiman.


"Aku menduga kalian sudah lama saling memperhatikan," Arika menggoda Bakiman.


"Totalnya 13 Milyar," sebut Sebastian.


"Baik. Aku akan membeli mereka.," Arika menyerahkan kartu debit yang barusan diberikan oleh Otto.


Sebastian mengambil kartu tersebut lalu berkata pada pedagang budak yang menunjukkan alat elektronik ber-barcode, "Pakai kartu debit Pak."


"Baiklah." pedagang itu lalu menarik salah satu sisi dari alat elektronik pipih tersebut hingga berubah menjadi alat gesek kartu debit.

__ADS_1


"Maaf ya Tuan Otto..."


"Uang itu adalah milikmu Arika..." Otto tidak keberatan dengan inisiatif haremnya.


{Klang. Klang.}


"Nama kalian siapa?" tanya Otto pada kedua budak.


"Aku Pantene."


"Aku Emeron."


"Kalau begitu yang itu Head and Shoulders. Yang itu Rejoice, dan itu Kodomo?!" Otto merasa kesal karena bisa-bisanya orang tua mereka menamakan keduanya dengan merek shampo.


"Benarkah kalian berdua Pantene dan Emeron?! Duo assasin yang terkenal itu?!" Bakiman meninggikan suaranya.


'Halah! Bodo amat!' Otto mendadak pengen shampoan.


.


.


.


"Halo... Mam?" Otto menelepon Priya.


{Kyaaaaa! Menang lagi Mam!}


Terdengar teriakan Avni di seberang sana. Mereka bertiga terdengar sedang bersenang-senang.


{Ya sayang?}


"Sedang apa kalian?" Otto yang saat ini sedang melihat apa yang tengah dilakukan oleh Priya melalui CCTV hologram berbasa-basi.


{Sedang di Kasino. Ada apa Yang?}


"Aku masih ada uruan Mam... Mungkin kita baru akan berkumpul lagi besok pagi di Restoran Lapar Memanggil."


Priya bertanya pada Avni yang tengah bermain judi.


{Nggak papa Mah! Kita akan semalaman di sini! Kalau perlu minggu depan aja kita baru ketemu lagi!}


Otto menghelas nafas panjang saat dia lihat bagaimana Avni tampak kesurupan setan serakah karena terus menang judi.


{Gak papa nih Yang...?}


Priya memastikan.


{Gak papa! Tentu saja gak papa!}


Avni berteriak keras sekali. Tampaknya dia sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan dari Priya.


{Liat Re...! Kita menang lagi...!}


Avni memeluk erat Rere lalu menggoyang tubuh Rere dengan kasar. Rere tampak mengerucutkan bibirnya dan menggelembungkan pipinya menahan kesal. Dia tidak suka berada di tempat tersebut.


.


.


.


Otto, Reus, dan semua anggota keluarga baru kini sudah sampai di sebuah komplek apartemen yang memiliki beberapa buah tower.


"Ada berapa Penthouse yang disewakan?" tanya Otto pada petugas apartemen.


"Ada empat pemilik yang menyewakan penthouse mereka."


"Apakah aku bisa menyewa tiga?"


"Kebetulan sekali. Memang hanya tiga buah penthouse yang masih kosong."

__ADS_1


"Baiklah. Aku sewa ketiganya."


"Baik Tuan," jawab petugas apartemen.


"Reus. Satu Penthouse. Empat gadis," Reus yang mendengar percakapan Otto barusan, langsung menunjukkan dua jari kanan dan satu jari kiri.


'Bukan begini...' Otto tutup tangan Reus yang sebelah kiri.


'Tapi gini...' Otto lalu mengangkat dua jari Reus di tangan sebelah kanan. Reus tampak begitu konsentrasi memperhatian jari-jarinya.


"Cantika," Otto tunjuk telunjuk.


"Magenta," Otto tunjuk jari tengah.


"Yulia. Kira. C... M... Y... K..."


"Empat gadis!" Reus tertawa mengangkat ke empat jarinya ke udara.


Sementara itu Otto melihat Bakiman saat ini sedang terlihat kikuk menunduk dengan wajah yang memerah.


Di belakangnya kedua gadis Bakiman menunjukkan ekspresi yang sangat polos.


'Mencurigakan...' simpul Otto.


"Pantene! Emeron! Sini dulu!" Otto memanggil keduanya.


"Ya Tuan Otto," keduanya menghampiri.


"Pernah?" Otto menyelipkan jempol di antara genggaman tangannya.


Keduanya menggeleng.


"Hmm... Tahu caranya?"


Keduanya menggeleng.


'Akh! Sudah kuduga!'


"Apakah kalian punya bagian tubuh yang selalu menjepit seperti guillotine?"


Mereka melirik ke arah bawah. Lalu mengangguk.


"Jika kalian melihat jamur di tubuh Bakiman. Yang posisinya kurang lebih sama dengan guillotine kalian. Kalian harus segera memasukkannya ke dalam guillotine yang kalian miliki tersebut."


"Apakah itu adalah bagian tubuh pria yang suka kamu kasihkan ke anjingmu?" tanya Pantene pada Emeron.


"Sepertinya yang itu," jawab Emeron.


Otto langsung merasakan linu di bagian intinya.


"Jika sudah masuk, kalian akan merasakan ada sedikit sengatan nyeri sekaligus aneh yang menjalar hingga ke punggung kalian. Saat itulah kalian langsung maju mundurkan tubuh kalian sampai jamur itu melemah."


"Apakah setelah dia menjadi lemah kami perlu memotongnya dengan tangan kami?" tanya Emeron yang menunjukkan aura prana berbentuk pisau di tangannya.


"Tidak! Jangan dipotong!" Otto panik.


"Tugas kalian hanya sampai jamur yang berbahaya itu menjadi lemah saja. Tapi saat jamur itu tumbuh kembali, kalian cukup lakukan lagi hal yang sama."


"Baik Tuan!"


"Ingat! Kalian hanya boleh melakukan itu di saat suasana sepi saja."


"Seperti saat membunuh seseorang?"


"Ya. Seperti saat membunuh seseorang!"


Pantene dan Emeron lalu pergi bersama Bakiman mengikuti satpam yang akan mengantarkan mereka ke Penthouse yang telah Otto sewa.


"Besok. Tuan," sementara Reus melambaikan tangan dari dalam lift yang perlahan tertutup.


"Ya. Sampai ketemu besok Reus," Otto lambaikan tangannya pada Reus.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2