
{Blar!}
Kilatan petir membelah langit yang cerah. Mengingatkan seluruh bandit akan bahaya yang akan segera mereka hadapi
{Glek...}
Terdengar tegukan saliva dari salah seorang bandit gunung.
Ratusan bandit gunung terintimidasi. Mereka saling pandang dengan tatapan penuh ketakutan. Mereka tahu kalau Reus tak sekuat Otto. Tapi mereka pun tak yakin kalau mereka bisa mengalahkan raksasa di hadapannya.
"Diam? Reus smash?"
Tidak mengerti dengan ancaman yang diberikan oleh Reus, para bandit gunung hanya diam tak bergeming.
Kesal karena musuhnya yang tak paham, Reus mengeraskan otot-ototnya.
{Duesh!}
"Reus... Smash!"
Reus meluncur secepat kilat.
{Boom!}
Sebuah hook Reus lancarkan. Membuat kepala lawannya hancur menjadi serpihan.
Serangan Reus kini sudah diperkuat oleh prana. Sehingga tenaganya menjadi berkali lipat lebih kuat dari kontraksi otot-ototnya.
{Wuuuush...!}
Angin yang tercipta langsung melesatkan beberapa bandit dari tempatnya. Membuat tubuh mereka terhempas menabrak pepohonan.
"Seraaang!" teriak salah seorang bandit yang dibalas teriakan dari bandit gunung lainnya.
Mereka putus asa. Laripun serasa percuma. Kesempatan hidup mereka hanya akan ada jika si Raksasa berhasil mereka tumbangkan.
{Klang! Boom! Trang! Boom!}
Aliran Silat Tinju Raksasa menunjukkan tajinya. Dengan prana, Reus mengeraskan kulitnya. Membuat berbagai senjata yang terayun tak dapat melukai dirinya.
{Boom! Boom! Boom!}
Setiap pukulan dan tendangan yang Reus berikan menyebabkan getaran keras di permukaan bumi. Membuat tanah-tanah porak poranda bak dihantam batu raksasa.
"Argh..."
{Boom! Boom! Boom!}
Bandit-bandit itu beterbangan. Jatuh satu per satu bagaikan air hujan. Terpental dan terhempas akibat kekuatan yang tak terbayangkan.
Serangan Reus tidak hanya mengandalkan prana dan kekuatan fisiknya saja. Dia juga meliuk ke sana ke mari dengan gerakan yang sangat lincah bagaikan ninja.
{Sraaaak.... Srooook... Krak Krak Krak. Boom!}
Pohon-pohon rimbun patah terbagi seperti ranting tipis. Tak ada harga dirinya di hadapan kekuatan yang dimiliki oleh Reus.
"Kabuuur!"
Beberapa bandit mulai berusaha untuk kabur.
{Duesh! Sraaaak....}
Tapi percuma! Reus melesat dan mengepot ke hadapan mereka.
"Akh..."
{Beledum! Boom! Jelegur!}
Reus melancarkan kombinasi serangan bertubi-tubi. Bergerak dengan sangat cepat dan juga presisi, menghantam bandit-bandit itu seperti badai yang tak terkendali.
"Mati kita..."
Rintih belasan bandit yang tersisa.
__ADS_1
{Duesh!}
Reus melesat ke udara. Meluncurkan serangan pamungkasnya.
{Ziiing...}
{Bladum!}
Sebuah pukulan dahsyat jatuh bagaikan sebuah bom. Membinasakan seluruh bandit-bandit yang tersisa.
{Kretek... Kretek...}
Pohon dan tanah bergemertakan. Menandakan bila pertarungan telah usai
{Siiiing...}
Hening seketika menyelimuti hutan. Tak ada suara serangga ataupun hewan yang dapat terdengar.
{Hosh... Hosh... Hosh...}
Terdengar nafas berat Reus yang kini berdiri di tengah hutan yang telah berubah menjadi puluhan kawah berbeda ukuran. Tubuh-tubuh bandit tak bernyawa bergeletakan di sekitarnya.
{Hosh... Hosh... Hosh...}
Reus memandangi kedua tangannya. Dia tak menyangka kalau dia sudah menjadi sekuat ini.
"Reus kuat. Tuan. Reus kuat."
Reus menitikkan air matanya terharu. Merasa bila kerja kerasnya kini telah terbayar lunas.
""Uwooo...!"
Reus lalu meraung keras sembari mendongakkan kepala bagaikan seekor godzila.
.
.
.
"Tuan. Reus kuat."
Reus yang sedang duduk bersila. Bergoyang ke kiri dan ke kanan. Senyumannya begitu lebar. Kedua pipinya memerah karena merasa begitu bahagia.
Reus saat ini tampak seperti seekor anjing imut yang sedang mengharapkan pujian dari sang tuan.
"Iya Reus... Kamu sudah memberitahuku beberapa kali..."
Walaupun dengan hanya menggunakan tiga kata saja. Reus telah menceritakan semua adegan pertarungan yang baru dialaminya kepada Otto. Dan anehnya, Otto dapat mengerti seluruh maksud dari perkataan Reus tersebut.
{Srek!}
Seorang Bapak setengah baya berdiri di hadapan Otto dan Reus. Kepalanya sudah diperban. Luka-luka penduduk yang lain juga sudah selesai diobati. Barusan dengan menggunakan toko sistem, Otto memberikan para korban, berbagai perlengkapan untuk melakukan pertolongan pertama.
"Terima kasih Tuan Otto. Tuan Reus. Kami pulang dulu," ujar sang Bapak sambil menundukkan kepala.
{Srek! Srek! Srek!}
Tindakan sang Bapak diikuti oleh anggota keluarganya yang lain. Mereka semua berdiri lalu menundukkan kepala mereka untuk berterima kasih kepada Otto dan juga Reus.
"Angkat kepala kalian," titah Otto kepada semuanya.
"Menurutku. Sebaiknya kalian istirahat di sini saja dulu!" lanjut Otto menasihati mereka semua.
Mereka memang telah mendapatkan pertolongan pertama. Tapi hari yang gelap tetap saja akan sangat berbahaya bagi orang-orang biasa seperti mereka.
"Tidak Tuan Otto. Bandit-bandit gunung itu telah musnah. Sekarang kami bisa pulang dengan aman," jawab sang Kepala Keluarga tidak enak hati.
Mereka telah diselamatkan. Lalu diberikan obat-obatan. Nggak enak rasanya kalau mereka terus-menerus merepotkan kedua pahlawan.
"Baiklah kalau itu mau kalian," Otto yang tahu bila mereka semua merasa sungkan. Akhirnya mempersilahkan.
"Sekali lagi kami permisi dulu Tuan."
__ADS_1
"Ya..."
{Drap Drap Drap Drap.}
Gadis muda yang barusan hampir diperkosa berlari menghampiri Reus.
"Ada apa?" tanya Reus sambil memandangi gadis itu dengan mata bulat yang tak mengerti.
"Atas nama keluargaku... Terima kasih Tuan Reus..." ujar sang gadis sambil menyerahkan setangkai bunga liar kepada Reus.
"Sama sama," jawab Reus datar. Masih dengan wajah polosnya.
{Cup...}
Gadis itu mengecup pipi Reus lalu berlari pergi. Menyusul rombongan yang sudah menjauhi api unggun.
"Cieeee..." goda Otto kepada Reus
"Reus. Untuk Cantika. Untuk Magenta. Yulia. Kira," Reus membela dirinya.
"Iyalah yang setia!" Otto menyikut pinggang Reus sambil nyengir kuda.
"Reus setia."
"Selingkuh tiada akhir," balas Otto cepat.
"Tidak. Reus setia!"
Otto bereaksi dengan mentertawakan Ogre kesayangannya. Wajah Reus tampak memerah.
[Selamat! Misi berhasil.]
[Skill Plant Creator didapatkan.]
[Tuan bisa membuat benda apapun menjadi biji tanaman yang akan tumbuh dan juga berbuah setiap hari.]
'Sistem... Apakah aku benar-benar bisa menanam benda apapun?'
[Ya Tuan...]
"Apakah kalau aku mengubah manusia menjadi bibit tanaman, maka bisa tumbuh tanaman yang akan berbuah bayi?]
[Benar Tuan.]
'Absurd sekali...'
[Tuan nggak pernah denger dongeng timun mas?]
'Oh.... Jadi kamu terinspirasi dari dongeng itu?'
[Justru sebaliknya. Merekalah yang terinspirasi oleh pengguna Sistem di masa lalu.]
'Ah... Jadi begitu... Tapi...'
[Membutuhkan pengorbanan 1 milyar Kilias.].
'Ini sih mahal banget...'
[Tidak Tuan.]
'Kenapa menurutmu ini tidak mahal?'
[Karena jika Tuan menanam uang. Tuan bakalan balik modal dengan sangat cepat.]
'Oh iya... Kau benar...' Otto jadi terinspirasi untuk membuat kebun uang.
"Reus... Kita akan kembali ke lokasi pertarunganmu tadi..." ajak Otto pada Reus.
"Tuan. Lihat. Karya?" tanya Reus dengan mata yang berbinar-binar.
"Ya. Memang salah satu tujuanku adalah untuk melihat hasil karyamu yang indah di sana. Tapi selain itu, tidak baik kalau kita membiarkan mayat-mayat yang bergeletakan itu membusuk," jawab Otto.
Reus mengangguk seakan mengerti.
__ADS_1
Otto berniat untuk melakukan plundering segera. Karena bila ratusan mayat itu membusuk di sana. Maka itu akan bepotensi mengakibatkan penyakit yang berbahaya.
...— Bersambung —...