
Sinar matahari pagi menyinari wajah Otto yang sedang duduk sambil merokok di balkon hotel. Sementara itu, di dalam kamar, Priya tengah tertidur lelap bersebelahan dengan Rere.
Keberadaan Priya yang menemani Otto dan Rere semalam, membuat Otto menemukan fakta bila penghasilan Otto akan meningkat sesuai dengan jumlah bidadari yang begituan dengannya.
{Tring!}
[Kondisi terpenuhi!]
[Fitur Harem telah didapat.]
[Rere Bernardi dan Priya Mahelia masuk ke dalam daftar Harem.]
[Harem tidak akan berkhianat. Harem akan selalu ingin berada di dekat Tuan.]
[Tuan bisa mengetahui lokasi Harem dan melihat apa saja yang sedang Harem lakukan.]
[Tuan sekarang bisa berteleportasi ke lokasi Harem kapanpun Tuan mau.]
[Harem sekarang dapat mentrigger terjadinya Quest.]
'Gila. Notifikasinya banyak banget,' komentar Otto puas di dalam hatinya.
'Buka fitur Harem!' Otto langsung mencoba fitur barunya.
Daftar nama dua orang harem Otto terlihat di sana. Namun yang unik, saat Otto memilih salah satu nama harem, sebuah layar CCTV hologram langsung muncul memperlihatkan apa yang sedang dilakukan oleh harem tersebut.
Selain itu, Otto juga melihat tombol bertuliskan teleportasi di bawah tampilan layar CCTV.
'Apakah jika aku memilih tombol ini aku bisa langsung berteleportasi ke tempat lokasi harem ku berada?"
[Ya Tuan...]
{Greeek...}
Pintu balkon terbuka, Priya keluar dari dalam kamar dengan segelas bir di tangannya.
"Nggak tidur?" tanya Priya pada Otto.
Setelah melakukan hal itu hingga berkali-kali, kini Priya sudah dapat bersikap lebih akrab dengan Otto dan juga Rere. Apalagi, barusan Priya sudah resmi tercatat oleh Sistem sebagai haremnya Otto.
"Belum," jawab Otto singkat.
Priya meneguk birnya lalu menatap Otto sejenak. Dia tidak menyangka bila anak muda ini mampu mengantarkan dirinya ke negeri khayangan setiap kali melakukan hal semacam itu. Priya merasa, kalau mulai saat ini, dia akan sangat bergantung pada Otto demi mendapatkan candu di atas ranjang.
Tiba-tiba, memori Priya berputar hingga 19 tahun lamanya.
.
.
.
Di kantin fakultas, Priya sedang maksi bersama kekasih sekaligus dosennya sendiri. Namanya adalah Madun. Usianya 10 tahun lebih tua dari Priya.
"Kenapa Pri...? Kayaknya mumet banget," tanya Madun kepada Priya.
"Dun..." Priya berkata dengan alunan suara yang lesu.
"Hmm?"
"Makasih ya... Kalau kamu gak bantu Aku awal semester kemarin. Pasti aku udah nggak kuliah di sini lagi."
"Apaan sih Pri..."
"Beneran Dun... Aku berterima kasih padamu soal itu."
Madun tak menanggapi perkataan Priya.
"Tapi Dun... Masih ada satu hal yang belum kuceritakan padamu."
{Trek.}
__ADS_1
Madun meletakkan sendok makannya. Dia tahu kalau Priya ingin mengatakan hal yang serius.
"Kamu tahu kan kalau Aku ini miskin dan susah buat penuhin kebutuhan sehari-hariku?"
"Aku tahu Pri... Mangkanya Kamu jangan suka nolak kalau Aku mau bantuin Kamu."
Priya diam sejenak.
Berbeda dengan Priya yang miskin. Madun hidup bergelimang harta. Fakta yang sukar dipercaya bila mengingat kerjaan Madun cuman jadi dosen aja.
Warisan. Itulah yang Madun bilang saat Priya menanyakan hal tersebut.
"Jadi..."
"Jadi apa Pri?"
"Jadi sebelum Aku jadian sama Kamu. Aku tuh pernah ngutang ke koperasi."
"Jangan-jangan koperasi yang kamu maksud?"
"Ya Dun... Ternyata mereka adalah rentenir."
Madun tercekat saat mendengar perkataan Priya.
"Jadi berapa hutangmu Pri?"
"Seingatku aku cuman ngutang 100 ribu Kilias. Sama bunga maksimal paling jadi 110 ribu. Tapi kemarin mereka bilang kalau hutangku saat ini sudah lebih dari 300 ribu Kilias."
Madun menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kecerobohan Priya dalam mengambil keputusan.
"Yang jadi masalah... Mereka ngancam mau jual Aku ke pasar budak kalau aku nggak bisa bayar cicilan hutangku."
"Berapa cicilan yang mereka minta?" tanya Madun serius.
"25 ribu per bulan. Mereka ingin aku melunasinya dalam 13 bulan."
{Brak!}
Madun menggebrak meja. Dia kehilangan selera makannya.
"Sekitar dua puluhan hari lagi."
Madun berdiri lalu berjalan mondar mandir. Dia tampak sedang berpikir keras.
"Aku takut Dun..." bisik Priya.
Perdagangan budak adalah hal yang legal di dunia ini. Dan bila seseorang telah menjadi budak. Seumur hidup mereka tidak akan naik derajat. Bahkan statusnya sebagai budak akan diturunkan terus menerus sampai ke anak cucu mereka.
"Dun... Kalau aku tiba-tiba menghilang. Itu berarti..."
"Cukup Pri! Kita akan temukan sosusinya!"
"Dun..."
Priya berkaca-kaca.
"Serahkan padaku. Sekarang sebaiknya kita makan aja dulu... Gak baik kalau kamu jadi sakit gara-gara kurang makan."
Madun kembali duduk di kursinya. Dia mencoba untuk memenangkan Priya.
"Ma... Makasih Dun..."
"Makan. Makan," kata Madun dengan nada bercanda.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Priya dan Madun duduk bersebelahan di atas sofa yang berada di dalam rumah Madun yang luas.
__ADS_1
"Pri... Aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu."
"Benarkah?"
"Ya. Bayarannya 25 ribu per bulan. Pas buat bayar cicilan hutang kamu."
"Serius Dun?!"
"Kalau Kamu mau ambil kerjaan ini, untuk ke depannya biar Aku yang penuhin semua kebutuhan Kamu. Nanti Kamu cukup fokus buat bayar hutang aja," Madun menjelaskan setelah meneguk sekaleng bir di atas meja.
"Beneran Dun?"
"Bener Priya... Tapi pekerjaan ini sulit loh..."
"Aku siap Dun! Sesulit apapun akan kulakukan asalkan hutangku bisa lunas."
"Aku sudah tulis data diri kamu di sini. Kamu tinggal tanda tangan saja," ujar Madun sambil menyerahkan tabletnya kepada Priya.
Priya yang merasa euforia, langsung membubuhkan tanda tangannya di atas tablet tersebut.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Madun mengajak Priya buat liburan di salah satu pulau pribadi yang ada di sebelah utara Kota Kapitalia.
Di atas ranjang, Priya rebahan sambil menatap Madun tajam.
{Puk!}
Priya menimpuk Madun dengan sebuah bantal.
"Tumben!" sindir Priya pada Madun yang langsung berpakaian pasca begituan.
"Aku mau cari sunset dulu..."
"Oh... Ya udah. Nanti aku nyusul. Aku mau mandi dulu," jawab Priya yang langsung menerima alasan dari Madun.
"Oke."
{Brug}
Madun pun pergi dari dalam kamar.
Belasan menit kemudian, Priya pun akhirnya selesai melakukan ritual mandi paginya. Dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian sekedarnya saja.
"Hei Pri..." sapa seorang pria asing yang sedang duduk di atas ranjang.
"Aaaah!" Priya refleks berteriak. Dia berusaha menutupi badannya yang belum mengenakan pakaian yang pantas.
"Pa... Pak Dono?" Priya sadar kalau pria itu adalah salah satu dosennya.
"Bapak ngapain di sini?!"
"Yang nyewa Pulau Pribadi ini bukan Pak Madun aja. Kami patungan," jawab Pak Dono menyeringai.
"Ya tapi bukan berarti bisa masuk ke kamar orang lain seenaknya gini juga dong!" Priya melayangkan protes keras.
{Ckrek!}
Pintu kamar terbuka. Priya lihat Madun memasuki kamar.
"Dun! Lihat! Temenmu ini udah... Eh!"
Priya tak melanjutkan kalimatnya. Dia lihat Madun masuk kamar dengan tiga orang lelaki lain yang mengikuti di belakangnya.
"Apa-apaan ini Dun!"
Madun diam saja, sementara keempat lelaki asing menyeringai sambil memandangi Priya yang masih mematung di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Madun?!" Priya berteriak kencang.
...— Bersambung —...