
{Vrooom...}
{Tin. Tin.}
Sebuah mobil truk berjalan perlahan melewati Otto. Mobil itu memodifikasi bagian belakangnya menjadi sebuah kandang.
Di dalam kandang tersebut terdapat banyak manusia. Tampaknya mobil itu tengah membawa budak-budak baru.
Otto merasa tertarik. Mata Otto tertuju pada seorang gadis yang ada di sana.
Di balik wajah dekil serta baju compang-camping yang dikenakan. Otto melihat bila budak tersebut memiliki sebuah potensi kecantikan yang begitu besar.
Karena disamping badannya yang tidak terlalu tinggi, budak ini memiliki proporsi wajah yang sempurna. Bodi yang dimilikinya juga sangat aduhai lengkap dengan sepasang gunung everest kembar di dadanya.
"Aku ingin membeli budak yang ada di mobil itu," Otto memberitahu Sebastian.
"Stop! Stop!" Sebastian langsung berlari untuk menghentikan mobil tersebut.
{Ckit.}
Mobil berhenti.
"Yang mana Tuan?" Sebastian berteriak dari sisi mobil.
"Yang itu!"
"Yang ini?"
"Ya."
"Yang ini berapa?" Sebastian bertanya pada supir truk.
"115 juta Tuan," Sebastian memberitahu Otto.
"100 juta! Aku beli sekarang," Otto bernegosiasi.
Sebastian lalu berbicara lagi sama supir truk.
{Cklek. Brug!}
Supir truk turun dari mobilnya.
{Klang. Klang.}
Supir itu membuka kunci kandang. Dia menurunkan budak yang sudah dipilih oleh Otto.
Supir truk itu lalu menunjukkan mesin eletronik seperti yang dimiliki oleh Setiawan. Otto scan barcode yang ada di sana.
{Tit!}
"Sudah."
"Terima kasih Tuan," jawab supir truk itu.
"Sama-sama."
{Cklek. Brug!}
{Vrooom...}
Mobil truk kembali melaju dengan perlahan. Menyerahkan hidup budak tercantiknya ke tangan Otto.
"Siapa namamu?" tanya Otto pada Sang Budak.
"E... Edith Tuan," pertanyaan Otto dijawab dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Siapa?!" tanya Otto kembali.
"Edith Tuan..."
"Oh... Edith..."
"Ya Tuan..."
"Perkenalkan namaku Otto. Kau boleh memanggilku dengan panggilan apapun yang kau mau."
"Tu... Tuan Otto..."
__ADS_1
[Edith telah masuk ke dalam daftar Harem.]
[Harem yang dimiliki saat ini ada empat orang.]
"Edith ini adalah budak perawan Tuan," Sebastian menjelaskan.
"Oh ya? Bagus kalau begitu."
Ada beberapa jenis budak di dunia.
Budak Perawan, Budak yang belum pernah punya Tuan. Budak Pekerja, Budak yang diperuntukkan untuk melakukan berbagai pekerjaan yang berat. Budak Perang, Budak petarung yang mempertaruhkan nyawanya. Dan Budak Spesial, Budak yang sebelumnya merupakan orang terkenal. Mantan seorang bangsawan atau selebritis kondang.
"Sebastian bisa kau temani aku lanjut berkeliling?" tanya Otto.
"Siap Tuan."
"Dan tolong seperti biasa," Otto tunjuk Reus. "Aku minta orang lagi untuk memandunya."
"Baik Tuan."
Sebastian dengan sigap langsung menelepon seseorang.
Beberapa menit kemudian...
.
.
.
Seorang pemandu datang ke hadapan Otto.
"Perkenalkan Tuan. Nama saya Kardiman. Saya yang akan memandu Tuan Reus."
"Baiklah."
{Tit!}
Otto mentransfer Kardiman 1 milyar Kilias.
"Ya Tuan?"
"Gunakanlah dengan sebaik mungkin uang yang kuberikan."
"Baik Tuan."
"Belilah budak manapun yang kamu sukai."
"Budak Reus. Reus suka."
"Itu hadiah dariku buat kamu."
"Terima kasih Tuan. Reus senang."
"Dan Kardiman."
"Batasi pembelian hanya untuk budak perempuan. Aku ingin ogre ini memiliki hubungan yang sehat. Aku ingin dia memiliki sarung bagi pedangnya dan bukan menjadi sarung bagi pedang orang lain."
"Saya paham Tuan," jawab Kardiman undur diri.
"Kita mau kemana Tuan?" tanya Sebastian saat Reus dan Kardiman sudah pergi menjauh.
"Antar aku ke bagian budak perang."
"Baik Tuan."
Keluarga Bernardi memang tidak mendukung adanya perbudakan. Akan tetapi mereka juga kerap membeli budak perang untuk dijadikan anggota keluarga mereka.
Nantinya si budak perang tersebut akan mereka latih dengan keras agar bisa menjadi kekuatan tempur bagi Keluarga Bernardi.
Dan saat ini Otto berencana akan melakukan hal yang sama.
.
.
.
__ADS_1
'Lagi-lagi suasananya masih sama persis seperti dulu,' simpul Otto saat dia tiba di area penjualan budak perang.
Berbeda dengan tempat penjualan budak perawan dan budak pekerja yang tampak seperti pasar hewan. Tempat ini ditata dengan lebih bersih dengan lantai batu yang tersusun rapi.
Para budak perang itu dimasukkan ke dalam tempat semacam penjara dengan berbagai ukuran. Dan tepat di tengah-tengah area ini terdapat belasan arena yang dipergunakan untuk sabung orang.
Dimana orang-orang kaya itu akan membeli budak perang hanya untuk diadu hingga mati dan dijadikan alat taruhan. Sehingga di sisi lain dari area ini, terdapat mayat-mayat yang ditumpuk bagaikan sampah.
Setiap hari sebuah dump truck akan datang untuk mengangkut mayat-mayat tersebut sebelum diantarkan ke tempat kremasi masal.
"Aku akan memilih yang terbaik dari yang terbaik. Tolong kamu catat semuanya ya..." Otto memberitahu Sebastian.
"Baik Tuan."
Otto dan Sebastian lalu berjalan berkeliling area penjualan budak perang dengan santai.
"Aku mau itu."
"Dan itu."
"Bukan. Bukan. Bukan. Bukan."
"Yang ini bagus. Coret yang kedua."
Otto meminta Sebastian untuk mencatat satu per satu budak yang dia tunjuk. Lalu mencoret beberapa di antaranya saat menemukan budak yang menurut Otto lebih berkualitas.
{Trap.}
"Akh..." Otto terdiam terkesima.
Otto langsung sangat tertarik sekali saat dia lihat seorang budak tua yang berewokan. Walaupun rambut dan brewoknya sudah putih semua. Tapi zirah otot dan prananya membuat Otto begitu terpana.
"Coret saja semuanya. Aku ingin budak itu!"
"Baik Tuan."
Sebastian mencoret belasan nomor budak yang sudah dicatatnya. Di mata Otto. Satu budak tua ini jauh lebih berkualitas bila dibandingkan dengan seluruh budak yang barusan dipilihnya bila disatukan.
"Aku sudah selesai memilih."
"Baik Tuan."
Walaupun sudah menentukan pilihannya. Otto melanjutkan perjalanannya berkeliling. Mungkin saja dia akan mendapatkan satu atau dua budak lain yang kualitasnya sepadan dengan Kakek tua itu.
'Eh!'
Langkah Otto terhenti di sebuah lorong kecil dengan tangga menuju ke atas.
"Bukankah ini jalan menuju area budak spesial?"
"Ya Tuan!"
"Kita akan ke sana dulu."
"Bayar dulu Tuan," Sebastian menunjuk sebuah barcode yang berada di sisi kanan lorong.
"Baik..."
{Tit!}
Untuk sekedar masuk ke area budak spesial. Otto harus membayar 10 milyar Kilias terlebih dahulu.
Uang itu bukan merupakan uang jaminan. Itu adalah sebuah entrance fee yang nantinya tidak bisa Otto klaim kembali. Meskipun bila Otto tidak membeli satupun budak dari area tersebut.
"Wow..." Otto pun terkagum. Ini adalah kali pertama Otto memasuki area ini.
Area budak spesial sangat berbeda dengan area budak lainnya. Area ini sangat bersih dan rapih. Lengkap dengan pepohonan dan juga walkpath yang sangat nyaman.
Di area ini para budak dimasukkan ke dalam sebuah diorama kaca. Para budak juga didandani sedemikian rupa agar mencerminkan status mereka sebelum menjadi budak.
Seperti seorang mantan raja yang ditempatkan pada diorama berbentuk ruang singgasana. Mantan artis yang ditempatkan pada diorama mirip lokasi syuting. Bahkan seorang boyband yang ditempatkan pada diorama berbentuk panggung konser.
Sehingga Otto langsung merasa wajar kalau tadi pas masuk, dia harus bayar dulu.
Ini benar-benar mirip seperti menonton hewan di kebon binatang. Bedanya sekarang yang dipertontonkan adalah manusia yang pernah berjaya. Dimana kemalangan mereka adalah daya tarik utamanya.
...— Bersambung —...
__ADS_1