Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 2.2] Pelacur Keibuan


__ADS_3

Rere masuk ke dalam kamar Presidential Suit yang disewa oleh Tuasu. Mengikuti Priya yang berjalan di depannya.


"Eits!" Rere menolak Tuasu yang hendak memeluknya.


"Aku mau mandi dulu," Rere beralasan.


"Aku juga mau mandi dulu. Gerah!" sahut Priya.


Tuasu nyengir kuda saat kedua mainannya terlihat begitu kompak.


"Ya udah. Buat menghemat waktu. Kita mandi bertiga aja. Kamar mandinya gede kok..." usul Tuasu.


"Kalian masuk dulu. Aku nanti nyusul," Tuasu bersemangat.


Priya masuk ke dalam kamar mandi diikuti oleh Rere di belakangnya.


{Ckrek}


Pintu kamar mandi ditutup.


{Tit tit. Jegrek}


Tuasu terkejut saat mendengar pintu kamarnya dibuka dari luar.


"Hai... Tuasu... Tua-tua tapi kok Asu," sapa Otto sambil melangkah santai memasuki kamar yang disewa oleh Tuasu.


"Ke... Kenapa kamu bisa masuk?!" tanya Tuasu gelagapan. Tuasu tampak begitu terkejut sekaligus ketakutan.


Otto jawab pertanyaan dari Tuasu dengan senyuman yang sangat lebar.


Tadi pagi di Restoran Hotel...


.


.


.


"Bukankah sampai saat ini kamu udah ikut campur dengan berbagai urusanku?" tanya Otto polos.


'Ah! Salah ngomong!'


Rere diam sambil melotot tajam. Tampaknya dia cukup tersinggung dengan perkataan Otto.


"Rere boleh ikut campur dalam berbagai urusan Tuan karena Tuan udah bersedia jadi inang dari Sistem. Dan ikut campurnya Rere tuh bukan biar Tuan menderita. Tapi biar Tuan bahagia!"


Rere kembali menunjukkan gestur ngambek khas anak sepuluh tahun.


"Iya Re... Aku tahu... Tapi untuk menjalankan misi ini, sepertinya Aku membutuhkan sedikit bantuanmu," Otto menjelaskan maksud dari perkataanya barusan.


"Selama tidak terlibat langsung. Rere masih boleh untuk membantu."


"Bagus," Otto tersenyum puas.


.


.


.


Malam harinya di depan kamar Presidential Suite yang disewa oleh Tuasu, Otto mengambil kunci kamar yang dilempar keluar oleh Rere sesaat sebelum pintu kamar itu tertutup.


"Kerja bagus Re..." puji Otto sambil memainkan kunci kamar berbentuk kartu tersebut.


.


.


.


{Trap. Trap. Trap.}


Otto berjalan perlahan mendekati Tuasu.


[Aliran Silat Bernardi diaktifkan.]


{Buag!}


Pukulan yang Otto lancarkan langsung membuat Tuasu terpelanting sejauh beberapa meter.

__ADS_1


'Sistem. Apakah kamar ini kedap suara?' tanya Otto sambil memperhatikan struktur yang dimiliki oleh dinding kamar.


[Aman Tuan. Kamar ini kedap suara.]


'Bagus.'


{Brug!}


Otto menindih Tuasu yang sedang terlentang untuk mengunci seluruh pergerakannya. Membuat Tuasu hanya bisa mengerang tak berdaya.


"Huek..."


Otto mencekik leher Tuasu sekuat tenaga. Mata Tuasu melotot seperti hendak melompat keluar.


"Kh... Kh... Kh..."


[Main Quest terselesaikan.]


[Skill Speed Up didapatkan.]


Notifikasi beruntun yang didapatkan memberitahukan Otto kalau Tuasu sudah benar-benar mati.


Otto lalu melepaskan cengkraman tangannya dari leher Tuasu.


{Srek.}


Otto berdiri meninggalkan mayat Tuasu lalu duduk santai di atas ranjang Hotel. Otto periksa Skill yang baru saja dia dapatkan.


[Speed Up] [Basic]


[Meningkatkan kecepatan gerak 10 kali lipat selama 1 menit. Memerlukan pengorbanan sebesar 100 Kilias.]


{Bruk!}


'Lemah banget tapi belagunya minta ampun!' Otto melempar bantal ke wajah Tuasu yang sedang melotot ke arahnya.


[Selamat! Kondisi terpenuhi.]


[Fitur rahasia telah terbuka.]


[Plundering didapatkan.]


[Hanya harta yang sedang dia bawa.]


Sistem menjelaskan batasannya.


'Lalu bagaimana cara menggunakan fitur ini?'


[Tuan cukup pegang tubuhnya, dan niatkan untuk melakukan Plundering.]


'Baik...'


Otto melakuka instruksi yang diberikan oleh Sistem.


[Plundering...]


[Plundering selesai.]


Ternyata Plundering tidak hanya merampas barang milik Tuasu. Fitur ini juga turut menghilangkan mayat serta ceceran darah Tuasu.


[Setelah terkena Plundering. Seluruh jejak keberadaan Tuasu di kamar ini menghilang seluruhnya.]


'Sebuah penjarahan yang sempurna.'


[Betul sekali Tuan.]


Setelah melakukan Plundering, Otto memeriksa isi dari Gudang Sistem. Otto menemukan cukup banyak barang dengan harga mahal di dalamnya.


'Uangku sudah banyak. Jual saja semua hasil Plundering barusan.'


[Selesai.]


'Ngomong-ngomong. Dimana Rere?'


[Di kamar mandi bersama Priya.]


'Baiklah...'


Agar tak bosan menunggu, Otto menyalakan Televisi yang menggantung di dinding.

__ADS_1


{Berikut ini adalah daftar Kekaisaran, Kerajaan, Keratuan dan Kesultanan yang diakui oleh Kekaisaran Imperia de Pofta per hari ini. Bila masih ada yang belum terdaftar, silahkan melapor segera.}


Presenter Berita kemudian menyebutkan satu per satu nama pemerintahan dan juga wilayah yang dikuasainya.


Imperia de Pofta, adalah penguasa dari seluruh permukaan bumi. Itulah mengapa, Kilias menjadi satu-satunya mata uang yang diakui di seluruh dunia.


Dan ternyata, memiliki pemimpin tunggal bukan berarti seluruh dunia berada dalam kedamaian.


Justru demi melanggengkan kedudukannya, Kekaisaran Imperia de Pofta berharap rakyatnya tidak pernah berdamai.


Mereka terus menjaga agar seluruh dunia tetap terpecah belah menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling bertikai dan saling berperang.


{Kabar berikutnya berasal dari Agronesia.}


'Dari Kerajaanku,' Otto memperbaiki posisi duduknya karena tertarik.


{Tiga hari yang lalu, Mansion milik Keluarga Bernardi ditemukan telah rata dengan tanah.}


'Eh! Ini kabar tentang keluargaku.'


{Di sana, pihak kepolisian menemukan jenazah dari Pemimpin Keluarga: Alfredo Bernardi, Calon Penerus Pertama: Araldo Bernardi, dan Calon Penerus Kedua yang sampai saat ini masih dirahasiakan nama dan juga wajahnya.}


Otto melihat dua buah foto orang yang begitu dia cintai. Lalu ada sebuah ilustrasi anonim yang berada di antara keduanya.


{Kerajaan Agronesia secara resmi telah mengumumkan apabila Keluarga Bernardi sudah tidak ada lagi. Jika Pemirsa melihat seseorang dengan nama belakang Bernardi. Maka bisa dipastikan kalau dia berasal dari Keluarga Bernardi yang berbeda.}


'Daddy... Kakek... Aku berjanji akan membangun kembali kejayaan Keluarga Bernardi dengan caraku sendiri,' tekad Otto sambil mengepalkan tangannya erat.


{Ckrek.}


Otto menoleh ke arah dua orang wanita berkimono yang sedang keluar dari dalam kamar mandi.


"Eh! Kamu ke sini mau nyusul Rere?" tanya Priya yang terkejut melihat Otto berada di dalam kamar Tuasu.


"Di... Dimana Tuan?" tanya Priya saat sadar kalau Otto berada di dalam kamar itu sendirian.


"Anak buahku telah membawanya," jawab Otto membual.


"Mak... Maksud kamu?"


"Kau pikir Aku akan membiarkan seseorang yang merendahkanku seperti itu tetap hidup?"


{Trap Trap Trap Trap.}


Otto melangkahkan kaki mendekati Priya berlahan. Sementara Rere berjalan dengan tenang ke belakang Otto.


"Rere...? Kamu?" Priya tersadar kalau Rere sudah menjebak Tuasu demi Otto.


"Ya. Tuasu bajingan itu sudah berlaku kurang ajar. Dia pantas mati," jawab Rere santai.


"Lalu dimanakah jenazahnya sekarang?"


"Entahlah! Mungkin di laut," jawab Otto sambil membelai wajah cantik Priya.


[Pleasure Provider diakfifkan.]


Wajah Priya langsung memerah disergap oleh nafsu. Badannya gemetaran merasakan sesuatu yang begitu memabukkan.


{Srek.}


{Trap Trap Trap Trap.}


Otto membimbing Priya untuk berjalan mengikutinya.


{Srek.}


Otto lalu duduk di sebuah kursi besar ala presdir. Menyilangkan kakinya agar terlihat lebih dominan. Sementara di hadapannya Priya berdiri mematung.


"Kamu sudah tahu apa yang aku mau kan?"


"Se... Sekarang juga?" tanya Priya gemetaran.


Otto tak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Priya dengan tajam.


"Ba... Baiklah..."


Priya yang notabene merupakan seorang pelacur kelas atas. Tentu dapat memahami keinginan dari semua lelaki yang ada di muka bumi ini.


...— Bersambung —...

__ADS_1


__ADS_2