Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 3.1] Keluarga Plus Plus


__ADS_3

Kota Gandasuli 18 Tahun yang lalu. Tepatnya saat Priya tengah hamil sembilan bulan.


Alfredo Bernardi berdiri di hadapan Priya sambil mengencangkan ikat pinggangnya. Walaupun sudah tua, tapi tubuh Alfredo tampak tegap gagah perkasa. Berotot keras dan juga menonjol.


"Aku pergi dulu ya Pri..." ucap Alfredo yang sedang mengenakan ikat pinggangnya.


"I... Iya Tuan Alfred."


Priya tengah berbaring sembari berselimut tebal.


"Ini uang kamu. Terimalah."


{Srek.}


Alfredo meletakkan setumpuk uang yang tidak sedikit di atas meja.


"Te... Terima kasih Tuan."


{Grek. Cklek.}


Lelaki tua itu keluar dari kamar Priya tanpa mengucapkan kata apapun lagi.


Alfredo adalah seorang partner yang luar biasa. Dia memang sudah tua. Tapi dia mampu memperlakukan Priya seperti apa yang diharapkan oleh setiap wanita.


Selama tiga bulan ini, Alfredo yang memiliki fetish terhadap wanita hamil tua, rutin mengunjunginya. Setidaknya satu pekan sekali.


Priya memang libur sebagai seorang Lady Escort, tapi dia tetap tidak bisa libur sebagai cemilan malam seorang Alfredo Bernardi.


.


.


.


Priya sedang berada di ruang perawatan. Kemarin malam, dia baru saja melahirkan.


{Oeek... Oeeek... Oeeek...}


Seorang Suster masuk untuk menyerahkan seorang bayi perempuan. Priya terima anak tanpa Bapak itu dengan penuh kasih sayang.


"Apakah sudah punya nama Bu?"


"Sudah."


"Kalau boleh tahu siapakah namanya?"


"Avni Zoya Mahelia."


"Baik. Apakah Ibu mau dibantu untuk bikin Akte Kelahiran?"


"Tentu saja."


"Baik. Siapa namanya tadi?" Suster mengeluarkan sebuah pulpen..


.


.


.


Tiga bulan berlalu sejak kelahiran putrinya. Priya tampak sedang berolahraga di sebuah local gym ternama.


{Klang! Klang! Klang!}


Selama tiga bulan ini Priya berolahraga dengan sangat keras. Sehingga, dia berhasil mengembalikan bentuk tubuhnya seperti sedia kala. Membuat puluhan pasang mata terhipnotis untuk memandang ke arahnya.


"Apakah bajumu tidak terlalu seksi?" tanya suara tegas di belakang Priya. Merujuk pada sportwear yang tengah Priya gunakan.


"Eh... Araldo... Ngapain ke sini?"


"Yang pasti bukan untuk menemui kamu," Araldo menunjukkan keahliannya. Menjadi lelaki yang menyebalkan.


"Tuan Alfredo gimana kabarnya?"


"Baik."


"Dia sudah lama tidak menghubungiku."


"Kamu bukan satu-satunya wanita pemuas nafsu milik Ayah," Araldo berkata tanpa filter.


"Aku tahu itu."


{Klang! Klang! Klang!}


Priya lanjut berolahraga. Moodnya hancur gara-gara Araldo.


"Mau kubantu?"

__ADS_1


"Kamu bukan satu-satunya lelaki yang bersedia membantuku," Priya membalas perkataan Araldo sebelumnya.


"Tapi berbeda dengan mereka, Aku pemaksa."


"Cih!" Priya menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan.


{Klang! Klang! Klang!}


"Ayah tak mungkin menghubungimu lagi."


"Ya. Aku tahu itu."


"Ayah bukan tipikal sosok pecinta wanita. Dia hanya menggunakan wanita sebagai pemuas nafsu belaka."


"Untuk apa kamu menceritakan itu semua padaku?"


Araldo diam. Diapun tak habis pikir kenapa dia begitu cerewet hari ini.


"Jangan-jangan kamu suka sama aku? Apakah Kamu cemburu sama Ayahmu sendiri?" Priya asal bunyi. Namun wajah Araldo langsung merah dibuatnya.


.


.


.


"Nggak kerasa sekarang Avni udah empat bulan ya Bu?" tanya seorang dokter kepada Priya.


"Iya Dok... Jadi gimana kondisi Avni Dok?"


"Puji syukur Avni sehat ya Bu. Nggak ada sakit apa-apa. Tinggal vaksinnya dilengkapin aja."


"Baik Dok..."


{Gaplok Gaplok}


"Kyaaa...!" Avni berteriak senang.


"Wah... Avni sayang ya sama Papah?"


Dokter tersenyum pada Avni yang sedang duduk di pangkuan Araldo. Araldo diam kikuk. Dia biarkan Avni gelepokin wajahnya.


'Kenapa dia bisa ada di sini sih?' dengus Priya dalam hati. Melirik sinis ke arah Araldo yang sudah sebulan ini nempel terus kayak korong di kolong meja.


.


.


.


Priya nggak tahu kapan tepatnya hubungan ini terjalin. Semuanya mengalir begitu saja. Bahkan, Priya dan Avni kini tinggal di Penthouse mewah milik Araldo.


{Srak! Waaa...!}


Suara tangisan Avni terdengar dari dalam kamar.


{Brug!}


Priya dorong Araldo hingga terjengkang.


"Maaf!" goda Priya sambil setengah berlari ke kamar Avni.


{Drap Drap Drap Drap.}


"Pah Pah!" Avni menolak Priya yang datang lebih dulu. Avni lebih ingin digendong oleh Araldo yang mengikuti di belakang Priya.


"Ya. Sini sama Papah," Araldo gendong Avni dengan lemah lembut.


Priya menatap Araldo dalam. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang dia kira bengis itu ternyata adalah sosok yang sangat penyayang.


.


.


.


"Capek?" tanya Priya setelah mengecup lembut bibir Araldo yang baru pulang kerja.


"Biasa..."


{Srek. Crek. Crek.}


Priya bantu Araldo melepaskan holstler di dadanya.


{Brug!}


Araldo menyandarkan tubuhnya di atas sofa. Lalu mengendurkan dasinya.

__ADS_1


{Kecrek.}


Priya suguhkan secangkir kopi hitam pekat ke hadapan Araldo.


"Papah... Sayang..."


Avni berjalan seperti penguin. Menghampiri Araldo ke sofa.


"Avni udah lumayan banyak kosakatanya ya...?" banyak Araldo kepada Priya.


"Iya Ar... Umur Avni kan udah setahun lebih," jawab Priya mengamini.


"Mbak... Bisa bawa Avni pergi dulu?" Priya tiba-tiba berkata pada baby sitter-nya Avni.


"Baik Nyonya. Sini Dek Avni!"


Avni dan Babysitter-nya kemudian berpindah ruangan.


"Kenapa sih? Main ngusir-ngusir anak. Masih siang tahu!" Araldo berkata genit.


"Yeiy... Pikiran kamu ke situ mulu!"


"Gimana lagi? Mana ada lelaki yang tahan saat berada di dekat bidadari kayak kamu."


"Gombal!"


Priya cubit betis Araldo gemas.


"Ar... Kalau Avni udah pantes buat punya adik belum ya?" tanya Avni dengan wajaj serius.


"Mak... Maksud kamu?!" Araldo terdengar sumringah.


"Iya Ar... Aku hamil..."


"Seriusan?! Itu Anak Aku kan?!" Araldo tunjuk perut Priya.


{Bletak!}


Sebuah jitakan mendarat di ubun-ubun Araldo.


"Sudah tiga bulan Aku nggak megang client Ar..."


"Oh ya. Aku lupa."


"Lagian bukannya kamu selalu awasin aku."


"Insting Pri... Demi keselamatan kamu juga kok..."


"Bukan karena takut Aku ambil pelanggan lagi?"


"Ya itu salah satunya," Araldo mengacungkan satu jari telunjuknya.


"Ngomong-ngomong... Kamu pengen anak ini laki-laki atau perempuan Ar?" Priya iseng bertanya.


"Apapun. Yang penting sehat."


"Serius Ih! Nggak rame!" protes Priya sebelum bersandar manja di bahu kekar milik Araldo.


"Kamu tahu kan alasan Ayah nggak setuju dengan hubungan kita?"


"Keluarga Bernardi adalah Keluarga Mafia yang mengedepankan kekuatan. Tidak boleh ada wanita lemah di dalam Keluarga Bernardi. Bahkan delapan penerus terakhir Keluarga Bernardi adalah anak angkat."


"Ya. Oleh karena itulah Aku lebih mengharapkan anak laki-laki. Kalaupun bukan, aku sebenarnya nggak masalah."


"Semoga saja dia adalah anak laki-lakiya Ar..." Priya menerawang.


"Sudahlah... Nggak usah dipikirin. Yang penting anak kita sehat."


"Kalau anakmu laki-laki, mau kamu kasih nama siapa?" tanya Priya kembali.


"Akan kunamai dia Otto."


.


.


.


"Mamah..." bisik Otto tak sengaja.


Otto tertegun saat melihat Priya sedang bercanda mesra dengan Rere. Mirip seperti seorang ibu yang sedang bercanda dengan anaknya.


'Apakah begitu rasanya memiliki seorang Ibu?' bisik Otto tidak mengerti.


[Kalau Priya adalah Ibu Tuan. Maka Tuan itu lebih bejat dari Sangkuriang.]


'Ah... Kayaknya kau benar. Masak Ibu sendiri di embat juga!' Otto mempertanyakan batasan moral nya sendiri.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2