
Pagi harinya Otto, Reus, dan tiga Harem Otto sedang sarapan di meja yang sama.
"Kamu rencananya mau lanjut kuliah dimana?" tanya Priya pada puterinya.
"Nggak. Aku nggak akan kuliah."
"Langsung kerja?" tanya Priya kembali.
"Nggak ah. Males."
"Kok gitu sih Say?" Priya terdengar kecewa
"Mam... Aku tuh setiap hari udah dapat banyak uang dari Otto," Avni beralasan.
Dari hari ke hari, secara bertahap Otto terus memberikan uang yang semakin besar kepada ketiga Haremnya.
Kenapa semakin besar? Karena dengan semakin besar uang yang Otto berikan pada mereka. Semakin besar pula penghasilan yang diberikan oleh Requital System melalui Uang Saku Harem.
Kenapa bertahap? Karena bila sekaligus kasih besar-besaran. Akan menimbulkan kecurigaan dan juga kekhawatiran di dalam diri Avni dan juga Priya.
"Tapi Say... Kalau nggak ada Otto gimana? Kamu juga harus memikirkan soal masa depanmu."
"Yang pertama aku gak mau pisah dari Otto lagi. Yang kedua, kalaupun hanya mengandalkan tabunganku saat ini. Aku masih bisa hidup nyaman dalam jangka waktu yang sangat lama."
Apa yang dikatakan Avni cukup logis. Saat ini uangnya sudah jutaan. Sebagiannya sudah Avni investasikan ke dalam bursa saham.
"Say! Kasih tahu Teteh kamu tuh!" Priya meminta dukungan dari Otto.
"Biarin aja Mah... Teteh udah gede," jawab Otto sambil menyuapi dirinya sendiri.
Otto sebenarnya tidak peduli Avni mau kuliah atau tidak. Bekerja atau tidak. Selama Avni bisa melolong untuknya, uang Otto akan terus bertambah banyak. Lolongan Avni di malam hari merupakan bentuk dari pekerjaan juga.
"Teteh tahu Kilias Road gak?" Otto mencoba untuk membuka topik pembicaraan yang lain.
"Tahu," jawab Avni percaya diri.
"Tahu darimana?" Otto menggoda.
"Aku ini bersekolah dasar bodoh!"
"Oh iya." Otto nyengir kuda.
Godaannya berhasil. Entah mengapa Otto paling suka melihat Avni yang bertemperatur tinggi marah-marah.
"Coba jelaskan padaku."
"Buat apa?"
"Aku pengen denger."
__ADS_1
"Selama tidak melalui jalur penyelundupan demi menghindari pajak. Di dunia ini semua hal legal buat diperdagangkan kecuali tiga. Drugs, Budak, dan Artifak."
"Kenapa ketiganya tidak legal?"
"Karena budak dan artifak biasanya didapat dari hasil rampasan perang. Sehingga peredarannya tidak boleh sembarangan. Sedangkan drugs itu memang dinilai terlalu berbahaya bagi masa depan manusia."
"Lalu?" cecar Otto kembali.
"Tapi ada satu tempat dimana ketiga hal ini menjadi legal buat diperdagangkan. Yaitu Kilias Road," Avni menjeda sejenak kalimatnya untuk memberikan penegasan.
"Dengan adanya Kilias Road, peredaran ketiganya dapat diatur dengan ketat oleh Imperia de Pofta. Sayangnya hanya orang-orang super kaya yang tahu dimana Kilias Road berada," Avni melanjutkan penjelasannya.
"Kenapa Imperia de Pofta menjadikan Kilias Road sebagai tempat yang legal untuk menjual ketiganya? Kalau soal mengatur peredaran, bukankah tanpa Kilias Road pun itu bisa dilakukan?" tanya Otto kritis.
Avni diam. Pelajaran di sekolah tidak mengajarkan lebih banyak dari yang dia sudah katakan.
"Alasan utamanya adalah karena mereka ingin mendata orang-orang kaya yang ada di seluruh dunia. Dengan begitu mereka dapat mendeteksi setiap ancaman bagi kekuasaan mereka," Otto menjelaskan.
"Oleh karena itulah hanya orang super kaya yang bisa datang ke Kilias Road?" tanya Priya yang tanpa sengaja mendengarkan.
"Ya Mam... Itu salah satu alasannya. Selain memang karena harga barang dan jasanya yang sangat mahal. Dan untuk drugs..." Otto melanjutkan penjelasannya.
"Alasannya sedikit berbeda. Mereka sebenarnya nggak peduli kalau ada rakyat yang masa depan nya hancur gara-gara drugs," Otto menambahkan.
"Tapi dengan melegalkan penjualan drugs melalui Kilias Road. Mereka dapat mengatur secara langsung distribusi drugs. Sehingga saat mereka ingin menghancurkan suatu negeri. Distribusi drugs secara besar-besaran adalah langkah pertama yang akan mereka lakukan."
Sementara Otto mengatakan semuanya panjang lebar, Priya dan Avni mendengarkan dengan seksama. Rere cuek, sedangkan Reus nggak ngerti.
Dia teringat bagaimana Keluarga nya tidak memiliki kebebasan dalam menjalankan bisnis drugs. Mulai dari harga sampai jalur distribusi semuanya diatur ketat oleh Kilias Road.
"Kenapa kamu tanyakan ini ke Teteh Say? Kayak mau ujian aja. Kamu nyindir Teteh biar mau kuliah ya?" tanya Priya
"Rere..." Otto tidak menjawab Priya.
Rere lalu menyerahkan dua buah tas belanja berisi gaun baru mewah yang sangat mahal.
"Dandanlah yang cantik dan kenakan baju itu. Sejam lagi kita akan pergi ke Kilias Road."
"Eeeeeeeh?!"
Kalimat terakhir Otto membuat Avni dan Priya langsung berdiri terperanjat.
Sejam kemudian...
.
.
.
__ADS_1
Mobil Porche 911 Turbo S Cabriolet PDK berwarna Putih yang ditunggangi Otto dan ketiga haremnya meluncur meninggalkan rumah Priya.
Mobil Hummer H2 berwarna abu-abu yang dikemudikan oleh Reus mengikuti mobil mewah yang dibawa oleh Otto.
"Hadiah. Mobil baru," Reus tampak bahagia sekali.
Setelah diberikan mobil Truk, kini dia juga diberikan sebuah mobil Hummer yang ukurannya cukup pas dengan tubuhnya.
Kedua mobil itu tidak digunakan untuk pergi hingga sampai ke tujuan. Tapi ke salah satu terminal peti kemas yang ada di Kota Kapitalia. Di sana mereka mengganti kendaraan mereka dengan Super Truck milik Reus.
{Zap!}
{Zap!}
Otto secara terang-terangan menghilangkan mobil Porche dan mobil Hummer di hadapan Avni dan Priya.
Avni dan Priya sudah tidak terkejut lagi dengan fenomema yang ditunjukkan oleh Otto.
Rere pernah bilang ke Priya dan Avni kalau Otto punya teknologi penyimpanan benda dari NASA. Cara kerjanya sama persis kayak kantong ajaibnya Doraemon.
.
.
.
Sepanjang dua jam perjalanan, gaun mahal yang dikenakan oleh ketiga harem Otto menjadi tidak ada artinya lagi.
Mereka semua kini tengah menanggalkan gaun mereka demi mendapatkan candu nikmat yang sangat memabukkan. Membuat dua jam perjalanan ini mereka lalui dalam iringan suara yang semacam itu.
Mobil truk lalu kembali memarkirkan diri di terminal peti kemas. Kali ini di terminal yang berada di pinggiran kota Gandasuli. Dari sana mereka berganti mobil kembali.
Dalam waktu kurang dari satu jam sejak berganti kendaraan. Akhirnya mobil porche dan hummer yang mereka gunakan terparkir di basement sebuah mall terbesar yang ada di Kota Gandasuli.
"Kita mau kemana Yang?" bisik Priya yang berjalan mengikuti Otto.
Demi dapat memberikan pengalaman baru yang maksimal. Otto tak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju salah satu sudut dari basement tersebut.
"Udah! Ikutin aja Mam..." walaupun Avni penasaran. Namun dia lebih memilih untuk mengikuti tanpa banyak bertanya.
Otto lalu menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah WC yang tak terpakai.
"Ugh... Bau sekali.." Avni merasa terganggu dengan bau pesing yang begitu menyengat.
Otto menatap tajam seorang gelandangan yang tengah duduk selonjoran di depan pintu WC. Gelandangan yang sedang mabuk itu tak gentar. Dia malah balas menatap Otto dengan tatapan membunuh yang tajam.
"Mau ngapain ke sini?! Ini jalan buntu!" bentak gelandangan itu dengan kasar.
Kelakuan gelandangan yang menyebalkan membuat Reus mengepalkan tangan karena merasa marwah Tuan nya kini tengah diinjak-injak.
__ADS_1
...— Bersambung —...