Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.15] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

{Uwooo...!}


Suara teriakan dari ribuan bandit gunung terdengar di pekarangan mansion milik Otto.


{Srek!}


Otto dan kawan-kawan menguatkan kuda-kuda mereka masing-masing bersiap terhadap bentrokan.


{Drap Drap Drap Drap}


{Uwooo...!}


Para bandit gunung berlari menerjang Otto dan kawan-kawan.


{Duesh! Duagh! Desh!}


Otto dan kawan-kawan langsung tenggelam dikerumuni massa. Bagaikan serpihan remah makanan di antara ribuan ekor semut.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


Bakiman terlihat sedang dikeroyok oleh banyak sekali bandit gunung. Aliran Silat Aganaya yang dia miliki membuat seluruh serangan dari musuh-musuhnya dapat dimentahkan dengan sempurna.


{Duesh! Duagh! Desh!}


Prana pengerasan ditambah dengan kemampuan bertahan dari Bakiman, membuat para Bandit merasa kesulitan untuk melukai Bakiman.


{Duesh! Duagh! Desh!}


Bakiman bergerak perlahan menerobos musuh. Memancing semakin banyak musuh untuk menyerangnya.


{Duesh! Duagh! Desh!}


Pertahanan Bakiman secara sekilas terlihat terbuka, membuat para musuh jadi geregetan untuk segera menghabisinya.


{Duesh! Duagh! Desh!}


Tapi itu hanya kelihatannya saja, karena tujuan Bakiman sebenarnya adalah memancing semakin banyak musuh untuk menyerang pertahanan kokohnya.


{Duesh! Duagh! Desh!}


Perlahan-lahan Bakiman bergerak mundur kembali.


{Duesh! Duagh! Desh!}


"Reus!" teriak Bakiman saat dia berhasil menarik ratusan orang yang berkerumun hingga berada di dekat Reus.


"Tuan!" teriak Reus pada Otto yang sedang menghadapi beberapa musuh sekaligus.


{Zap!}


Dengan menggunakan toko sistem, Otto membeli sebuah gada berujung bulat khas milik Hanoman.


'Ah... Tuan Otto ternyata memiliki sihir penciptaan,' simpul Igor yang sedikit terkejut saat melihat salah satu kemampuan absurd Otto.


Ini adalah kali pertama Igor melihat Otto menggunakan toko sistem.


{Duesh! Duagh! Desh!}


"Tangkaaap!"


Otto lemparkan gada tersebut kepada Reus.


{Grep!}


Reus menangkap gada berujung bulat dengan sebelah tangan.


"Hiyaaaa...!"


{Duesh! Boom!}


Reus kemudian menghajar semua musuh yang ada di hadapannya dengan sebuah serangan yang menggetarkan bumi. Membuat seluruh bandit yang dipancing oleh Bakiman langsung rata dengan tanah.


{Prang!}


Suara kaca pecah terdengar dari arah Mansion.


Bakiman dan Reus melihat ada tiga orang bandit gunung yang telah berhasil memecahkan kaca kamar Arika yang berada di lantai tiga.

__ADS_1


Barusan, di tengah keributan yang terjadi, mereka bertiga tanpa sengaja melihat sebelas orang bidadari di dalam kamar Arika. Membuat mereka melupakan pertempuran dan dengan begitu bersemangat ingin segera menuntaskan hasrat kelelakian mereka.


"Cintaku!" teriak Bakiman dan Reus bersamaan saat melihat kekasih mereka dalam bahaya.


Tanpa sengaja bicara kompak, Bakiman dan Reus saling tatap sejenak. Mereka mengangguk lalu kembali menatap ke arah kamar Arika.


"Cinta kita!" teriak mereka kembali.


.


.


.


{Prang!}


Di dalam kamar Arika, tiga orang bandit berhasil masuk ke dalam kamar melalui jendela.


"Lihat siapakah bidadari-bidadari ini?" salah seorang bandit menatap berkeliling kamar yang luas itu.


Mata mereka berbinar melihat kecantikan yang dimiliki oleh Duo Kilau dan juga CMYK. Namun mata mereka seperti terlepas saat melihat kecantikan tiada lawan yang dimiliki oleh kelima harem Otto. Terutama saat melihat Arika dan Rere yang mana kecantikannya sulit untuk dilukiskan.


{Duesh! Duesh! Trang!}


Duo Kilau melesat menerjang dua orang pria yang ada di sana. Membuat kedua pria itu terpukul mundur. Untung saja barusan mereka berhasil menahan serangan kilat yang datang.


"Wow... Dua wanita ini bisa bertarung rupanya..." ejek salah seorang bandit.


"Jangan lupakan aku!" seorang bandit yang dianggurin melesat untuk menyerang Emeron.


{Trang!}


Cantika dan Kira menahan serangan tersebut secara bersamaan. Membuat pria itu terpukul mundur beberapa langkah.


{Drap! Jreb!}


"Huegh!"


Begitu keseimbangan pria itu kembali, Magenta dan Yulia telah berhasil menusuk perut orang tersebut dari belakang.


"Sialan!" itulah kata terakhir yang pria itu ucapkan sebelum kehilangan nyawa.


"Kurang ajar!" teriak dua orang bandit yang tersisa.


Mereka tidak menyangka kalau para wanita yang terlihat lemah ini ternyata bisa bertarung.


{Ziiiing...!}


"Eh!"


Kedua bandit melihat ke bawah. Mereka melihat tubuhnya bergerak semakin jauh dari pandangan mereka.


"Eeeeeeh!"


Kedua bandit itu terkejut saat mereka sadar bila kepala mereka berdua kini telah terlepas dari tubuhnya.


Dihabisi kedua asassin legendaris. Emeron dan Pantene.


{Brug! Drap!}


Reus dan Bakiman masuk ke kamar melalui kaca jendela yang telah berlubang.


"Nona! Kita harus pergi dari sini! Di sini sudah tidak aman!" Bakiman meminta Arika dan kawan-kawan untuk pergi segera dari kamar ini.


"Iya. Tapi ke mana?" tanya Priya pada Bakiman.


"Ke bawah saja. Kita punya bunker di ruang bawah tanah," usul Rere yang sedari tadi dengan tenangnya bermain game online.


{Gubrak!}


Terdengar suara pintu didobrak dari lantai bawah. Tampaknya para musuh sudah berhasil menerobos masuk.


"Baik! Ayo! Kita harus cepat!" ujar Bakiman.


{Brak!}


Bakiman membuka pintu kamar. Dan betapa terkejutnya Bakiman saat dia lihat para bandit mulai masuk ke dalam mansion dari segala penjuru.

__ADS_1


"Reus!" panggil Bakiman.


"Reus siap!"


{Uwooo!}


{Duesh! Duesh! Dash! Krash!}


Bakiman dan Reus berlari menerobos para bandit yang datang bagaikan gelombang. Membelah barisan musuh dengan serangan-serangan cepat dan juga membabi buta.


{Ziiiing...}


Duo Kilau bergerak tak kalah indahnya. Bagaikan air mereka mengalir memenggal kepala demi kepala.


{Duagh!}


{Duagh!}


Sementara itu, CMYK berfokus melindungi para harem dari musuh yang masih mampu menyerang dengan sisa-sisa nyawa mereka.


.


.


.


{Juesh! Dash! Jreb! Klang!}


Di pekarangan rumah Otto, Tujuh Jenderal Calabria terus bergerak bahu membahu menghabisi satu per satu lawan mereka dengan cukup mudah.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


Otto yang saat ini juga sedang menghadapi lawan-lawannya, tanpa sengaja melihat apa yang sedang dilakukan oleh ketujuh Jenderal Calabria.


'Wow... Gerakan kombinasi mereka menakjubkan...' bisik Otto dalam hatinya.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


Otto benar-benar terkagum oleh kerjasama yang mereka bertujuh tunjukkan. Sebuah rangkaian gerakan yang sangat efisien, baik saat menyerang ataupun bertahan.


'Akh... Tampaknya, secara individu, mereka bertujuh lebih kuat dariku,' simpul Otto saat melihat seluruh Jenderal Calabria dapat bertarung dengan senyum merekah di wajah mereka.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


Otto merasa kalau saat ini dirinya begitu inferior.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


'Dan monster itu...' komentar Otto saat melihat ke arah Igor.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


"Akh! Kakek kurang ajar!" Boss Bandit terdengar begitu kesal saat berhadapan dengan Igor.


{Jresh!}


Boss Bandit melancarkan sebuah serangan yang begitu kuat.


{Sret!}


Igor bergerak selangkah saja.


"Hueks..." Boss Bandit langsung kehilangan keseimbangannya.


{Sraaaak...}


Dan terjerembab dengan wajah mendarat lebih dahulu.


Igor kini sedang berhadapan dengan Boss Bandit tanpa kesulitan yang berarti.


'Dia menguap bosan!' Otto terkejut dengan gestur yang di tunjukkan Igor saat bertarung.


{Duagh! Duagh! Duagh!}


Sementara Otto begitu serius dalam bertahan dan juga menyerang. Igor malah merasa mengantuk dalam pertarungan tak berimbang ini.


{Uwooo...! Serang Kakek tua itu!a}

__ADS_1


Padahal Igor tidak hanya menghadapi Boss Bandit saja. Dia juga dikeroyok oleh banyak bandit gunung dalam waktu yang nyaris bersamaan.


...— Bersambung —...


__ADS_2