
Di puncak tebing...
"Hueeegh!" muka Reus berubah jadi kayak kadal kejepit pintu. Nggak ada lagi sumo imut dan baik hati.
Pedati Reus yang beratnya lebih dari 100kg, Reus angkat dengan kedua tangannya. Di atas kepalanya. Kaki Reus dia renggangkan di atas pedati Otto. Sementara Otto sedang mengangkat pedatinya tersebut. Juga di atas kepalanya. Dan juga dengan posisi kaki direnggangkan. Mereka berdua sedang melatih kekuatan kuda-kuda mereka.
"Reus... Kau baik-baik saja?!
"Hueeegh!" jawab Reus. Selain memberikan tampang yang super duper jelek, Reus tidak mampu menjawab pertanyaan dari Otto.
.
.
.
Reus saat ini sedang tergolek lemah. Hanya dengan tiga menu latihan saja, badannya sudah terasa sakit semuanya.
Dan tanpa mempedulikan kondisi Reus yang begitu mengenaskan. Otto dengan santainya mengikatkan empat buah tali pada kedua tangan dan juga kaki Reus.
{Drap. Drap. Drap.}
Otto tampak berjalan menjauhi Reus yang masih terkulai di tempatnya.
"Reus sayang..." panggil Otto dengan nada mengayun.
Reus melirik ke arah Otto tanpa berusaha bangun.
"Jangan mati ya sayang..."
Reus terkejut saat melihat Otto tengah berada di sisi jurang.
"Tuaaan! Reus... Matiii!" Reus mendadak menjadi cukup pintar dalam menilai situasi yang sedang dialaminya.
{Duagh!}
Otto tendang pedati Reus hingga jatuh ke jurang.
{Sraaak...}
"Tolooong!"
Reus berusaha menahan tubuhnya yang terseret dengan menggaruk tanah. Tapi percuma! Reus tetap bergerak cepat ke tepi jurang.
"Uwaaaah!" Reus menjerit sambil menangis.
{Greb!} Otto menangkap Reus sesaat sebelum terjatuh.
"Eits! Mau kemana kamu?! Jangan kabur!"
Otto kemudian menyeret Reus kembali ke tengah bukit. Lalu dia berdirikan Reus di sana.
"Sekarang coba kamu berdiri yang bener di sini. Terus kamu keluarkan pukulan dan tendangan. Nggak usah yang bagus-bagus. Cukup yang kamu tahu aja..."
"Tuan..." Reus menoleh ke arah pedati yang menggantung di jurang. Reus tahu kalau hidupnya saat ini sedang dalam bahaya. Salah sedikit saja, dia akan mati.
"Aku lepas nih..." ujar Otto sambil nyengir kuda.
"Jangan Tuan.."
"Satu..."
"Tuan..."
"Dua..."
"Plisss..."
"Tiga!"
"Huegh..."
Seluruh otot Reus menegang. Dia tidak mau mati. Dia bertahan sekuat tenaga agar tidak terseret dan terjatuh.
Reus hanya berdiri di tempat seperti patung sumo jelek. Jangankan untuk mengeluarkan pukulan dan tendangan. Sekedar untuk tidak jatuh saja setengah mati rasanya.
.
.
.
Hari sudah sore. Reus tampak sedang beristirahat sambil memakan bekalnya.
Tapi tidak dengan Otto!
Otto saat ini masih melakukan squat sambil mengangkat pedati di atas kepalanya. Reus memandangi Otto dengan penuh rasa kagum.
"9.999! 10.000! Selesai!"
{Bum!}
__ADS_1
Otto jatuhkan pedatinya.
{Fiuh...}
"Reus! Bawa sini dong cemilannya! Lapar nih! Lapar!"
"Baik Tuan!" Reus berjalan mendekati Otto dengan tubuh gemetaran.
.
.
.
Reus menangis.
"Tuan?!"
"Tenang Reus. Ini adalah cara tercepat untuk turun."
Otto mengikat Reus dan dua buah pedati dalam satu ikatan yang kencang. Lalu Otto ikatkan dengan sebuah tali yang tengah dia pegang.
"Tuaaan...!" Reus merajuk.
{Duagh!}
Otto tendangan pedati yang diikat tersebut hingga terjun bebas ke bawah tebing.
"Tuaaaaan!"
Otto biarkan tali terulur dengan cepat.
"Tuaaaan!"
"Huph!" Otto menggenggam tali tersebut dengan sekuat tenaga. Menampakkan urat-urat yang mengerikan.
{Tes Tes Tes!}
Peluh menetes dari hidung Reus yang kini hanya berjarak 30 cm dari dasar jurang.
{Drop.}
Otto ulurkan kembali tali yang tengah dipegangnya. Dia turunkan Reus dan kedua pedati yang terikat itu dengan lembut.
"Hup."
Otto melompat dari tebing.
{Suuuut...}
{Drap!}
Otto mendarat di dasar jurang bagaikan sehelai daun jatuh.
.
.
.
Setelah kembali berlari untuk pulang. Akhirnya mereka sampai di rumah kayu jam 7 malam.
Sebagai penutupan, mereka lakukan sparing sejenak sampai jam 8 malam.
"Reus. Latihan hari ini sudah cukup," ujar Otto sambil menggerak-gerakkan pinggang ke kiri dan ke kanan.
{Blam!}
Reus jatuh berdebam. Dia pingsan tak sadarkan diri.
'Kamu hebat!' bisik Otto pada Reus yang berhasil bertahan hingga latihan berakhir.
'Ah... Kakek... Daddy... Makasih...'
Otto teringat pada masa lalunya. Dimana saat dia berusia 10 tahun, Otto disuruh berlari puluhan kilometer dengan membawa beban 200 kg.
'Aku juga sering pingsan saat latihan,' bisik Otto mengenang.
{Drop.}
"Makanlah kalau kamu udah siuman!" ujar Otto sambil tersenyum penuh arti.
{Zap!}
Setelah meletakkan sejumlah makanan di sebelah Reus. Otto pun berteleportasi ke lokasi Rere.
.
.
.
__ADS_1
Berbeda dengan Reus, agenda Otto masih belum selesai.
Dengan melatih Reus selama 16 jam, Otto sudah menghabiskan uang 16 juta Kilias. Belum lagi dengan Osmium yang harus dia beli setiap hari.
Otto bertekad kalau dia harus tetap mendapatkan profit setiap harinya. Sehingga kegiatan itu sangat penting untuk terus dia lakukan.
"Makanlah Tuan!" ujar Rere saat melihat Otto keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih!"
Otto memakan berbagai menu yang Rere siapkan dengan sangat lahap.
Makan besar satu hari sekali dan hanya makan ringan di tengah latihan adalah salah satu bagian dari metode latihan yang sedang Otto dan Reus jalankan.
{Blurp!}
Otto tanpa sengaja bersendawa.
"Sudah jam sembilan. Sekarang giliran Avni. Kau bersiap saja Re!"
"Tentu Tuan."
{Zap!}
Rere langsung mencari posisi paling nyaman di atas kasur setelah Otto menghilang dari hadapan.
{Zap!}
"Otto! Hari ini giliranku ya?!"
"Iya Teh."
Seperti durasi pertarungan di hari sebelumnya. Pertempuran antara Otto dan Avni berlangsung sampai jam 1 pagi. Dan sekarang adalah giliran Rere dan Priya yang menikmati dari kejauhan.
"Sudah jam 2!" Otto terbangun tanpa alarm.
Dia bangkit lalu mengecup kening Avni dengan lembut.
{Zap!}
Otto menghilang. Dia berteleportasi kembali ke kamar Rere.
'Ah... Manis sekali kamu Re...' bisik Otto saat melihat Rere yang sedang tertidur pulas.
Otto keluar dari rumah untuk mendekati pedatinya.
{Bum!}
Otto tambahkan beban 1 ton ke dalam pedati tersebut.
{Drap Drap Drap}
{Gredek Gredek Gredek}
Otto mulai berlari menuju ke tempat Reus berada.
Sesampainya di halaman rumah Reus. Otto lihat makanan semalam sudah habis. Dan Reus juga sudah tidak ada di halaman.
'Kuat juga dia!' bisik Otto merasa bangga pada Reus.
{Shhhuuup...}
Otto tarik napas panjang.
"Reus! Bangun! Ayo latihan!" Otto berteriak menggunakan prana nya.
{Grusak!}
Otto bangunkan Reus untuk menjalani latihan hari ke dua. Penderitaan Reus, masih belum berakhir.
.
.
.
Tiga bulan telah berlalu...
"Reus... Ayok latihan...!"
Reus langsung terbangun begitu mendengar suara Otto.
"Baik Tuan!"
{Drap Drap Drap Drap.}
Reus bangkit lalu berlari dengan cepat.
"Aku siap Tuan!" ujar Reus yang sudah berdiri di hadapan Otto.
Memang benar kalau semakin hari latihan yang mereka jalani semakin berat. Tapi penambahan beban latihan yang dilakukan secara bertahap. Membuat Reus tanpa terasa sudah mampu menarik beban seberat sembilan ton.
__ADS_1
Walaupun latihan yang diberikan oleh Otto bagaikan latihan di neraka, tapi Reus tampak begitu bersemangat. Reus benar-benar bersyukur. Latihan yang diberikan oleh Otto, membuat Reus merasa kalau dia itu berharga.
...— Bersambung —...