Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 7.1] Butler Tanpa Tuan


__ADS_3

"Kami sudah siap Tuan," ujar Edith yang sedang menggandeng tangan Arika.


"Ya. Semenit lagi..." jawab Otto yang tengah memandangi Kilias Road yang selalu mengalami malam.


Kalau saja lampu-lampu yang terus menyala ini tidak ada. Tentu Kilias Road tak lagi terlihat indah. Hanya tampak seperti sebuah goa raksasa yang gelap gulita.


"Sudah menghubungi Bakiman dan Cantika?" tanya Otto pada Edith.


"Sudah Tuan. Mereka sudah menunggu di bawah."


"Baiklah... Ayok..."


.


.


.


Belasan menit kemudian sampailah mereka di Restoran Lapar Memanggil. Sebuah restoran yang tidak termasuk mewah untuk ukuran Kilias Road. Namun tetap bisa jadi yang terbaik bila berdiri di atas tanah.


Kehadiran Otto, Reus, Arika, Bakiman, Edith, Duo Kilau, dan CMYK membuat restoran yang sebelumnya sunyi ini mendadak jadi rame.


Ya iyalah langsung rame... Wong langsung terisi oleh sebelas orang dalam satu waktu yang sama!


Desas desus dan bisik-bisik tetangga terdengar di antara para pengunjung restoran begitu Otto dan kawan-kawan memasuki restoran.


"Apakah itu Arika Aganaya?" tanya seorang Ibu pada suaminya.


"Ya. Aku yakin itu dia," jawab suaminya yang sedang memainkan cincin-cincin besar dan berkilau.


"Bukankah dia sudah menghilang sejak hancurnya kerajaan Aganaya?" tanya lelaki yang berada di sudut restoran pada kawannya.


"Dua hari yang lalu aku melihatnya di bagian penjualan budak spesial. Apakah dia adalah Tuannya?" jawab kawan dari lelaki tersebut. Merujuk pada sosok Otto yang kharismatik.


"Bisa jadi..." simpul lelaki di sudut restoran.


Sementara itu...


.


.


.


Sebuah mobil limosine berhenti di pintu masuk restoran. Priya, Avni, dan Rere keluar dari dalamnya. Mereka terlihat begitu mempesona dalam balutan pakaian mewah yang mereka kenakan.


"Ke sini Puan-Puan sekalian..." Sebastian menunjukkan letak pintu Restoran Lapar Memanggil dengan sopan.


Avni, Priya, dan Rere masuk ke dalam restoran mahal itu dengan penuh keanggunan. Menarik perhatian banyak lelaki hidung belang.


Priya tiba-tiba menyipitkan pandangannya saat dia melihat ke arah meja Otto dan kawan-kawan.

__ADS_1


"Say, itu kan Arika Aganaya yang suka Mamah liat di TV?" tanya Priya yang terkejut melihat sosok Arika yang sedang duduk di sebelah Otto.


"Tapi apa mungkin Mah?! Kalau aku nggak salah denger, Puteri Arika tuh dinyatakan menghilang pas Kerajaan Aganaya hancur sekitar dua tahun yang lalu!" Avni mengernyitkan dahinya.


"Eh! Bukannya Otto kemaren pergi ke pasar budak ya?!"


"Oh iya Mam! Apakah dia budak barunya Otto?! Soalnya kan anggota kerajaan yang kalah perang, biasanya bakal ditangkap buat dijadiin budak..."


"Apa bener kayak gitu Say?" tanya Priya yang penasaran kepada Avni.


Mereka berdua berjalan mendekati dengan rasa penasaran yang bikin gestur anggun mereka berubah menjadi norak. Rere yang sedang bersama mereka mendelik dengan tatapan sinis.


'Tolong bebaskan aku dari duo norak ini!' Rere berteriak di dalam hatinya.


Aneh memang! Priya yang anggun dan keibuan. Berubah 180 derajat sejak datang ke Kilias Road. Sebuah dunia yang sepenuhnya baru bagi dirinya. Jiwa kekanak-kanakan Priya seketika muncul menggerus seluruh ketenangan yang dimiliki olehnya.


Arika dan Avni saling sikut perlahan. Karena selain gara-gara kehadiran Arika di sana. Priya dan Avni juga begitu keheranan dengan bagaimana Otto yang pada awalnya hanya pergi ditemani oleh Reus. Kini muncul kembali bersama dengan delapan orang wanita dan seorang pria tua. Berkembang biak hingga lebih dari lima kali lipat.


"Silahkan duduk di sini Puan-Puan..." begitu sudah dekat dengan meja, tiga orang pelayan langsung menujukkan tiga buah kursi yang sudah dikosongkan kepada tiga harem Otto.


Priya yang kebagian duduk tak jauh dari kursi Otto langsung bertanya, "Sementara kami bermain judi kemarin, sebenarnya apa yang kamu lakuin sih Yang?"


Otto hanya menjawab Priya dengan senyum datar.


Walaupun kesannya Otto selama ini hanya bersenang-senang dan membuang uang. Tapi Otto sudah terbiasa untuk memikirkan setiap langkah yang dia lakukan. Bahkan sejak dia belum terkoneksi dengan Sistem.


"Kenapa kalian nggak jadi bermain semalam suntuk?" tanya Otto pada Rere. Menagih Rere yang berjanji akan bercerita pagi ini.


"Bocah edan ini keburu napsu pas terus-terusan menang!" Priya tiba-tiba naik pitam pas inget kejadian kemaren. Menyela Rere yang ingin menjawab.


"Apaan sih Mah?!" Avni protes dengan nada yang turut meninggi.


"Masak Yang?! 15 Milyar bisa ludes semua! Bukannya pulang bawa untung. Malah buntung! Terus dia tuh hampir pakai tabungan dia loh Yang! Untung aja aku larang!" Priya yang masih kesal melanjutkan.


Otto mengernyitkan dahinya.


"Kalian belum cek saldo kalian ya?"


"Hah? Saldo?!" Avni bertanya heran.


"Iya. Saldo Bank. Coba cek aja sekarang!"


Kecuali Rere. Mereka semua ngecek saldo Bank mereka.


"90 milyar?!" Avni terperanjat langsung berdiri.


"300 milyar?!" Priya melotot melihat handphone nya.


"Untunglah kalian kemaren nggak sadar," celetuk Rere sedikit sinis.


"Rere kamu dapat juga?! Dapet berapa?!" tanya Priya.

__ADS_1


"1 triliyun!" jawab Rere ringan.


"Apa?!" Priya dan Avni berteriak. Membuat pengunjung lain melirik tajam ke arah mereka berdua.


"Memangnya berapa sih saldomu sekarang Yang?!" tanya Priya kepada Otto.


"Untuk saat ini belum sampai sepuluh triliyun."


"Belum sampai?! Berarti jangan-jangan sudah lebih dari satu triliyun?!" Priya konfirmasi.


"Ya. Ada lah segitu..."


"Benarkah?!" lagi-lagi Avni dan Priya berteriak. Membuat Rere ingin sekali menyumpal mulut mereka berdua pake kanebo kering.


{Bruk.}


Priya yang baru tahu kedalaman saldo Otto langsung duduk lemas. Sementara itu Sebastian yang sedang berdiri di belakang mereka tersenyum geli.


"Ini adalah Kilias Road. Tuan Otto bukanlah yang terkaya di sini. Membawa uang beberapa triliyun adalah hal yang wajar," jelas Sebastian.


"Benarkah itu...?" tanya Avni dengan suara rendah.


"Walaupun sangat jarang ada yang bersedia mengeluarkan uang triliyunan dalam semalam," Sebastian melirik ke arah Arika.


{Krek! Kretek! Krak!}


"Jaga sikapmu Sebastian..." Otto yang menyadari maksud perkataan Sebastian tidak menaikkan volume suaranya. Dia berbicara dengan aksen yang mengayun lembut. Tapi prana Otto meningkat sekaligus. Membuat beberapa piring dan gelas menjadi retak.


"Ma... Maafkan saya Tuan..." Sebastian tergagap karena ketakutan.


"Tuan Otto. Masih Baik. Sama Sebastian," Reus terlihat tengah menahan pundak Bakiman yang hampir melompat untuk menghajar Sebastian.


{Glek!}


Sebastian meneguk ludahnya bulat-bulat. Bersikap terlalu akrab seringkali berakhir dengan buruk.


Sebastian lupa kalau kemampuan dalam menghasilkan kekayaan bukanlah satu-satunya kekuatan yang disegani di dunia ini. Kemampuan dalam berpolitik, dan kemampuan untuk menghilangkan nyawa seseorang adalah kekuatan lain yang juga harus ia waspadai.


"Jangan kau ulangi lagi ya Bas..." Otto menatap Sebastian dingin.


"Ba... Baik Tuan," Sebastian berdiri gemetar.


"Sebaiknya Kau ganti seragammu dulu," sindir Bakiman yang melihat Sebastian kencing di celana.


"Iyuuuh...! Pelayan! Tolong pel lantai yang di sini ya?!" Avni berkata nyinyir.


Arika tersenyum. Biasanya hanya Bakiman yang akan bergerak untuk melindungi perasaannya. Tapi kini Arika merasa semakin terlindungi dengan adanya sosok Otto di sisinya.


'Syukurlah...' bisik Arika di dalam hatinya.


...— Bersambung —...

__ADS_1


__ADS_2