Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang

Sistem Kenikmatan Hubungan Ranjang
[Kisah 5.3] Ogre Baik Hati


__ADS_3

Keesokan harinya Otto sampai di Hutan Aranya. Sebuah hutan lindung yang berjarak enam jam dari Kota Gandasuli. Sebuah hutan lindung terbesar di Benua Jayadwipa.


"Kau tinggallah di rumah itu!"


Otto menyuruh Reus untuk tinggal di sebuah rumah kayu yang sudah Otto beli. Rumah ini terletak di tengah hutan lindung. Entah bekas punya siapa.


Yang pasti rumah ini berukuran lebih besar daripada rumah kebanyakan. Selain itu, Otto juga sudah membeli perabot rumah yang ukurannya telah disesuaikan dengan ukuran tubuh Reus.


"Reus senang. Makasih Tuan."


"Ya Reus. Nikmatilah rumah barumu," jawab Otto sambil tersenyum.


[Tuan. Rumah kita sudah siap.]


Suara dari Rere terdengar di kepala Otto.


"Aku pergi dulu ya Reus! Nanti pagi kita akan mulai latihan."


"Baik Tuan."


{Zap!}


Otto menghilang dari hadapan Reus untuk pertama kalinya. Dia berteleportasi ke lokasi Rere berada.


"Reus. Rumah baru. Reus senang. Tuan. Zap zap. Tuan hebat."


Enaknya jadi Reus. Nggak ada hal yang mengejutkan di matanya.


.


.


.


Di Desa Blatervile yang jaraknya puluhan kilometer dari Hutan Lindung Aranya...


Otto memasuki sebuah rumah bilik yang nyaman namun tidak besar. Jadi Rere sendirian juga sudah cukup untuk merawat rumah tanpa menggunakan pembantu.


Rumah bilik ini sudah dimodifikasi.


Begitu masuk. Otto langsung berada di ruang tengah karena rumah ini tak memiliki ruang tamu. Ruang tengah menghubungkan kita pada tiga pintu.


Satu pintu mengarahkan ke dalam kamar yang isinya cuman ada ranjang berbahan bambu. Kasurnya kasur bulu angsa.


Rere dan Otto gak butuh lemari. Cukup menggunakan gudang sistem untuk menyimpan barang-barang mereka.


Pintu yang kedua menuju ke arah dapur. Dapurnya pakai kompor kayu bakar dengan cerobong asap di atasnya. Klasik sekali! Konon kabarnya memasak dengan kompor seperti ini, bisa bikin masakan menjadi lebih enak.


Pintu yang ketiga terhubung pada sebuah kamar mandi tanpa atap. Tidak ada bak mandi. Hanya ada kolam rendam yang dingin. Airnya dialirkan menggunakan pipa bambu sehingga kolam rendam itu selalu penuh terisi.


Sebuah toilet terhubung dengan kamar mandi. Dipisahkan oleh sebuah dinding dan juga pintu.


Otto merasa puas. Karena walaupun sederhana, rumah ini cukup nyaman. Toh tujuan Otto bukan untuk tinggal di sini selamanya. Hanya untuk berlatih sementara aja.


.


.


.


Demi tetap menghasilkan uang. Otto begituan dengan Rere sampai Jam 1 malam. Sementara di Kota Kapitalia, Priya dan Avni dapat turut merasakan kenikmatan yang sedang Rere rasakan.

__ADS_1


Pada jam 2 pagi, Otto telah bangun dari tidurnya. Dia langsung keluar dari rumah bilik miliknya.


Di pekarangan rumah, Otto keluarkan sebuah pedati terkuat di dunia buatan NASA. Pedati ini bisa mengangkat beban sampai dengan 300 ton.


Otto lalu menaikkan osmium seberat 1 ton ke dalam pedati. Kemudian dia berlari sambil menarik pedati menuju ke rumah Reus yang ada di dalam Hutan Lindung.


(Author's Note : Osmium adalah logam terpadat di bumi. Beratnya melebihi 22 ton per meter kubik.)


Otto datang ke Aranya tidak hanya untuk melatih Reus saja. Dia juga ingin ikut berlatih bersama Reus.


Pertarungannya dengan Taitu. Terutama saat Taitu berhasil mengangkat Tank seberat 60 ton lebih. Membuat Otto sadar kalau masih banyak orang yang lebih kuat dari dirinya di dunia ini.


Jam 4 pagi Otto sampai di depan rumah kayu Reus.


"Reuuus! Bangooon!" teriak Otto menggunakan prana. Membuat gendang telinga Reus langsung sakit dibuatnya.


{Grusak! Dug Dug Dug Dug!}


Terdengar bunyi kerusuhan dari dalam rumah kayu.


"Reus siap Tuan!" teriak Reus yang sudah berdiri di depan rumah.


Otto mengeluarkan beberapa bongkah osmium lalu menjajarkannya.


"Coba kamu angkat satu per satu dengan sebelah tangan!"


Reus menurut. Dia mengangkat satu per satu bongkahan batu dengan berbagai ukuran tersebut tanpa kesulitan hingga...


"Uooogh!" muka Reus kayak orang yang sembelit.


Walaupun berhasil, tapi Reus merasa kesulitan saat harus mengangkat Osmium dengan berat 100 kg.


"Kamu pasti nggak akan sanggup buat angkat yang ini!" tantang Otto sambil menunjuk bongkahan yang sedikit lebih besar.


"Uooogh!"


Berbeda dengan Reus. Otto yang sudah diperkuat oleh Prana, bisa mengangkat beban satu Ton dengan sebelah tangannya.


{Brugh!}


Otto keluarkan sebuah pedati yang sama dengan yang dia bawa. Lalu dia masukkan Osmium seberat 100 kg ke dalamnya.


"Ingat Reus! Kedua pedati ini adalah kawan kita. Selama kita berlatih, kita akan membawa terus pedati-pedati ini."


"Pedati kawan Reus."


"Untuk lebih mengefisienkan menu latihan kita, nantinya pedati ini akan aku tambah bebannya 100 kg per hari. Sedangkan untuk pedatiku akan aku tambah satu ton per hari."


Otto sengaja memberitahukan beban pedatinya agar Reus tidak merasa kalau dia sedang tersiksa sendirian.


Tapi kalau Otto liat ekspresi Reus saat ini, sepertinya dia sama sekali nggak ngerti dengan maksud dibalik perkataan Otto.


"Ton itu apa Tuan?"


{Gubrak!}


.


.


.

__ADS_1


Sudah lebih dari sejam mereka berlari menarik pedati. Peluh mereka bercucuran. Nafas mereka tersengal-sengal.


"Ayo! Semangat Reus!"


"Uooogh!"


Semakin menanjak jalan yang dilalui, semakin jelek pula mukanya si Reus.


Puluhan kilometer kemudian, akhirnya mereka sampai di sebuah tebing dengan tinggi 80 meter.


'Yup. Di sini tempatnya!' ujar Otto sambil memandang puncak tebing curam tersebut.


Sebelumnya di Gandasuli, Otto sudah menyiapkan seluruh menu latihan yang akan mereka lakukan selama di Hutan Lindung Aranya. Otto telah memperhitungkan segalanya dengan matang.


Reus diam mematung. Wajahnya tampak begitu pucat pasi. Apalagi saat dia sadar bila nerakanya belum selesai.


Otto ikatkan pedati Reus ke tubuh Reus dengan menggunakan tali buatan NASA yang sangat kuat. Otto ulurkan tali tersebut dan dia ikatkan ke tubuhnya sendiri. Setelah itu, Otto ikat ke pedati seberat lebih dari satu ton yang dibawanya.


Beberapa menit kemudian...


.


.


.


{Srak. Srak. Srak.}


Dua buah tangan mencengkram tebing dengan cakar yang menancap. Urat-urat tangan bermunculan. Hawa prana terpancar dari kedua tangan tersebut.


Otto tampak sedang memanjat tebing sambil menarik pedati yang diikatkan pada tubuhnya. Otto berniat untuk membawa pedati dengan berat lebih dari satu ton itu ke puncak bukit.


{Krak!}


"Jatuuuh! Lagiii!"


Teriak Reus yang berada di bawah Otto.


"Huph!"


Otto menggengam tali dengan tangannya. Membuat otot-ototnya berkontraksi seperti hendak meledak. Tali itu menghubungkan antara tubuh Otto dan juga tubuh Reus.


"Reus. Mati."


Reus menggantung pasrah. Dia dan pedatinya diangkat kembali oleh Otto menggunakan satu tangan.


"Huegh! Pannnjath Lagih!" Otto sedikit mengayunkan tubuh Reus.


{Brugh!}


Lalu mengembalikan Reus ke tebing untuk memaksanya lanjut memanjat.


"Reus! Kalau kau tertinggal, akan aku gunting tali pengaman ini!" ancam Otto.


"Ba... Baik Tuan..."


{Srak. Srak. Srak.}


Reus memanjat kembali.


Reus sudah beberapa kali terjatuh. Tapi sampai saat ini masih aman. Karena Otto telah mengikat Reus dan pedati Reus ke badannya. Sehingga selama Otto tidak jatuh, Reus masih akan tetap hidup.

__ADS_1


...— Bersambung —...


__ADS_2