
Kamar yang diatur oleh resepsionis adalah kamar 305, terletak di sebelah kanan kamar 303 yang ditempati oleh Vanu saat ini.
Azam membuka pintu kamar dengan kartu kunci, kemudian dia masuk dan melepas topi serta kacamata karena sangat tidak nyaman memakai dua benda itu sepanjang waktu apalagi udaranya sedang panas.
"Sistem, pindai uang yang ada di sekitar." Azam tidak bersantai-santai, dia langsung memerintahkan Sistem untuk memindai uang di sekitarnya.
[Ditemukan uang sebesar 510 ribu rupiah dalam jarak 4 meter dari Host.]
[Ditemukan uang sebesar 790 ribu rupiah dalam jarak 4 meter dari Host.]
[Ditemukan uang sebesar 700 ribu rupiah dalam jarak 4 meter dari Host.]
Hanya ada tiga hasil pemindaian dengan jarak yang sama yang menandakan kalau hanya ada uang di dalam jarak 4 meter tersebut yang merupakan kamar 303 sedangkan kamar lain sedang kosong.
"Menurut lokasi yang ditunjukkan oleh Sistem, tiga hasil pemindaian mengarah ke tiga dompet. Itu artinya ada dua orang lain di dalam kamar 303," pikir Azam sambil mengerutkan keningnya.
Karena dompet yang ditunjukkan oleh Sistem adalah dompet seorang pria milik Vanu dan dua dompet wanita. Itu artinya ada dua wanita di dalam kamar sebelah.
Azam menyeringai karena berpikir ini akan menarik. Dia juga beranggapan kalau rumor tentang Vanu yang diasuh oleh para wanita kaya memang benar adanya dan sekarang dia hanya tinggal perlu membuktikannya.
"Ayo kerja." Azam membuka matanya lebar-lebar dan melihat dengan fokus ke arah dinding kamar. Dia sedang mencari apakah ada celah atau sebuah lubang di sana
Setelah beberapa menit, Azam melihat kalau ada sebuah lubang kecil seukuran tiga jari di pojok kanan atas dinding. Azam juga melihat ada banyak kabel di sana, itu artinya lubang tersebut memang sengaja dibuat.
Jadi Azam segera mengeluarkan kamera kecil seukuran kuku ibu jari dari saku jaketnya. Itu adalah kamera yang ada di ruang penyimpanan milik Ari dan Aldi.
Ari memberikan kamera itu kepada Azam bersamaan dengan alat pelacak dan beberapa alat lainnya agar Azam bisa melakukan penyelidikan dengan maksimal dan tentunya tanpa ketahuan.
Jadi, Azam naik ke atas meja dan menaruh kamera lubang jarum yang bisa merekam suara juga. Kemudian Azam sambungkan dengan bluetooth ke ponsel miliknya.
__ADS_1
"Sialan, mereka langsung berhubungan!" Azam ingin berteriak saat ini karena Vanu dan kedua wanita tidak melakukan pembicaraan melainkan sebuah kegiatan yang memberi kepuasan.
Kemudian, Azam menunggu selama satu jam sampai mereka bertiga selesai berhubungan. Dia tidak merasakan apapun melihat tindakan mereka karena dia sedang sangat kesal.
Tapi selama satu jam itu, Azam tidak menganggur. Dia bisa melihat wajah dari kedua wanita itu dengan jelas. Mereka berdua juga memiliki tubuh yang lumayan dengan wajah yang lumayan juga.
"Sepertinya mereka memang wanita kaya karena tubuh mereka terawat dengan baik," pikir Azam. Dia segera mencari tahu wajah kedua wanita tersebut lewat internet.
Dan benar saja, dua wanita itu cukup terkenal. Mereka adalah istri dari artis veteran yang sudah cukup tua, sehingga mereka memutuskan untuk mengasuh Vanu agar bisa memberikan kepuasan batin.
"Awalnya aku hanya menyelidiki Vanu, tapi ada dua orang terkenal lain yang terlibat. Uang yang akan kuterima pasti bakalan banyak sekali!" Azam gembira dengan penyelidikan hari ini.
Karena perusahaan yang menyewa jasa akan membayar sesuai dengan informasi yang diberikan. Itu artinya, semakin banyak atau semakin menarik informasinya, mereka akan membayar lebih.
Lalu pada saat ini, Vanu dan kedua wanita telah selesai melakukan kegiatan 'bahagia' mereka. Azam sebesar melihat ke layar ponsel dengan mata fokus karena tahu kalau sebentar lagi mereka akan berbicara.
...----------------...
Vanu memakai pakaiannya dan berkata, "Terima kasih untuk hari ini." Sambil tersenyum cerah kepada kedua wanita yang sedang memakai pakaian mereka juga.
Susi si wanita berambut sebahu dengan tahi lalat di pipinya berkata, "Haha, jangan kaya gitu. Aku juga merasa senang dengan usahamu."
"Susi benar, kamu sudah melakukannya dengan baik." Lusi si wanita dengan rambut seleher berkata dengan suara gembira seperti Susi, temannya.
"Hahaha, itu harus. Untunglah kalian menyukainya tadi," kaya Vanu sambil tertawa lebar dan bisa terdengar dari suaranya kalau dia sangat gembira.
"Oh ya, besok kita akan bertemu di sini lagi ya." Setelah mengenakan pakaiannya, Susi berkata kepada Vanu sambil merias wajah.
"Maaf, aku tidak bisa ikut. Suamiku ada di rumah, jadi tidak bisa keluar." Lusi menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata dengan nada sedih karena tidak bisa ikut bersama mereka.
__ADS_1
"Tak apa, kita punya banyak waktu. Iya kan, Vanu?" Susi berkata sambil melihat ke arah Vanu yang memiliki wajah aneh namun tidak dia sadari.
Alasan Vanu memiliki wajah aneh adalah karena dia mendengar kalau mereka akan bertemu di hotel ini lagi besok di waktu yang sama.
Vanu sama sekali tidak menyukai kegiatan yang mereka lakukan karena dia adalah seorang artis yang cukup terkenal dan sudah seharusnya dia memiliki hubungan dengan para artis muda.
Tapi mau bagaimana lagi, Vanu tidak mempunyai dukungan di dunia industri hiburan karena dia juga tidak punya kemampuan apapun. Jadi dia hanya bisa mengandalkan wajahnya untuk menerima bantuan dari para wanita kaya.
"Ya, kita akan bertemu di lain waktu." Vanu menjawab dengan senyum masam. Semua itu dilakukan demi uang yang diberikan oleh para wanita kaya.
"Baguslah kalau begitu." Susi mengangguk dengan puas saat mendengar jawaban Vanu.
Lusi teringat sesuatu, dia berkata kepada Vanu, "Ngomong-ngomong, aku ada teman yang suka sama kamu. Vanu, apa kamu mau menerimanya?"
"Ya, silakan. Asal dia juga mau denganku." Lagi-lagi Vanu menjawab dengan senyum masam dan mencoba menahan diri agar tidak mengembuskan napas panjang.
...----------------...
Di kamar 305.
"Hahaha!!" Azam tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya saat dia mendengar pembicaraan Vanu dan kedua wanita itu.
Azam sendiri tidak menyangka kalau Vanu melakukan hal itu dengan terpaksa. Meskipun kedua wanita itu memiliki tubuh dan wajah yang terawat, tapi Azam tahu kalau Vanu pasti menyukai wanita muda dilihat dari ekspresinya.
"Aku kasihan denganmu, tapi aku paham. Kita perlu mengorbankan sesuatu demi kebahagiaan, apalagi di Kota Jakarta yang sangat keras ini." Azam menghentikan tawanya dan kembali serius.
Setelah menunggu setengah jam, tidak ada lagi pembicaraan yang penting dari Vanu dan kedua wanita itu. Jadi, Azam mengambil dan memasukan kamera mini ke dalam saku jaketnya.
Kemudian dia keluar dari kamar dan berterima kasih kepada resepsionis yang telah membantunya tadi. Setelah keluar dari hotel, Azam memesan ojek online menuju ke Surat Kabari, tempatnya Ari dan Aldi.
__ADS_1