Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Petinggi Lain yang Terlibat dan Kartu Akses (Revisi)


__ADS_3

Azam menaruh kamera mini dan alat pelacak di dekat kursi belakang. Meskipun tidak bisa merekam wajah mereka, tapi setidaknya bisa dengan jelas kalau mereka yang sedang berbicara.


Jika ingin merekam wajah mereka dengan jelas, Azam harus menaruh kamera mini di bagian depan tapi akan mudah terlihat karena mobil sedan ini memiliki interior berwarna cerah.


Warna dari kamera mininya adalah hitam sehingga Yasir atau orang lain bisa menemukannya dengan mudah. Itulah mengapa Azam akan menaruhnya di dekat kursi belakang.


Meskipun Azam ingin merekam wajah mereka, tapi daripadanya mengambil langkah yang beresiko tinggi dan malah akan ketahuan, lebih baik mengambil langkah yang aman-aman saja.


"Sip, dengan ini Yasir tidak bisa menemukan kameranya kecuali kalau dia sedang memeriksa mobilnya," batin Azam dengan puas.


Dia hendak keluar dari mobil karena sudah selesai menaruh kamera mini dan alat pelacak. Tapi pada saat ini ada peringatan dari Sistem yang membuatnya harus mengurungkan niatnya.


[Ditemukan uang sebesar 400 ribu rupiah dalam jarak 15 meter.]


[Ditemukan uang sebesar 400 ribu rupiah dalam jarak 14 meter dari Host.]


[Ditemukan uang sebesar 400 ribu rupiah dalam jarak 13 meter dari Host.]


Azam ingin keluar dengan cepat lewat pintu karena bisa dibuka dari dalam, tapi di sekitar sini tidak ada tempat persembunyian yang aman dan ada banyak kamera CCTV di sekitar.


Jadi dia menggunakan kakinya yang panjang untuk menutup bagasi dari dalam dan memutuskan untuk sembunyi di dalam mobil. Setelah itu dia menunggu orang-orang yang sedang mendekat yang dikatakan oleh Sistem barusan.


"Hm? Itu kan!?" Azam melebarkan matanya saat melihat kalau ada orang yang familiar di matanya di antara beberapa orang yang datang.


Jadi Azam segera menyalakan ponselnya dan membuka galeri untuk memastikan apakah orang itu adalah orang yang pernah dia lihat di dokumen yang diberikan oleh Deva sebelumnya.


"Tepat sekali, jadi Agus juga terlibat dengan Yasir?" Azam mengerutkan keningnya karena merasa kalau masalahnya bukan hanya penggelapan uang saja.


Orang yang dilihat oleh Azam adalah pria paruh baya gemuk seperti Yasir bernama Agus yang merupakan salah satu petinggi di Perusahaan Fiota Grup yang jabatannya setara dengan Yasir.


Alasan data diri Agus ada di dalam dokumen yang diberikan oleh Harun adalah karena Agus berteman dengan Yasir dan dicurigai melakukan penggelapan uang seperti temannya itu.

__ADS_1


Masalahnya adalah Agus sedang memegang pinggang wanita yang masuk ke dalam mobil Yasir sebelumnya. Itulah mengapa Azam merasa kalau masalah yang terjadi bukan hanya penggelapan uang saja.


"Situasi ini semakin merepotkan, lebih baik aku foto saja dulu. Mungkin aku bakal dapat bayaran lebih kan?" Azam tersenyum, dia segera memotret Agus yang sedang memegang pinggang seorang wanita.


Mobil milik Yasir memiliki kaca yang tidak bisa dilihat dari luar tapi bisa melihat dari dalam. Jadi apa yang dilakukan oleh Azam tidak akan terlihat oleh Agus dan yang lainnya.


Agus dan yang lain masuk ke dalam mobil mereka masing-masing, kemudian pergi. Setelah memastikan kalau tidak ada orang di sekitar, Azam segera keluar lewat pintu belakang.


Azam keluar dari area parkir dan menunggu di tempat semula karena berpikir kalau Yasir akan keluar dengan cepat karena wanita yang bersamanya sudah pergi dengan Agus.


Tapi, Azam sudah menunggu selama 2 jam penuh namun Yasir belum keluar juga. Dia bahkan selalu memeriksa ponselnya yang menampilkan alat pelacak yang tetap diam di tempat.


"Sial, apa yang dia lakukan di dalam hotel!? Bukankah sekarang waktunya bekerja!?" Azam benar-benar kesal saat ini. Dia hendak masuk ke dalam hotel untuk menemukan Yasir, tapi kebetulan sekali Yasir keluar dari hotel.


"Akhirnya pak tua ini keluar juga, akan ku pastikan dia akan menderita!" Azam mencoba untuk menahan amarahnya dengan cara menarik napas dalam-dalam.


Yasir keluar dari hotel, tapi tidak menggunakan mobil miliknya. Yasir naik ke dalam mobil milik hotel dengan seorang supir yang membantunya. Kemudian mobil itu pergi entah ke mana.


"Lah, apa yang dia lakukan? Sudah terlambat bekerja, tapi tetap masuk ke dalam perusahaan?" Azam menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena tidak tahu jalan pikiran Yasir.


[Host, mungkin dia menyalahgunakan jabatannya sebagai salah satu petinggi di perusahaan, jadi dia bisa berangkat kerja dengan bebas.]


"Masuk akal, Sistem. Tapi aku tidak punya akses untuk masuk ke sana, aku harus menelepon Pak Deva." Azam mengangguk dengan pikiran Sistem, kemudian dia segera menelepon Deva.


Azam butuh sebuah akses untuk keluar masuk Perusahaan Fiota Grup dengan bebas. Tentu saja ini hanya untuk akses tempat yang umum, bukan tempat pribadi atau tempat khusus.


Karena jika dia tidak punya akses untuk hal itu, dia hanya bisa berkeliling di lantai satu saja. Untuk pergi ke lantai dua dan selanjutnya harus dengan izin seseorang atau kartu akses.


"Halo, Pak Deva. Aku butuh sebuah akses untuk masuk ke dalam perusahaan." Azam langsung mengatakan niatnya setelah panggil telepon terhubung.


"Akses? Oke, datanglah ke kantorku di lantai 10." Deva menganggukkan kepalanya, dan meminta Azam untuk datang ke kantornya.

__ADS_1


"Siap." Azam mengangguk, kemudian dia segera masuk ke dalam perusahaan dan mengatakan kepada resepsionis kalau dia punya janji dengan Deva.


Si resepsionis juga segera meminta seseorang untuk mengantarkan Azam ke lantai 10. Setelah lift terbuka, terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian kerja yang sedang menunggu Azam.


"Pak Azam? Saya Elina, sekretaris Pak Deva. Silakan ikuti saya," kata wanita cantik itu yang memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris Deva.


"Oh, oke. Tolong ya." Azam mengangguk. Dia sedikit terkejut dengan jabatan Elina yang merupakan sekretaris Deva.


Karena dia sudah melihat banyak masalah di berita kalau bos perusahaan sering melakukan hal-hal dewasa dengan sekretaris mereka yang biasanya merupakan gadis muda atau wanita cantik.


"Pak Deva masih punya istri, beliau tidak mungkin melakukan hal tidak senonoh dengan sekretarisnya kan?" pikir Azam yang menjadi liar.


Entah benar atau tidak, tapi pikiran Azam memang tidak bisa disalahkan. Karena Elina memiliki paras yang cantik dan tubuh yang menggoda sehingga mata pria manapun tidak bisa lepas dari tubuhnya.


Sebagai seorang pria yang sudah menginjak usia legal, Azam juga memiliki ketertarikan terhadap Elina. Tapi dia mengesampingkan pikiran yang mengganggu karena ada hal yang lebih penting.


"Pak Azam, silakan masuk. Pak Deva sudah menunggu di dalam," kata Elina setelah mereka sampai di depan kantor Deva.


Elina juga bisa merasakan tatapan dari Azam. Dia berpikir dengan bangga karena tubuhnya adalah sesuatu yang membuatnya percaya diri.


"Ya, terima kasih." Azam mengangguk, dia berterima kasih kepada Elina, lalu dia membuka pintu kantor.


"Azam, kamu sudah datang. Ini kartu aksesnya, kamu bisa pakai kartu ini untuk mengunjungi area umum." Deva menganggukkan kepalanya, kemudian dia menyerahkan sebua kartu akses kepada Azam.


"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan." Azam mengangguk, dia mengambil kartu akses dari tangan Deva dan menggantungkannya di leher.


"Sama-sama, ini juga demi penyelidikan. Ngomong-ngomong, bagaimana progresnya?" tanya Deva kepada Azam.


"Ada sesuatu yang menarik, tapi tidak akan ku beritahu sekarang." Azam menyeringai yang membuat Deva penasaran.


"Okelah, aku percaya padamu." Deva menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak bisa bertanya kepada Azam.

__ADS_1


Kemudian karena tidak ada yang perlu dilakukan lagi, Azam keluar dari kantor Deva setelah berterima kasih padanya karena telah memberikan kartu akses.


__ADS_2