Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Pergi ke Jakarta International Equestrian Park (Revisi)


__ADS_3

Jumat, 26 Juli 2030


Azam sedang menonton televisi seorang diri karena dia sedang menunggu Vanessa untuk selesai berdandan yang memakan waktu cukup lama seperti wanita pada umumnya.


Kemudian setelah setengah jam, pintu kamar Vanessa terbuka. Vanessa keluar dengan gaun berwarna cokelat muda yang panjang dan dengan lengan yang pendek.


"Azam, maaf buat kamu lama menunggu." Vanessa berkata dengan nada meminta maaf karena dia berpikir kalau dirinya terlalu lama untuk berdandan.


"Aku tidak keberatan untuk menunggu seorang wanita cantik." Azam tersenyum dan memutuskan untuk sedikit menggoda Vanessa.


Wajah Vanessa memerah, dan berkata, "Jangan pakai kata seperti itu! Ayo kita pergi!"


Vanessa menarik tangan Azam, mereka segera keluar setelah memakai sepatu. Seperti sebelumnya, Azam yang menyetir mobil Ferrari milik Vanessa yang terlihat sangat mencolok itu.


Tempat arena pacuan kuda yang Vanessa pilih adalah Jakarta International Equestrian Park yang ada di Jakarta Timur, yang membutuhkan waktu setengah jam untuk ke sana dari Jakarta Selatan.


Tapi bagi mobil Ferrari yang kecepatannya tidak bisa dibandingkan dengan mobil biasa, bisa mencapai Jakarta International Equestrian Park hanya dalam waktu 20 menit saja.


Apalagi Azam memiliki keahlian mengemudi mobil yang setara dengan dewa. Jadi mobil Ferrari itu seperti ikan yang berenang di air, sangat lancar dan mulus.


Meskipun sebenarnya mereka beruntung karena jalanan sedang tidak macet. Jika terjadi macet, maka mereka perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke Jakarta International Equestrian Park.


Azam sudah pernah melihat pacuan kuda di televisi, tapi belum secara langsung. Dan dia juga terkejut dengan bangunan di depannya yang memiliki desain yang sangat menarik.


"Kita sampai!" Vanessa tampak gembira setelah dia masuk ke dalam gedung.


"Ini cukup menarik," kata Azam sambil melihat sekitar yang memiliki desain yang sangat memukau.


"Menarik kan!? Ayo kita berkeliling sebentar." Vanessa menarik tangan Azam lagi dan mengajaknya berkeliling gedung sambil melihat-lihat.


"Vanessa, ada apa di sana?" Azam menunjuk ke suatu arah dan bertanya kepada Vanessa dengan penasaran.


Vanessa mengikuti arah yang ditunjuk oleh Azam. Dia mengangguk dan berkata, "Itu sekolah berkuda. Bukan sekolah sih, lebih tepatnya tempat untuk memberi pengajaran dan pelatihan tentang berkuda."


Tempat yang ditunjuk oleh Azam adalah sebuah area di mana ada banyak anak muda yang mengenakan setelan berkuda dan di sebelah mereka ada seekor kuda yang berdiri dengan tegak.

__ADS_1


Ternyata itu adalah area di mana pemula ataupun ahli diberi pengajaran dan pelatihan tentang berkuda dan biasanya yang mengikuti itu adalah anak-anak dari keluarga kaya.


"Azam, balapan sebentar lagi akan dimulai, ayo kita cari tempat duduk." Vanessa berkata kemudian dia mencari tempat duduk yang strategis.


"Di sana saja." Sekarang giliran Azam yang menarik tangan Vanessa dan pergi ke tempat duduk yang berada di tengah-tengah agar bisa melihat seluruh pemandangan.


Setelah beberapa menit, semua peserta berkuda sudah siap di tempat mereka masing-masing. Kemudian, pistol udara ditembakkan dan gerbang start dibuka.


Para penonton segera berteriak dan bersorak dengan keras. Mereka mendukung peserta yang mereka sukai, bahkan ada beberapa orang yang sampai bertaruh tentang siapa yang akan menjadi pemenangnya.


"Vanessa, kamu menikmati ini?" tanya Azam, karena tujuan mereka ke sini adalah agar Vanessa bisa mendapat ide baru lagi untuk novelnya.


"Jujur saja, kurang. Balapannya memang bagus, tapi aku rasa ada sesuatu yang kurang." Vanessa menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tunggu saja sebentar lagi, mungkin kamu akan puas." Azam mencoba menghibur Vanessa.


"Baiklah." Vanessa mengangguk dan terus menonton, mencoba untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa menarik perhatiannya.


Balapan kuda sudah berlangsung setengah jalan, tapi pada saat ini, peserta yang mengenakan kain berwarna biru muda di lengan kanannya terjatuh yang membuatnya disusul oleh peserta kain hijau.


Tapi Azam tidak berpikir demikian, dia yang sudah setara dengan pengamat veteran memiliki penglihatan yang sangat tajam dan akurat. Untuk sekilas, Azam bisa melihat ada sesuatu yang aneh.


"Peserta berkain hijau cepat sekali, dia sudah berada di posisi kedua." Vanessa berkata dengan suara terkejut saat melihat peserta berkain hijau.


Berkat perkataan Vanessa, kepala Azam menjadi tercerahkan. Jadi dia segera menoleh ke arah peserta berkain hijau yang sekarang sedang berada di posisi keempat.


Setelah beberapa saat fokus, Azam melihat ada sesuatu yang memantulkan cahaya matahari di sepatu si peserta berkain hijau. Azam berpikir sejenak, lalu dia tahu kalau itu adalah sebuah duri.


"Vanessa, biasanya jika penunggang kuda memakai duri, itu untuk apa?" tanya Azam kepada Vanessa dengan penasaran.


"Ah itu? Biasanya sih biar kudanya lebih cepat. Kamu tahu kan kalau kita sedang merasa terburu-buru, semuanya bisa selesai dengan cepat," jawab Vanessa atas pertanyaan dari Azam.


Azam menganggukkan kepalanya, lalu dia menyipitkan matanya karena peserta berkain hijau melakukan kecurangan dengan menyakiti kuda dengan duri di sepatunya agar kudanya bisa berlari dengan lebih cepat.


Azam sudah memutuskan untuk melaporkan hal ini kepada wasit nanti karena sekarang dia tidak ada bukti. Dia hanya perlu menunggu sampai balapan selesai dan langsung melapor ke wasit.

__ADS_1


"Azam, ada yang salah?" Vanessa bertanya kepada Azam karena melihatnya menyipitkan mata dengan serius.


"Vanessa, kamu mungkin bakal dapat ide yang bagus setelah ini." Azam berkata sambil tersenyum lebar.


"Ide yang bagus? Memangnya ada apa?" Vanessa memiringkan kepalanya karena tidak paham dengan perkataan Azam.


"Kamu tunggu saja sebentar lagi, aku jamin." Azam tersenyum dan tidak mengatakannya lebih lanjut.


"Baiklah." Vanessa menggembungkan pipinya dengan imut karena Azam tidak mengatakan apapun kepadanya.


"Imut." Itu adalah pemikiran Azam saat melihat Vanessa menggembungkan pipinya seperti hamster yang sedang makan.


Beberapa menit kemudian, balapan kuda akhirnya selesai. Seperti yang sudah diduga oleh Azam, peserta berkain hijau menjadi pemenangnya.


Sementara itu peserta berkain biru muda dibawa ke ruang medis dengan tandu dan kudanya juga segera dibawa ke kandang untuk diperiksa.


Para penonton bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah tanpa tahu kalau peserta berkain hijau telah melakukan kecurangan.


"Vanessa, tunggu di sini sebentar." Azam berkata kepada Vanessa, dia berdiri dan segera menuju ke seorang pria yang merupakan wasit.


Vanessa mengangguk dan menunggu dengan antusias apa yang akan dilakukan oleh Azam karena katanya itu akan membuatnya mendapatkan ide baru.


"Pak wasit." Azam berkata kepada wasit.


"Ya? Siapa kamu?" Wasit mengerutkan keningnya karena tidak mengenal Azam yang menghampirinya tiba-tiba.


"Peserta berkain hijau berbuat curang, dia-" Azam tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena diinterupsi oleh wasit.


"Ck, kamu cuma pengganggu, pergi dari sini!" Wasit berkata dengan kesal karena menurutnya Azam hanyalah pengganggu.


"Pak, tolong cek sepatu peserta berkain hijau. Bahkan kalau salah, tidak akan terjadi apa-apa." Azam berkata kepada wasit sambil mengangkat bahunya.


Wasit memikirkannya selama beberapa detik. Dia berpikir kalau perkataan Azam ada benarnya. Jika peserta berkain hijau curang, balapan kuda akan semakin ramai. Sebaliknya, jika salah, maka tidak akan terjadi apapun.


Jadi, wasit segera meminta beberapa orang untuk memeriksa sepatu yang dikenakan oleh peserta berkain hijau. Dan wasit menjadi semakin yakin kalau Azam tidak berbohong saat melihat ekspresi panik di wajah peserta berkain hijau.

__ADS_1


Kemudian, dia segera mengumumkan kalau peserta berkain hijau melakukan kecurangan dan tidak diizinkan untuk ikut balapan kuda di Jakarta International Equestrian Park selama satu bulan.


__ADS_2