
Waktu dimulainya pertemuan amal sudah dekat, sekarang sudah ada banyak orang yang duduk di kursinya masing-masing karena setiap kursi sudah diberi nama.
Alasannya agar orang berstatus tinggi atau pengusaha veteran bisa duduk di barisan depan sementara orang biasa atau pengusaha kecil duduk di barisan belakang.
Ini juga agar mudah membedakan status seseorang, dan untuk menghormati orang yang memiliki identitas tidak biasa. Memang sudah banyak acara yang menggunakan sistem tempat duduk seperti ini.
Azam dan Vanessa sedang ada di belakang panggung karena dipanggil oleh Harun. Mereka berbicara dengan Harun sebentar, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Ngomong-ngomong, apa ada aturan di pertemuan amal ini?" Azam bertanya kepada Vanessa yang duduk di sebelahnya.
Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak ada aturan khusus. Tapi kalau mau berdonasi, uangnya harus sudah ada. Jangan berkata mau donasi tapi malah tidak punya uang."
Aturan itu dibuat agar tidak ada orang yang berdonasi secara semena-mena hanya untuk menarik perhatian khalayak umum yang mana akan merusak dan mencoreng nama baik acara pertemuan amal.
Banyangkan saja kalau saat pertemuan amal ada seseorang yang memutuskan untuk berdonasi ke banyak tempat yang membutuhkan, tapi pada saat ditagih, dia tidak punya uangnya.
Hal itu akan menjadi lelucon yang sangat buruk dan orang-orang tidak akan percaya lagi kepada para pengusaha yang berdonasi di pertemuan amal.
"Yah, itu pasti, haha." Azam tertawa kecil karena dia membayangkan kalau ada orang yang berdonasi tapi tidak punya uangnya.
Mereka berdua berbincang-bincang sebentar, lalu pada saat ini terdengar suara bel di speaker mall yang menandakan kalau pertemuan amal akan dimulai.
Jadi Azam dan Vanessa berhenti berbincang, lalu mereka pindah tempat duduk ke samping panggung bersama dengan Harun dan orang dari Super Mall Dirta.
Lampu di sekitar panggung menjadi redup, kemudian area di tengah-tengah panggung disorot karena di sana ada seorang wanita yang memakai jas profesional sambil memegang mic di tangannya.
"Halo, selamat malam dan selamat datang, para pengusaha veteran dan orang penting yang terhormat! Kami sangat bangga dan terhormat atas kehadiran Anda di acara istimewa ini."
__ADS_1
"Keberadaan kalian di sini adalah inspirasi bagi kami semua, dan kami sangat menghargai kontribusi berharga yang telah kalian berikan dalam dunia bisnis, kesehatan, teknologi, dan masih banyak lagi."
"Terima kasih atas dedikasi dan pengalaman kalian yang telah membentuk masa depan negara kita, Negara Indonesia. Semoga acara ini menjadi momen berharga bagi kita semua."
Tepuk tangan bergema tidak hanya di area panggung tapi di seluruh mall yang sedang melihat jalannya acara pertemuan amal dan mendengar sambutan yang bagus dan meriah dari pembawa acara.
Saat tepuk tangan berhenti, pembawa acara berkata, "Sebelum kita mulai acaranya, mari kita persilakan Bapak Harun untuk naik ke atas panggung untuk memberi beberapa patah kata."
Harun menganggukkan kepalanya, dia merapikan jasnya, kemudian dia naik ke atas panggung. Lampu juga segera menyoroti Harun yang sedang berjalan.
Harun mengangkat mic di tangannya dan berkata, "Terima kasih semuanya. Saya mengadakan pertemuan amal karena melihat banyak situasi yang kurang mengenakan di sekitar kita."
Harun berpidato secara singkat, kemudian dia membungkukkan badannya sedikit dan turun dari panggung. Setelah itu pembawa acara segera memulai acara pertemuan amal.
Pertama, acara dimulai dengan menampilkan video yang berisi kondisi orang-orang kurang mampu atau orang yang sedang membutuhkan bantuan yang tidak bisa mereka selesaikan sendiri.
Setelah video selesai, pembawa acara segera mempersilakan para hadirin untuk berdonasi sesuai keinginan mereka kepada orang yang membutuhkan yang pertama, yaitu anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Banyak hadirin yang segera mengangkat tangan mereka dan mengatakan sejumlah uang yang mereka putuskan untuk didonasikan kepada anak-anak yatim piatu.
Sementara itu, banyak penonton yang bertepuk tangan entah itu yang melihat di tempat atau melihat di siaran langsung yang sudah dinyalakan dari awal tadi.
--- {Inilah pengusaha yang kita butuhkan. Mereka dengan senang hati mendonasikan sebagian harta mereka kepada orang yang membutuhkan.}
--- {Aku juga ingin membantu sebenarnya, tapi sayang sekali aku tidak punya uang yang menganggur. Aku cuma bisa membantu secara lisan.}
Setelah satu jam dimulai acaranya, sekarang giliran Panti Asuhan Matahari. Azam segera naik ke atas panggung sambil membawa mic, kemudian dia mulai berbicara.
__ADS_1
"Selamat malam, orang-orang yang hebat. Aku adalah salah satu anak yang berasal dari Panti Asuhan Matahari. Situasi panti asuhan sekarang cukup memprihatinkan karena bangunannya yang rusak."
"Panti Asuhan Matahari menampung cukup banyak anak-anak yatim piatu, namun bangunannya tidak mencukupi dan banyak yang rusak."
"Kami bisa bertahan hidup karena uang yang dikirimkan oleh anak-anak panti yang sudah bekerja. Tapi itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tidak, bahkan terkadang itu kurang."
"Jadi di sini aku memohon dengan tulus kepada kalian untuk mengulurkan tangan kalian kepada Panti Asuhan Matahari yang berada dalam kondisi tidak baik."
Azam membungkukkan badannya dengan tulus setelah mengatakan hal itu karena bagi dirinya, Panti Asuhan Matahari adalah segalanya karena itu adalah tempat dia dibesarkan dan banyak kenangan yang terjadi di sana.
Penjelasan Azam membuat orang-orang yang mendengarnya tersentuh karena ini menyangkut panti asuhan dan anak-anak yatim piatu di sana.
Tapi pada saat ini, pembawa acara berkata, "Tolong bangun, Azam. Ada seseorang di sana yang ingin bertanya kepadamu."
Azam bangun setelah mendengar perkataan dari pembawa acara, kemudian dia melihat ada seorang wanita berumur yang memiliki kulit terawat di kursi paling depan yang mengangkat tangan kanannya.
"Namamu Azam? Aku akan berdonasi ke Panti Asuhan Matahari. Tapi sebelum itu, aku mau bertanya. Apa tujuanmu setelah mendapat bantuan untuk membangun panti asuhan?" Wanita itu bertanya kepada Azam.
Azam menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan serius. "Aku akan membuat anak-anak panti asuhan menjadi bahagia. Dulu, kami bahagia karena kebersamaan. Tapi sekarang aku akan menambah kebahagiaan itu dengan menambah fasilitas yang ada."
"Menambah fasilitas? Apa kamu ingin meminta donasi lagi?" tanya wanita itu dengan nada tertarik.
"Tentu saja tidak, aku akan malu jika melakukan hal itu. Untuk persiapan menambah fasilitas akan menggunakan uangku sendiri," kata Azam sambil tersenyum dengan percaya diri.
"Ho? Sepertinya kamu sangat percaya diri. Baiklah, aku akan berdonasi ke Panti Asuhan Matahari sebanyak 200 juta, tentu dengan satu syarat." Wanita itu tersenyum.
"Tolong katakan." Meskipun Azam gembira dengan jumlah uang donasi yang banyak, tapi dia lebih penasaran dengan syarat yang akan diberikan.
__ADS_1
"Hahaha, nanti kamu temui aku." Wanita itu tertawa, kemudian dia berkata kepada Azam.