
Masih di hari yang sama, Azam sedang mengangkut barang-barang syuting dan lainnya karena tidak ada orang yang menganggur selain dirinya.
Azam tidak keberatan dengan hal ini, justru dia gembira karena dia ditugaskan untuk mengangkut barang-barang syuting ke tenda para artis.
Hal ini membuat Azam bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Karena tidak hanya Gian, tapi Azam perlu menyelidiki artis lain agar bisa mendapat banyak bukti.
Siapa tahu ada artis yang tahu perbuatan Gian tapi tidak menasihati atau menegurnya. Jika ketahuan, artis itu bisa saja ikut terlibat apalagi mereka sedang syuting film.
"Oh, itu kamu. Kalau tidak salah, namamu Azam?" kata Gian sambil menyentuh dagunya saat dia keluar dan melihat Azam sedang menaruh barang-barang.
"Ah, halo. Aku Azam," kata Azam sambil tersenyum sopan. Meskipun dia sedikit terkejut karena Gian mengingat namanya.
"Kalau begitu, tolong ambilkan aku tas warna biru lagi, ya." Gian melemparkan kunci mobilnya kepada Azam dan meminta Azam untuk mengambilkan tas warna biru muda seperti sebelumnya.
"Siap!" Azam menangkap kunci mobil yang dilempar oleh Gian, lalu dia berkata sambil tersenyum karena dia bisa melihat kondisi mobil Gian lagi.
Jadi, Azam segera berlari dengan cepat ke area parkir yang membuat Gian tertegun. Lalu Gian tertawa dan berpikir kalau Azam adalah orang yang sangat bersemangat dan juga cekatan.
"Tas warna birunya mana?" Azam sudah membuka pintu mobil, tapi tidak bisa melihat adanya tas warna biru muda yang sudah pernah dia lihat sebelumnya.
Azam mencarinya sebentar, lalu dia berpikir kalau itu ada di bagasi, jadi Azam segera membuka bagasi. Tapi, Azam terkejut saat melihat isi dari bagasi mobil milik Gian.
Karena isinya adalah sesuatu yang memalukan dan itu adalah pakaian dalam milik seorang perempuan. Meskipun masih baru, tapi Azam tetap saja terkejut karena Gian itu laki-laki.
"Kenapa Gian menyimpan ini? Tidak mungkin dia memakainya kan?" Azam berpikir seperti itu, lalu dia tertawa. Dia tahu kalau pakaian dalam itu pasti untuk gadis yang bersama Gian sebelumnya.
Azam segera memotret itu, bukan karena Azam itu orang mesum, tapi karena dia berpikir kalau foto itu bisa saja dijadikan sebagai bukti. Kalau tidak ya tinggal hapus saja, tidak mungkin Azam akan melakukan sesuatu dengan foto itu.
Setelah itu, Azam mengambil tas warna biru mudanya, menutup pintu bagasi mobil, dan kembali ke lokasi syuting dengan berlari sangat cepat.
__ADS_1
"Woah, kamu cepat sekali. Kerja bagus." Gian menerima tas berwarna biru itu, lalu dia memuji Azam sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Terima kasih. Apakah ada yang bisa aku bantu lagi?" tanya Azam sambil tersenyum sopan.
"Aku tidak, tapi tidak tahu temanku. Tunggu sebentar." Gian menyentuh dagunya, lalu dia masuk ke dalam tenda. Setelah beberapa saat, Gian keluar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku pergi dulu," angguk Azam yang sedikit kecewa karena dia tidak bisa dekat dengan para artis untuk mengorek informasi dari mereka.
"Tunggu sebentar, kamu ada waktu nanti sore?" Gian menghentikan Azam yang akan pergi.
Azam menghentikan langkahnya, dia berbalik dan bertanya kepada Gian. "Ah, iya. Aku bebas nanti sore. Apa kamu butuh sesuatu?"
Azam bertanya dengan suara tenang dan sopan tapi di dalam harinya dia cukup gembira karena berpikir kalau Gian pasti membutuhkan sesuatu. Jadi dirinya bisa mendapat informasi dengan ini.
"Ya. Manajerku tidak bisa datang karena ada urusan. Kamu mau jadi supirku untuk hari ini? Santai, bakal aku bayar kok." Gian berkata dengan cepat karena takut Azam menolaknya.
"Supir? Meskipun aku bisa nyetir mobil, tapi aku masih belum punya SIM." Azam berkata dengan ragu-ragu. Meskipun dia ingin menerimanya, tapi dia takut kalau Gian akan meminta dirinya untuk menunjukkan SIM miliknya.
"Kalau begitu oke." Azam tersebut dan mengangguk. Dia menerima pekerjaan sementara ini karena bisa mendapat informasi dari Gian.
"Bagus. Temui aku saat sore, setelah pekerjaan ini selesai," angguk Gian, lalu dia masuk ke dalam tenda.
Azam menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan-lahan. Lalu dia kembali ke posisi semula tempat dia bekerja yaitu di perbatasan antara lokasi syuting dengan area umum.
...----------------...
"Gian, sama siapa kamu berbicara tadi?" tanya seorang artis pria yang lebih tua dari Gian.
"Ah, Mas Candra. Tadi sama penjaga, aku menawarinya untuk jadi supir sementara. Mas juga tahu kalau manajerku tidak bisa datang," kata Gian sambil meletakan tas warna birunya.
__ADS_1
"Oh, penjaga. Aku kira siapa." Artis yang bernama Candra itu mengangkat bahunya.
"Ya. Mas Candra nanti langsung ke hotel? Atau mau ke mana dulu?" tanya Gian kepada Candra setelah dia duduk di kursi.
"Langsung ke hotel. Aku ada banyak kerjaan kemarin, jadi hari ini aku pakai untuk istirahat. Kamu sendiri mau langsung ke tempatmu?" Giliran Candra yang bertanya kepada Gian.
"Hehe, iya Mas. Aku mau langsung ke tempatku." Gian tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Candra melirik Gian dan berkata, "Jangan terlalu sering, nanti kamu bakal ketahuan. Kalau ketahuan, kariermu sebagai artis bisa saja berakhir."
"Siap Mas!" Gian tersenyum dan mengangguk. Meskipun di dalam hatinya dia tidak terlalu peduli dengan perkataan Candra.
Gian mengambil sesuatu dari dalam tas birunya, itu adalah sebuah foto. Di dalam foto itu ada seorang gadis yang sangat mirip dengan gadis yang bersama Gian. Tapi ada perbedaannya, yaitu ada tahi lalat di pipinya.
"Monica..," gumam Gian.
...----------------...
Hari sudah sore, Azam sudah berhenti pakaiannya menjadi kemeja berwarna putih karena kemeja hitamnya penuh dengan keringat akibat suhu udara di Jakarta Selatan yang sangat panas.
Pekerjaannya hari ini sangat membosankan karena tidak ada orang yang bisa diajak berbicara. Sandra hanya datang sekali lalu pergi lagi, sedangkan Vanessa juga sedang menulis novelnya di apartemen.
Azam mengambil tas ranselnya, lalu dia pergi ke tenda istirahat untuk pada artis. Kebetulan sekali Gian baru keluar dari tenda dan langsung memberikan kunci mobilnya kepada Azam.
"Mas Gian, kita mau ke mana dulu?" tanya Azam sambil membukakan pintu belakang untuk Gian.
Azam perlu berperilaku dengan sopan untuk membangun hubungan yang baik dengan Gian. Jika ini terjadi, maka dia juga bisa mendapat beberapa informasi dari mulut Gian.
"Ke alamat ini." Gian mengatakan sebuah alamat dan Azam segera mencarinya karena dia belum pernah mendengar alamat itu.
__ADS_1
Ternyata itu adalah sebuah area apartemen normal, bukan yang mewah di area yang sedikit jauh dari pusat. Azam mengangguk dan segera menyalakan mobil, lalu dia menginjak pedal gas dan melaju menuju lokasi.