
Beberapa waktu lalu, pemerintah Jakarta Selatan mengunggah berita yang berisi kalau polisi menangkap beberapa pengguna dan pecandu narkoba di wilayah Jakarta Selatan.
Para polisi segera membawa mereka ke kantor polisi untuk diinterogasi. Tapi mereka sama sekali tidak memberikan jawaban dari mana mereka bisa mendapatkan narkoba yang mereka pakai.
Oleh karena itu pemerintah menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk berhati-hati karena pemerintah belum menemukan si pengedar narkoba.
Hal ini membuat Fiota Grup melihat peluang untuk mendapat banyak keuntungan. Yaitu dengan mencari tahu orang atau kelompok yang mengedarkan narkoba.
"Karena Fiota Grup adalah grup media, kami pasti punya banyak kenalan. Jadi setelah beberapa kali usaha, kami menemukan petunjuk," jelas Elina kepada Azam.
"Dan petunjuk yang kamu maksud adalah Magic KTV kan?" tanya Azam kepada Elina.
"Seratus persen untukmu," kata Elina sambil menganggukkan kepalanya.
Azam menyentuh dagunya dan berpikir apakah masalah narkoba ini ada sangkut-pautnya dengan masalah penggelapan dana yang dilakukan oleh Yasir.
"Jadi, kenapa kamu mau tahu?" tanya Elina yang dari tadi dia sangat penasaran mengapa Azam ingin tahu apa yang sedang dia selidiki.
"Yah, ini juga masalah penting, jadi dengarkan baik-baik." Azam menjelaskan kepada Elina kalau dia menduga Yasir memiliki kaitan dengan masalah narkoba ini.
Elina mengepalkan kedua tangannya karena dia merasa geram saat mendengar penjelasan Azam. Meskipun ini masih spekulasi belaka, tapi tetap saja Elina hampir tidak bisa menahan amarahnya.
Kemudian, dia juga marah karena Yasir dan Agus mempunyai wanita simpanan yang sama. Padahal Agus sendiri mempunyai istri. Kalau Yasir, dia memang sudah bercerai jadi masih bisa dimaklumi.
"Yah, jangan marah. Bagi orang miskin, mereka bakal melakukan apa saja demi uang, kamu tahu?" Azam tidak terkejut dengan reaksi Elina saat mendengar penjelasannya.
Azam juga benar. Bagi orang miskin, mereka akan melakukan segala cara agar bisa mendapat uang. Apalagi mereka hidup di kota Jakarta, sebuah kota yang memiliki kehidupan yang sangat keras.
Memang miris jika dilihat, tapi apa daya karena mereka orang miskin yang berpendidikan rendah karena tidak punya biaya untuk bersekolah sampai ke tingkatan yang tinggi hanya bisa mengandalkan tubuh mereka.
Sama seperti Azam, dia bekerja paruh waktu dengan fisiknya. Meskipun Azam memang pintar, tapi dia tidak punya uang untuk mendukung ide-idenya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
"Aku tahu. Tapi tetap saja, bukankah ada cara lain selain menjual diri?" Elina menarik napas dalam-dalam dan berkata kepada Azam.
__ADS_1
"Ya jelas ada, tapi lama. Mereka butuh uang untuk melunasi hutang, sudah jelas mereka bakal memilih yang cepat, kan?" Azam mendesah dan membalas perkataan Elina.
Elina terdiam saat mendengar perkataan Azam, meskipun dia tahu kalau Azam memang benar, tapi sebagai seorang wanita, bagaimana bisa dia diam saat melihat wanita lain menjual diri mereka demi uang.
Tapi pada akhirnya dia hanya menghembuskan napas panjang karena tidak bisa melakukan apapun dan percuma saja mengasihani orang lain yang tidak dikenal.
"Yah, cukup sampai di sini. Kamu harus segera pergi, kan? Aku tidak mau menyita waktumu," kata Azam sambil membereskan piring dan alat makan lainnya.
"Ah, benar. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa!" Elina memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian dia berdiri dan melambaikan tangannya sebelum pergi.
Azam tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, dia segera pergi ke kasir untuk membayar tagihan. Setelah itu dia kembali ke apartemen karena dia memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan besok.
"Azam, kamu sudah pulang?" Vanessa yang sedang menulis novel di ruang keluarga melihat Azam pulang.
"Ya, aku sudah tidak ada kegiatan lagi." Azam mengangguk, dia melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu. Kemudian dia masuk dan duduk di sofa.
"Kamu siap untuk nanti malam?" tanya Vanessa sambil menulis novelnya.
Azam mengangguk, lalu dia bertanya, "Ya, aku siap. Lokasinya di Super Mall Dirta, lantai satu kan?"
"Oke." Azam mengangguk, lalu dia berbaring di atas sofa sambi melihat ponselnya.
Azam bermain dengan ponselnya sampai bosan, kemudian tanpa dia sadari matanya mulai menutup dan dia ketiduran dengan ponselnya yang jatuh ke dadanya.
Vanessa yang melihat itu hanya bisa tersenyum, kemudian dia menurunkan suhu AC karena udaranya sedang panas-panasnya, setelah itu dia melanjutkan menulis novel.
...----------------...
Jam 6 sore, Azam dan Vanessa sudah bersiap diri karena mereka akan pergi ke pertemuan amal yang akan diadakan di Super Mall Dirta dua jam lagi.
Azam mengenakan setelan jas serba hitam, begitu juga dengan Vanessa yang mengenakan gaun selutut yang berwarna hitam juga.
"Azam, sudah siap?" tanya Vanessa kepada Azam yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
__ADS_1
"Itu pertanyaanku, Vanessa." Azam berkata dengan nada tidak berdaya karena dia yang seharusnya mengajukan pertanyaan itu kepada Vanessa.
"Hehe, maaf." Vanessa tersenyum karena tahu kesalahannya karena berdandan terlalu lama.
Azam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mengambil kunci mobil Vanessa di atas meja, kemudian mereka berdua segera turun ke lantai basement yang merupakan area parkir pribadi.
Azam membukakan pintu untuk Vanessa, kemudian dia juga masuk ke dalam mobil. Setelah menyalakan mobil, Azam segera menginjak pedal gas dan pergi menuju Super Mall Dirta.
Meskipun sudah malam, tapi Jakarta tetaplah Jakarta. Jalan utama penuh dengan kendaraan yang menyebabkan macet. Azam dan Vanessa juga merasa bosan, mereka memutar musik untuk mengatasi kebosanan mereka.
Azam sedang duduk sambil memegangi kemudi mobil dengan tenang, memandangi gedung-gedung tinggi di kejauhan dengan cahaya yang beragam warnanya.
"Ayahku sudah datang, tapi para tamu juga masih sedikit, kita bisa santai," kata Vanessa sambil melihat ponselnya yang merupakan chat dari Harun.
"Oke." Azam mengangguk.
Setelah setengah jam, akhirnya mereka sampai di Super Mall Dirta. Setelah memarkirkan mobil, Azam dan Vanessa keluar dari sana dan segera berjalan menuju area acara.
Pertemuan amal diadakan di lantai satu dan di sana sudah ada panggung yang megah. Para tamu bisa duduk di kursi yang sudah disediakan, lalu orang lain yang penasaran bisa melihat dari samping atau dari lantai atas.
Pertemuan amal ini juga akan disiarkan langsung karena memang seperti itu biasanya. Agar orang-orang memiliki kesan yang baik terhadap perusahaan atau organisasi yang menyumbang harta mereka.
"Kita duduk dulu di sana." Vanessa menarik tangan Azam menuju tempat duduk di dekat panggung yang merupakan sebuah toko teh.
"Halo, apa yang ingin kalian pesan?" Seorang pelayan tersenyum lembut menyambut mereka berdua sambil memberikan menu toko.
Vanessa mendorong menu ke arah Azam dan berkata, "Azam, teh dan makanan ringan di sini sangat enak, aku merekomendasikannya. Jadi, jangan ragu untuk memesan."
"Oh? Oke, aku lihat dulu." Azam mengangkat alisnya saat Vanessa berkata hal itu, kemudian dia mengambil menunya dan melihat apa yang disediakan oleh toko teh itu.
Kemudian dia segera memesan apa yang menurutnya enak, dan Vanessa juga segera memesan sesuatu. Lalu mereka berbincang-bincang menunggu acara dimulai.
Jangan melihat mereka berdua yang memesan dengan mudah, harga yang harus dibayar cukup mahal sampai seratus ribu hanya untuk secangkir teh dan beberapa makanan ringan.
__ADS_1
Tapi sudah jelas, itu hanyalah sejumlah kecil yang untuk Azam yang sudah punya banyak uang dan Vanessa yang merupakan anak dari keluarga kaya.