Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Sekretaris Deva dan Petunjuk Baru dari Agus (Revisi)


__ADS_3

"Pak Deva, apa tidak apa-apa memberikan kartu akses kepadanya?" Elina masuk ke dalam kantor dan bertanya kepada Deva dengan ragu-ragu.


Dia agak khawatir karena Fiota Grup adalah perusahaan media yang pastinya menyimpan banyak informasi. Dia takut kalau Azam akan mendengar atau melihat sepotong informasi dan malah menyebarkannya ke publik.


Sebagai seorang sekretaris dari pemilik perusahaan, tentu saja Elina khawatir, meskipun dia baru bekerja belum sampai dua tahun di sini. Itu artinya Elina sangat menghargai pekerjaan ini.


"Oh, dia? Jangan khawatir." Deva tersenyum penuh arti, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.


"Bisakah saya tahu kenapa?" Elina menjadi bingung karena Deva sama sekali tidak keberatan dengan memberikan kartu akses kepada Azam.


"Yah, pertama, dia itu teman putriku. Kedua, dia ini yatim piatu yang sedang butuh uang. Dan ketiga, kamu tahu Vanu, kan? Informasi tentangnya disediakan oleh Azam," kata Deva tanpa mengalihkan pandangannya.


"Vanu!?" Elina sangat terkejut dengan perkataan terakhir dari Deva. Dia juga sudah membaca informasi yang diberikan oleh Deva kalau Vanu terlibat dengan para wanita kaya yang merupakan istri dari orang-orang penting.


Meskipun informasi ini belum diungkapkan ke publik, tapi sudah ada beberapa orang tinggi yang mengetahui hal ini. Reaksi mereka sama, mereka tidak peduli dengan Vanu, tapi mereka ingin tahu siapa yang mendapat informasi itu.


Elina tidak penasaran karena dia berpikir kalau informasi ini didapatkan oleh Ari dan Aldi, yang bekerja sebagai senjata rahasia Fiota Grup.


Tapi, betapa mengejutkannya kalau dia salah dan orang yang mendapatkan informasi itu adalah Azam, seorang remaja muda yang baru saja masuk ke universitas.


"Haha, kau terkejut kan? Aku memang belum percaya karakternya, tapi aku percaya kemampuannya." Deva tertawa, kemudian dia menjadi serius karena ada pekerjaan yang cukup merepotkan.


Elina juga menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari kantor agar tidak mengganggu konsentrasi Deva. Dia menepuk dadanya karena dia masih belum pulih dari keterkejutannya.


...----------------...


Sementara itu, Azam sedang bingung ke mana dia harus pergi. Yasir sedang bekerja di kantornya sehingga Azam tidak bisa masuk ke sana atau mendekati kantornya.


Meskipun Azam sudah mendapatkan kartu akses dari Deva, tapi itu adalah kartu akses umum yang biasanya digunakan oleh para karyawan biasa yang mana masih ada beberapa tempat yang tidak bisa diakses.


Yasir memiliki kantor di lantai sembilan yang mana tempat itu adalah lantai khusus para petinggi perusahaan sehingga Azam tidak bisa berada di lantai itu tanpa urusan yang jelas.


Jadi, Azam memutuskan untuk menjelajahi setiap lantai. Dia berpikir kalau harus menghapal struktur bangunan perusahaan agar dia bisa kabur jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Sistem, cari uang tanpa pemilik di lantai ini," kata Azam yang sekarang sedang berada di lantai 5, sebuah area untuk menghubungi informan atau narasumber terkait suatu peristiwa.


[Ditemukan uang sebesar 50 ribu rupiah dalam jarak 23 meter dari Host.]


[Ditemukan uang sebesar 20 ribu rupiah dalam jarak 17 meter dari Host.]


[Ditemukan uang sebesar 10 ribu rupiah dalam jarak 10 meter dari Host.]


"Oho? Ada uang tanpa pemilik di lantai ini ya," batin Azam. Dia tidak terburu-buru dan hanya berjalan menuju lokasi uang tanpa pemilik terdekat.


Lokasi yang paling jauh adalah sebuah troli alat-alat kebersihan yang ada di dekat toilet. Azam segera mengambil uang pecahan 50 ribu rupiah di bawah ember yang berisi air bersih.


Tapi, pada saat ini dia melihat seorang pria paruh baya gemuk yang dia lihat di area parkir hotel sebelumnya. Pria itu adalah Agus, yang sedang berjalan sambil bermain dengan ponselnya.


"Ada Agus? Sistem, aku mencintaimu!" Azam menyeringai, karena berpikir kalau Sistem menuntunnya ke sini agar dia bisa bertemu dengan Agus meskipun itu tidak benar dan ini hanyalah kebetulan.


[Sama-sama, Sistem juga mencintai Host.] Sistem mengatakan sesuatu yang membuat Azam hampir terjatuh. Alasannya adalah karena Sistem mengatakan itu dengan suara datar.


Azam segera pergi toilet dan masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan mengunci pintunya. Dia bergerak dengan cepat sambil melindungi wajahnya agar tidak bisa dilihat oleh Agus.


"Hm, karena ini toilet, aku akan merekam suara saja." Azam segera menggunakan rekaman suara di ponselnya karena dia sedang berada di toilet.


Sementara itu di depan cermin, Agus sedang mencuci tangan dan mukanya yang berminyak. Dia menghembuskan napas panjang dan wajahnya menunjukkan kelelahan tapi matanya menunjukkan kegembiraan.


"Tubuhku sudah tua, tidak bisa melakukan banyak gerakan. Tapi yah, wanita yang di bawa Pak Yasir hebat juga." Agus berkata dengan suara rendah sambil menunjukkan senyum mesum.


Meskipun dia mengatakannya dengan suara rendah, tapi ini adalah toilet di mana sebuah suara yang keluar akan menggema. Jadi Azam bisa merekam suara Agus dengan lancar jaya.


"Nanti malam ada kumpul di ktv biasa, aku harus mencari alasan yang bagus biar istriku tidak curiga." Agus menghembuskan napas panjang, kemudian dia keluar dari toilet.


"Ktv, ya. Aku bakal dapat jackpot nanti malam." Azam menyeringai karena berpikir kalau akan mendapatkan informasi tambahan di ktv nanti malam.


Dia juga segera memeriksa informasi dasar tentang Agus yang merupakan salah satu petinggi Perusahaan Fiota Grup. Memiliki sebuah keluarga beranggotakan empat orang dengan istri yang lumayan cantik.

__ADS_1


Agus hidup di apartemen yang cukup mewah, meskipun belum mencapai status tinggi seperti generasi kaya atau konglomerat, tapi setidaknya dia tidak perlu khawatir dengan uang atau harta.


"Orang sialan ini. Dia punya istri yang lumayan cantik, tapi dia selingkuh? Memang benar kalau lingkaran pertemanan sangat berpengaruh." Azam menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa daya.


Dia berpikir kalau Agus pasti dihasut oleh teman-temannya untuk melakukan sesuatu yang diluar batas. Karena dia sudah punya istri cantik sehingga tidak mungkin selingkuh karena keinginannya sendiri.


[Host, jangan menjadi orang seperti mereka yang bermain wanita dengan bebas. Takutnya Host akan terkena penyakit HIV yang tidak ada obatnya.]


"Aku tahu itu, lagipula aku tidak mau berhubungan dengan wanita asing." Azam menghela napas dan membalas perkataan Sistem.


Siapa yang tidak mau berhubungan dengan wanita cantik? Sebagai seorang pria, Azam tentu saja mau. Tapi bukan berarti kalau dirinya dikuasai oleh nafsu dan terus memikirkan wanita.


Yang menjadi target utama Azam adalah uang dan kekayaan karena dia sedang butuh untuk membangun ulang panti asuhan.


Kemudian karena jika Azam punya banyak uang, otomatis akan ada banyak wanita yang mendekat karena zaman sekarang banyak wanita yang seperti itu.


"Harus kuakui, memang tidak semua wanita seperti itu, tapi ada banyak. Apalagi ini adalah Kota Jakarta," pikir Azam yang keluar dari toilet setelah menyimpan ponselnya.


[Jangan khawatir, Host. Mungkin saja Host bisa memindai apakah seseorang memiliki niat baik atau tidak kepada Host menggunakan Sistem.]


"Benarkah? Tapi pastinya aku butuh level yang tinggi kan?" Azam tersenyum. Dia percaya apa yang dikatakan oleh Sistem, tapi tentu saja tidak semudah itu mendapatkan keuntungan.


[Begitulah, Sistem sendiri tidak tahu berapa level pastinya. Tapi yang penting, Host harus berusaha dengan keras untuk naik ke level yang lebih tinggi.]


"Aku tahu, itu akan membuka fitur baru, kan?" Azam tersenyum dan membalas perkataan Sistem di hatinya.


[Tentu saja.]


Azam berjalan-jalan di lantai 5 yang merupakan lantai untuk karyawan mengedit informasi dari wartawan atau informan menjadi sebuah berita untuk dibaca, dilihat, atau ditonton oleh publik.


Tapi pada saat ini, Azam menghentikan langkahnya karena dia melihat kalau sekretaris Deva, Elina, menunggu di depan pintu lift sambil membawa tas kerja di tangannya.


"Dia mau pulang? Tapi ini masih pagi." Azam bingung, tapi dia tidak bertanya karena hubungan mereka tidak dekat dan baru saja bertemu beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Kemudian Azam berkeliling lagi sampai dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Lalu dia keluar dari gedung dan kembali ke apartemen.


__ADS_2