
Saat giliran Panti Asuhan Matahari, banyak pengusaha yang mendonasikan sebagain uang mereka karena merasa kasihan dengan anak-anak yatim piatu di panti asuhan yang mempunyai kehidupan yang serba kekurangan.
Meskipun tidak sebanyak wanita tadi yang berdonasi sebanyak 100 juta rupiah, tapi donasi tetaplah donasi. Azam sangat gembira dengan donasi yang terus bertambah.
Karena dengan uang sebanyak itu dia bisa membangun ulang bangunan Panti Asuhan Matahari dengan segera agar anak-anak panti bisa memiliki tempat tinggal yang nyaman dan aman.
Keinginan terbesar di dalam hati Azam adalah menyejahterakan anak-anak di Panti Asuhan Matahari agar mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi.
Apalagi jika ini menyangkut masalah kesehatan dan pendidikan yang sangat penting. Anak-anak harus bersekolah dengan baik dan memiliki tubuh yang bugar juga.
Kemudian, pertemuan amal selesai pada jam 10 malam. Harun dan Vanessa pergi untuk mengantar para tamu yang sudah menyempatkan diri untuk hadir.
Sementara itu Azam sedang berada di restoran di lantai satu bersama dengan wanita yang berdonasi 100 juta rupiah kepada Panti Asuhan Matahari.
"Pertama, perkenalkan, namaku Sandra Yanna." Wanita itu mengulurkan tangannya, kemudian mereka berdua berjabat tangan setelah Azam memperkenalkan diri juga.
"Tunggu, Yanna?" Azam mengerutkan keningnya karena tahu sebuah nama keluarga dan perusahaan 'Yanna' karena itu cukup terkenal.
"Ya, Yanna. Seperti yang kamu pikirkan" Sandra tersenyum dan mengangguk.
Yanna, adalah sebuah nama keluarga sekaligus perusahaan kosmetik yang sudah masuk ke dalam kancah internasional karena produk mereka yang selalu menggunakan bahan-bahan alami.
Perusahaan Yanna memiliki kualitas produk yang sangat tinggi tapi tidak bisa bertahan lama, karena semuanya menggunakan bahan-bahan alami. Tapi meskipun begitu, semua produknya selalu terjual habis.
Bahkan beberapa kali, pabrik kosmetik milik Perusahaan Yanna harus bekerja secara ekstra karena permintaan dari orang-orang yang menginginkan kosmetik milik Perusahaan Yanna.
Azam mengerutkan keningnya berpikir kalau dia tidak pernah terlibat dalam bidang kosmetik. Jadi dia benar-benar penasaran alasan mengapa Sandra memanggil dirinya untuk berbicara.
"Kamu penasaran ya? Aku ingin memberimu sebuah pekerjaan, dan alasannya adalah karena wajahmu yang tampan." Sandra berkata sambil tersenyum yang membuat Azam bergidik.
__ADS_1
"A-apa? Tolong jangan beri aku pekerjaan yang aneh!" Azam berpikir kalau Sandra akan membuatnya bekerja untuk melayani orang-orang kaya.
Sandra menepuk dahinya saat mendengar perkataan Azam. Tapi dia juga berpikir kalau kata-kata yang dia ucapkan barusan memang terdengar sangat ambigu.
"Jangan khawatir, bukan tentang itu. Dengarkan aku, jika kamu menerima pekerjaan ini, bayarannya cukup besar." Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia mulai menjelaskan.
Azam kembali serius dan dja mendengarkan penjelasan dari Sandra. Ternyata, perusahaan kosmetik Yanna sedang berada dalam situasi yang cukup rumit.
Alasannya adalah karena seorang model kecantikan yang sudah dikontrak oleh Perusahaan Yanna Cosmetics membatalkan kontraknya secara tiba-tiba yang membuat mereka tidak punya model kecantikan.
Jadi Sandra memberi dua pilihan kepada Azam yang bisa dipilih dengan bebas. Pertama adalah Azam yang menjadi model kecantikan, dan kedua adalah Azam mencari model kecantikan.
Tanpa pikir panjang, Azam pun berkata, "Aku pilih yang kedua." Azam berkata dengan sangat serius dan tegas yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.
"Jangan bercanda, aku tidak mau jadi model kecantikan," pikir Azam karena itu akan sangat membebani dirinya karena dirinya harus selalu tampil cantik.
"Tapi, aku tidak bisa melakukan pekerjaan ini sekarang." Azam tersenyum kaku, lalu dia berkata dengan nada serius kepada Sandra.
Sandra tersenyum, lalu dia berkata, "Ya, aku tahu. Baru saja aku memeriksa informasi dirimu kalau sekarang kamu sedang melakukan pekerjaan dari Deva, kan?"
Azam melebarkan matanya, dia segera bertanya, "Bagaimana Anda tahu? Masalahnya Pak Deva sudah mengatakan kalau ini rahasia."
"Hahaha! Aku dan Deva itu rekan bisnis. Yah, lebih tepatnya keluarga kami yang berteman," kata Sandra setelah tertawa lagi.
Setelah itu, Sandra bertanya kapan Azam bisa melakukan pekerjaan yang dia berikan dan Azam menjawab sekitar satu minggu lagi karena dia sudah memiliki petunjuk tentang masalah Yasir.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Sandra pamit undur diri. Dia keluar dari restoran setelah membayar makanannya, kemudian dia pergi dengan beberapa pengawal yang sudah berjaga di luar pintu.
"Pekerjaan lagi ya. Tapi bukankah ini bagus? Aku jadi bisa terus menggunakan Sistem agar bisa naik level. Di sisi lain, bayarannya juga tidak bisa aku tolak," batin Azam sambil tersenyum cerah.
__ADS_1
Tapi ada keuntungan lain yang tida disadari oleh Azam, dan itu adalah sebuah relasi. Setelah Azam menerima Sistem Pemindai, dia terus-menerus berhubungan dengan orang-orang penting.
Mulai dari Devina dan keluarganya, Vanessa dan keluarganya, Keluarga Brijaya, dan sekarang adalah Keluarga Yanna. Jika hal ini diketahui oleh masyarakat, bisa dipastikan kalau mereka akan heboh.
Karena Azam adalah seorang remaja yang baru masuk universitas namun sudah memiliki rekan dari empat keluarga besar yang dua diantaranya merupakan keluarga semi internasional.
"Ayo pulang." Azam mengesampingkan pikiran yang tidak berguna, kemudian dia kembali ke area panggung karena dia belum berterima kasih kepada Harun.
"Oh, Azam!" Harun, yang sedang berbicara dengan manajer Super Mall Dirta segera melihat Azam.
"Pak Harun, terima kasih untuk semuanya!" Azam membungkukkan badannya karena dia sangat berterima kasih kepada Harun.
Jika Harun tidak setuju mengadakan acara pertemuan amal, maka Azam harus mencari dana pembangunan secara mandiri. Mungkin dia akan mendatangi beberapa toko atau restoran untuk meminta donasi.
Tapi hal tersebut sangat sulit. Pasti banyak tempat yang tidak mau menyumbang, bahkan jika ada, mereka tidak akan menyumbang banyak seperti yang dilakukan oleh Ratu dan pengusaha lainnya.
"Hahaha, sama-sama. Pertemuan amal ini juga saling menguntungkan satu sama lain," kata Harun setelah tertawa sebentar.
Setelah jeda, Harun melanjutkan, "Uangnya akan ditransfer ke rekening bank Panti Asuhan Matahari. Jadi kamu bisa menghubungi pengurus di sana agar tidak kaget saat melihat ada banyak uang yang masuk."
"Pasti, aku akan menghubungi Kakek Adeng setelah aku kembali," angguk Azam sambil tersenyum kecil.
Setelah mereka berbincang-bincang sebentar, Azam pamit undur diri bersama dengan Vanessa. Mereka pergi ke basement yang merupakan area parkir, masuk ke dalam mobil, dan segera kembali ke apartemen.
"Ah, aku lelah!" Azam berkata setelah membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Aku juga." Vanessa berbaring di sofa yang lain.
Setelah beberapa menit, tanpa mereka sadari, mereka malah ketiduran di atas sofa. Tidur mereka sangat nyenyak sampai tidak bergerak satu milimeter pun.
__ADS_1