
Senin, 5 Agustus 2030.
Pukul 5 pagi, Azam bangun karena alarm yang membangunkannya. Dia memasukkan alarm dan segera merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena sehabis tidur.
Setelah itu Azam pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi. Dia tidak mandi karena dia harus lari pagi dulu bersama Vanessa, baru setelah lari pagi selesai dia akan mandi.
Azam mengganti pakaiannya menjadi celana dan baju lari yang longgar, setelah itu dia keluar dari kamar dan duduk di sofa sambil membaca berita untuk menunggu Vanessa keluar.
Saat Azam mengambil minum yang ada di atas meja dan meminumnya sambil membaca berita, tiba-tiba saja dia tersedak air minum karena melihat berita yang membuatnya terkejut.
"Uhuk...Uhuk..." Azam menepuk-nepuk dadanya setelah menaruh gelas air di atas meja karena dia sedang tersedak.
"Azam, kamu kenapa?" Vanessa keluar dari kamar dan kebetulan melihat Azam tersedak, jadi dia bertanya dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa, hanya tersedak." Azam melambaikan tangannya, lalu dia menghembuskan napas panjang.
"Memang apa yang kamu lihat sampai tersedak begitu?" tanya Vanessa dengan penasaran dengan apa yang Azam lihat di ponselnya.
"Hah... Baca sendiri saja." Azam menghela napas panjang, lalu dia membiarkan Vanessa membaca apa yang baru saja dia lihat sebelumnya.
Vanessa mengambil ponsel dari tangan Azam, kemudian dia membaca berita yang ditampilkan di layar ponsel. Vanessa membacanya dengan serius sampai selesai, setelah itu dia menatap Azam dengan mata kagum.
"Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Azam mundur karena merasa kalau Vanessa tidak beres.
"Azam! Kamu membantu anak-anak kurang mampu? Itu keren!" Vanessa berteriak dengan penuh semangat, kemudian dia memeluk Azam tanpa dia sadari.
Benar, berita yang ditampilkan di layar ponsel Azam adalah berita tentang Azam yang membelikan anak-anak kurang mampu makanan beberapa hari yang lalu.
Berita ini tidak hanya artikel saja, ada juga video rekaman Azam saat melakukan kebaikan. Jadi orang-orang percaya kalau Azam memang membelikan makanan kepada anak-anak kurang mampu.
__ADS_1
Tentu saja hal ini mendapat banyak komentar positif dari netizen karena ini bukanlah konten semata yang marak dibuat oleh konten kreator di zaman sekarang demi jumlah tayang.
"Yah, itu bukanlah hal yang luar biasa, aku hanya membantu mereka." Azam tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Vanessa.
"Ah!?" Vanessa sadar kalau dia sedang memeluk Azam. Kemudian dia segera melepasnya dan tidak berani menatap Azam karena malu dengan tindakannya.
"Kenapa?" tanya Azam. Meskipun dia sudah tahu kalau Vanessa sedang malu, tapi dia pura-pura tidak tahu agar tidak membuat Vanessa tambah malu.
"Ekhem, kembali ke topik! Katamu itu bukan tindakan yang liar biasa? Azam, tahukah kamu kalau sudah jarang orang baik di Jakarta ini," kata Vanessa dengan nada tidak berdaya.
Alasannya adalah karena kebanyakan orang yang berbuat baik pasti ada alasan tertentu. Apalagi mereka merekam kebaikan mereka dan menyebarluaskan video rekaman tersebut.
Memang tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi terkadang ada beberapa orang yang merekam kebaikan tapi setelah selesai direkam, sifat mereka berubah 180 derajat.
Hal tersebut yang membuat banyak orang tidak percaya dengan video kebaikan yang sengaja dilakukan oleh orang, netizen lebih percaya rekaman dari CCTV atau rekaman tidak sengaja.
"Haha, aku hanya membelikan mereka makan, bukan uang yang banyak." Azam hanya tertawa menanggapi perkataan Vanessa.
Setelah itu mereka segera keluar dari apartemen untuk lari pagi di sekitar komplek apartemen. Mereka juga sarapan bubur ayam di luar, dan seperti biasa cara makan mereka berbeda.
Azam adalah tim bubur tidak diaduk sedangkan Vanessa adalah tim bubur diaduk. Mereka berdua tidak berdebat, tapi ada pasangan di dekat mereka yang berdebat karena berbeda tim saat makan bubur.
Setelah sarapan, mereka berjalan kaki menuju apartemen sambil mencerna makanan. Setelah itu mereka mandi dan Azam bersiap untuk pergi ke universitas untuk menghadiri kelas pagi.
Kebanyakan kelasnya memang pagi, dan Azam suka hal ini karena bisa melakukan sesuatu yang lain setelah kelas dan dengan hal ini dia juga bisa bangun pagi.
"Azam, pakai mobilku saja," kata Vanessa kepada Azam.
"Ah, hari ini tidak perlu, aku ada motor." Azam yang sedang memakai sepatu menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Motor? Kamu beli motor?" tanya Vanessa dengan heran karena dia tidak tahu kalau Azam membeli motor.
"Tidak, bukan punyaku. Itu pinjaman, jadi aku naik motor saja," kata Azam kepada Vanessa, setelah itu dia keluar dari apartemen.
"Okelah." Vanessa mengangkat bahunya, kemudian dia masuk ke dalam kamar untuk menulis novel di sana.
Sementara itu Azam pergi ke area parkir yang berada di luar, bukan di bawah tanah. Dia menyalakan motornya dan langsung pergi menuju Universitas Indonesia.
"Udaranya dingin, kalau tahu akan begini lebih baik aku memakai jaket," pikir Azam yang tubuhnya sedikit menggigil karena udaranya yang dingin meskipun matahari sudah menampakkan dirinya.
Azam sampai di Universitas Indonesia, dia memarkirkan motornya dan segera pergi ke gedung fakultas manajemen. Tapi anehnya, ada banyak pasang mata yang memperhatikan Azam sepanjang perjalanan.
"Kenapa? Jangan bilang, kalau mereka juga sudah tahu tentang beritanya?" Azam menghembuskan napas panjang karena dia tidak bisa berbuat apa-apa tentang berita itu.
Beritanya juga tidak dipublikasikan oleh Fiota Grup sehingga Azam tidak bisa meminta mereka untuk menangguhkan berita yang baginya cukup mengganggu.
"Yo, Azam! Kamu jadi semakin terkenal!" Rafa menyapa Azam dan mengatakan sesuatu yang sudah diprediksi oleh Azam.
Hubungan Azam dengan Rafa sudah cukup dekat, mereka biasanya saling bertukar pikiran dan saling bertanya jika ada sesuatu yang tidak diketahui oleh masing-masing.
"Rafa, tolong hentikan itu. Aku tidak suka menjadi orang terkenal, itu sangat melelahkan." Azam menghembuskan napas panjang lagi dan berkata kepada Rafa.
"Hahaha! Apa yang tidak menyenangkan dari menjadi terkenal! Kamu bisa mendapat banyak keuntungan saat terkenal!" Rafa tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pundak Azam.
Saat mereka berdua berjalan menuju kelas sambil berbincang-bincang, ada keributan di sisi lain lorong. Mereka berdua berhenti dan melihat kalau ada seorang pria berkacamata yang cukup tampan sedang dikelilingi oleh banyak mahasiswi.
Kemudian, mereka melihat kalau pria berkacamata tersebut tersenyum dan berjalan menghampiri mereka diikuti oleh perempuan yang memiliki mata penuh cinta.
"Halo, Azam! Senang bisa bertemu denganmu!" Pria itu berkata dengan suara maskulinitas dan mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
Azam menyipitkan matanya, lalu dia berkata, "Kamu... siapa?"
Pertanyaan Azam membuat suasana menjadi hening bahkan sampai tidak ada orang yang berbicara dan mereka semua melihat ke arah Azam dengan mata yang dipenuhi dengan rasa terkejut.