
"Azam, kamu dari mana saja? Baru pulang jam segini." Vanessa keluar dari dapur, dia mengenakan celemek sambil memegang spatula.
Azam sedikit terkejut saat melihat Vanessa ada di rumah setelah seharian pergi. Dia tersenyum dan berkata, "Aku baru selesai bekerja, sungguh melelahkan."
Setelah melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu, Azam langsung berbaring di atas sofa dan menonton televisi yang sudah dinyalakan oleh Vanessa yang sedang menampilkan film luar negeri.
"Kamu bekerja sampai jam segini?" Vanessa bertanya dengan curiga karena dia tidak pernah melihat Azam pulang malam setelah Azam datang ke apartemennya.
"Aku bekerja dari pukul delapan atau sembilan tadi, jadi wajar saja aku kembali sekarang," kata Azam dengan malas karena dia benar-benar sedang lelah.
Azam tidak lelah secara fisik karena fisiknya sudah ditingkatkan, tapi dia lelah secara mental karena dia mendapat masalah yang merepotkan padahal baru pertama kali pergi ke ktv.
Vanessa merasa kalau Azam pasti telah melakukan yang melelahkan, jadi dia merasa kasihan padanya karena harus bekerja keras seperti itu.
"Mau makan?" tanya Vanessa kepada Azam.
"Makan? Kamu masak apa?" Azam mengelus perutnya yang kosong, lalu dia bertanya kepada Vanessa apa yang dia masak.
Vanessa tersenyum lebar dan berkata, "Mie instan." Dia berkata dengan nada polos sehingga Azam tidak bisa berkata-kata.
Azam membuka mulutnya karena dia terkejut, dia kira Vanessa sedang memasak apa karena suara dari dapur menunjukan kalau dia sedang sibuk memasak, tapi yang sedang dia buat adalah mie instan.
Meskipun Azam terkejut, dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Dia menyentuh perutnya yang lapar dan berkata, "Kalau begitu aku mau satu!"
"Siap!" Vanessa tersenyum cerah, dia mengangguk dan segera kembali ke dapur untuk memasak mie instan. Sementara itu Azam mendapatkan panggilan telepon dari Deva.
"Azam, rekaman darimu sangat bagus!" kata Deva dengan penuh semangat. Deva mendapatkan rekaman itu dari Elina yang baru saja sampai di rumahnya.
Deva menonton video tentang Yasir dan Agus yang pergi ke Magic KTV. Mereka berdua sangat mabuk dan Yasir hampir melakukan pelecehan terhadap Elina.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi itu belum cukup, Pak." Azam tetap tenang karena tugasnya masih jauh dari kata selesai dan Deva juga menyadari hal ini.
"Aku tahu, hanya saja videomu ini sungguh luar biasa " Deva menghembuskan napas panjang karena tidak ada detektif swasta sewaannya yang mampu melakukan hal yang sama seperti Azam.
Deva bisa mengatakan kalau Azama adalah ahlinya dalam bidang penyelidikan, itulah mengapa dia benar-benar kagum meskipun video yang dibawa Elina tidak cukup untuk membuktikan masalah penggelapan uang.
"Lalu, apakah hanya ini yang ingin Bapak katakan?" tanya Azam kepada Deva, karena dia sudah lelah dan ingin beristirahat.
"Ah, maaf, aku mengganggu waktumu. Itu saja yang ingin aku sampaikan, selamat malam." Setelah mengatakan itu, Deva mengakhiri panggilan.
Azam melemparkan ponselnya ke sofa, kemudian dia lanjut berbaring sambil menonton televisi. Lalu, setelah setengah jam, Vanessa memanggil Azam untuk membantunya membawa makanan.
"Vanessa, sudah selesai?" Azam datang ke dapur dan melihat ada dua mangkuk besar yang berisi mie kuah dengan tambahan lauk seperti telur, daging ayam, sayur, dan lainnya.
"Ya, tolong bawa ke ruang makan. Aku lagi membuat teh hangat, udaranya sedang dingin hari ini," kata Vanessa tanpa memalingkan wajahnya.
Azam tergiur dengan mie yang dibuat oleh Vanessa karena tidak hanya penampilannya saja yang menarik, aromanya juga sangat harum sampai membuat mabuk orang yang menghirupnya.
"Nah, ayo makan!" Vanessa tersenyum, kemudian dia mulai makan diikuti oleh Azam.
Azam tidak berharap banyak karena ini adalah mie instan, jadi dia menggunakan sendok untuk mengambil kuahnya terlebih dahulu, lalu memasukannya ke dalam mulut.
"!!?" Azam melebarkan matanya, dia menoleh ke arah Vanessa yang sedang asik makan, lalu ke arah mie kuah yang ada di depannya.
Karena tidak percaya, kali ini Azam menggunakan sumpit untuk mengambil mie nya dan memasukkannya ke dalam mulut, dan dia memiliki reaksi yang sama seperti sebelumnya.
"Vanessa, ini sangat enak." Azam berkata sambil mengeluarkan air mata bahagia karena mie yang dibuat Vanessa sangatlah enak.
Mungkin memang benar kalau mie yang dipakai adalah mie instan biasa, tapi kuahnya dicampur dengan bumbu-bumbu lain yang membuatnya menjadi rasa yang sempurna, apalagi sekarang udaranya sedang dingin.
__ADS_1
Kuah mie yang dipenuhi dengan bumbu-bumbu lezat membuat perut orang yang memakannya merasa hangat, kemudian kehangatan tersebut menyebar ke seluruh bagian tubuh.
"Benarkah? Yah, untuk bumbu-bumbu itu keahlianku!" Vanessa berkata dengan nada bangga meskipun sebenarnya dia sedikit malu karena dipuji oleh Azam.
"Ah, jadi itulah kenapa kamu memakai mie instan, karena kamu ahli di bumbu," kata Azam sambil tersenyum.
Itu artinya Vanessa tidak bisa membuat hidangan yang rumit yang mengharuskan mengubah bahan utama menjadi yang lain, tapi kalau soal bumbu, Vanessa adalah ahlinya.
Inilah sebabnya dia menggunakan mie instan yang mudah dibuat menjadi apa saja. Vanessa hanya tinggal membuat kuahnya menggunakan berbagai macam bumbu yang membuatnya menjadi sangat lezat.
"Begitulah!" Vanessa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena merasa malu.
"Kalau begitu, kita harus memasak bersama nanti." Azam tersenyum dan melanjutkan memakan mie.
"Ohh! Itu ide bagus!" Vanessa memiliki mata yang berbinar-binar setelah mendengarkan ide Azam tentang mereka berdua yang akan memasak bersama.
Vanessa sudah merasakan hidangan buatan Azam sehingga dia berekspektasi tinggi jika dirinya dan Azam memutuskan untuk memasak bersama.
Mereka berdua makan malam, atau lebih tepatnya makan larut malam bersama sambil berbincang-bincang dengan canda tawa. Kemudian setelah jam menunjukkan pukul satu malam, mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.
"Hari yang melelahkan." Azam berbaring di atas ranjang dan bersiap untuk tidur, tapi pada saat ini ponselnya membunyikan notifikasi.
Azam memeriksanya dan ternyata itu adalah Vanessa dari kamar sebelah. Vanessa mengatakan kalau pertemuan amal akan diadakan besok malam di Super Mall Dirta lantai pertama.
"Oh, iya. Aku lupa kalau pertemuan amal akan diadakan. Kalau begitu aku harus melakukan penyelidikan saat siang hari dan pergi ke pertemuan amal saat malam hari." Azam menepuk dahinya karena lupa.
Alasan Azam melakukan penyelidikan pada saat siang hari adalah karena dia harus masuk ke kelas saat pagi harinya. Dia tidak mau membolos lagi karena dia juga perlu belajar di universitas.
Setelah memikirkan hal tersebut, Azam mengisi daya baterai ponselnya, setelah itu dia tidur. Karena tenaganya sudah benar-benar habis karena banyak hal yang terjadi hari ini.
__ADS_1